
Setelah acara perjodohan beberapa hari yang lalu Jenny masih menjalani aktivitas rutinnya sehari-hari dengan bersemangat. Tidak ada perasaan gusar atau galau yang mengganggu. Pasalnya, seperti yang telah dijanjikan Emy, dia tidak akan memaksa Jenny untuk menerima perjodohan tersebut. Hal itu membuat gadis berlensa biru tersebut bisa bernapas lega.
"Anda ingin pesan apa Nona?" tanya Jenny dengan ramah kepada salah satu pelanggan yang sedang berdiri di depan meja counter cafe.
"Saya ingin satu flat white dan satu caffe latte," pesan si pelanggan.
"Baik, silahkan ditunggu,"
Dengan cekatan, tangan Jenny meracik minuman yang berbahan dasar kopi tersebut dengan sangat lihai. Tidak butuh lama, pesanan satu flat white dan satu caffe latte sudah siap.
Ketika kafe terlihat lenggang sesekali Jenny memberi pijitan ringan pada kedua kakinya yang terasa pegal karena terlalu lama berdiri. Tubuh gadis blonde tersebut terjingkat ketika Jullian menepuk bahu Jenny secara tiba-tiba. Jullian juga mengambil kerja part time di kafe yang sama dengan Jenny.
"Ya Tuhan, Jullian kau mengagetkanku! Apa kau ingin aku mati muda?" celetuk Jenny seraya mengelus dadanya.
Jullian terkekeh. "Jangan mati dulu, kau bahkan belum menyaksikanku menaiki altar pernikahan bersama Avellyn," cerosos Jullian.
"Aku sungguh terharu, kau bahkan melarangku mati duluan sebelum kau nikah," celetuk Jenny menampilkan muka haru yang dibuat-buat.
"Hahaha, kalau memungkinkan aku ingin segera menikahi gadis manis itu, sayangnya aku belum menjadi seorang lelaki yang sesungguhnya," ucap Jullian.
"Apa maksutmu?! Jangan-jangan kau ini sebenarnya transgender?" seru Jenny yang tampaknya salah mengartikan ucapan Jullian.
"Apa kau ingin mati? Bisa rendahkan volume suaramu tidak?" hardik Jullian yang merasa malu karena beberapa pelanggan yang masih berada di kafe menoleh ke arah Jullian.
"Aku kan terkejut ketika kau bilang belum menjadi lelaki yang sesungguhnya," balas Jenny cemberut.
"Aku tidak tahu, sebenarnya kau itu memang polos atau berotak kentang," dengus Jullian yang kemudian melanjutkan perkerjaannya.
Jarum jam terus berputar pada porosnya, hingga tidak terasa waktu jam pulang kerja telah tiba. Jullian sempat mengajak Jenny untuk mampir membeli makanan di suatu tempat tapi dia menolaknya. Mengingat beberapa hari terakhir sang Mama tampak tidak sehat membuat gadis itu ingin segera pulang.
Setelah beberapa waktu, Jenny sudah tiba di rumahnya.
"Papa, kamu juga baru datang?" tanya Jenny kepada Addy yang juga baru pulang dari kerjanya sebagai Office Boy di gedung apartemen tempat Emy bekerja juga. Addy juga sudah mulai mengurangi kebiasaan buruknya dan berusaha bekerja lagi.
"Iya sayang, kamu sepertinya juga baru pulang kerja part time, segera beristirahatlah," tutur Addy mengusap sayang rambut Jenny.
"Iya Pa, tapi Jenny ingin melihat kondisi Mama dulu," pinta Jenny. Hari ini Emy memang ijin tidak masuk kerja karena merasa kurang enak badan.
Akhirnya Jenny dan Addy melangkahkan kakinya menuju ke kamar Emy.
__ADS_1
"Mama?!" pekik Jenny ketika melihat sang Mama tergeletak di lantai tak sadarkan diri dengan wajah yang tampak begitu pucat pasi. Jenny seketika menangis dan panik.
Sedangkan Addy yang juga tak kalah panik dengan sigap mengangkat tubuh istrinya dari lantai dan membawanya keluar menuju ke Rumah Sakit.
Di sudut kota Cambridge lainnya tepatnya di salah satu unit apartemen. Pemuda berlensa hijau tampak menekuk mukanya yang masam berkali-kali lipat hingga terlihat sangat kusut. Semenjak kembali dari kediaman orang tuanya, suasana hati Jeffrey begitu buruk hingga saat ini.
"Jeff, apa kau punya mesin setrika?" tanya Alvin yang jelas membuat Jeffrey heran.
"Tidak ada, lagian untuk apa kau menanyakan benda itu?" tanya Jeffrey ke alvin balik.
"Aku ingin menyuruh Sammy untuk menyetrika mukamu yang tampak kusut itu?" seloroh Alvin yang langsung mendapat lemparan bantal sofa yang mendarat tepat di mukanya.
"Tutup mulutmu itu!" seru Jeffrey kesal.
Pasalnya, Alvin dan Sammy tidak tahu hal apa yang membuat sahabatnya itu selalu terlihat badmood beberapa hari ini karena Jeffrey enggan untuk bercerita.
"Apa sebaiknya kita memanggil wanita seksi agar suasana menjadi menyenangkan?" saran Sammy yang memang tak pernah jauh dengan sesuatu yang berbau mesum.
"Apa kau ingin mati?! Jangan mengotori apartemenku dengan wanita-wanita j*lang itu," hardik Jeffrey yang semakin kesal.
"Ayolah, aku hanya ingin membuat suasana hatimu menjadi lebih baik," ucap Sammy.
Jeffrey tampak mengambil napas sangat dalam lalu menghembuskannya dengan kasar. Dia menyaut minuman kaleng dari atas meja dan meneguknya hingga tak tersisa.
"Apa kalian ingat, waktu aku diusir dari rumah dulu?" tanya Jeffrey kepada Alvin dan Sammy dengan tatapan yang tak lepas dari kaleng minuman kosong di tangannya.
"Tentu saja aku masih sangat ingat. Waktu itu kau menjadi gelandangan selama dua bulan dan kau bahkan menjadi penyanyi jalanan dadakan di taman kota," saut Sammy sangat antusias dengan mimik muka berseri-seri.
"Kenapa kau terlihat sangat bahagia saat mengungkit cerita itu hah?!" dengus Jeffrey kepada Sammy.
"Hehehe, aku bahkan memilik banyak video dan foto ketika kau menjadi gelandangan," ucap Sammy yang semakin membuat Jeffrey kesal dan melemparkan kaleng minuman kosong ke muka Sammy namun meleset.
"Sebenarnya ada apa? Kau berulah lagi?" tanya Alvin seraya mengunyah makanan ringan yang di ambilnya dari lemari es di apartemen Jeffrey.
"Sepertinya aku akan menjadi gelandangan lagi," papar Jeffrey gusar lalu merebahkan tubuh di atas sofa dengan kasar.
Jeffrey menatap lurus langit-langit apartemen. Lensa hijaunya hanya menatap lurus ke satu titik. Pikirannya mulai berputar kembali ke flashback beberapa hari yang lalu.
"Jika suatu saat, gadis itu menerima perjodohan ini kamu juga harus menerimanya pula," tandas Darwin kepada Jeffrey.
__ADS_1
"Tapi Dad, kenapa kalian hanya menuruti keputusan dia? Kenapa Daddy dan Mommy tidak mendengar keputusanku juga? Jeffrey tidak mencintainya Dad, Mom. Bukankah suatu pernikahan itu harus dilandasi perasaan saling cinta? Lagian aku masih berumur 20 tahun. Aku akan sangat malu jika teman-temanku sampai tahu kalau aku menikah muda," protes Jeffrey panjang kali lebar dengan perasaan kesal bercampur kecewa.
"Keputusan kami sudah bulat dan tidak bisa dirubah, ini juga demi kebaikanmu. Mommymu sangat yakin dia gadis yang tepat untukmu daripada kekasihmu sekarang," penuturan Darwin semakin membuat Jeffrey kesal.
"Pokoknya aku akan terus menentang perjodohan ini," timpal Jeffrey menggebu-gebu. Seakan sudah siap mengibarkan bendera perang untuk melawan kedua orangtuanya.
"Kalau begitu lakukan sesuka hatimu, maka Daddy akan mencabut semua fasilitasmu dan mencoreng namamu dari daftar keluarga dan ahli waris," ancam Darwin yang tidak pernah bermain-main dengan ucapannya.
1 tahun yang lalu, Darwin juga pernah melakukan hal serupa agar putranya tersebut berhenti dari dunia balap liar yang ilegal di mata hukum. Awal mula, Jeffrey hanya menganggap ancaman sang Daddy hanya gertakan belaka. Tapi kenyataannya semua rangkaian kata yang membentuk sebuah kalimat ancaman tersebut bukan hanya bualan saja.
Darwin benar-benar menggencarkan aksinya. Jeffrey ditendang dari rumah secara paksa yang membuat dia harus menginap di rumah Alvin dan Sammy secara bergantian selama 2 bulan.
"Kenapa Daddy tidak mengerti akan perasaanku? Kalian sangat egois!" seru Jeffrey. Sesuatu di dalam dadanya kian bergemuruh.
"Sayang, sebaiknya kamu menuruti permintaan kami ya, Mommy yakin dia gadis yang baik untukmu," Bujuk Briana.
"Tidak! Aku tidak akan mau Mom, jangan paksa aku lagi,"
Tidak tahan dengan perdebatan yang lebih memberatkannya, pemuda tampan tersebut segera melangkahkan kakinya menuju keluar ruangan.
Tuk! Sebutir kacang yang mendarat pada muka Jeffrey langsung membuyar ingatan flashback-nya.
"Apa yang sedang kau lamunkan? tanya Alvin setelah melempar biji kacang ke Jeffrey.
Alih-alih menjawab pertanyaan Alvin, Jeffrey malah mengedar pandangannya ke setiap sudut ruang tamu di apartemennya yang seketika membuatnya mengerutkan kedua ujung alis tebalnya hingga hampir menyatu.
"Kalian berdua, sampai kapan kalian akan tetap di sini?" ucap Jeffrey dengan nada tenang namun tampak mengerikan.
"Kami akan menginap di sini malam ini? Kami ingin menghiburmu yang sedang galau. Bukankah kami teman yang baik?" ucap Sammy dengan bangganya.
"Apa kalian ingin menghancurkan apartemenku?! Kalian bukannya menghibur tapi justru semakin memperburuk suasana hatiku!" bentak Jeffrey kesal setelah melihat keadaan ruang tamu yang begitu berantakan. Bungkus makanan dan kaleng minuman yang berserakan di mana-mana. Kulit kacang yang menggunung di atas meja, isi makanan ringan yang berhamburan menyapu lantai hingga cairan manis yang tumpah di karpet membuat apartemen Jeffrey bagaikan rumah di permukiman kumuh, bau dan kotor.
"Apa kalian ingin membuat sarang di sini?! hah?! Aku heran, sebenarnya kalian itu manusia atau binatang?!" cerca Jeffrey tak henti-hentinya sehingga membuat gendang telinga Alvin dan Sammy mendenging seperti ada lalat yang akan bertelur di dalamnya.
Alvin dan Sammy tampak beringsut melihat Jeffrey yang sudah seperti singa kelaparan. Mereka bagaikan kelinci kecil yang malang dan memohon iba kepada sang singa agar tidak menyantapnya.
Bersambung~~
Minimal kasih dukungan like kepada Author jika rate, vote, coment, dan hadiah terasa berat. Tapi Author akan lebih senang dan terharu jika dukungan kalian tidak hanya like saja🥺 Terimakasih🤗
__ADS_1