
"Beruang kutub, ini sudah hampir siang, sampai kapan kau akan seperti ini? Apa kau tidak lapar?" cicit Jenny dengan suara sedikit meredam karena Jeffrey menenggelamkan tubuh kecil istrinya itu ke dalam rengkuhan posesifnya.
"Sebentar lagi sayang, kan sekarang aku tidak kerja, lagian aku masih kenyang karena baru saja makan banyak?" balas Jeffrey dengan mata terpejam, sesekali ia menghirup rambut Jenny yang beraroma khas. Aroma yang sangat menyenangkan dan menenangkan.
"Hm? Perasaan kau sama sekali belum beranjak dari ranjang semalaman, terus apa yang kau makan?" Jenny menaikan kedua alisnya, heran.
Jeffrey membuka kelopak mata sehingga menampilkan lensa hijaunya dan mennautkannya dengan lensa biru milik Jenny. Ia mengulas senyuman tipis penuh arti.
"Dengan memakanmu disini, di atas ranjang ini sudah bisa membuatku kenyang," ucap Jeffrey seraya mentoel ujung hidung Jenny dengan ujung hidung miliknya.
Jenny sedikit beringsut menjauh sehingga menambah jarak antara mukanya dengan muka Jeffrey.
"Ck! Kau memang selalu saja kelaparan kalau sudah di atas ranjang. Tidak, tidak hanya di atas ranjang tapi juga di kamar mandi, di dapur, di mobil, bahkan di bangku taman rumah kita. Untung saja kita hanya tinggal bedua saja," dengus Jenny yang merasa heran dengan tingkat libido yang dimiliki suaminya itu. Ia bahkan sering kewalahan melayani kebutuhan ranjang sang suami. Tapi herannya Jenny tidak pernah bisa menolaknya karena Jeffrey terlalu pintar membuat dirinya basah.
"Sssttt! Kau dilarang komplen karena aku melakukannya dengan istriku, bukan dengan wanita lain," bisik Jeffrey yang kembali mendekatkan mukanya ke telinga Jenny dan memberi gigitan nakal di sana sehingga membuat tubuh Jenny meremang seketika.
Jenny yang hampir saja terbuai kembali menarik kesadarannya. "Beruang kutub, hentikan! Dan lepas tanganmu sekarang, aku harus menyiapkan sarapan," pinta Jenny yang menggeliat berusaha melepas tangan kekar Jeffrey yang meliliti tubuhnya seperti ular piton.
Jeffrey menarik mukanya dan menatap lekat muka Jenny yang terlihat polos khas orang bangun tidur namun tidak meninggalkan kesan cantik dimuka wanitanya itu.
"Bisakah kau berhenti memanggilku beruang kutub? Panggil aku dengan kata sayang," pinta Jeffrey.
"Akan terdengar aneh kalau aku memanggilmu seperti itu," tolak Jenny tersipu malu.
Jeffrey mendengus memasang muka cemberut. "Apa susahnya memanggilku seperti itu? Kau tinggal mengucapkannya saja,"
Pria yang mulai ngambek itu melepas pelukankkannya dan mengganti posisinya, duduk di bibir ranjang membelakangi Jenny.
"Uuuuhhh! Ternyata bayi besarku ini sedang ngambek ya," goda Jenny yang langsung beranjak dari posisi berbaringnya, memutari tubuh kekar itu dan mendaratkan tubuh kecilnya yang hanya berbalut lingerie ke atas pangkuan Jeffrey dan mengalungkan tangannya ke lehernya.
Sejurus kemudian ia mencium bibir kissable milik Jeffrey dengan sentuhan lum*tan lembut yang tentunya langsung di sambut Jeffrey. Jenny melepas pagutan bibirnya lalu berbisik ke telinganya Jeffrey.
"Sayang, aku mencintaimu," bisiknya dengan manja, semanja manjanya seorang istri kepada suaminya.
Jeffrey tampak mengulas senyuman senang di bibirnya. Pasalnya itu baru pertama kali ia mendengar Jenny memanggilnya seperti itu.
"Aku sudah turn on kembali nih, sekali lagi ya," pinta Jeffrey yang ternyata pandangannya sudah berkabut oleh gairah.
Menyadari hal itu, Jenny langsung melompat dari pangkuan Jeffrey. "Tidak! Tadi subuh kau sudah meminta jatahmu, aku akan mandi sekarang," Jenny berlari kecil menuju kamar mandi dan menutup pintunya.
Selang tidak lama, muka Jenny tampak menyembul dari balik daun pintu kamar mandi dan ia berkata. "Jangan lupa, bahwa hari ini kau berjanji akan mengajariku cara menyetir mobil," Jenny mengingatkan dan kembali menutup pintu.
Jeffrey mendesah berat. Sebenarnya ia berat membiarkan Jenny mengemudi mobil sendiri tapi wanitanya itu selalu mendesaknya dengan alasan tidak ingin merepotkan suaminya.
Iya, selama ini Jeffrey selalu berinisiatif untuk selalu mengantar jemput Jenny saat bekerja. Meski tidak jarang ia sedikit kerepotan ketika pekerjaan kantornya yang belum selesai tapi sudah bertabrakan dengan jam pulang kerja Jenny.
Kenapa tidak menggunakan jasa supir pribadi? Karena Jenny selalu menolaknya, bahkan hingga sekarang Jenny melakukan sendiri pekerjaan rumah tanpa menggunakan jasa asisten rumah tangga.
°°°
"Sayang, sebenarnya kau sedang apa?" tanya Jeffrey dengan muka datar sedatar tembok.
"Apa kau tidak melihatnya? Aku baru saja berdoa," sungut Jenny.
"Sebenarnya doa apa yang baru saja kau panjatkan? Hampir 1 jam aku menunggumu selesai," timpal Jeffrey berusaha sesabar mungkin.
__ADS_1
"Kau kan tahu sendiri ini baru pertama kali aku duduk di depan setir mobil, aku sangat gugup," terang Jenny.
"Oke, sebelum memulainya, pertama kau harus menenangkan dirimu dulu, ambil napas dalam-dalam lalu keluarkan lewat mulut, ingat keluarkan lewat lubang pernapasan jangan lubang yang lain,"
Jenny yang awalnya mengikuti instruksi Jeffrey dengan serius seketika mendengus seraya memicingkan matanya yang tajam.
"Ya iyalah, kalau tidak lewat lubang pernapasan lalu lewat mana lagi? Masa iya sih lewat lubang anus? Kalau lewat anus itu namanya kentut bukan bernapas lagi," cebik Jenny kesal. Pasalnya dia sangat gugup saat ini tapi Jeffrey seolah tidak serius membantunya.
Jeffrey terkekeh geli mendengar celotehan Jenny dengan mimik mukanya yang sedang kesal.
"Sudah! Mulailah fokus sekarang, perhatikan sekitarmu dengan melihat spion samping kanan kiri dan tengah untuk melihat sekitar mobil," Jenny langsung menjalani instruksi yang diberikan Jeffrey.
"Terus?" tanya Jenny.
"Terus, apa sebaiknya kita pulang saja? Aku lebih ingin menghabiskan waktu libur kita di kamar,"
"Sayang! Kau itu yang serius dong!" sungut Jenny yang semakin kesal. Padahal ia sudah bersungguh-sungguh.
"Ya iya.. Sekarang hidupkan mesin mobilnya terlebih dahulu," Jenny mengikuti perintah Jeffrey dengan antusias.
"Injak pedal kopling hingga mentok dan juga pedal rem. Kemudian lepaskan hand brake dengan perlahan dan pindahkan ke gigi satu lalu lepaskan kopling secara perlahan,"
"Beruang kutub coba kau lihat, mobilnya mulai bergerak," ucap Jenny di antara senang dan gugup.
Jeffrey tersenyum tipis lalu kembali mengintruksi
"Kosentrasi dan fokus ke depan,"
20 menit kemudian.
"Apa kau tidak lihat? Aku sedang menyetir," Jawab Jenny dengan tatapan fokus tidak lepas dari jalanan.
"Tapi kau melajukan mobilnya sangat pelan. Bahkan hewan siput bisa berlari lebih cepat dari ini," gerutu Jeffrey.
"Apa kau ini sudah tidak pintar? Siput bahkan tidak punya kaki bagaimana dia bisa berlari?" gerutu Jenny yang mulai kesal karena mendengar celotehan Jeffrey yang bisa merusak kosentrasinya.
Jeffrey menepuk jidatnya. "Apa kau sadar, sedari tadi mobil ini berpindah tidak lebih dari 100 meter,"
"Hissh! Kenapa kau sangat cerewet sekali? Oke aku akan menambah kecepatannya," Jenny menancap gas mobil tidak nanggung-nanggung.
Akhirnya terjadilah sebuah atraksi mobil yang meliuk-luik indah dan berkelok-kelok membentuk pola zig-zag di jalanan kota yang beruntungnya sedang sepi pengguna. Mungkin hanya satu atau dua pengendara mobil yang berpapasan.
"Kurangi laju mobilnya dan menyetirlah dengan lurus!" titah Jeffrey setengah berteriak seraya memegang erat pegangan mobil yang diikuti muka tegangnya.
"Kyaaakkk! Aku lupa bagaimana cara mengurangi lajunya!" pekik Jenny panik.
Tin..! Tin..! Tin..! Tin..!
Terdengar beberapa kali suara klakson mobil lain yang komplen karena Jenny hampir menabraknya.
"Awas...! Pijak remnya," Jeffrey berulang kali berteriak sambil memberi intruksi bersamaan dengan sesuatu yang mulai bergejolak di dalam perutnya, mual.
Ckiiiittt!
Suara decitan rem mobil terdengar nyaring ketika Jenny berhasil menghentikan mobilnya yang hampir menabrak pohon.
__ADS_1
Tubuh Jeffrey sempat terhempas di kedepan dengan kasar. Beruntung ia sempat memasang Seatbelt mobil sehingga tidak ada insiden hidung patah karena membentur keras dashboard mobil.
"Apa kau ini bodoh? Kau hampir saja mengantar kita ke akhirat," sergah Jeffrey kesal yang masih menyisakan ketegangan di mukanya.
"Kenapa kau menyalahkanku?! Bukankah kau sendiri yang memintaku untuk menambah kecepatannya?" seru Jenny tidak terima.
"Tapi seharusnya kau melakukannya dengan hati-hati, kau selalu saja ceroboh,"
Jenny menatap tajam Jeffrey dengan mata yang mulai berkabut. Tanpa ada ucapan lagi di bibirnya ia melepas sealtbelt dengan cepat lalu keluar dari mobil dan membanting pintu dengan keras sebelum melangkah pergi meninggalkan Jeffrey yang masih di dalam mobil.
Jeffrey benepuk jidatnya seraya berkali-kali mengutuki dirinya sendiri. Sepertinya ucapannya barusan sudah keterlaluan.
Pria bermata elang langsung berpindah ke bangku supir dan melajukan mobil mendekati Jenny yang sedang berjalan cepat seraya menghentak-hentakkan kakinya karena kesal.
"Sayang, kau mau kemana? Ayo masuk," pinta Jeffrey yang tampak berbicara dari dalam mobil yang berjalan sejajar dengan langkah Jenny.
Alih-alih mendengar ucapan Jeffrey, wanita blonde itu justru semakin mempercepat langkahnya dengan mimik muka cemberut.
Sejurus kemudian Jeffrey melajukan mobil mendahului Jenny dan berhenti di depannya. Pria itu segera menuruni mobil lalu mendekati Jenny.
Jeffrey sempat terpana dikala melihat muka Jenny sudah dibasahi air mata. Seperti biasanya, dadanya akan berdenyut perih jika melihat Jenny menangis.
"Sayang kau mau pergi kemana? Ayo masuklah ke mobil," pinta Jeffrey tampak bersalah.
"Aku tidak ingin masuk! Kau pulang saja sendiri dengan mobilmu itu!" sungut Jenny memalingkan muka.
"Sayang.."
"Jangan mengajakku bicara karena aku sedang kesal denganmu!"
"Sayang maafkan aku ya,"
"Tidak mau!"
"Aku tidak akan mengulanginya lagi,"
"Jangan harap kau akan mendapatkan jatah selama 1 bulan, siap-siap saja tombakmu itu akan berkarat!" Jenny kembali menggunakan jurus handalannya.
"Tidak apa-apa kau tidak menjatahku selama satu bulan asalkan kau mau memaafkanku," ucapan Jenny sungguh diluar dugaannya. Biasanya Jeffrey akan histeris memohon untuk menarik kembali ancamannya, namun kali ini berbeda yang membuat hati Jenny melunak seketika.
"Baiklah aku akan memaafkanmu,"
Jeffrey seketika merasa lega ia lantas merangkum wajah Jenny lalu mencium bibir ranumnya yang sukses membuat Jenny terbuai.
"Terimakasih sayang, kalau begitu ayo masuklah ke mobil," pinta Jeffrey.
"Aku memang sudah memaafkanmu tapi bukan berarti aku mau kembali masuk ke dalam mobil," tolak Jenny yang membuat Jeffrey kembali kehilangan kesabarannya.
"Kyaaakk! Beruang kutub apa yang kau lakukan? Turunkan aku," pekik Jenny ketika Jeffrey membopong tubuh Jenny seperti karung beras.
Bersambung~~
...Untuk para Readers kesayangan:...
...Tolong biasakan tinggalkan like dan coment setelah membaca ya. Bila ada rejeki lebih Vote dan Gift juga boleh. Dukungan kalian sungguh membuat auhtor bahagia dan lebih semangat dalam mengetik. Terimakasih🥰...
__ADS_1