Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn

Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn
Ingatan Samar Samar


__ADS_3

Jeffrey kembali dari kamarnya dengan membawa benda lipat berukuran 17 inci ke ruang tamu tempat Jenny menunggu.


Pemuda itu meletakkan laptopnya di atas meja- ruang tamu lalu mulai membuka sebuah folder khusus tempat penyimpanan koleksi film kartun favoritnya.


"Kau ingin menonton yang mana? Pilihlah yang kau suka," tanya Jeffrey yang mendudukkan tubuhnya di atas karpet bulu yang terbeber cantik di area sofa ruang tamu dan tentu saja diikuti Jenny.


Jenny tampak sangat berantusias memilih pilihan judul-judul film animasi yang berderet rapi dan akhirnya pilihannya jatuh pada salah satu film animasi yang rilis pada tahun 2017 yang berjudul Smurf The Lost Village.


Satu jari Jenny menekan tombol play untuk memutar film lalu membetulkan duduknya dengan mencari posisi ternyaman sambil bersila kaki dan bersandar pada dudukan sofa di belakangnya.


Sedangkan Jeffrey tampak mengulas senyuman tipis pada bibirnya melihat tingkah Jenny yang tampak antusias lalu sedikit menggeser tubuhnya ke arah Jenny.


Seperti biasa, Jenny selalu menikmati setiap film animasi yang dia tonton dimana hal itu memang menjadi salah satu kesenangannya.


Suara renyah tawa Jenny beberapa kali memenuhi langit-langit ruangan. Adegan-adegan kocak mewarnai film durasi sejak awal. Tak ketinggalan beberapa adegan yang bikin deg-degan plus mengharu biru yang membuat Jenny menangis tersedu-sedu. Kelakuan khas anak-anak yang makin dilarang malah makin penasaran digambarkan dengan sangat baik di film tersebut hingga membuat Jenny begitu tenggelam dalam cerita.


Berbeda dengan Jenny yang sedari tadi tidak lepas dari adegan film yang masih lanjut berputar memangkas durasi waktu video di laptopnya. Jeffrey justru memilih menjadikan gadis di sampingnya sebagai objek tontonannya yang menurutnya jauh lebih menarik dari film-nya. Entah sejak kapan tangan kekarnya sudah melingkari bahu Jenny. Sesekali ia tampak memainkan helaian surai blonde tersebut dengan cara mengusap dan bahkan menciumnya.


Pria yang mendapat panggilan sayang si beruang kutub itu masih terus mengulas senyuman pada bibirnya. Mengamati tingkah Jenny serta raut muka yang berubah-ubah karena terbawa emosi mengikuti alur scene pilem membuatnya semakin gemas.


"Wah, ceritanya sangat bagus," seru Jenny setelah selesai menamatkan satu film.


"Apa kau suka?" tanya Jeffrey dengan tangan yang masih melingkari pundak kecil Jenny.


Jenny mengangguk cepat. "Aku sangat suka dengan ceritanya. Begitu banyak pesan moral yang bisa kita petik dari sana," tutur Jenny.


"Pesan seperti apa? Coba kau sebutkan salah satunya," pinta Jeffrey.


"Aku sangat tertarik dengan salah satu dialog dalam perdebatan antara Smurfette dan para sahabatnya ketika si penyihir jahat Gargamel terancam tenggelam dan terbawa arus saat menyeberangi sungai ajaib dengan gelombang tinggi," Jenny mulai menyampaikan pendapatnya seraya bercerita.


"Dia memang jahat, tapi kita ini Smurf.  Smurf tak pernah memilih-milih untuk memberi pertolongan.  Papa mengajarkan kita untuk berbuat baik kepada siapa saja," Jenny mencoba mengulang dialog yang di sampaikan Smurfette, salah satu pemeran dalam film.


"Dialog itu mengingatkan kita untuk tidak memilah-milah dalam memberi pertolongan. Ya meskipun dalam adegan film tadi pada akhirnya air susu dibalas dengan air tuba. Tapi bukan berarti kita harus berhenti dalam berbuat baik bukan? Kadang kita masih suka menduga-duga dengan pikiran negatif kepada orang lain. Apa lagi yang bersangkutan mempunyai latar belakang atau masa lalu yang buruk, kadang membuat kita berpikir ulang untuk menolongnya," Jenny masih lanjut berasumsi. Sedangkan Jeffrey masih setia menjadi pendengar yang baik seraya mengangguk-anggukan kepalanya.


"Dan hal itu membuat aku teringat akan nasehat mendiang Papaku agar senantiasa menerapkan ungkapan peribahasa cepat kaki ringan tangan yang bermakna suka menolong," ucap Jenny yang tiba-tiba Jenny berubah murung.

__ADS_1


Jeffrey yang bisa menangkap perubahan raut muka Jenny secara signifikan tersebut lantas memutar tubuhnya agar lebih leluasa memandang istrinya tersebut.


"Kalau boleh tahu, Papamu meninggal karena apa?" tanya Jeffrey yang memang sebelumnya dia tidak tahu menahu banyak cerita tentang Jenny. Dia sadar, selama ini ia memang selalu cuek akan kisah hidup Jenny.


Jenny merotasi mukanya ke arah Jeffrey yang memang sudah memandangnya lebih dahulu.


"Papaku meninggal karena berusaha menolong seorang pemuda dari insiden maut tabrakan beruntun," beber Jenny.


"Aku bahkan belum pernah bertemu pemuda tersebut, pemuda yang sudah menyebabkan Papaku meninggal," Jenny tersenyum getir.


"Apa yang akan kau lakukan kepada pemuda itu jika kau bertemu dengannya?" Tanya Jeffrey yang tanpa dia ketahui bahwa dialah pemuda yang di tolong Thomas, Ayah Jenny.


"Ingin sekali aku menghadiahinya ribuan sumpah serapah dan melemparnya dengan tomat busuk," Jenny mulai tampak kesal.


"Apa kau sangat membencinya?" Jeffrey masih terus menyelidik. Entah mengapa dia mulai tertarik dengan curhatan Jenny.


"Iya aku sangat membencinya," tandas Jenny.


"Bukankah kau sendiri yang bercerita, bahwa Papamu selalu menasehatimu agar selalu menolong orang yang membutuhkan? Seharusnya kau bangga dengan tindakkan Papamu, dia meninggal dengan membawa lencana kepahlawanan," tutur Jeffrey.


"Aku ingin melihat foto Papamu," ucap Jeffrey meminta.


Jenny lantas mengambil benda pipih dari saku celananya dan mulai membuka salah satu aplikasi galery folder yang berada di dalam smartphone- nya.


"Ini Papaku, tampan bukan? Dia Ayah terbaik di dunia, Ayah yang menyayangiku dan selalu melindungiku semasa dia hidup," ucap Jenny penuh bangga seraya menunjukkan foto Papanya kepada Jeffrey.


Jeffrey mencoba mengambil alih ponsel dari tangan Jenny dan mengamatinya gambar dengan seksama. Kian lama dia mengamati, sepasang alisnya kian mengerut, kedua mata elangnya tampak menyipit.


Sriiiing!


Bagaikan mendapatkan goresan tajam bibir silet. Tiba-tiba rasa sakit diiringi denyutan hebat mulai merambah isi kepalanya. Potongan-potongan klise yang bertransisi secara acak dan samar-samar bermunculan di dalam pikiran otaknya.


Dia merasa pernah bertemu dengan pria yang ada di dalam foto tersebut. Tapi di mana dan waktu kapan, dia sungguh tidak bisa mengingatnya. Semakin dia berusaha mencari jawaban dari klebatan bayangan klise-klise tersebut, rasa pusing kian merajai kepalanya. Jeffrey memejamkan matanya erat seraya menundukkan kepalanya untuk meluruhkan rasa sakit di kepalanya.


"Beruang kutub kau kenapa?" tanya Jenny yang menangkap gelagat aneh Jeffrey.

__ADS_1


Setelah dirasa baikan Jeffrey mengangkat kepalanya. "Aku tiba-tiba sedikit pusing, tapi itu bukan masalah, sebaiknya kita istarahat sekarang, kau kembalilah ke kamarmu," ucapJeffrey menutupi yang di akhiri kalimat perintah.


"Baiklah," jawab Jenny namun masih belum yakin akan jawaban Jeffrey yang tampak baik-baik saja itu.


"Kenapa kau masih tidak beranjak dari sana? Jangan-jangan kau ingin tidur bersama di kamarku?" tanya Jeffrey setengah menggoda yang sudah dalam posisi berdiri.


Jenny seketika beranjak dari duduknya. "Itu kau yang mau bukan aku, wlek!" timpal Jenny dengan menjulurkan lidah kemudian kembali ke kamarnya.


Kesunyian menyelimuti malam, membiarkan irama ketukan jarum jam yang berputar pada porosnya terdengar jelas dan menggema di dalam ruangan kamar.


Jeffrey mendesah berat tatkala matanya masih enggan untuk membawanya ke alam sejuta mimpi. Pikirannya terus saja mengulang ingatan tentang reaksi aneh pada otaknya di kala melihat foto Thomas beberapa jam yang lalu ketika di ruang tamu bersama Jenny. Maka tak khayal jika denyutan di kepalanya kembali menyeruak.


"Sebenarnya apa yang terjadi kepadaku? Ini benar-benar membuatku tidak nyaman. Apa aku dulu ada hubungannya dengan Ayah gadis itu?" Jeffrey bermonolog sendiri.


Pria tampan bermuka masam itu sejenak tampak memejamkan matanya lalu membukanya kembali. Entah mengapa, saat ini dia ingin sekali menemui Jenny.


"Apa si kucing kumuh sudah tidur?" gumam Jeffrey penasaran yang ternyats sudah berdiri di depan pintu kamar Jenny.


Jeffrey beberapa kali mengetuk daun pintu di depannya namun belum juga mendapatkan sahutan dari dalam yang akhirnya membuatnya nekat untuk membuka pintu tanpa ijin si pemilik kamar.


"Ternyata dia mengunci pintunya," gumam Jeffrey lagi. Kali ini dia menyeringai penuh arti. Pasalnya dia memiliki kunci cadangan pada setiap ruangan apartemennya, jadi mengunci kamar dari dalam adalah sesuatu upaya yang sia-sia.


Kepala Jeffrey menyembul dari balik daun pintu ketika ia berhasil membuka pintu. Perlahan dia menjejakkan kakinya ke dalam kamar Jenny dan mendekat ke arah ranjang tempat Jenny terlelap.


"Ternyata dia sudah tidur," Jeffrey mengamati muka Jenny yang tampak begitu damai dalam tidurnya.


"Kenapa aku tidak ingat kalau dia sudah tertidur maka sangat susah dibangunkan, dia tidur seperti orang mati saja," lirih Jeffrey yang tiba-tiba menyeringai dengan mimik muka penuh makna.


Tidak ingin berlama-lama, pria bermata elang itu dengan sigap mengangkat tubuh Jenny yang terasa ringan bagaikan kapas jika diadukan dengan otot-otot tangannya. Kemudian membawa istri kecilnya itu menuju ke kamar milik Jeffrey.


Bersambung~~


...Untuk para Readers kesayangan:...


...Tolong biasakan tinggalkan like dan coment setelah membaca ya. Bila ada rejeki lebih Vote dan Gift juga boleh. Dukungan kalian sungguh membuat auhtor bahagia dan lebih semangat dalam mengetik. Terimakasih🥰...

__ADS_1


__ADS_2