
Hantaman demi hantaman derap langkah kaki terdengar menggema di setiap lorong gedung apartemen. Langkah lebar dan terkesan tergesa-gesa itu mengisyaratkan sebuah rasa yang menuntun otak untuk segera mencari tempat pelampiasan amarahnya.
Dengan kecepatan cahaya, bogeman mentah langsung melesat kuat dikala pintu apartemen terbuka lebar. Muka yang baru saja menyembul dari balik pintu seketika terhuyung ke belakang.
Aura iblis seolah sudah menguasai pria bermata elang tersebut. Muka yang sudah merah padam, mata menyalang tajam, deru napas yang memanas menggambarkan sebuah tingkat emosi yang sudah melewati taraf batas kesabaran seorang Jeffrey.
Bruaaaakk!
Belum berakhir sampai di situ saja, Jeffrey mengangkat sebelah kakinya lalu melayangkan sebuah tendangan maut hingga tubuh yang menjadi sasaran itu membentur bibir meja dan terjerembab di lantai.
Tubuh yang masih bersetubuh dengan lantai tersebut tampak menggeliat menahan sakit akibat serangan dadakan dari Jeffrey.
"Hentikan!" pekik Diven menghentikan niat Jeffrey yang hendak menghajarnya kembali.
"Ada apa ini?! Kenapa kau menghajarku? Uhuk! Uhuk!" tanya Diven yang terbatuk-batuk seraya menahan sakit pada tubuhnya.
Jeffrey mencengkram kasar kerah baju Diven dan menariknya untuk berdiri. "Kau memang bajingan brengsek! Kau masih bertanya hah?! Berani-beraninya kau mengusik keluargaku!" sergah Jeffrey geram lalu kembali menghadiahi tinjuan di muka Diven sehingga tampak darah yang mengalir dari sudut bibirnya.
Bukannya takut, Diven justru menyeringai tipis. "Ayolah, aku bukan dalang utama dalam masalah ini, aku hanya membantu Veronica dengan iming-iming bisa memiliki istrimu itu," kata Diven seolah tanpa beban.
Diven mendorong tubuh Jeffrey dengan keras sehingga cengkeraman pada kerah bajunya terlepas.
Cuih!
Pria yang sudah tampak babak belur mengusap bibirnya yang pecah lalu berludah guna menghilangkan darah yang mengganggu indera perasanya.
"Asal kau tahu, rasa ingin memiliki wanita itu memang sempat tenggelam karena dia menghilang, tapi tidak ku sangka aku bertemu kembali dengannya yang membuatku ingin mewujudkan keinginanku yang tertunda, yaitu menariknya ke dalam pelukkanku," beber Diven tanpa ada rasa malu sedikitpun.
"Brengsek kau! Akan aku pastikan, sebelum kau mewujudkan cita-cita konyolmu itu, kau sudah membusuk di neraka," kecam Jeffrey dengan mata menyalang.
Lagi-lagi Diven menyeringai santai seraya menuju mini bar di apartemennya. Menuangkan wine ke dalam gelas kristal dan menyesapnya.
"Kau itu sangat berlebihan, kau bersikap seolah kau benar-benar tulus dengan Jenny,"
Jeffrey tampak mengerutkan keningnya hingga terciptalah dua garis siku-siku di atas alisnya. "Apa maksudmu?"
"Kau berlagak tidak mengerti ternyata. Karena keluargamu dan terutama kau memiliki hutang budi kepada almarhum ayahnya makanya kau bersikap baik kepadanya. Bukankah seperti itu?"
"Berhutang budi untuk apa?" suara lembut wanita tiba-tiba menyela ke dalam percakapan Jeffrey dan Diven sehingga membuat keduanya menoleh secara bersamaan ke arah sumber suara.
"Hai sayang, kau juga datang kemari? Bukankah aku menyuruhmu untuk datang besok?" cerocos Diven seraya menggoyang-goyangkan gelas kristal berisi wine.
Diven yang tanpa sengaja menyadari sesuatu yang janggal kembali berseringai. "Wah..sepertinya aku kecolongan. Bukankah seharusnya kau berada di Rumah Sakit sekarang? Ck! Sepertinya Ella menghianatiku," celoteh Diven merasa dibodohi.
Sesaat Jenny mengutuki dirinya sendiri karena sikap cerobohnya itu, karena tanpa berpikir panjang ketika hendak mendatangi apartemen Diven. Tapi saat ini bukankah itu sudah tidak penting? Semua sudah terbongkar. Bahkan mengetahui fakta tentang hubungan Jeffrey akan kematian sang Papa adalah lebih penting saat ini.
"Kenapa kau kemari? Bukankah aku memintamu untuk menungguku di mobil?" tanya Jeffrey yang mulai cemas kalau Jenny akan salah paham dengan apa yang baru saja ia dengar.
__ADS_1
Tanpa merespon ucapan Jeffrey, wanita itu yang tak lain adalah Jenny menatap lekat muka Jeffrey dengan posisi pijakan tidak jauh dari ambang pintu.
Beberapa saat yang lalu, Jenny merasa cemas karena Jeffrey tidak kunjung kembali dari apartemen Diven. Takut terjadi hal yang tidak-tidak kepada suaminya ia pun bergegas menuruni mobil untuk memastikan keadaannya.
"Tolong jelaskan kepadaku, apa maksud dari perkataan orang itu tadi? Apa benar kau tidak tulus kepadaku? Apa hubungannya dengan Papaku?" tanya Jenny dengan perasaan kecewa bercampur penasaran yang mulai merangkak ke hatinya.
"Nanti akan aku jelaskan semuanya, sebaiknya kau kembali ke mobil dulu," tutur Jeffrey berharap Jenny mau menurutinya.
"Tidak! Aku ingin mendengarnya sekarang juga," bantah Jenny dengan netra yang sudah berkaca-kaca.
"Baiklah! Biar aku saja yang akan bercerita," sela Diven yang melangkahkan kakinya untuk lebih mendekat.
"Kau pasti sudah tahu bukan, penyebab kematian Ayahmu karena menolong seorang pemuda. Pemuda itu adalah dia, orang yang berstatus suamimu saat ini," beber Diven yang terjeda.
"Kau pasti mengira bahwa suamimu itu benar-benar tulus kepadamu bukan? Sayangnya semua itu palsu, dia hanya ingin membalas kebaikan Ayahmu. Sungguh manisku yang malang. Maka dari itu, lebih baik kau bersamaku saja, karena tidak akan ada kepalsuan di antara kita," sambung Diven kembali seraya menyisipkan rayuan murahannya.
"Hentikan omong kosongmu itu!" bentak Jeffrey tidak terima akan penjelasan Diven yang menurutnya tidak sesuai. Ia hendak melayangkan kembali pukulan ke arah Diven yang reflek memasang tameng dengan kedua tangannya namun aksinya terhenti seketika karena seruan Jenny.
"Sudah cukup!" sergah Jenny dengan dada yang tampak naik turun karena menahan kecewa dan amarah yang menyatu.
"Jenn, kau jangan percaya dengan ucapannya, dia berbohong,"
"Aku berkata apa adanya, kau adalah pembunuh Ayahnya. Dan untuk menebus kesalahanmu kau bersikap baik kepadanya. Hanya demi membalas budi dan tak lebih. Bukankah itu benar adanya? Kau tidak perlu berkilah," Diven berusaha memprovokasi pikiran buruk Jenny agar semakin salah paham. Saat ini ia seolah merasa menang setelah melihat raut muka Jenny yang terlihat sangat kecewa dengan Jeffrey.
Sedangkan Jenny, ia sudah tidak bisa menahan bendungan air matanya lebih lama lagi. Perlahan cairan bening itu mencelos begitu saja tanpa sopan.
"Sebaiknya aku kembali ke mobil, aku masih membutuhkan penjelasanmu maka cepat selesaikan urusanmu," lirih Jenny sambil menunduk, membiarkan butiran bening itu terjun indah dari telaga beningnya. Sejujurnya rasa kecewa yang mendalam begitu menyelubung jiwanya, namun ia juga tidak ingin percaya begitu saja terhadap semua ucapan Diven.
Rasanya ingin sekali ia menghajar manusia calon penghuni neraka itu hingga mati, tapi nyatanya ia masih kuat menahannya. Meski saat ini gelagat Diven terkesan sangat menguras emosi.
"Tertawalah selagi kau bisa karena setelah ini, ku pastikan kau akan mendekam di penjara karena semua bukti-bukti kejahatanmu sudah berada di tanganku," seringai kemenangan di muka Diven seketika menguap ketika Jeffrey mulai menunjukkan salah satu rekaman video di ponselnya yang memperlihatkan Diven sedang memperkosa seorang gadis remaja yang masih di bawah umur di apartemennya.
Beberapa saat sebelum Jeffrey menuju ke apartemen Diven, Ella sempat menemuinya terlebih dahulu. Iya, video itu ia dapatkan dari Ella. Ella yang tidak sengaja melihat kejadian pelecehan seksual yang dilakukan Diven langsung berinisiatif merekam kejadian itu. Kalau ditanya kenapa waktu Ella tidak menolong si korban, jawabannya adalah selain dia tidak berani dan takut karena Diven bisa saja menghajarnya seperti yang sudah-sudah, dia memang ingin mencari bukti dari kebusukan Diven agar tidak ada korban pelecehan seksual lainnya.
"D-dari mana kau mendapatkan video itu? Serahkan kepadaku sekarang!" pinta Diven gugup yang seakan lupa akan dirinya yang berada di atas awan beberapa detik yang lalu. Ia beberapa kali berusaha merebut ponsel dari tangan Jeffrey namun usahanya gagal karena Jeffrey selalu berhasil menepisnya.
"Kau tidak perlu tahu darimana aku mendapatkannya, yang jelas ini bisa menjadi bukti kuat untuk memenjarakanmu,"
"Serahkan file video itu atau kau akan menyesal selamanya," ucap Diven mengancam.
"Jangan bermimpi," setelah merasa puas melihat ekspresi Diven yang ketakutan, Jeffrey langsung keluar apartemen. Saat ini ia sangat ingin meluruskan kesalahpahaman antara dia dan Jenny terlebih dahulu.
Sedangkan Diven yang merasa masa depan nama baiknya terancam langsung menelpon seseorang.
"Cepat bertindak sekarang, sebelum lelaki itu sampai di mobilnya,"
°°°
__ADS_1
Sudah dua jam Jeffrey mencari keberadaan Jenny, namun belum juga membuahkan hasil. Apalagi hari sudah menjelang petang, kecemasannyapun kian membuncah. Sepasang mata elangnya masih terus menyapu setiap sisi jalanan kota London, berharap bisa segera menemukan sosok wanita yang sedang mengandung anaknya tersebut. Hingga akhirnya ia membanting setir mobilnya ke tepian jalan untuk menenangkan otak dan hatinya sejenak. Ia memijit pelipis kepalanya yang terasa pening.
"Sebenarnya kau dimana?" lirih Jeffrey frustasi.
Sebelumnya ia sudah berusaha menelepon Jenny, tapi ternyata ponselnya berada di dalam mobil bersama tasnya. Dan hal itu tentu menyulitkan dalam aksi pencaraiannya.
Perhatian Jeffrey tiba-tiba teralih ke arah ponsel Jenny yang sedang berdering nyaring. Dengan cekatan Jeffrey langsung meraih benda pipih itu dan mengecek siapa yang menelepon
Jeffrey tampak mengernyitkan dahinya tatkala melihat permintaan video call dari nomor tidak dikenal. Tanpa berpikir panjang ia langsung menekan tombol terima.
Pria itu sontak terkejut luar biasa ketika melihat gambar seseorang memenuhi layar ponsel tersebut.
°°°
Di sebuah kamar apartemen bernuasa feminim, dua orang wanita yang tak lain Daisy dan Avellyn tampak berdiri tegap di depan sosok yang tengah duduk di atas kursi dan tampak tak berdaya.
"Lepaskan aku dasar kalian berdua wanita jalang pengecut!" umpat Veronica dengan tubuh masih terikat di kursi.
"Cepat katakan, dimana kau menyimpan file asli foto-foto rekayasamu itu?!" tanya Daisy yang bersifat memaksa.
"Aku tidak akan memberitahu kalian! Enak saja kalian mau merusak rencanaku," seru Veronica yang seolah tak gentar meski posisinya sedang terikat.
Avellyn yang merasa jengah dalam menghadapi tingkah tidak punya malu Veronica mulai bertindak ekstrim.
Krek! Krek! Krek!
Dengan lihainya, tangannya mulai memainkan sebuah alat pencukur bermata satu. Menggunting baju Veronica hingga hanya menyisakan BH dan CD. Tidak berhenti sampai di situ saja, ia juga memainkan guntingnya pada rambut panjang Veronica dengan sangat lihai bagaikan seorang hairstyle profesional.
Bisa dilihat hasil akhirnya yang sungguh memuaskan bagi Avellyn dan Daisy namun tidak bagi Veronica. Rambut yang tadinya tergerai indah, rambut yang selalu mendapatkan perawatan mahal di salon kini tampil sangat berantakan dan petal hampir botak.
Apakah sudah selesai? Jawabannya yaitu belum. Avellyn lanjut mencukur gemas kedua alis Veronica hingga tidak ada satu bulu alispun yang tersisa.
Aksi brutal Avellyn dan Daisy masih terus berlanjut hingga akhirnya Veronica menyerah dan mau membuka mulutnya, memberitahukan di mana ia menyimpan file asli foto-foto tersebut. Meskipun harus melewati beberapa drama yang dimana Veronica beberapa kali pingsan setelah melihat penampilannya di depan kaca tapi akhirnya usaha mereka tidak berakhir sia-sia.
Sementara di sudut kota lain, keempat pria yang tak lain adalah Sean, Sammy, Alvin, dan Jullian juga sedang menjalani tugasnya masing-masing.
Jullian yang dengan bantuan Elfrad telah berhasil meringkus kedua orang suruhan Veronica yang selalu mengintai gerak gerik Emy.
Sedangkan Sean, Sammy, dan Alvin pergi menuju ke suatu tempat dimana tempat Jeffrey berada. Beberapa waktu yang lalu, Jeffrey menghubungi untuk meminta bantuan mereka.
Bersambung~~
Maaf ya, jika ceritanya semakin membosankan🙏
Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, atau gift dan vote ya..🥰
Please, minimal like aja nggak apa-apa. Itu juga sudah termasuk menghargai karya Author yang seperti kulit kuaci tengik ini.
__ADS_1
Untuk para Author yang karya kecenya belum Nofi kunjungi, sabar ya.. Akhir-akhir ini semakin disibukkan dengan kegiatan RL. Tapi tenang saja, Nofi bakal tetap lanjut baca karya keren kalian kok😉
TERIMAKASIH🥰