Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn

Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn
Bertemu Para Sahabat


__ADS_3

Briana tampak sedang membantu Darren meminumkan obatnya dengan sangat telaten.


"Sayang, kau harus rutin meminum obat agar segera pulih dan bisa kembali beraktivitas seperti biasanya," Darren hanya mengulas senyuman tipis. Setelah menajalani operasi pencangkokan ginjal, ia lebih banyak diam. Sungguh, sebenarnya dia masih merasa tidak enak hati dan sangat canggung ketika mendapatkan perlakukan baik dari semua orang setelah kesalahan besar yang telah ia perbuat.


Darren tidak percaya, semua orang bisa memaafkannya dengan cepat. Sungguh ia merasa sangat beruntung berada di antara orang-orang baik seperti mereka. Namun bagi Darren, penebusan kesalahannya belumlah berakhir.


Briana menggiring kedua pupilnya ke arah Jeffrey yang sedang berdiri di sebelahnya.


"Sayang, kau sebaiknya beristirahat. Ajak istrimu pulang sekalian, dia pasti masih di ruangan Mamanya," tutur Briana lembut.


Jeffrey menautkan pandangannya ke arah Briana. "Apa tidak apa-apa Mama menjaga Kakak sendirian?"


"Mama tidak apa-apa, lagian sebentar lagi Daddy juga datang. Sekarang istrimulah yang lebih membutuhkah perhatianmu. Selama ini dia sudah sangat tersiksa karena jauh darimu," tutur Briana kepada Jeffrey tanpa ia sadari ucapannya langsung membuat hati Darren tercubit ketika mendengarnya. Dia sangat sadar akan kesalahan yang dia perbuat membuat sepasang kekasih halal itu terpisah cukup lama. Maka dari itu, setelah kondisinya sudah benar-benar pulih ia berniat menebus semua kesalahannya hingga tuntas.


"Baiklah," Jeffrey tersenyum tipis dan mulai menuju pintu keluar namun langkahnya terhenti karena Briana kembali memanggilnya.


Briana beranjak dari duduknya dan mendekati putra kandungnya tersebut. Dia menangkup muka tampan Jeffrey menggunakan kedua tangannya dengan penuh sayang. Sorot matanya tersirat akan setumpuk kerinduan dan kasih berharga seorang ibu. Tak terasa, butiran kristal mencelos begitu saja dari telaga beningnya.


"Terima kasih," dua kata penuh akan makna terdengar begitu tulus.


Sedangkan di kamar perawatan lainnya.


"Nak, sebaiknya kau pulang saja, biar Papa yang menunggu Mamamu disini," saran Addy kepada Jenny.


"Iya sayang, lagian besok Mama sudah bisa pulang," tambah Emy yang masih duduk bersandar pada head board ranjang Rumah Sakit.


Iya, lima hari yang lalu Emy menjalani operasi untuk mendonorkan ginjalnya kepada Darren. Tentunya operasi dilakukan setelah mengikuti seluruh pemeriksaan dan evaluasi medis.


Awalnya, Jennylah yang bersikukuh untuk menjadi pendonor. Apalagi setelah mengetahui bahwa dia dan Darren ada hubungan darah membuatnya semakin mantap akan keputusannya. Tapi akhirnya Emylah yang berakhir di meja operasi, tentunya setelah melewati sedikit perdebatan dengan Jenny yang keras kepala.


"Tapi Ma,"


"Sayang, tolong turuti ucapan Mama ya, sekarang kau pulang dan beristirahatlah," sahut Emy. Dia sangat mengerti, saat ini putrinya itu sangat ingin menghabiskan waktu bersama suaminya, mengingat setelah sekian lama mereka berpisah akhirnya bisa kembali bersatu. Tentunya mereka butuh waktu untuk saling melepas rindu.


"Baiklah Ma,"


Jenny akhirnya menuruti perkataan Emy dan membawa tubuhnya keluar ruangan.


Seutas senyuman terlukis di sepasang bibir Jenny ketika melihat sang suami berjalan mendekatinya.


"Kau mau kemana?" tanya Jenny.

__ADS_1


"Aku ingin mengajakmu pulang," balas Jeffrey lalu menggenggam tangan Jenny dan menuntunnya menyusuri lorong Rumah Sakit menuju keluar bangunan.


"Kali ini biar aku yang menyetir mobilnya, berikan kuncinya kepadaku," ucap Jeffrey seraya mengatungkan tangannya di depan Jenny.


"Apa kau yakin? Apa kau bisa mengingat jalan pulang?" tanya Jenny ragu. Memang selama Jeffrey belum sembuh dari amnesianya, Jennylah yang selalu duduk di depan setir mobil.


"Apa kau meragukanku? Tentu saja aku mengingat jalan pulang karena kita sudah beberapa kali melewatinya,"


Jenny mengulas senyum. "Baiklah, ini kuncinya,"


Jeffrey membukakan pintu dan mempersilahkan Jenny masuk ke dalam mobil lalu menyusul masuk. Pria bermata elang tersebut dengan sigap membantu wanitanya memasang seat belt.


"Terimakasih ya,"


"Ini tidak gratis, kau harus membayarnya,"


"Ha? Kau hanya membantu memasang seat belt tapi kau sudah meminta imbalan," sungut Jenny.


Jeffrey mendengus geli. Melihat mimik muka kesal Jenny membuatnya gemas dan semakin ingin menggodanya terus dan terus.


"Nanti setelah sampai di Rumah, aku akan menagih imbalan darimu," ucap Jeffrey penuh akan makna.


"Kenapa harus menunggu sampai di rumah? Imbalan seperti apa yang kau mau?" sahut Jenny dengan polosnya.


Blush...


Memang sudah lama sekali Jenny tidak mendapatkan perlakuan manis Jeffrey yang selalu ia dambakan, tapi entah mengapa dia merasa malu jika membayangkan semua keintiman yang akan dia dapatkan dari suaminya. Dan dia sangat paham dengan maksud Jeffrey. Tentang apa selanjutnya yang akan terjadi ketika sampai di rumah. Tentunya sesuatu yang sangat manis dan memabukkan setelah sekian lama keduanya berpuasa.


"Aku heran, meskipun kau amnesia tapi hal itu sungguh tidak mempengaruhi tingkat kemesumanmu," cebik Jenny sambil membuang mukanya lurus ke depan kaca mobil.


Jeffrey hanya menanggapi cicitan Jenny dengan senyuman tipis kemudian melajukan mobil menembus keramaian jalanan ibu kota Inggris dengan kecepatan rata-rata.


Sesampainya di kediaman pribadinya yang terletak di perumahan kawasan elit Kensington Palace.


"Jeffrey....!" suara panggilan seseorang membuat pasangan suami istri yang hendak memasuki rumahnya seketika memutar tubuhnya 180 derajad mencari tahu siapa pemilik suara yang memekikkan telinga tersebut.


Jeffrey reflek mengambil satu langkah ke belakang ketika melihat Sammy berlari mendekatinya dengan mimik muka mengharu hiru. Bergidik, itu yang diraksakannya seketika.


Grep..!


Sammy memeluk erat tubuh Jeffrey seraya menangis histeris. "Sahabatku, aku tidak percaya ternyata kau masih hidup. Aku sangat senang, aku sangat merindukanmu,"

__ADS_1


"Kau siapa?" tanya Jeffrey yang sedikit kesulitan untuk bernapas karena Sammy melilitnya seperti ular piton.


Sammy sontak melerai pelukannya.


"Apa kau sudah melupakanku? Kenapa kau begitu kejam kepadaku? Aku sahabatmu yang paling tampan dan paling manis. Tidak ingatkah kau, dulu kau sering memujiku makhluk paling imut dan menggemaskan?" cerocos Sammy yang mulai mendrama. Ia menangis guguk dan sesekali mengusap ingusnya pada lengan baju Jeffrey.


Jeffrey sedikit mendorong tubuh Sammy dengan ekspresi muka jijik ketika cairan ingus menggelayut manja di lengan bajunya.


"Yaaak! Kau sangat jorok! Menjauhlah! Dan jangan mengada-ngada, aku tidak mungkin memujimu dengan kata-kata menjijikkan seperti itu," pekik Jeffrey.


Sammy tersentak karena hardikan Jeffrey. Alih-alih menghentikan aksi konyolnya, ia justru semakin mendrama korea. Kedua sudut bibirnya semakin terlihat melengkung ke bawah dan tangisnya kembali pecah.


"Huaaaa.. Hu..Hu..Hu.. Kau jahat sekali Jeff. Kau tidak hanya melupakanku tapi juga bersikap kasar padaku," protes Sammy seraya memukul-mukul dada Jeffrey.


Sementara Jenny tampak terkekeh geli melihat ekspresi muka Jeffrey karena tingkah absurd Sammy.


"Aduduhduhduh! Sakit sakit sakit!" Sammy merintih kesakitan ketika Daisy yang baru saja datang menarik dan memelintir telinganya yang elastis.


Iya, Sammy tidak datang sendiri dia datang bersama yang lain. Yaitu, Daisy, Sean, Alvin, dan Avellyn.


Jika ditanya kemana Jullian? Kenapa dia tidak ikut hadir? Jawabannya, setelah putus dengan kekasihnya Avellyn, ia memang sudah jarang ikut berkumpul dengan yang lain. Sibuk. Iya, dia sedang sibuk untuk menggapai cita-citanya.


Setelah hubunganya dengan pujaan hatinya pupus, membuatnya sedikit merenggangkan jarak dengan yang lain. Tapi bukan berarti dia menghilang begitu saja. Dia masih seperti Jullian yang dulu, sahabat yang selalu peduli dan perhatian.


"Aduh sakit sayang, telingaku bisa putus," pinta Sammy memelas.


"Kau itu kebiasaan. Selalu mendramatisir segala situasi. Jelas saja Jeffrey tidak mengingatmu karena dia sedang mengidap amnesia." seru Daisy.


"Ow iya ya, kenapa aku bisa lupa?" sahut Sammy yang langsung menghentikan aksi drama Korea-nya. Tapi tetap saja, dia masih merasa terharu karena bisa melihat kembali sahabat kesayangannya tersebut.


"Hai, Jeff," sapa Sean yang langsung mengahadiahi sebuah pelukan singkat. "Aku tidak menyangka aku bisa melihatmu kembali," sambungnya kembali sambil mendaratkan pukulan ringan di dadanya. Tampak sepasang netra Sean berkaca-kaca karena terharu.


"Jeff? Aku sangat senang kau kembali. Tahukah kau, kami semua sangat terpukul karena kehilanganmu," kini ganti Alvin yang bersuara. Dia juga tak kalah terharunya.


Jeffrey tersenyum simpul sambil berusaha mengingat satu-persatu semua orang yang ada di hadapannya sekarang.


Sedangkan Jenny yang menyaksikan adegan di depan sudah tak kuasa menahan air mata. Suasana saat ini begitu sangat mengaharu biru.


Bersambung~~


...Untuk para Readers kesayangan:...

__ADS_1


...Tolong biasakan tinggalkan like dan coment setelah membaca ya. Bila ada rejeki lebih Vote dan Gift juga boleh. Dukungan kalian sungguh membuat auhtor bahagia dan lebih semangat dalam mengetik. Terimakasih🥰...


__ADS_2