
Sang penguasa terang mulai menyingsing dan menempati singgasana kebesarannya. Membiarkan sinarnya yang hangat menyapu alam semesta yang masih basah akan titik-titik embun yang menyelimuti.
Wanita blonde yang masih terbang di negeri kapuk itu tampak mengerutkan dahinya ketika anak cahaya mengusap nakal mukanya melalui cela jendela.
Perlahan ia membuka kelopak netranya, menggeliat dan meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku. Masih dalam posisi berbaring, ia meraih ponsel yang terletak di atas nakas sebelah ranjangnya. Lalu menggeser kunci layar dan muncullah sebuah wallpaper berupa foto kekasih hati yang sangat ia rindukan.
Seutas senyuman mengulas di sepasang bibirnya. "Selamat pagi beruang kutubku," ucapnya terjeda.
"Tahukan kau, hingga saat ini aku masih menunggu datangnya sebuah keajaiban. Sedang apa kau saat ini? Apa kau selalu makan dengan benar? Sedetikpun, aku tidak pernah menganggap kau telah tiada. Hati ini selalu yakin bahwa kau hanya sedang berada di suatu tempat," monolog Jenny seraya memandangi foto Jeffrey yang berpose dengan mimik muka masamnya yang khas namun semakin membuat Jenny merindu.
Jenny lantas menyingkap selimut tebal yang membungkus tubuhnya, menuruni ranjang lalu mengintip pemandangan di luar dari jendela. "Cuaca hari ini terlihat sangat cerah, aku ingin menikmati bunga bluebell di tebing pantai Ryde, sepertinya akan sangat menyenangkan,"
°°°
"Nuan, sebentar lagi akan ada seseorang yang angin bertemu denganmu," ucap Luke seraya meletakkan nampan berisi obat dan minuman di atas meja makan.
Nuan menatap Luke dengan mimik muka penuh tanya. Pasalnya setelah bangun dari komanya, belum ada ada satupun orang yang ingin bertemu dengannya.
"Siapa dia?" tanya Nuan.
" Dia adalah Tuanku,"
Roman penasaran Nuan seketika berubah cerah, karena selama ini dia sangat ingin bertemu dengan orang yang selalu dia anggap sebagai malaikat penolongnya. Sedetik kemudian ia melirik ke arah obat yang akan dia minum. Sesaat, tatapannya tampak menyelidik. Dia mencoba menghitung satu persatu butiran obat yang jumlahnya tidak sebanyak biasanya.
"Luke, apa tidak ada obat yang kelewatan?" tanya Nuan.
"Aku memang sengaja tidak memberikan obat yang kau maksud itu, karena semalam Tuanku menyuruhku untuk menghentikan pemberian obat itu kepadamu,"
Sekali lagi, mimik muka menyelidik tampak samar-samar di muka Nuan. Entah mengapa dia merasa ada yang janggal.
°°°
Selang waktu tidak lama, pria yang ingin menemui Nuan telah tiba dan kini kedua pria berbeda usia itu sedang duduk berhadapan di ruang tamu.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya pria itu yang tak lain adalah Darren.
"Seperti yang kau lihat sekarang, aku lumpuh dan tidak mengingat apapun setelah sadar dari koma," jawab Nuan tersenyum getir.
__ADS_1
"Aku ingin mengucapkan terimakasih kepadamu karena kau telah menolongku, tapi bolehkan aku bertanya kenapa kau menolongku? Kau bahkan membiayai semua pengobatanku dari aku masih koma selama tujuh bulan hingga sekarang," sambung Nuan kembali yang diikuti rasa ingin tahunya.
Roman muka Darren sungguh sulit diartikan hingga akhirnya dia kembali bersuara.
"Asal kau tahu, aku tidak sebaik yang kau pikirkan,"
"Apa maksudmu?"
"Aku telah menyembunyikanmu di saat insiden kecelakaan itu, hingga keberadaanmu tidak bisa ditemukan hingga semua orang menganggap kau telah meninggal, Jeffrey," aku Darren yang memang sudah bertekad mengembalikan kebahagiaan keluarga Allison seperti semula meski dia tahu resiko yang akan dia hadapi setelah ini.
"Kecelakaan? Jeffrey?" di tengan emosi yang mulai bergemuruh Nuan menyebut ulang sebuah nama yang baru saja disebut Darren.
"Iya, Jeffrey adalah nama aslimu," terang Darren.
Kemudian pria itu merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan sebuah kalung berliontin yang menyerupai huruf J. "Ini adalah benda trakhir yang melekat di tubuhmu sebelum kecelakaan, aku kembalikan kepadamu, semoga dengan ini bisa mengembalikan ingatanmu,"
Darren memang sengaja mengambil segala hal yang memicu kembalinya ingatan Jeffrey. Tidak berhenti di situ saja, setelah Jeffrey terbangun dari komanya selama tujuh bulan dan dinyatakan menderita amnesia, Darren sengaja memberinya obat yang yang dapat mengganggu kinerja norepinefrin dan epinefrin, sehingga menghambat pemulihan ingatan memorinya. Iya, obat itu adalah obat yang sempat Jeffrey tanyakan sebelumnya kepada Luke tanpa ia ketahui fungsi obat itu sebenarnya.
"Sebenarnya apa tujuanmu melakukan hal itu?" Jeffrey tampak menahan amarahnya yang hampir meluap.
"Apa? Adik?"
"Iya kita adalah kakak beradik tapi sebelum aku mengetahui kebenarannya bahwa aku bukan anak kandung dari kedua orangtua kita. Orangtua yang selalu aku banggakan dan orangtua yang selalu ingin kubuat bangga karena memiliki putra sepertiku tapi," ucap Darren dengan perasan yang mulai menggebu-gebu namun terputus.
"Tapi ternyata hanya kau yang paling utama bagi mereka. Aku hanyalah anak dari seseorang yang akupun tidak tahu latar belakang orangtua kandungku sebenarnya. Bahkan Daddy lebih menginginkan dirimu untuk menduduki jabatan CEO perusahaan dari pada aku yang notabene sudah banyak bekorban dan lebih berperan banyak dalam kesuksesan perusahaan," sambung Darren kembali.
"Kenapa kau tidak membunuhku sekalian saja? Jika memang keberadaanku menjadi penghalangmu? Hah?!" sergah Jeffrey dengan muka yang sudah merah padam yang membuat Darren membisu. Andai saja kakinya tidak lumpuh, mungkin saat ini ia sudah menghajar habis orang yang disebut kakak itu.
"Ck! Aku yakin kau sudah mendapatkan yang kau inginkan bukan, termasuk kursi kehormatan CEO. Apa kau puas sekarang?" Jeffrey menyeringai tipis.
"Nyatanya jabatan tertinggi yang sedang aku jabat saat ini tidak bisa membuatku puas. Aku bahkan tidak merasakan kebahagiaan yang ku dambakan," batin Darren.
Jeffrey yang tidak tahan melihat kebisuan Darren akhirnya memilih pergi dari hadapannya.
"Bersiap-siaplah, karena besok aku akan mengembalikanmu kepada keluargamu," Jeffrey menghentikan laju kursi rodanya ketika mendengar ucapan Darren. Ia sedikit memutar lehernya dan berkata.
"Dan apa kau juga siap menerima konsekuensinya di saat kembalinya diriku?"
__ADS_1
Lagi-lagi Darren tidak menjawab dan hal itu semakin membuat Jeffrey jengah dan kembali melajukan kursi roda elektriknya.
Setelah tubuh Jeffrey menghilang dari hadapannya, Darren meraih ponselnya dan mencoba menghubungi seseorang.
"Buatkan surat pengunduran diriku sebagai CEO," titah Darren kepada seseorang yang berada di seberang telepon dan langsung mengakhiri panggilannya.
Darren menghempaskan kasar tubuhnya pada sandaran sofa. Helaan napas panjangnya terdengar seolah ia tengah mencoba melepaskan semua impian dan ambisinya yang nyatanya telah menjelma menjadi obsesi yang melebihi takaran sewajarnya.
Ia memejamkan matanya dan mencoba mengulang kembali kilasan-kilasan ingatan di saat tragedi kecelakaan satu tahun yang lalu.
"Jeffrey...!" Darren yang sempat meloncat keluar sebelum mobil terperosok ke dalam jurang lebih dalam tampak sangat panik.
Dengan kepala yang bersimbah darah segar karena luka benturan keras serta tulang tangan yang patah, ia berusaha sekuat tenaga untuk berdiri dan mencari keberadaan sang adik, berharap dia juga selamat.
Dari jarak pandang kurang dari 15 meter di dalam gelapnya malam, Darren melihat tubuh Jeffrey tergeletak tak sadarkan diri di bibir tebing dengan tubuh yang sudah dilumuri cairan merah akibat luka-luka yang dimilikinya. Sepertinya Jeffrey juga sempat berusaha melompat dari mobil sebelum akhirnya mobil terjun bebas dari tebing bersama sang supir.
Dengan langkah sempoyongan Darren menghampiri Jeffrey.
"Jeffrey! Sadarlah, kau harus bertahan," teriak Darren seraya mengguncang-guncangkan tubuh Jeffrey yang masih belum memberikan respon tersebut. Ia juga sempat mengecek denyut nadi dan deru napas Jeffrey yang ternyata sudah melemah.
Pria yang sedang dirundung kepanikan tersebut bergegas merogoh ponselnya dan berniat memanggil bantuan. Namun entah bisikan setan jenis apa yang berhasil mempengaruhi pikirannya. Ingatan tentang segala ambisinya serta rasa iri dan cemburu terhadap Jeffrey mulai merajai hatinya yang gelap. Seolah makhluk tak kasat mata tersebut terus merayunya untuk melakukan sesuatu di luar nalarnya.
Dada Darren bergemuruh dahsyat membuat hembusan napasnya terputus-putus. Antara rasa panik melihat keadaan Jeffrey dan rasa gugup akan niat jahatnya melebur menjadi satu.
Lagi-lagi makhluk tak kasat mata tersebut mengehembuskan bisikan maut yang menjalar cepat di bawah alam sadarnya membiarkan dirinya dipengaruhi oleh rayuan manis namun menyesatkan. Menyingkirkan rasa kemanusiaannya sejauh mungkin.
Dengan penuh kemantapan hati Darren memutuskan untuk menuruti bisikan setan. Ia mengangkat kembali ponselnya dan menelpon seseorang.
"Retas semua CCTV pada jalur yang baru saja aku lewati dan segera temui aku di jalan menuju tebing Bantham Beach, sekarang juga," titah Darren dengan nada dingin.
Bersambung~~
...Untuk para Readers kesayangan:...
...Pantau terus kisah dobel 'J' ini ya, insa Allah ini konflik terakhir dan mendekati tamat....
...Tolong biasakan tinggalkan like dan coment setelah membaca ya. Bila ada rejeki lebih Vote dan Gift juga boleh. Dukungan kalian sungguh membuat auhtor bahagia dan lebih semangat dalam mengetik. Terimakasih🥰...
__ADS_1