
Cuaca kota Cambridge di penghujung musim semi masih tampak bersahabat. Warna nila yang membentang luas bak permadani langit yang berhias gumpalan awan kapas putih serta sinar mentari yang hangat semakin mendukung kegiatan bakti sosial yang diadakan oleh pihak himpunan mahasiswa di Universitas Cambridge.
"Jenn, coba kau kemari sebentar," Sean menarik tangan Jenny menuju luar ruangan.
"Ada apa Sean?" tanya Jenny penasaran.
"Tadi aku melihat benda cantik ini waktu perjalanan menuju ke sini," Sean mengeluarkan sebuah ikat rambut yang berbentuk pita kupu-kupu bewarna dusty pink.
"Apakah ini untukku?"tanya Jenny ragu setengah berharap bahwa Sean membeli benda cantik itu untuknya.
"Tentu saja, aku selalu teringat olehmu jika melihat benda cantik seperti ini,"
"Terimakasih Sean," ucap Jenny yang mulai menampilkan semburat merah di pipinya.
"Bolehkah aku memakaikannya untukmu?" tawar Sean.
"Iya," Jenny menganggukkan malu.
Sean pun mulai merapikan surai panjang Jenny yang tergerai menutupi separuh mukanya dengan sela-sela jarinya. Menguncirnya sedikit tinggi dan mengepangnya kemudian dihiasi dengan ikat rambut cantik yang dibelinya tadi.
"Angsa putih yang cantik," puji Sean dengan mimik muka kagum diikuti getaran Jantung yang semakin mendenyut hebat karena pemandangan elok di depannya.
"Benarkah? Terimakasih," balas Jenny kikuk karena malu.
"Kau berhutang kencan denganku sebagai tanda terimakasihmu," goda Sean yang membuat Jenny terperangah.
"Apakah sebaiknya aku memperdalam hubunganku dengan Sean? Tapi itu sama saja aku membohongi dia," jenny mendilema di dalam hati.
"Emm, Sean?" Jenny bingung bagaimana dia harus menanggapi perkataan Sean barusan.
"Jangan jadikan perkataanku tadi sebuah beban untukmu, aku akan menunggumu hingga kau siap," tutur Sean kemudian mencolek gemas hidung kecil Jenny. Dia sangat mengerti pujaan hatinya itu sedang bimbang, meski dia tidak tahu apa alasan kebimbangannya.
Jenny hanya mengulas senyum manisnya.
"Baiklah, mari kita lanjutkan kembali kegiatan hari ini," ajak Sean lalu menarik tangan Jenny untuk bergabung dengan yang lainnya.
Kegiatan bakti sosial bulan ini berlangsung di salah satu yayasan panti jompo yang terletak di pinggiran kota Cambridge.
Jenny, Sean, Daisy, Jullian, dan Avellyn tampak bersemangat menjalani kegiatan yang menjunjung tinggi asas kemanusiaan tersebut. Keseruan acara seperti game ringan dan menyanyi tampak mewarnai kegiatan di sana.
Jeffrey, yang entah bagaimana ceritanya dia juga ikut terseret dalam kegiatan yang belum pernah dia ikuti sebelumnya itu. Dia tentunya tidak sendiri, kedua ajudannya Sammy dan Alvin juga mengekori serta Veronica yang selalu mengambil kesempatan untuk selalu bisa menempel kepada pujaan hati.
Di salah satu sudut ruangan, Jenny dan Sean tampak tenggelam dalam segerombolan lansia yang merasa kagum akan keramahan mereka. Tawa renyah sesekali terdengar di sela perbincangan.
"Nak, kalian tampak seperti pasangan muda, apakah itu benar?" tanya seorang nenek-nenek dengan seutas senyuman di muka kriputnya.
"Kenapa kau masih bertanya Nenek tua? Bukankah sudah jelas kalau mereka itu sepasang kekasih. Aku bisa melihat kedua rona muka mereka yang saling menyukai," sahut seorang Kakek yang juga ikut nimbrung bersama.
"Benarkah? Kalian memang terlihat sangat serasi. Yang satu sangat tampan dan yang satunya lagi cantik, sungguh pasangan yang sedap dipandang," puji sang Nenek.
"Ah, i-itu saya dan dia hanya," Jenny berniat menyanggah namun ucapannya terputus.
"Doakan kami bisa jadi pasangan yang langgeng ya Nek," ucap Sean menampilkan senyuman manisnya yang sontak membuat Jenny tertegun.
__ADS_1
"Tentu saja Nak, kami para orang tua hanya bisa mendoakan," jawab sang Nenek.
Sedangkan Jeffrey yang berada tidak jauh dari gerombolan itu hanya bisa berdecih ria ketika mendengar obrolan mereka. Entah mengapa dia merasa risih dengan obrolan para orang tua tersebut. Tanpa dia sadari Veronica menamatinya sedari tadi dan mulai membuka percakapan.
"Sayang apa kau dengar percakapan mereka tadi? Mungkinkah Sean menyukai si gadis berpenampilan aneh itu?" tanya Veronica.
"Itu bukan urusanku. Sebaiknya kita pulang saja, acara sepertinya juga hampir selesai," saut Jeffrey.
"Emm, sayang kalau begitu, bagaimana habis ini kita berkencan?" ajak Veronica.
"Tapi aku sangat lelah, ingin beristirahat di rumah," tolak Jeffrey.
"Ya sudah kalau begitu ajak aku ke apartemenmu saja ya, bukankah sudah lama sekali kau tidak membawaku ke tempatmu," rayu Veronica.
"Jangan!"
"Kenapa jangan sayang? Bukankah aku kekasihmu?" Veronica tampak merajuk.
"Sebaiknya kita kencan di luar saja," saran Jeffrey pasrah. Setidaknya itu lebih baik daripada harus membawa Veronica ke apartemennya. Dia tidak ingin pacarnya itu mengetahui kalau dia tinggal satu atap bersama wanita lain.
"Oke, aku sangat senang berkencan denganmu," ucap Veronica manja tanpa menaruh curiga terhadap gelagat Jeffrey.
Jeffrey dan Veronica hendak beranjak dari tempatnya, tiba-tiba seorang pria tua nan renta menyapa.
"Wahai anak muda, maukah kau menyanyikan satu lagu lagi untukku? Tadi kau bernyanyi sambil memainkan gitar dengan sangat bagus. Hal itu mengingatkanku di saat aku masih muda," pinta si pria tua tersebut.
Jeffrey tampak berpikir seraya memandang muka pria tua itu. Tampak guratan penuh harap yang tersirat pada muka kriput tersebut.
"Baiklah, Kakek ingin aku menyanyikan lagu apa?" tanya Jeffrey yang akhirnya menuruti permintaan si pria tua.
"Tolong nyanyikan sebuah lagu untuk istri tercintaku yang kini sedang menungguku di surga," pintanya seraya mengulas senyuman hangat.
Jeffrey melirik ke arah Alvin yang memang dialah yang membawa alat musik petik tersebut. Alvin yang mengerti maksut Jeffrey langsung menyerahkan gitarnya ke sahabatnya itu.
Jreng..!
Jeffrey memilih sebuah lagu nostalgia yang sempat melegenda di tahun 80-an.
Jeffrey memulai pembukaan intro dengan chord nada C. Suara merdu petikan gitar langsung menarik perhatian seluruh penghuni ruangan termasuk Jenny. Suara baritone Jeffrey yang khas mulai mengisi alunan musik.
Oh - thinking about all our younger years.
Oh - terpikir tentang masa-masa muda kita.
There was only you and me.
Hanya ada kau dan aku.
We were young and wild and free.
Kita masih muda dan liar dan bebas.
Now nothing can take you away from me.
Kini tak ada yang bisa mengambilmu dariku.
__ADS_1
We've been down that road before.
Kita pernah melalui jalan itu.
But that's over now.
Namun kini berakhir sudah.
You keep me coming back for more.
Kau membuatku terus ingin mengulangi masa-masa itu.
Baby you're all that I want.
Kasih kaulah yang kuinginkan.
When you're lying here in my arms.
Saat kau berbaring di sini di pelukanku.
I'm finding it hard to believe.
Sulit kupercaya.
We're in heaven.
Kita ada di surga.
Song Title : Heaven - Bryan Adams
Plok! Plok! Plok!
Suara gemuruh tepuk tangan disertai suara riuh kekaguman akan penampilan Jeffrey langsung memenuhi langit ruangan.
"Terima kasih anak muda. Tahukah kau, aku dan istriku dulu saling membenci satu sama yang lain, tapi pada akhirnya kita saling mencintai hingga maut yang memisahkan kita. 3 bulan yang lalu istriku pergi ke surga meninggalkanku terlebih dahulu, mungkin tidak lama lagi aku juga akan menyusulnya," ucap pria tua tersebut dengan pandangan menerawang. Garis-garis kesedihan dan kerinduan yang mendalam begitu tampak di sela-sela senyumannya.
Seutas senyuman setipis kertas mengulas di bibir Jeffrey. "Bagaimana bisa orang yang saling membenci berujung saling mencintai? Bukankah itu hal konyol?" ucap Jeffrey dengan mimik mukanya yang khas.
Si pria tua tersenyum penuh makna. "Benci dan cinta itu hanya beda tipis anak muda. Ketika kau membenci pada seseorang, maka perhatianmu akan sering tertuju pada orang yang kau benci. Tanpa kau sadari, orang yang kau benci itu sudah memenuhi otakmu. Dan kau akan merindukannya jika orang yang kau benci jauh darimu. Oleh sebab itu, jangan terlalu dalam membenci jika tidak ingin bencimu itu berubah menjadi cinta," tutur pria tua tersebut panjang lebar.
Deg!
"Jangan terlalu dalam membenci? Perkataanya mengingatkanku pada ucapan Darren beberapa tahun yang lalu," batin Jeffrey.
Acara kegiatan bakti sosial sudah berakhir. Semua mahasiswa yang berperan serta dalam kegiatan mulai berhamburan pulang.
"Segeralah pulang dan bersihkan apartemen, baju kotorku juga sudah menumpuk," Perintah Jeffrey dengan nada pelan. Dia tidak ingin orang lain mendengar ucapannya.
"Apa? Bukannya kemarin aku sudah mencuci semua baju kotormu? Kau sengaja melakukannya untuk menyiksaku? Hah?" seru Jenny tidak terima dengan nada setengah berbisik.
"Bukankah itu sudah tugas seorang istri? Memangnya aku menikahimu untuk menjadikanmu ratu? Jangan bermimpi, kata pembantu cocok untukmu," cemoh Jeffrey yang membuat Jenny mendengus kesal.
"Istri? Menikah? Apa maksut dari ucapanmu?" sela seseorang yang tanpa sengaja mendengar percakapan Jeffrey dan Jenny.
Bersambung~~
__ADS_1
...Untuk para Readers:...
...Tolong tinggalkan jejak like, coment, rate 5. Kalau ada rejeki lebih bolehlah kasih vote atau hadiah sebagai bentuk dukungan kepada Author. Terimakasih🥰...