
Di salah satu bangunan yang terletak di Bond Street London, jalan yang tidak terlalu lebar maupun tidak terlalu sempit namun merupakan rumah bagi merek - merek terkenal seperti Bulgari, Chanel, Hermes, louise Vuitton, Tiffany & Co, dan D & G, serta beberapa hotel dan restoran mewah yang sangat cocok sebagai tempat menikmati teh sore dengan elegan. Jalan yang terletak di West End London tersebut juga akan kita temukan beberapa outlet toko perhiasan terbesar yang tentu saja akan sangat memanjakan mata bagi para pengunjung.
Briana tampak memanjakan diri dengan memilih beberapa set skincare dan parfum. Dia tampak menghirup aroma tester parfum yang dia semprotkan di pergelangan tangannya. Senyuman puas terus terulas pada mukanya ketika dia menemukan barang yang cocok dengan seleranya.
"Tolong bungkus yang ini dan ini ya," ucap Briana kepada penjaga toko.
"Oya, dengan yang disana sekalian ya," tambah Briana seraya menunjuk jam tangan analog berdesain sporty dengan tali jam berwarna hitam dilengkapi aksen merah. Dia ingin memberikan jam tangan itu kepada Jeffrey.
"Baik Nyonya," ucap penjaga toko dengan ramah.
Ponsel Briana berdering, tidak menunggu lama wanita itu mengambil benda pipih yang berada di dalam tas. Ia menggeser layar kunci ke atas lalu menerima permintaan panggilan suara tersebut.
Tiba - tiba mimik muka kecewa terlukis di mukanya. Salah satu guru di sekolah tempat putranya belajar melaporkan bahwa sang putra meninggalkan jam pelajaran sekolah.
Percakapan melalui telepon tersebut tidak berlangsung lama. Setelah panggilan berakhir, Briana segera membayar tagihan belanjanya dan berniat langsung pulang. Saat ini bibirnya sudah sangat gatal ingin sekali mengomeli putra bandelnya tersebut.
°°°
"Cepat cium kakiku sekarang," perintah Jeffrey setelah menjauhkan kakinya dari tangan Jenny.
Jenny segera menarik tangannya yang terasa sakit akibat injakan kaki Jeffrey. Dia mengusap dan meniup punggung tangannya untuk mengurangi sensasi perih. Kesal dan terhina, itu yang dirasakannya sekarang. Mana mungkin dia akan membiarkan harga dirinya direndahkan dengan mencium kaki manusia yang tidak punya good attitude tersebut.
Jenny segera berdiri tegap. Tidak sedikitpun dia menampakkan mimik muka layaknya orang yang tertindas. Gadis itu tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Kini, dia melempar raut muka dingin dengan sorotan mata tajam kepada Jeffrey.
"Tunggu apa lagi? Kerjakan perintahku," titah Jeffrey.
Sammy yang tidak sengaja fokus dengan raut muka Jenny melalui tangkapan rekaman video yang sedang berlangsung mulai sedikit curiga. Dia menggiring tubuhnya mendekati Jeffrey.
__ADS_1
"Jeff, firasatku berkata buruk, apa tidak sebaiknya kita hentikan saja tindakan semua ini?" ucap Sammy sedikit berbisik.
Jeffrey menyatukan kedua ujung alis tebalnya karena merasa tidak suka dengan ucapan Sammy yang berusaha menghentikan aksinya yang kurang satu langkah lagi balas dendamnya akan terwujud.
Alvin yang memang tidak berada jauh dari Jeffrey dan Sammy pun terlihat menyetujui saran Sammy. Namun Jeffrey tak menghiraukan perkataan temannya tersebut.
"Bersiaplah, aku akan mencium kakimu sekarang," Jenny memberi aba - aba.
"Hei kamu, rekamlah dengan benar," sambung Jenny lagi kepada Sammy yang sedang merekam video.
"Papa, putrimu ini akan menerapkan kembali ilmu yang telah kau ajar, aku harap kamu melihatnya dari surga ya," lirih Jenny di dalam hati. Iya, sebelumnya Jenny juga pernah menerapkan apa yang telah diajarkan sang Papa kepada pria cabul yang hampir melakukan tindakan kriminal seksual kepadanya.
Jenny mulai membungkukkan tubuhnya ke arah kaki Jeffrey dan tentu saja bibir pemilik kaki tersebut menyungging membentuk sebuah senyuman puas meskipun Jenny belum seutuhnya mendaratkan bibirnya di kakinya. Namun tiba - tiba gadis itu dengan cepat menegakkan tubuhnya kembali dan dengan sangat lincah dia melayangkan sebuah tendangan mematikan ke arah telur kembar milik Jeffrey.
"Aaarrrrrgg!!!" Jeffrey seketika berteriak. Suara raungannya seakan menggema memenuhi langit kota London yang sedang cerah. Tubuhnya seketika membungkuk dengan kedua tangan menangkup organ peranakannya yang masih terasa ngilu tersebut.
"Rasakan itu, selamat menikmati," ucap Jenny puas setelah melihat Jeffrey yang belum lama sah menjadi musuhnya itu kesakitan.
Jenny langsung menarik tangan Daisy yang masih mematung. Kemudian kedua gadis tersebut berlalu pergi meninggalkan Jeffrey dan kawan - kawan.
"Papa, apakah aku sudah bisa menjadi putri yang membanggakan untukmu?" batin Jenny di sela langkahnya menuju halte bus.
"Hei perempuan gila! Jangan kabur!" teriak Jeffrey kepada Jenny yang tubuhnya semakin menghilang dari hadapannya.
"Apa yang kalian lakukan? kenapa tidak menangkap cewek itu?!" seru Jeffrey kepada Alvin dan Sammy.
"Aku tidak mungkin meninggalkanmu sendirian dalam keadaan tragis seperti sekarang," kilah Alvin yang sebenarnya takut kalau telurnya juga akan menjadi korban kegilaan Jenny.
__ADS_1
"Aku masih fokus merekam video Jeff, jadi aku nggak bisa mengejar dia," ucap Sammy dengan tampang bodohnya seraya masih lanjut merekam Jeffrey yang menjadi bidikan kameranya saat ini.
"Apa yang kau lakukan?! kenapa malah merekamku? matikan kameranya sekarang!" titah Jeffrey kepada Sammy.
Sammy dengan sigap mengakhiri rekamannya dan memasukan benda pipih tersebut ke dalam saku mantelnya. Tanpa Jeffrey sadari, guratan - guratan menahan senyum begitu tampak di mukanya begitu juga dengan Alvin.
Bukan bermaksut tidak setia kawan, tapi hal yang menimpa Jeffrey saat ini justru terlihat sangat lucu di mata Alvin dan Sammy.
"Jeff, apa kau mau minum? Air untuk menyiram cewek gila tadi masih ada sisa sedikit," tawar Alvin sedikit mengejek.
"Apa kau gila?! aku sedang kesakitan bukan kehausan," hardik Jeffrey.
"Kali saja burungmu sedang syok dan butuh minuman," sindir Alvin yang masih menahan tawa.
"Pffftt! Hahaha.., Ini sangat lucu. Aku sudah tidak bisa menahan tawaku," kini tawa Sammy mulai pecah yang diikuti Alvin.
"Sialan kalian!" hardik Jeffrey yang justru semakin menambah gelak tawa Alvin dan Jeffrey.
Ketiga sekawan tersebut terlalu asyik dengan urusan mereka, sehingga telat menyadari bahwa banyak mata tertuju ke arah mereka.
"Lihat apa kalian?! Hah?!" bentak Jeffrey yang baru menyadari dia sedang menjadi tontonan massal.
Sekali lagi, Jeffrey dipermalukan di depan umum oleh Jenny. Hal itu membuat rasa bencinya semakin tak terkira.
Bersambung~~
Terimakasih sudah mampir ke karyaku ya. Jangan lupa tekan gambar ♥️ agar masuk dalam rak buku kalian. Like, coment, rate, vote/hadiah dari kalian sangat beharga bagi Author🤗
__ADS_1
Semoga kalian sehat dan bahagia selalu🙏