
Gadis bermuka imut yang sedang terlelap di ranjang villa berukuran 200 cm x 160 cm tersebut tampak menggeliat pelan. Sepertinya produksi organ ginjal sudah memenuhi kandung kemihnya, membuatnya terpaksa menarik nyawanya dari alam mimpi. Dengan langkah gontai dia berjalan menuju ke kamar mandi.
Setelah selesai menguras limbah urine dari dalam tubuhnya, gadis itu tampak menyelidik ruangan kamar ketika menyadari hanya sosok Avellyn yang sedang tertidur di atas ranjang. Pasalnya malam ini dia tidur bertiga, bersama Jenny dan Avellyn, tapi nyatanya Jenny sudah tidak ada di atas ranjang.
"Malam-malam begini si Jenny kemana?" gumam Daisy. Ia pun mencoba mencari keberadaan sahabatnya tersebut. Bukan apa-apa, dia hanya ingin memastikan keberadaan Jenny saja agar dia bisa kembali tidur dengan tenang.
Daisy sudah memeriksa setiap sudut ruangan villa namun keberadaan Jenny tidak ditemukan. Diapun juga mengecek kamar yang dipakai para lelaki. Dari ambang pintu dia mengabsen satu persatu para penghuni kamar, ternyata keberadaan Jeffrey pun tidak ada di sana.
Daisy melangkah pelan dengan sedikit menjinjitkan kakinya mendekati Sammy yang kebetulan sedang tidur di atas sofa kamar yang berukuran besar itu.
"Hei, Sam ayo bangun," Daisy menggoyang-goyangkan tubuh Sammy yang besar.
"Hmmmm," Sammy hanya menggeliat.
"Sam, ayo bangun," desak Daisy sedikit berbisik.
"Kenapa sih?" Sammy terpaksa membuka matanya yang masih terasa berat.
"Jenny dan Jeffrey menghilang,"
"APA?!" Sammy langsung terbangun.
"Ssssttt! Diam, jangan berisik!" pinta Daisy yang langsung membekap mulut Sammy.
Sammy menggiring matanya ke arah ranjang tempat Jeffrey tidur dan benar dia tidak melihat keberadaan sahabatnya itu disana.
"Kira-kira mereka menghilang kemana? Apa kau tidak penasaran apa yang sedang mereka lakukan pada jam segini? Ini sudah jam 1 dini hari loh," bisik Daisy.
"Tidak, aku sama sekali tidak penasaran," jawab Sammy seraya menggoyangkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri.
"Benar kau sungguh tidak penasaran?" pancing Daisy.
"Tidak, aku tidak peduli mereka mau berbuat apa. Meskipun mereka bersembunyi di pojokan rumah, di kolong ranjang, di kebun, atau pergi ke dalam hutan dan sungai untuk bermesraan atau melakukan sesuatu yang lebih sekalipun aku tidak ingin ikut campur," jawab Sammy seolah dia benar-benar tidak ingin tahu.
"Sebenarnya apa yang kau bayangkan? Kenapa ada hutan dan sungai segala? Sepertinya kau berpikiran terlalu jauh," cerocos Daisy heran.
"Mereka punya privasi yang harus dihargai, toh mereka itu suami istri, jadi sah-sah saja mereka mau berbuat sesuka hati, kita juga harus menjaga batasan," tutur Sammy sok bijak.
"Ow, begitu?" Daisy memanggut-manggut seperti burung kutilang.
"Tapi karena aku sahabat yang baik, aku sedikit merasa khawatir juga sih," Sammy beranjak dari sofa.
"Katanya tidak peduli terus apa yang kau khawatirkan?" cebik Daisy.
"Aku ingin memastikan kalau mereka tidak salah tempat,"
"Sebenarnya apa sih yang kau bicarakan?" Daisy bingung.
"Ayo pergi," ajak Sammy.
"Kemana?"
"Mencari mereka berdua,"
"Huh! Ujung-ujungnya kau penasaran juga kan?" cicit Daisy.
"Mereka tidak mungkin di kolong ranjang kan?"
__ADS_1
"Coba kita cari di dalam lemari,"
"Emangnya mereka sedang bermain petak umpet?"
"Awh! Kenapa kau menjitakku?"
"Kalau begitu sini aku cium saja,"
"Kyaak! Jangan disini nanti ada yang lihat,"
°°°
"Waaahhh! Beruang kutub mereka sangat cantik," seru Jenny yang melihat kunang-kunang beterbangan di ladang ilalang yang terletak tidak jauh dari belakang villa.
Jeffrey menyungging kedua ujung bibirnya, tersenyum puas melihat kucing kecilnya tampak senang.
Pria tampan bermuka masam itu sangat menikmati pemandangan di hadapannya saat ini. Jenny tampak berlari-lari kecil berusaha menangkap hewan yang berkerlap-kerlip yang memancarkan cahaya pada tubuhnya tersebut.
Senyuman Jenny mengembang sempurna, bibir ranumnya merekah begitu cantik. Sepasang mata almond bermutiara birunya tampak berbinar-binar.
"Apa kau menyukainya?" tanya Jeffrey kepada Jenny yang akhirnya memilih kembali duduk bersebelahan dengannya.
Jenny mengangguk cepat. "Iya aku sangat menyukainya, mereka hewan yang cantik," jawab Jenny.
"Tapi kau lebih cantik kucing kecilku," batin Jeffrey mengagumi.
Jeffrey menarik tubuh kecil Jenny, hingga gadis itu berada di pangkuannya sekarang. Kemudian dia membungkus tubuhnya dan Jenny dengan selimut tipis yang sempat dia bawa sebelum menuju ke ladang ilalang.
"Beruang kutub, apa yang kau lakukan? Jangan seperti ini, nanti ada yang lihat, aku malu," celoteh Jenny.
"Tidak akan ada yang lihat pada jam segini," timpal Jeffrey menyeringai.
Langit malam yang jernih penuh dengan jutaan bintang yang bertaburan meriah semakin menambah keindahan suasana malam yang syahdu.
"Beruang kutub, coba kau lihat, di sana begitu banyak bintang yang berkedip-kedip. Mereka seakan sedang bermain mata denganku, apa mereka sedang merayuku?" celetuk Jenny seraya terkekeh geli,"
Jeffrey menyentil gemas dahi istri kecilnya. "Gadis bodoh, kau itu terlalu percaya diri," cibir Jeffrey.
"Kau itu sangat menyebalkan," dengus Jenny berniat beranjak dari pangkuan Jeffrey namun ditahan.
"Lagian tidak ada yang boleh merayu atau bahkan menggodamu selain aku," tandas Jeffrey seraya menenggelamkan mukanya pada ceruk leher kucing kecilnya.
"Kau itu berlebihan," ucap Jenny asal.
Jeffrey lantas memutar tubuh Jenny sehingga posisi mereka sekarang berhadapan.
"Aku belum menghukummu," ucap Jeffrey.
"Hah? Memangnya kesalahan apa yang telah kuperbuat?" tanya Jenny yang tampak kebingungan.
"Kesalahanmu sangat besar, tadi kau membiarkan Sean menyentuh tanganmu," balas Jeffrey dengan raut muka berubah serius.
Jenny tersenyum receh. "Ayolah, Sean hanya ingin memastikan tanganku baik-baik saja. tidak ada maksut lain,"
"Kau tidak pernah tahu isi hati pria itu, dia terlihat masih menyukaimu,"
"Tapi aku sudah memutuskan bahwa hubungan kami hanya sebatas teman,"
__ADS_1
"Tetap saja aku sangat tidak suka melihat kau bersentuhan dengan pria lain, sekarang kau harus menerima hukumanmu,"
Tanpa memberikan aba-aba Jeffrey langsung mendaratkan bibirnya yang kissable pada bibir ranum Jenny.
"Awh! Kenapa kau menggigitku?" protes Jenny yang tampak cemberut seraya mengusap bibir yang baru saja menjadi korban ketengilan Jeffrey.
"Itu hukumanmu," balas Jeffrey menyeringai nakal.
Jeffrey kembali mendekatkan mukanya berniat meneruskan ciumannya namun Jenny menghalanginya dengan mendorong dada Jeffrey dengan kedua tanganya.
"Aku tidak mau berciuman denganmu, nanti kau pasti akan menggigitku kembali," ucap Jenny dengan bibir yang mengerucut. Tentu saja hal itu membuat Jeffrey semakin tergiur untuk segera mencecap benda kenyal bewarna merah jambu itu.
Sekali lagi, Jeffrey menyeringai penuh arti. Dengan satu telapak tangannya yang besar dia mencengkram kedua tangan Jenny sekaligus lalu membawa tubuh Jenny berbaring di atas rerumputan yang beralaskan selimut hingga kucing kecil itu berada di bawah kukungan tubuh Jeffrey yang kekar.
"Beruang kutub jangan seperti ini, kita berada di alam terbuka sekarang," ucap Jenny yang tampak gugup.
Alih-alih mendengar permintaan si kucing kecil, si beruang kutub justru semakin menggencarkan aksinya. Dia mengangkat kedua tangan Jenny ke atas, kemudian langsung menyambar bibir Jenny dengan lahap.
Jenny yang awalnya terkejut akhirnya mulai menikmati ciuman kasar Jeffrey namun memabukkan. Perlahan Jenny mulai mengangkat tangannya dan mengalungkannya pada leher si beruang kutub.
Dengan pengalaman yang masih seujung kuku, Jenny mencoba mengimbangi ciuman suaminya. Kedua benda kenyal mereka masih terus bertautan, mencecap, menghisap, hingga saling bertukar cairan saliva.
Jeffrey sungguh menikmati bibir Jenny yang begitu manis, bibir yang sudah menjadi candu baginya, bibir yang memberi kesan pertama saat mereka bertemu secara tidak sengaja di sebuah bus kota London beberapa tahun yang lalu. Bibir itulah yang tanpa ia sadari sudah menjadi jembatan tersalurnya getaran-getaran benih cinta.
Bercumbu berselimut dinginnya udara malam, di iringi kunang-kunang yang seolah bersorak sorai mengelilingi sepasang kekasih yang telah saling melabuhkan hatinya. Berpayungkan langit bertaburkan ribuan bintang yang membentuk sebuah galaksi yang begitu indah dan memukau. Sungguh kemesraan yang begitu manis.
Sepasang kekasih yang sedang mengisi salah satu kegiatan romansa cinta mereka masih terus saling menyalurkan hasrat cinta mereka melalu indera pengecap mereka hingga akhirnya...
"Kyaaaaakk! Kalian?!" pekik Jenny sangking terkejutnya setelah menyadari keberadaan kedua mahkluk minim ahklak dan super kepo yang sedang berjongkok seraya menyanggah kepalanya dengan kedua tangannya.
"Sejak kapan kalian ada di sini?" sergah Jeffrey yang tak kalah terkejut. Pasalnya pria itu tidak menyadari kedatangan mereka yang seperti hantu tersebut.
Sammy dan Daisy tampak saling bertukar pandang hinga akhir keduanya menyengir kuda dan menjawab pertanyaan Jeffrey.
"Kami berada di sini sejak kau bilang ingin menghukum dia," jawab Daisy dengan polosnya.
"Kyaaakkkk! Beruang kutub aku sungguh malu!" pekik Jenny yang langsung menyembunyikan mukanya ke dalam dada bidang Jeffrey.
"Kalian benar-benar merusak suasana saja!" Hardik Jeffrey. Dia merasa frustasi karena seharian kemesraannya dengan kucing kecilnya selalu saja terganggu.
"Sepertinya aku harus segera membawa Jenny honeymoon ke tempat yang jauh dari gangguan para bala setan," batin Jeffrey yang benar-benar frustasi.
"Kami hanya khawatir karena kalian tidak ada, jadi kami mencari kalian," jelas Daisy.
"Iya, aku juga takut kalau kalian tersesat tidak tahu jalan pulang," tambah Sammy seolah khawatir sungguhan. Padahal dia hanya kepo saja.
"Mana mungkin kami akan tersesat sedangkan jarak kami dengan villa tidak lebih dari 5 meter," dengus Jeffrey.
Sammy dan Daisy terkekeh bersamaan.
"Sepertinya enak ya, berciuman di atas rumput. Bagaimana kalau kita sekarang double date?" usul Sammy antusias.
"Kalian pacaran saja sendiri," ketus Jeffrey yang langsung menarik tangan Jenny dan membawanya pergi dari kedua makhluk pengganggu tersebut.
Bersambung~~
...Untuk para Readers kesayangan:...
__ADS_1
...Tolong biasakan tinggalkan like dan coment setelah membaca ya. Bila ada rejeki lebih Vote dan Gift juga boleh. Dukungan kalian sungguh membuat auhtor bahagia dan lebih semangat dalam mengetik. Terimakasih🥰...