
Di sebuah ruang perawatan VIP Rumah Sakit St. Thomas, London, Jenny menatap punggung Emy yang sejak semalam seolah enggan beranjak dari sebelah ranjang tempat Darren terbaring dan masih belum sadarkan diri setelah lolos dari masa kritisnya.
Otaknya terus saja mengingat dan mengulang-ngulang di kala ia melihat reaksi Emy kemarin.
Flash back on
Briana, Darwin, Jeffrey, dan Jenny sedang dirundung rasa cemas yang teramat besar. Pasalnya sudah dua jam lamanya mereka menunggu di depan ruangan UGD namun belum tampak satupun petugas medis yang keluar dari sana. Di dalam hati, mereka tidak henti-hentinya berdoa berharap Darren bisa melewati masa kritisnya.
Jenny yang sedang duduk di salah satu bangku tunggu melihat sosok Emy dan Addy dari ujung lorong yang tampak semakin mendekat dengan langkah cepatnya.
"Briana, bagaimana keadaannya? Kenapa hal itu bisa menimpanya?" tanya Emy dengan perasaan sangat cemas hingga ia tak kuasa menitihkan air mata.
"Dia sedang ditangani Dokter. Kita berdoa saja agar semuanya akan baik-baik saja,"
"Aku sangat takut Bri, bagaimana kalau dia..,"
"Sttt.. Kau tidak boleh berpikiran negatif. Dia pasti juga sedang berjuang di dalam sana, kita harus yakin bahwa dia bisa melewati ini semuanya," tutur Briana mencoba menenangkan meski dirinya juga tak kalah khawatirnya.
Tanpa Emy dan Briana sadari, jenny sedari tadi mendengarkan percakapan mereka dengan mimik muka menyelidik.
Flash back off
Satu tanda tanya besar masih menggelayut di pikiran otak Jenny. Ingin rasanya ia segera mencari jawaban dengan menanyakannya langsung ke sang Mama, namun masih urung ia lakukan karena menyadari bahwa saat ini bukanlah hal yang tepat untuk menanyakan hal itu, apalagi kesedihan masih meliputi suasana hati sang Mama.
"Kau tampak kelelahan, sebaiknya aku antar kau pulang dulu," tanya Jeffrey seraya mengusap tangan Jenny yang sedari tadi tidak lepas dari genggamannya.
"Tapi Mama juga belum istirahat dari kemarin," Emy seketika memutar tubuhnya menghadap Jenny ketika menyadari putrinya itu tampak mencemaskan dirinya.
Seutas senyuman mengulas tipis pada muka yang masih menyiratkan kesedihan tersebut. "Sayang, tidak apa-apa, kau pulang saja dulu. Beristirahatlah, lagian sebentar lagi Mommy Briana juga segera kembali menggantikan Mama menjaga Darren," tutur Emy penuh kelembutan.
Jenny mengangguk sebagai tanda jawaban. "Baiklah," Jenny dan Jeffrey akhirnya memilih pulang dan akan kembali lagi nanti.
Selang tidak lama setelah kepergian Jeffrey dan Jenny, Briana masuk ke dalam ruangan ditemani Darwin seraya menangis tersedu-sedu. Tentu saja hal itu membuat Emy bertanya-tanya apa gerangan yang membuat Briana menangis.
__ADS_1
"Emy..," Briana berhamburan memeluk tubuh Emy dengan isak tangis yang semakin menjadi.
"Ada apa sebenarnya Bri? Katakan kepadaku," desak Emy.
"Ternyata selama ini, Darren berjuang melawan penyakitnya sendirian," terang Briana tersedu-sedu.
Emy melerai pelukan Briana, menatap lekat muka yang basah karena air mata yang terus menganak sungai tersebut, mengharapkan sebuah kejelas lebih.
"Aku dan Darwin baru saja kembali dari ruangan Dokter yang menangani Darren. Darren... ternyata mengidap penyakit gagal ginjal kronis, dan kesempatannya untuk hidup tidak panjang," beber Briana yang diikuti isak tangis yang kian pecah.
Jederrr!
Bagaikan disambar petir di siang bolong, Emy terkejut luar biasa hingga nyawanya seolah terlempar jauh dari raganya. Dadanya bergemuruh merasakan sakit luar biasa. Tidak ingin rasanya ia mempercayai ucapan Briana.
"Tidak! Itu tidak mungkin," Emy langsung menangis dan memeluk tubuh Darren yang masih belum sadar dari lelapnya.
"Dan fakta yang lebih menyakitkan lagi adalah, putra kita ini sudah satu tahun lebih menjalani terapi dan cuci darah rutin. Dan selama itu pula, tanpa sepengetahuan kita, ia berjuang mati-matian melawan penyakitnya seorang diri, tanpa adanya dukungan keluarga yang sesungguhnya sangat ia butuhkan," lanjut Briana, meski ia bukan ibu kandung tapi hatinya begitu sakit mengetahui penderitaan putra asuhnya itu.
Kini ganti Darwin yang mulai bersuara. "Tenangkan diri kalian dulu, bukankah Dokter tadi bilang masih ada satu cara terakhir untuk menyelamatkan Darren? Yaitu dengan melakukan trasnplantasi ginjal. Dia masih ada harapan,"
Tiba-tiba ponsel Darwin berdering. Ia langsung keluar ruangan ketika mengetahui asisten pribadinya yang menelepon.
"Apa kau sudah mendapat informasi?" tanya Darwin tanpa basa basi setelah menerima panggilan.
"Iya Tuan. Ternyata pelaku penusukan itu adalah pemilik salah satu perusahaan besar di Inggris. Namun kabar yang saya terima, bahwa perusahaannya mengalami keterpurukan total karena mengalami kerugian besar dan akhirnya harus pailit. Dan ternyata Tuan Darren adalah pencetus utama di balik jatuhnya perusahaannya," lapor si asisten dari seberang telepon.
"Apa alasan utama Darren melakukan hal itu?,"
"Tuan Darren berhasil mendeteksi dan meringkus seorang mata-mata yang dikirim langsung oleh perusahaan tersebut untuk mencuri data-data penting Darwin Corp. Dan perusahaan itu ternyata juga terkenal dengan cara licik dalam dunia bisnis, salah satunya yaitu dengan melakukan praktek monopoli, itulah alasan kenapa Tuan Darren menghancurkan perusahaan tersebut. Semata-mata untuk melindungi perusahaan milik keluarga Allison," lapornya kembali.
"Apa masih ada yang lain?"
"Tidak ada Tuan,"
__ADS_1
"Baiklah, terimakasih," Darwin mengakhiri sambungan panggilan selulernya.
°°°
Jenny langsung menghentikan langkah ketika melewati taman belakang Rumah Sakit.
"Kenapa kau berhenti?" tanya Jeffrey heran.
"Bukankah itu Kak Natalie?" Jenny semakin bertanya-tanya ketika melihat wanita yang merangkap sebagai asisten serta sahabat Darren tersebut menangis tersedu-sedu di bangku taman.
Jeffrey langsung menggiring manik hijaunya, mengikuti arah kemana pandangan Jenny tertuju namun tidak ada respon lebih darinya.
"Kak Natalie?" Natalie tersentak ketika menyadari keberadaan Jenny yang entah sejak kapan sudah berada di dekatnya. Ia buru-buru menyapu air mata yang membasahi mukanya dan mengulas sedikit senyuman paksa untuk menutupi kesedihan di mukanya.
"Nona Jenny? Sedang apa anda disini?" tanya Natalie yang langsung beranjak dari duduknya. Sebenarnya ia sudah tahu alasan Jenny berada di Rumah Sakit tempat ia berpijak saat ini.
"Tuan Jeffrey? Anda juga disini?" sapa Natalie kembali yang baru sadar akan keberadaan Jeffrey yang juga baru saja datang.
Jeffrey hanya mengangguk kecil seraya mengerutkan keningnya. Mengidap amnesia membuatnya sedikit kesulitan untuk beradaptasi kepada orang-orang yang seolah baru dikenalinya.
"Sudah ku bilang, panggil aku Jenny saja, bukankah kita berteman?" protes Jenny tampak tidak suka. Sedangkan Natalie hanya tersenyum tipis.
"Kami baru saja dari ruangan tempat Kak Darren dirawat dan kami berniat pulang terlebih dahulu. Kak Natalie sedang apa di sini?" raut muka Natalie seketika kembali berubah sendu ketika mendengar nama Darren. Alih-alih segera menjawab pertanyaan dari Jenny, dia justru balik bertanya.
"Boleh saya tahu, bagaimana keadaan Tuan Darren sekarang?" tanya Natalie ragu. Dia kembali tak kuasa menahan air mata. Dari mukanya tersirat akan kekhawatiran yang teramat besar.
"Jika kau sangat mengkhawatirkannya maka jenguklah dia sekarang, dia sedang butuh banyak dukungan dari orang-orang terdekatnya saat ini," tutur Jenny yang memang bisa menangkap jenis perasaan apa yang sedang tumbuh di hati Natalie untuk Darren.
Bersambung~~
...Untuk para Readers kesayangan:...
...Tolong biasakan tinggalkan like dan coment setelah membaca ya. Bila ada rejeki lebih Vote dan Gift juga boleh. Dukungan kalian sungguh membuat auhtor bahagia dan lebih semangat dalam mengetik. Terimakasih🥰...
__ADS_1