
Sudah 3 hari Darwin terbaring di ranjang perawatan Rumah Sakit dalam keadaan koma akibat serangan jantung.
Jeffrey dan Jenny yang awalnya akan segera kembali ke Cambridge mengurungkan niatnya dan lebih memilih tinggal di kediaman keluarga Allison untuk sementara hingga kondisi Darwin dinyatakan ada kemajuan.
Seorang pria bermata elang, tampak terduduk lesu di salah satu sudut ruang kamar VIP Rumah Sakit. Segudang pikiran dan kecemasan begitu menggerogoti otaknya saat ini.
Pikirannya masih terus mengulang percakapan antara dia dengan sang Mommy tiga hari yang lalu.
"Mommy ingin membicarakan hal apa?"
Plak!
Alih-alih mendapat sebuah jawaban dari pertanyaannya, Jeffrey justru mendapat sebuah tamparan keras hingga membuat mukanya terlempar ke samping.
"Ada apa ini Mom? Kenapa Mommy malah menamparku?" protes Jeffrey di sela keterkejutannya. Tangannya tampak mengusap pipinya yang masih terasa panas akibat tamparan sang Mommy.
"Kenapa kau bertindak ceroboh? Apa kau tahu Daddymu sebenarnya 1 bulan trakhir kondisi kesehatannya memang sedang kurang baik dan dia langsung kolaps ketika menerima pesan dari pengirim yang tidak dikenal," beber Briana dengan nada sedikit meninggi.
"Maksud Mommy apa? Pesan apa?" Jeffrey semakin dibuat bingung.
Briana lantas mengambil ponsel dari tas mahalnya, sejurus kemudian ia menunjukkan beberapa pesan yang berisi sebuah ancaman bahwa si pengirim akan menyebarkan foto-foto yang berpotensi menjadi bibit aib yang bisa merusak nama baik keluarga sekaligus.
Sepasang mata Jeffrey membulat seketika di saat ia melihat gambar dirinya yang sedang tidur dengan seorang wanita. Di dalam foto itu, Jeffrey tampak memeluk posesif tubuh wanita yang tengah bertelanjang bulat. Pose mereka bisa dikatakan sangat intim.
Siapa wanita yang sedang tidur dengannya? Itulah pertanyaan pertama yang terbesit di pikiran Jeffrey. Pasalnya muka wanita yang berada di dalam foto sudah disensor dengan rapi tanpa ada cela sedikitpun, sehingga siapapun tidak akan bisa mengenali siapa wanita tidak punya malu itu.
"Tapi Mom, Jeffrey tidak pernah tidur dengan wanita selain dengan istriku, aku mohon Mommy mempercayaiku, bukankah Mommy sudah sangat mengenalku," jelas Jeffrey berusaha meyakinkan Briana.
Briana tampak memijit pelipisnya yang terasa pening. "Tapi di dalam foto jelas-jelas itu kamu,"
"Aku yakin kalau aku sudah dijebak, sepertinya ini ada kaitannya dengan kejadian janggal di saat acara bulan maduku dan Jenny di Amsterdam dua bulan yang lalu," selidik Jeffrey.
"Apa maksutmu?" kini ganti Briana yang dibuat bertanya-tanya.
Tidak ingin membiarkan sang Mommy tenggelam dalam rasa penasrannya, akhirnya Jeffrey menceritakan apa yang ia alami ketika berada di Amsterdam. Dari tenggelamnya Jenny hingga hasil rekaman CCTV hotel.
"Apa?! Jenny sempat tenggelam dan kau tidak memberitahu Mommy?" seru Briana kecewa.
"Itu karena Jenny melarangku untuk bercerita karena ia tidak ingin membuat semuanya cemas dan khawatir," jelas Jeffrey sedikit merasa bersalah.
"Menantu kesayanganku itu selalu saja bersikap seperti itu, dan tentang masalahmu ini cepat kau selesaikan. Dari rekaman CCTV pasti ada satu atau dua petunjuk yang akan memberikan titik terang," tutur Mommy yang tampak resah.
"Jeffrey juga tidak akan tinggal diam Mom,"
"Mommy tidak bisa membayangkan bagaimana kalau istrimu itu sampai melihat foto-foto ini, dia pasti sangat kecewa. Istri mana yang tidak terpukul jika mengetahui suaminya pernah tidur dengan wanita lain. Dan Daddy pasti akan kembali syok setelah ia sadar," dengan nada bicara dua tingkat lebih rendah, Briana mengungkap isi hatinya.
Sebuah tepukkan ringan pada bahu Jeffrey seketika menarik pikirannya dari lamunannya. Ia menggiring mukanya ke arah sosok wanita yang sedang berdiri di sebelahnya.
__ADS_1
"Sejak kapak kau datang," tanya Jeffrey kepada Jenny.
"Aku baru saja datang, apa yang sedang kau lamunkan hingga kau tidak menyadari kedatanganku?"
"Ah, a-aku sedang tidak melamun, aku hanya kelelahan saja," kilah Jeffrey yang sedikit tergagap.
"Bagaimana keadaan Daddy, apa ada perkembangan?" Jenny mendekati ayah mertuanya yang sedang terbaring di atas ranjang perawatan. Ia menatap sendu Darwin yang terlihat pucat dengan beberapa alat medis yang menghiasi tubuhnya.
"Daddy masih seperti yang kau lihat," balas Jeffrey yang terlihat sedih.
Jenny lantas mendekatkan mukanya ke telinga Darwin. "Daddy, bukankah kau pernah bilang ingin menimang cucu? Kau akan segera mendapatkan cucu, maka bangunlah, Jenny mohon," bisik Jenny berharap usahanya itu bisa memberi ransangan pada otak Darwin agar segera kembali dari tidur panjangnya.
Jeffrey yang melihat pemandangan di depannya seketika merasa sesuatu yang hangat menjalar di hatinya. Sungguh ia sangat bersyukur karena mempunyai istri yang penyayang seperti Jenny.
"Aku membawakanmu makan siang, sebaiknya kau makan dulu, jangan sampai kau ikut-ikutan sakit," tutur Jenny seraya mengeluarkan satu persatu makanan yang sudah ia siapkan sebelum datang ke Rumah Sakit.
Jeffrey memandang sendu muka istrinya yang penuh akan ketulusan. Dia berkali-kali mengutukki dirinya sendiri di dalam hati. Bagaimana jadinya kalau istrinya sampai melihat foto itu. Sudah pasti, hati Jenny akan kembali tersakiti akan perbuatannya.
Sebenarnya Jeffrey berniat menceritakan semuanya kepada Jenny. Menurutnya, Jenny lebih baik mengetahuinya langsung dari mulutnya dari pada mengetahuinya dari orang lain. Tapi ia masih bingung bagaimana caranya ia menjelaskannya. Rangkaian kata-kata seperti apa yang cocok agar bisa langsung diterima oleh Jenny tanpa harus menyakiti dan membuatnya kecewa. Dan juga tentang waktu, ia juga sedang mencari waktu yang tepat untuk membeberkan semuanya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Jenny heran yang seketika membuat Jeffrey tertegun.
"Tidak, aku hanya merindukanmu dan calon bayi kita," Jeffrey mencoba menutupi. Seketika seutas senyuman tergambar jelas dikala matanya terpaku pada perut Jenny yang masih rata.
Calon papa muda itu menarik tangan Jenny hingga posisinya berada tepat di depannya. Kemudian ia mendekatkan mukanya ke perut Jenny. "Jagoan Daddy, kamu yang sehat ya di sana, jangan buat Mommymu susah," bisik Jeffrey sejurus kemudian mendarat sebuah kecupan sayang seolah mentrasfer sinyal-sinyal positif kepada janin yang masih berukuran sebesar biji jagung.
°°°
Seorang wanita yang tengah menginjak usia kehamilan tua tampak berdiri di depan pintu sebuah apartemen yang berada di salah satu kawasan elit pusat kota London. Mimik mukanya tampak jelas bahwa ia sedang menimbang-nimbang sesuatu.
"Kalau aku memencet bel terlebih dahulu, ia pasti tidak akan membukakan pintu untukku, tapi aku harus berbicara dengannya. Kehamilanku sudah semakin tua, dia harus bertanggungjawab karena ini anaknya. Sebaiknya aku langsung masuk saja, aku yakin password pintunya masih sama," Hingga akhirnya dia memutuskan untuk masuk tanpa seijin pemilik apartemen.
Wanita itu tak lain dan tak bukan adalah Ella, dia berniat sekali lagi meminta pertanggungjawaban Diven akan anak yang tengah ia kandung.
Dengan ragu Ella menekan satu persatu tombol angka yang berjajar rapi di depan pintu dan mulai menjejakkan kakinya ke dalam apartemen.
Baru satu langkah ia melewati ambang pintu, bahkan daun pintu belum sampai tertutup tapi dia sudah disuguhkan sebuah suara gaduh yang seketika membuat hatinya tercabik-cabik. Siapapun akan bisa menebak kegiatan apa yang sedang terjadi meski hanya sekedar mendengar.
"Kak, aku mohon jangan lakukan ini, aku sangat takut, hiks!" terdengar suara seorang gadis yang sedang memohon di sela isak tangisnya.
"Ayolah manis, kau tenang saja, kau tidak akan kesakitan jika kau menurut, kau justru akan merasakan nikmat yang membuatmu kecanduan," terdengar suara Diven yang sedang membujuk dengan jurus rayuan setannya.
"Tidak kak, aku tidak mau, hiks. Lepaskan aku!"
"Mau kemana kau hah?! Aku akan melepaskanmu setelah kau melayaniku!"
Kreekkkkk!
__ADS_1
Suara robekan baju terdengar menggema di kamar mewah yang berinterior serba mewah itu.
"Kyaaaakkk! Tolong..! Jangan lakukan itu! Aku tidak mau! Kyaakkkk! Hiks ini sangat sakit kak. Hiks! Hiks!"
Ella mendekati pintu kamar dengan langkah ragu, namun hatinya seolah menuntunnya untuk mencari tahu hingga akhirnya dia memberanikan diri mengintip melalui cela pintu yang sedikit terbuka. Dengan mata kepalanya sendiri, ia menyaksikan dengan jelas sebuah adegan di mana Diven sedang melakukan pelecahan seksual kepada gadis remaja yang terlihat masih di bawah umur.
Si korban tampak menangis histeris dan meraung kesakitan namun pria yang mengidap gangguan hiperseksual tersebut tak sedikitpun ada niat untuk menghentikan aksi bejadnya.
Ella yang masih lanjut menyaksikan tontonan porno aksi tersebut seolah merasakan sebuah batu besar menghantam tubuhnya. Gemuruh ombak besar seakan menggulung-gulungkan tubuhnya di dalam gelombang air laut pasang. Sakit, selama ini ia sudah terluka karena Diven tidak berniat mengakui bayi yang dikandungnya. Dan sekali lagi lukanya semakin terasa sakit dan perih setelah melihat apa yang dia lihat di dalam sana.
Ella bergegas menjauh dari depan kamar pintu dan kembali ke ruang tamu di kala si korban pemerkosaan itu tampak keluar kamar dengan mata sembab setelah Diven selesai menyalurkan hasrat cabulnya.
Gadis yang tengah berpenampilan sangat berantakan itu sempat terkesiap ketika melihat keberadaan Ella dan akhirnya dia memilih segera keluar apartemen.
"Sejak kapan kau berada disini? Kau sangat lancang," ucap Diven dingin yang baru saja keluar dari kamar dengan tubuh hanya berbalut boxer.
"Aku baru saja datang bersamaan dengan gadis yang baru saja keluar dari apartemenmu tadi," jawab Ella berbohong.
"Kenapa lagi kau datang hah? Sebaiknya kau buang niatmu jika tujuanmu memintaku untuk mengakui anak di dalam perutmu, karena aku tidak akan pernah sudi mengakuinya," ucapan Diven terdengar sangat sinis.
"Aku mohon kepadamu, anak ini juga membutuhkan kasih sayang seorang ayah kelak,"
"Ck! Aku bahkan tidak yakin kalau itu adalah anakku,"
"Aku bisa memberimu bukti dengan surat kecocokan DNA,"
"Kau bisa saja memalsukannya, aku tidak bodoh, sebaiknya kau pergi sekarang dan jangan temui aku lagi," usir Diven tak berperasaan.
Tiba-tiba suara dering ponsel terdengar nyaring dari arah dalam kamar. Diven pun bergegas masuk mengambil smartphone dari atas meja kamar.
Ella yang merasa penasaran, kembali mendekati kamar Diven dan mencoba mendengar percakapannya dengan seseorang yang berada di balik telepon. Hingga sebuah seringai jahat tercetak di muka Diven setelah panggilan berakhir.
Diven yang menyadari Ella masih berada di apartemen langsung mendekati Ella dengan mimik muka penuh makna.
"Aku akan mengakui anak di dalam perutmu tapi dengan satu syarat," Diven mulai membuat sebuah tawaran jebakan B**atman.
"Benarkah? Baiklah, memangnya apa syaratnya?" Ella tampak senang mendengar ucapan Diven.
"Bantu aku membuat Jeffrey dan Jenny berpisah,"
Bersambung~~
...Untuk para Reader tersayang:...
...Mohon tinggalkan like dan komen pada setiap babnya setelah membaca ya.. Jika ada rejeki lebih bolehlah sumbangkan vote dan gift kalian untuk karya kentangku ini. Mohon maaf jika Nofi terkesan mengemis dukungan kalian. Tapi memang kenyataannya begitu sih🤣...
...Terimakasih🙏🥰...
__ADS_1