
Hari ini Jeffrey akan datang ke London untuk menghadiri rapat umum pemegang saham di Darwin Coporation, yaitu perusahaan yang berkembang di bidang manufaktur kendaraan milik keluarga. Jeffrey adalah satu-satunya investor termuda yang sudah memegang saham sebesar 10 persen dari kepemilikan keseluruhan saham.
Bukannya tidak mungkin, semenjak remaja Darwin sang Daddy memang sudah menggembleng putra kandungnya itu dengan hal-hal yang berbau bisnis keluarga.
Meski Jeffrey terkenal sebagai anak pembuat ulah di sekolah, namun dia sebenarnya memiliki sisi keunggulan lebih pada kemampuan otaknya. Di masa remajanya yang penuh akan kenakalan yang membuat Briana dan Darwin berkali-kali mengelus dada, namun itu bukan berarti dia tidak menyisihkan waktu untuk mengasah kemampuannya di bidang bisnis keluarga.
Jarum jam sudah menunjukkan di angka 6 pagi, Jeffrey yang berniat beranjak dari ranjang tampak kesulitan dalam bergerak karena sebuah beban yang berada di atas tubuhnya.
"Hei, sampai kapan kau akan tetap berada di atasku?" tanya Jeffrey seraya menggoyang-goyang tubuh Jenny yang masih menindih tubuhnya dalam keadaan tertidur.
Posisi Jenny saat ini seperti anak koala yang sedang meminta gendong induknya namun dalam posisi berbaring. Kedua kakinya menekuk di setiap sisi tubuh Jeffrey dengan muka yang tampak tenggelam di dada bidang Jeffrey yang polos tanpa seutas benang yang menutupi.
Semalaman Jeffrey dibuat bergadang karena Jenny terus saja merengek bahwa dia tidak bisa tidur padahal matanya sudah merasakan kantuk yang luar biasa. Jenny berkali-kali mengganti posisi tidurnya hingga akhirnya dia bisa terlelap setelah menemukan posisi ternyaman seperti yang terlihat saat ini.
"Sayang, bangunlah. Apa kau lupa hari ini kita harus ke London? Sebaiknyan kita mandi sekarang," ucap Jeffrey.
"Hmmm, aku masih mengantuk, lagian aku sungguh tidak ingin pindah dari posisi saat ini," gumam Jenny setengah sadar dengan mata masih terpejam.
"Sebenarnya kau ini kenapa? Ayo bangun, jangan sampai aku terlambat menghadiri meeting," Jeffrey berusaha mendongkrak tubuh Jenny yang masih lemas hingga dalam posisi terduduk. Kedua tangannya masih menyangga tubuh Jenny agar tidak kembali ambruk ke tubuhnya.
Jenny tampak menggeliat dan perlahan sepasang mata almodnya terbuka. " Kau tidak usah mandi, nanti bau tubuhmu berubah, aku tidak mau itu terjadi," ucap Jenny dengan suara serak khas bangun tidur.
Jeffrey mendengus geli mendengar permintaan Jenny yang menurutnya tidak seperti biasanya.
"Akhir-akhir ini kau sangat aneh, bagaimana mungkin aku ke kantor tanpa mandi?" balas Jeffrey lalu merubah tubuhnya ke posisi duduk dengan kedua tangan melingkari tubuh Jenny yang berada di pangkuannya.
"Aku tidak tahu, akhir-akhir ini aku sangat menyukai bau tubuhmu," aku Jenny kemudian mengalungkan tangannya ke leher Jeffrey dan menenggelamkan mukanya pada ceruk leher Jeffrey.
Jenny tampak menghirup dalam aroma yang menyeruak dari tubuh Jeffrey sebagai isyarat bahwa dia sangat menikmati aroma tersebut. Kecupan basah juga mendarat bertubi-tubi pada leher Jeffrey seolah mengirim sinyal gairah berupa aliran listrik sehingga membuat laju darah di dalam tubuhnya berdesir hebat.
"Sekarang kau sudah menjadi kucing nakal dan penggoda ternyata, hm? Apa kau tahu resiko dari tindakanmu ini?" ucap Jeffrey dengan suara yang mulai terdengar parau serta mata yang sudah terselubung kabut gairah.
Jenny menarik mukanya dari ceruk leher suaminya. Wanita itu menatap intens muka Jeffrey dengan sorotan mata menggoda. Ia tersenyum nakal seraya menggigit bibir bawahnya lalu berinisiatif memberi morning kiss terlebih dahulu.
Jeffrey tampak terpaku dengan tindakan Jenny yang di luar kebiasaannya itu, Biasanya Jeffrey lah yang selalu berinisiatif memberi morning kiss terlebih dahulu.
"Aku ingin...," ucap Jenny menggantung dengan nada manjanya.
"Kau ingin apa? Katakanlah, aku akan menuruti semuanya," ucap Jeffrey yang mulai terhipnotis dengan tindakan manja Jenny.
"Aku ingin pisang,"
"Baiklah nanti kita akan membelinya,"
"Tapi bukan pisang yang dijual,"
"Terus pisang yang bagaimana?"
"Pisang berurat,"
"Mana ada pisang berurat?"
"Ada kok, itu dia sedang bersembunyi di dalam, pisangnya pasti mulai sesak napas disana," ucap Jenny seraya melirik ke bawah yang langsung di mengerti Jeffrey.
Jeffrey menyungging salah satu sudut bibirnya. "Ternyata kau sudah mulai nakal, siapa yang mengajarimu,"
"Siapa lagi kalau bukan si beruang kutub, hmmm, ayolah," jelas Jenny dengan sebuah rengekan di akhir kalimatnya.
"Ayo,"
Akhirnya sepasang musuh yang berakhir menjadi sepasang suami istri itu melakukan olah raga paginya di atas ranjang sebelum bersiap-siap berangkat ke London.
°°°
Rapat umum pemegang saham tahunan sudah berlangsung setengah acara. Seorang pemimpin direksi masih berdiri di depan layar proyektor yang berada di ujung ruangan, menyampaikan berbagai macam laporan seperti keuangan, laba, perubahan modal, dan catatan lainnya yang sudah ditampung.
Jeffrey yang duduk bersebelahan dengan Darwin tampak sesekali melirik ke ponselnya dengan jari-jari lincahnya yang mengetik sebuah pesan.
Kucing kecil:
Apa kau masih lama? Aku sudah sangat merindukanmu🥺
__ADS_1
Jeffrey:
Sabarlah sedikit, lagian baru satu jam aku meninggalkanmu.
Kucing kecil:
Tapi kenapa terasa sangat lama sekali? Aku ingin mencium bau tubuhmu sekarang😔
Jeffrey:
Dasar kucing manja. Bersabarlah, satu jam lagi aku selesai.
Kucing Kecil:
Baiklah, kalau begitu nanti jemput aku di restauran tempat Mama Emy bekerja ya.
Jeffrey:
Jangan pergi sendiri, suruh antar sopir Mommy Briana. Nanti pulangnya aku jemput.
Kucing kecil:
Baiklah.
Senyuman samar masih terus menghiasi bibir Jeffrey selama membalas pesan dari istrinya. Emang beberapa hari ini Jeffrey dibuat gedek bercampur gemas akan tingkah istrinya yang terlihat sangat manja seperti kucing, tapi hati kecilnya tidak bisa berbohong, ia juga sangat menikmati perubahan sikap istrinya.
Darwin yang menyadari sang putra tampak tidak fokus saat rapat sontak berdehem ringan untuk mengalihkan perhatian Jeffrey dari ponselnya.
"Fokuslah," titah Darwin setengah berbisik.
"Maaf," balas Jeffrey mengangguk samar sebagai tanda ia mengerti.
°°°
Setelah berpamitan dengan Mommy Briana, Jenny pun pergi menuju ke restauran tempat Emy bekerja dengan diantarkan supir pribadi Briana.
Selang tidak lama mobil yang ia tumpangi sudah terparkir cantik di pelataran restauran. Wanita bersurai blonde itu segera menuruni mobil menuju restauran. Namun langkahnya terhenti dikala sepasang netranya tanpa sengaja menangkap sosok perempuan yang sangat tidak asing baginya.
Ingin lebih meyakinkan diri, ia merubah haluan langkah kakinya, melangkah mendekati sosok tersebut.
Ella yang menyadari ada seseorang yang menyebut namanya sontak memutar lehernya ke arah sumber suara. Tidak bisa dipungkiri, Ella juga tak kalah terkejut saat ini. Apa lagi dia harus berhadapan dengan orang yang dulu sering mendapat perlakuan buruk darinya dalam penampilan yang berbeda jauh daripada dulu yang selalu mengenakan barang-barang mewah.
"Jenny?" ucap Ella sangat pelan namun masih bisa di tangkap jelas oleh indera pendengaran Jenny.
"Kau sudah menikah?" tanya Jenny sesekali melirim ke arah perut Ella yang sudah membesar.
Ella tersenyum getir. "Aku tidak menikah,"
Jenny yang mendengar jawaban dari Ella langsung bisa menangkap maksut dari perkataannya. Jenny seketika merasa iba.
"Kau mau kemana? Biar aku antar," tawar Jenny.
"Kau pasti bermaksut menghinaku bukan setelah melihat keadaanku seperti ini? Kau pasti sangat senang karena orang yang dulu sering bersikap buruk padamu sekarang hidup memprihatinkan," ucap Ella dengan senyuman kecut.
Jenny mendesah ringan. "Aku bukanlah kau, kita tidak sama, aku memang tulus ingin mengantarmu. Tadi aku melihatmu kesulitan dalam berjalan, apa lagi sekarang kau sedang hamil," jelas Jenny sesekali menatap iba kaki Ella yang tampak bengkak yang mungkin disebabkan oleh perubahan hormon kehamilan serta kelelahan.
Ella menunduk tak menjawab, ia begitu merasa bersalah dan malu saat ini. Bagaimana orang yang dulu sering ia jahati masih bisa bersikap baik kepadanya. Lidahnya bahkan kelu hanya untuk sekedar meminta maaf. Bukan karena kuasa gengsi namun ia seolah merasa tidak pantas.
"Kenapa kau malah diam? Ayo lekas masuk ke dalam mobil," ajakan Jenny seketika menarik pikiran Ella dari lamunannya.
Jenny menyuruh supir pribadi Mommy Briana untuk meninggalkannya. Dia sudah menjelaskan bahwa suaminya yang akan menjemputnya.
Jenny terperangah tatkala melihat bangunan yang ditempati Ella dan Amber saat ini. Sebuah ruangan kecil tanpa ada sekat pembatas kecuali kamar mandi. Tidak ada ruang tamu maupun ruang santai. Sebuah kontrakan mungil yang dimana tempat tidur dan dapur menjadi satu. Meskipun terlihat bersih namun itu belum bisa dikatakan layak untuk ditinggali, apa lagi sebentar lagi Ella akan melahirkan.
Bagaimana nasib bayi kecilnya nanti. Itulah yang paling dipikirkan Jenny saat berada di kontrakan Ella.
Jenny sudah mengetahui semuanya tentang apa yang di alami Ella dan Amber karena di dalam perjalanan menuju kontrakan, Ella sempat bercerita.
Alih-alih Jenny merasa senang layaknya orang-orang terzalimi yang merasa puas seolah rasa sakit hatinya terbalas, wanita yang berstatus sebagai istri Jeffrey itu justru hati mulianya merasa iba dan sedih.
"Maaf aku hanya bisa menyuguhkan air putih saat ini," ucap Ella seraya meletakkan satu gelas air di atas meja kecil.
__ADS_1
Jenny tersenyum simpul dengan mata masih menyusuri ruangan. "Kemana Mama Amber?" tanya Jenny yang sedari tadi memang tidak melihat keberadaannya.
"Mama masih bekerja, biasanya sebentar lagi dia akan pulang," jawab Ella setelah mendudukkan tubuhnya dengan sedikit kesusahan karena kehamilannya yang sudah masuk trisemester ke 3, sehingga perutnya sudah membesar.
"Kalau boleh tahu dia kerja apa?"
"Mama bekerja sebagai tukang nyapu jalanan kota," jawab Ella sedikit malu.
Sekali lagi Jenny terperangah. Dia tidak menyangka kehidupan keluarga tirinya itu bisa berubah 180 derajad.
Suara deringan ponsel menarik perhatian Jenny. Dia merogoh benda pipih tersebut. Seutas senyuman terulas indah ketika melihat nama Jeffrey menghiasi layar ponselnya yang bersinar terang.
"Halo," sapa Jenny.
( ... )
"Maaf tadi aku tidak sempat memberitahumu,"
( ... )
"Iya.. Iya.. Kenapa kau sangat cerewet sekali?"
( ... )
"Aku akan mengirimkan alamatnya lewat pesan, kau bisa jemput aku sekarang,"
Panggilanpun berakhir. Tidak lupa Jenny segera mengetik alamat posisinya sekarang dan mengirimkannya ke jeffrey. Dia tidak ingin Jeffrey semakin marah dan khawatir. Pasalnya Jeffrey tadi sudah mendatanginya di restauran namun Jenny tidak ada. Sepertinya dia harus menyiapkan diri untuk menerima omelan dari suaminya saat bertemu.
"Maaf, suamiku baru saja telepon, dia sedang menuju kemari untuk menjemputku," ucap Jenny yang langsung membuat Ella terperangah.
"Kau? Sudah menikah?" Ella tampak tak percaya yang langsung mendapat balasan anggukan Jenny.
Selang tidak lama seseorang datang memasuki kamar kontrakan dengan membawa kantong kresek berisi makan siang.
"Jenny?" ucap Amber terkejut sontak membuat Jenny menggiring mukanya ke arahnya dan berdiri dari duduknya.
"Iya, ini aku, anda apa kabar?"
Seperti sesuai dugaan, Amber langsung memasang mimik muka tidak suka. "Buat apa kau datang kemari? Ingin mengambil kembali harta Ayahmu? Sudah tidak ada," ucap Amber ketus.
"Mama kenapa kau berbicara seperti itu? Tadi kami tidak sengaja bertemu dan dia mengantarku pulang," tegur Ella kepada Amber. Dia merasa tidak enak hati kepada Jenny.
"Sekarang kau pasti sangat ingin mentertawakan kami bukan, setelah melihat kondisi kami saat ini?" cebik Amber.
Jenny memutar kedua bola matanya karena jengah. Sama halnya dengan Ella saat pertama bertemu, ternyata Amber juga berpikiran yang sama.
"Aku sama sekali tidak seperti yang Mama pikirkan, berhentilah berpikiran buruk tentangku," ucap Jenny.
Lagi-lagi dering ponsel mengalihkan perhatian Jenny. Tidak ingin membiarkan permintaan sambungan panggilan tersebut menunggu terlalu lama, Jenny langsung menerima panggilan tersebut.
"*Keluarlah, aku sudah menunggu di depan,"
"Oke, aku keluar sekarang*,"
Ell, Ma, suamiku sudah datang menjemput, lain kali aku akan mengunjungi kalian lagi," ucap Jenny berpamitan.
"Hah? Suami? Apa anak ini sudah menikah?" batin Amber sedikit terkejut serta pensaran.
Karena terganggu akan rasa ingin tahu yang begitu besar tentang siapa suami Jenny, Ella dan Amber mengikuti Jenny namun hanya sampai di ambang pintu keluar.
Seketika Ella terperangah dikala melihat sosok Jeffrey berdiri di depan mobil yang terparkir di depan kontrakannya.
"Jeffrey? Jadi suamimu Jeffrey?" tanya Ella kepada Jenny. Wanita yang sedang hamil tua itu sungguh tidak menyangka kalau Jeffrey dan Jenny adalah sepasang suami istri.
"Iya, dia adalah suamiku," jawab Jenny seraya mengulas senyuman.
"Baiklah, aku pergi dulu ya," pamit Jenny meninggalkan Ella yang sedang terpaku dalam keterkejutannya.
Bersambung~~
...Untuk para Reader tersayang:...
__ADS_1
...Mohon tinggalkan like dan komen pada setiap babnya setelah membaca ya.. Jika ada rejeki lebih bolehlah sumbangkan vote dan gift kalian untuk karya kentangku ini. Mohon maaf jika Nofi terkesan mengemis dukungan kalian. Tapi memang kenyataannya begitu sih🤣...
...Terimakasih🙏🥰...