Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn

Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn
Acara Ulang Tahun Ella


__ADS_3

Seperti biasa, Jenny menjalankan rutinitas paginya sebagai pekerja part time pengantar koran. Tidak seperti biasanya, Gadis itu terlihat tidak bersemangat, seakan separuh nyawanya tertinggal entah kemana. Semu hitam menghiasi bawah matanya yang masih terlihat sayup. Sesekali dia menguap di sela kegiatannya mengantar koran karena rasa kantuk yang masih tersisa.


Hari ini Ella akan merayakan pesta ulang tahunnya. Dan hal itu membuat Jenny harus rela bergadang untuk menyulap ruangan menjadi secantik mungkin sesuai permintaan Ella.


"Hah, merepotkan sekali. Dia yang punya acara kenapa aku yang repot?" gerutu Jenny seraya meletakkan macaroon di atas meja yang sudah dihiasi dengan balon dan bunga.


"Pakai baju ini," titah Ella kepada Jenny yang masih terlihat sibuk menata makanan.


Jenny mengerutkan dahinya ketika dia melihat setelan kostum yang disodorkan Ella. Kostum salah satu tokoh Superhero wanita yang terkenal dari negeri Paman Sam tersebut memang sengaja Ella siapkan di jauh - jauh hari.


"Kenapa aku harus memakainya? Aku tidak mau," tolak Jenny.


"Ayolah, aku mohon pakai kostum ini, aku sudah rela memakai uang sakuku untuk membelikanmu ini, Lagian semua tamu undangan juga akan mengenakan kostum sebagai dresscode di acaraku," Ella memohon.


Jenny menatap mata Ella dengan sorotan menyelidik. Aneh, itu yang Jenny tangkap dari ucapan Ella saat ini. Nada bicara yang lembut dan memohon, sungguh itu hal yang tidak biasa di dapatkan dari Ella sebelumnya.


"Terus kamu sendiri kenapa tidak memakai kostum juga?" tanya Jenny menyelidik.


"Apa kamu tidak lihat? Aku sudah memakai kostum putri istana dan aku memakai mahkota di kelapaku," ucap Ella seraya memamerkan gaun yang dia kenakan. Gaun yang sangat cantik dan sangat berbeda dengan kostum yang diberikan kepada Jenny yang terlihat lebih pantas digunakan untuk menghadiri pesta halloween.


Ella kemudian menarik tubuh Jenny menuju kamar. Dia menyerahkan setelan kostum tersebut kepada Jenny dengan sedikit memaksa.


"Cepat pakai ini, kamu pasti cocok. Aku ingin melihatnya," pinta Ella memaksa.


"Aku tidak ingin memakainya, aku malu El," Jenny masih menolak.


"Apa yang kamu katakan? Apa kamu ingin merusak acara pesta putri kesayanganku?" sela Amber yang baru saja datang dan menyadari percakapan Ella dan Jenny.


"Cepat kenakan baju itu, kalau kamu malu, nanti kamu bisa menutupinya dengan mantel dinginmu," saran Amber. Sekilas Amber melirik ke Ella dan Ella pun membalasnya. Kedua mimik muka ibu dan anak tersebut seperti menyimpan rencana.


Akhirnya Jenny menuruti kemauan Ella. Tentu saja hal itu dilakukan dengan hati yang ngedumel dan bibir yang terus berkomat kamit tidak jelas.


"Ah sebaiknya aku menutupinya dengan mantel dinginku agar tidak terlihat mencolok," gumam Jenny sebelum keluar dari kamarnya.


Ketika Jenny keluar kamar dan menuju ke ruang pesta, ternyata beberapa tamu undangan sudah mulai berdatangan dan menyampaikan ucapan selamat kepada Ella. Senyuman Ella terlihat mengembang sempurna di kala menyambut teman - temannya.


Jenny berdecih saat menyadari semua tamu undangan tidak ada yang memakai kostum dresscode seperti yang dikatakan Ella kepadanya. Dia berniat kembali ke kamarnya untuk menanggalkan kostum yang dia kenakan, namun ternyata pintu kamarnya sudah terkunci entah sejak kapan. Tanpa dia ketahui, Amberlah yang telah mengunci pintu kamarnya.

__ADS_1


"Yang benar saja, kenapa aku bisa sangat mudah masuk dalam jebakan Amber dan Ella? Ternyata mereka ingin mempermalukanku, untung saja aku masih sempat memakai mantel," gerutu Jenny kesal.


Jenny tidak berniat untuk bergabung dengan yang lain, dia lebih memilih membereskan peralatan dapur yang masih berantakan. Toh, sebenarnya keberadaannya juga tidak begitu penting. Jenny menyadari hal itu.


"Andai Daisy juga datang, pasti aku ada teman ngobrol," gerutu Jenny seraya merapikan perkakas dapur. Kemarin Daisy memang sudah mengabari Jenny kalau dia tidak bisa datang ke acara pesta Ella karena harus pergi ke kota York untuk menjenguk Neneknya yang sedang sakit.


"Hai Honey, kamu sudah datang?" tanya Ella kepada Diven.


"Iya, ini kado untukmu," Diven menyerahkan sebuah kotak kecil yang bermotif bunga dengan lilitan pita kado berwarna merah muda. Sesekali matanya melirik ke arah lain guna mencari keberadaan Jenny.


"Terimakasih Honey," ucap Ella dengan senyuman merekah, kemudian memberi sebuah kecupan di pipi Diven tanpa memperdulikan keberadaan orang - orang di sekitarnya termasuk Amber sang Mama. Sedangkan Diven terlihat santai dengan perlakuan Ella.


Acara tiup lilin dan potong kue akan segera di mulai tapi sepasang mata Ella beberapa kali melirik ke arah pintu masuk. Dia seperti menunggu seseorang.


"Mungkin dia tidak akan datang, padahal aku sudah menyusun rencana untuk mempermalukan Jenny di depannya," batin Ella yang merasa harapannya akan pupus.


Akhirnya semua tamu undangan di minta untuk menyanyikan salah satu lagu ulang tahun yang begitu populer di seluruh dunia. Kemudian Ella melakukan make a wish sebelum meniup lilin berbentuk angka yang sesuai jumlah usianya dan di lanjutkan dengan sesi potong kue.


Tiba - tiba kedatangan seseorang mengalihkan semua perhatian orang - orang di dalam ruangan. Dengan muka dinginnya, dia menghampiri Ella dan menyerahkan sebuah kado.


Iya, orang itu adalah Jeffrey yang ditemani Alvin dan Sammy. Jeffrey hanya merespon perkataan Ella dengan anggukan kecil. Kemudian dia mendudukkan tubuhnya di sofa yang terletak di dekat jendela taman dan membiarkan acara pesta kembali berlangsung.


Sepanjang acara pesta, sepasang iris hijau Jeffrey menyapu setiap sudut ruangan. Remaja bermuka jutek itu mencoba mencari sosok yang beberapa hari ini sangat mengganggu pikirannya.


Iya, itu memang benar. Setelah kejadian memalukan di depan bangunan ST George's School tempo lalu, bayangan Jenny terus saja mengusik pikirannya. Marah dan benci, kedua emosi itulah yang justru menuntun otak depannya untuk terus membayangkan perempuan yang dianggap seperti kucing kumuh itu.


Sapuan mata Jeffrey berhenti ketika pandangannya terpaku pada sepasang mutiara biru milik Jenny. Tanpa sengaja kedua pasang jendela hati tersebut saling terkunci.


"Ck! Bahkan di acara pesta seperti ini pun penampilannya masih saja kusut. Dia seorang Gadis tapi tidak ada manis - manisnya," cemoh Jeffrey di dalam hati dengan pandangan tidak lepas dari Jenny yang berada di salah satu sudut ruangan.


"Hish! Kenapa orang menyebalkan itu bisa ada di acara ini sih? Astaga.. Kenapa dia selalu memasang muka jutek seperti itu?" batin Jenny menggerutu.


Tautan dua pasang netra bening mereka harus berakhir karena Ella menghampiri Jenny.


"Jen, sedang apa kamu disini? Kenapa kamu tidak bergabung dengan kami?" tanya Ella.


"Tidak terimakasih, aku disini saja," tolak Jenny.

__ADS_1


"Ayo bergabung saja dengan teman - teman," tanpa mendengar pendapat dari Jenny terlebih dahulu, Ella menarik tangannya dan membawanya ke tengah ruangan.


Bruk!


Tiba - tiba seseorang menabrak Jenny dan menumpahkan minuman yang dipegangnya ke tubuh Jenny.


"Oh maaf, aku tidak sengaja. Astaga mantelmu jadi kotor, sekali lagi maafkan aku," ucap orang yang menabraknya. Tentu saja itu semua hanya sekenario yang dirancang Ella.


"Jenn, sebaiknya kamu lepas mantelmu karena sangat kotor," saran Ella.


"Tidak apa - apa. Aku akan tetap memakainya meskipun kotor," Jenny menolak saran Ella karena dia tidak mungkin mempertontonkan kostum yang sedang dia kenakan di balik mantelnya.


"Sudahlah, sini biar aku bantu melepas mantelmu," tawar Ella penuh makna.


"Tidak terimakasih, sebaiknya aku kembali ke dapur,"


Namun Ella masih kukuh agar mantel yang dikenakan Jenny terlepas. Dan adegan paksa memaksa pun terjadi beberapa saat. Dengan bantuan temannya akhirnya Ella berhasil melepas mantel milik Jenny. Alhasil, kini semua mata tertuju pada Jenny. Satu persatu suara gelak tawa orang - orang di dalam ruangan mulai terdengar. Penampilan Jenny saat ini terlihat sangat mencolok dan aneh.


Jenny memicingkan mata ke arah Ella yang ternyata ikut menertawakannya. Dadanya terlihat kembang kempis karena emosi yang disertai rasa malu yang luar biasa. Gadis itu tidak menyangka bahwa dirinya akan dijadikan sebuah lelucon di acara pesta ulang tahun Ella.


Tidak ingin berlama - lama membiarkan dirinya menjadi bahan ejekan, Jenny segera menyabet mantelnya dari tangan Ella dan berlalu dari segerombolan orang yang sedang menikmati tawanya tersebut.


"Bagaimana apa kamu suka," tanya Ella kepada Jeffrey.


Jarak Jenny yang belum jauh dari Ella karena baru berjalan beberapa langkah tentu saja mendengar pertanyaan Ella yang ditujukan kepada Jeffrey. Dia sontak menghentikan langkahnya dan terpaku beberapa detik pada titik dia berdiri. Gemuruh di dalam dadanya begitu sangat terasa, namun dia masih berusaha menahan amarah yang tak segan - segan akan melompat dari sarangnya sewaktu - waktu. Hanya ke sekian detik, akhirnya Jenny membawa dirinya ke dapur.


"Ternyata ini semua rencananya, dia memang sangat buruk!" batin Jenny di sela langkahnya menuju dapur.


"Ternyata hanya segitu saja kemampuanmu," cibir Jeffrey kepada Ella. Kemudian dia beranjak dari duduknya dan langsung keluar dari acara pesta. Tanpa ada yang tahu, apa yang dirasakan Jeffrey saat ini sangat bertolak belakang dengan yang dilihat orang - orang.


Saat sampai di dapur, Jenny dibuat terkesiap ketika seseorang mendekatinya dengan tatapan penuh makna.


Bersambung~~


Terimakasih sudah mampir ke karyaku ya. Jangan lupa tekan gambar ♥️ agar masuk dalam rak buku kalian. Like, coment, rate, vote/hadiah dari kalian sangat beharga bagi Author🤗


Semoga kalian sehat dan bahagia selalu🙏

__ADS_1


__ADS_2