
Briana tersentak ketika melihat tubuh Jenny mulai memberikan gerakan kecil yang menandakan kesadarannya mulai kembali. Kening sempit Jenny mengerut dan mata cantiknya mengerjap ketika retina matanya mulai bekerja menangkap bias cahaya lampu ruangan.
"Syukurlah, akhirnya kamu sudah siuman? " tanya Briana ke Jenny.
Jenny mengernyit, mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi. Dia menamati muka wanita yang kira-kira seumuran dengan Mamanya, Emy. Klise-klise kejadian beberapa jam yang lalu mulai bermunculan secara teratur di pikirannya, pertanda tidak ada yang salah dengan otak dan ingatan gadis itu.
"Nyonya, kau baik-baik saja? Maaf tadi saya mendorong anda karena hampir ditabrak mobil tadi," ucap Jenny tulus.
Briana sungguh tertegun mendapati sikap gadis di depannya. Bagaimana bisa dia masih sempat-sempatnya menanyakan keadaan orang lain sedangkan kondisi dirinya lebih buruk saat ini.
"Aku sangat baik-baik saja, itu semua karena kamu menolongku, terimakasih ya," jawab Briana tersenyum hangat dan penuh syukur.
"Syukurlah," balas Jenny. Sesekali dia tampak mengernyit karena denyutan di kepalanya.
"Aku akan memanggil Dokter untuk memeriksa keadaanmu dulu ya," ujar Briana kemudian dia keluar kamar. Sesaat kemudian dia kembali bersama seorang Dokter pria yang terlihat lebih muda darinya.
Pria yang mengenakan jas putih tersebut mulai melakukan pemeriksaan dasar kepada Jenny.
"Syukurlah, pasien hanya mengalami cedera ringan, jadi tidak ada hal yang perlu terlalu dikhawatirkan. Luka di kepalanya juga tidak sampai mencederai otaknya. Besok pasien juga boleh langsung pulang," jelas sang Dokter dengan ramah.
"Tapi kenapa dia bisa sampai tak sadarkan diri?" tanya Briana kepada Dokter Hadley yang tak lain adalah adik kandungnya sendiri.
"Hal itu bisa saja terjadi karena pasien mengalami syok ringan," jelas Dokter Hadley lagi.
Keesokan harinya, setelah Jenny benar-benar sudah dalam keadaan membaik, Briana berniat mengantar Jenny ke kota Cambridge.
"Terimakasih Nyonya, sekali lagi saya telah merepotkan anda. Anda telah membayar biaya Rumah Sakit dan sekarang anda mengantar saya," ucap Jenny yang merasa sungkan kepada Briana.
"Gadis yang baik, kenapa kamu tak henti-hentinya untuk berterimakasih? Seharusnya aku yang harus berterimakasih. Semua yang aku lakukan memang kewajibanku, dan berhentilah memanggilku Nyonya. Panggil aku tante Briana," ucap Briana yang kian bergulirnya waktu rasa suka dan nyaman bersama Jenny semakin besar.
"Baik Tante," Jenny tersenyum seraya manganggukkan kepalanya.
°°°
Seorang wanita yang usianya hampir mendekati 50 tahun tampak sedang menjalani pekerjaannya sebagai Office Girl. Sapu, pengki, alat pel, cleaning cloth, dan alat-alat penunjang kebersihan lainnya tampak menemaninya. Lantai koridor apartemen yang berlapis marmer sudah tampak bersih dan mengkilap.
Dia adalah Emy, Mama kandung Jenny. Di sela pekerjaannya, dia beberapa kali terlihat memeriksa ponsel yang tersimpan di dalam saku seragamnya. Gurat-gurat kecemasan tampak samar-samar di mukanya. Sungguh, bila ditanya hati siapa yang selalu memiliki ikatan batin yang kuat, maka seorang Ibulah jawabannya selain Ayah.
Iya, sejak kemarin dia tidak bisa menghubungi Jenny, putrinya. Semalaman dia terus menghubungi nomor ponsel putri semata wayangnya itu, namun hanya suara mesin operator yang menjawab. Hati seorang Ibu tersebut sedang gundah gulana tanpa sebab.
__ADS_1
Waktu terus bergulir, tidak terasa hari sudah menjelang sore, jam kerja juga sudah saatnya berakhir. Emy masuk ke dalam sebuah rumah yang tidak begitu besar dengan biaya sewa setiap bulannya.
Dia menghela napas dengan kasar setelah disambut dengan pemandangan yang sudah menjadi makanannya beberapa tahun terakhir ini.
"Apa kamu tidak bisa menghentikan kebiasaan burukmu itu Addy?" tanya Emy kepada suaminya yang sedang terduduk di lantai dan bersandar di sofa dengan sebuah botol minuman beralkohol di tangannya.
Addy hanya tertunduk seakan sedang memanggul bongkahan batu yang membuatnya berat untuk sekedar mengangkat kepalanya. Garis-garis frustasi begitu tampak di mukanya.
"Minuman itu tidak bisa membantumu bangkit dari keterpurukan. Lebih semangatlah dalam menjalani hidup," tutur Emy.
Beberapa tahun yang lalu, Addy sempat menjalani bisnis di bidang makanan namun bangkrut. Beberapa kali dia mencoba bangkit dan mulai merintis kembali usahanya dari awal, tapi lagi-lagi gagal. Itulah alasan yang membuatnya seperti sekarang.
"Maafkan aku, karena aku tidak becus menjadi suami," rancu Addy dengan kepala terasa berat karena pengaruh minuman keras.
Emy hanya menghela napas panjang.
"Aku mohon, berhentilah minum. Ini sangat tidak baik bagi kesehatanmu," tutur Emy seraya menyabet botol minuman dari tangan Addy dan membuangnya ke tempat sampah. Lalu dia membawa Addy ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut tebal sampai dada.
Emy menatap nanar wajah Addy yang terlihat sangat kusut dengan jambang yang mulai bermukim di mukanya. Wanita itu memang berusaha memahami keadaan sang suami, tapi adakalanya dia merasa lelah menghadapi sikap keputusasaan suaminya.
Suara bel pintu mengalihkan perhatian Emy. Wanita itu serta merta menuju pintu rumah dan membukanya.
"Sayang, ada apa dengan kepalamu? Sepertinya kamu terluka? Apa kamu baik-baik saja? Kenapa kamu datang tanpa menelpon Mama terlebih dahulu heumm?" rentetan pertanyaan keluar begitu saja dari bibir Emy. Kecemasan tergambar jelas pada mukanya.
"Mama, aku harus menjawab pertanyaanmu yang mana dulu? Aku sampai bingung?"ucap Jenny terkekeh geli.
"Mama sangat merindukanmu Sayang, dari kemarin kamu tidak bisa dihubungi, itu membuatku cemas," curhat Emy sambil memeluk hati-hati tubuh kecil putrinya.
"Jenny juga sangat merindukanmu Ma," timpal Jenny.
"Ayo masuklah dulu, suhu di luar sedang rendah saat ini," ajak Emy.
"Apa kamu tidak mempersilahkan sahabat lamamu ini masuk juga Emy?" Sela Briana yang keberadaannya belum disadari Emy sedari tadi.
Sepasang netra biru Emy seketika membeliak di kala melihat keberadaan Briana.
"Briana? Apa kabarmu? Aku sangat merindukanmu," ucap Emy yang langsung berhambur dalam pelukan Briana yang juga disambut antusias oleh Briana.
"Aku sangat baik. Kemana saja kamu selama ini? Aku sudah mencarimu tapi kamu seperti hilang di telan bumi, dasar sahabat tidak punya hati," cebik Briana setelah melepas pelukkannya.
__ADS_1
"Ma, sebaiknya kita masuk dulu, ngobrolnya di dalam saja, kasian Tante Briana jika harus berdiri lama di luar," sela Jenny setelah menyisihkan rasa terkejutnya. Ia juga tidak menyangka bahwa orang yang dia tolong kemarin adalah sahabat lama sang Mama.
Akhirnya ketiga manusia tersebut masuk ke dalam rumah. Setelah berbincang-bincang cukup lama, Jenny memutuskan untuk beristirahat di kamar yang biasa dia tempati ketika berkunjung ke rumah Mamanya. Sehingga kini hanya tinggal Briana dan Emy yang berada di ruang tamu.
Kedua sahabat tersebut masih saling melepas rindu dengan membahas beberapa penggalan cerita hidup mereka.
"Emy, aku bahkan tidak tahu kalau kamu menikah lagi setelah suami pertamamu meninggal. Waktu itu, setelah aku kembali dari Paris aku mencoba mendatangimu tapi kamu sudah pindah. Nomor teleponmu bahkan sudah tidak dapat dihubungi," Briana bercerita.
"Waktu itu, aku menjual rumahku untuk berobat di kota Birmingham dan menyewa rumah. Ponselku hilang di dalam perjalanan menuju kota dan ketika aku kembali untuk menemuimu, ternyata kamu sudah tidak tinggal di rumah lamamu," beber Emy terlihat sedih.
Almarhum Thomas, Ayah dari Jenny merupakan suami kedua Emy. Selama menjalani pengobatan penyakit kangker servik, Emy bertemu dengan Thomas dan akhirnya mereka menikah. Meskipun pada akhirnya ikatan pernikahan mereka harus kandas.
"Em, aku ingin minta maaf. Sebenarnya, Thomas meninggal karena berusaha menyelamatkan nyawa putraku dari tabrakan mobil," ucap Briana yang mulai merasa bersalah dan tidak enak hati.
"Apa?! Kenapa kebetulan sekali? Apa Jenny mengetahuinya?" tanya Emy tidak percaya.
Briana menggelengkan kepalanya pelan.
"Belum. Aku belum bercerita kepadanya. Beri aku waktu, untuk saat ini aku belum bisa memberitahunya, aku takut dia kecewa kepadaku," pinta Briana penuh harap.
"Ya, meskipun status kami bukan suami istri lagi tapi aku juga sangat sedih mendengar berita kematian mantan suamiku itu. Pada saat itu, aku juga sangat mencemaskan kondisi Jenny yang terlihat terpukul karena kehilangan Ayah yang sangat dia sayangi,"
"Aku mohon, jangan menceritakan hal itu kepadanya, karena aku sendiri yang akan memberitahunya, tapi tidak untuk saat ini," mohon Briana.
"Baiklah,"
"Terimakasih ya,"
"Bri?" panggil Emy yang kini menampakkan mimik muka sendu.
"Iya ada apa?"
"Putraku, bagaimana kabar putraku sekarang? Apa dia tumbuh dengan baik? Apa dia menyusahkanmu dan Darwin?" Emy bertanya dengan pelupuk mata yang mulai basah. Tersirat kerinduan yang mendalam pada raut mukanya.
Bersambung~~
Terimakasih sudah mampir ke karyaku ya. Author sangat mengaharapkan dukungan like, coment, rate, vote/hadiah dari kalian agar lebih semangat dalam menulis🥰. Jika dukungan itu terlalu berat bagi para Reader, minimal tinggalkanlah like👍saja Author sudah sangat senang🙏
Semoga kalian sehat dan bahagia selalu🙏
__ADS_1