
Di dalam kelas, Jenny sedang duduk di bangku kesayangannya yang berada di ujung sudut ruangan depan. Dia tampak fokus mempelajari tugas makalah yang sudah dia kerjakan dan akan dipersentasikan di depan kelas di saat jam kuliah dimulai nanti. Sementara Daisy yang sedang duduk di bangku sebelahnya tampak sibuk memoles lipstick bewarna merah menyala di bibirnya.
"Dai, aku mohon hentikan kegiatanmu itu. Bibirmu sudah menyerupai bibir ikan," sarkas Jenny yang mulai mengalihkan perhatiannya kepada sahabatnya.
"Ayolah, aku memakai lispstick sedikit tebal agar terlihat seksi seperti bibir Angelina Jolie," timpal Daisy yang masih fokus dengan bibirnya.
"Ck! Gunakan kaca yang besar, bibirmu terlihat seperti pantat ayam yang akan bertelur," ejek Jenny.
Daisy menghentikan kegiatannya sesaat. Kemudian menggiring manik matanya ke arah Jenny dengan sorot muka datar.
"Apa tidak ada yang lebih baik? Seperti pantat sapi atau pantat kuda misalnya," sindir Daisy lalu melanjutkan kembali kegiatannya yang sempat tertunda.
Ucapan Daisy berhasil mengundang gelak tawa Jenny.
Sedangkan di sudut ruang kelas lain ada sekumpulan orang yang terdiri dari dua perempuan dan satu lelaki jadi-jadian yang tampak merencanakan sesuatu. Ketiga pasang mata tersebut terlihat beberapa kali melirik ke arah Jenny dengan tatapan jahil.
"Buruan lakukan sekarang sebelum Dosen memasuki kelas," saran si jantina yang tak lain orang yang memiliki jenis kelamin ganda jantan betina.
"Oke," jawab seorang gadis berponi rata yang lantas mengambil kunyahan permen karet dari mulutnya dan mendekati Jenny dari belakang.
Puk!
Kunyahan permen karet yang masih berlumur air liur yang menjijikkan tersebut mendarat pada rambut panjang Jenny. Jenny sempat tersentak mendapati kejahilan dari salah satu anak setan tersebut.
"Hahahaha!" seketika suara tawa renyah dari tim usil tersebut memenuhi ruangan kelas. Ketiga sekawan tersebut terlihat melakukan high five bergantian sebagai tanda kemenangan.
"Hei kamu! Apa yang baru saja kamu lakukan?!" pekik Daisy yang sontak menghentikan kegiatan poles memolesnya karena melihat Jenny mendapatkan kejahilan lagi dari teman kelasnya.
"Biarkan saja," pinta Jenny tanpa memalingkan mukanya ke Daisy.
"Apa kamu akan membiarkan mereka terus berbuat usil kepadamu?" ucap Daisy yang tak terima.
"Tentu saja," ucap Jenny menggantung.
"Tentu saja aku tidak akan membiarkan mereka menindasku. Aku bukan pengecut," sambung Jenny dengan mimik muka kesal.
Dengan cekatan Jenny mengambil gunting kecil dari dalam tasnya lalu menjumput beberapa helai surai yang tertempel benda lengket tersebut. Tidak ingin berpikir panjang dia lalu menggunting sebagian rambutnya.
Tidak berhenti sampai di situ saja. Si gadis beriris biru tersebut menghampiri sekawanan anak dadjal yang terlihat tertawa puas karena merasa berhasil menggencarkan aksi yang melenceng jauh dari ahklak manusia.
__ADS_1
Puk!
Seketika suara tawa mereka tenggelam ketika Jenny menempelkan kembali permen kunyah tersebut pada bagian poni pemilik benda lengket yang menjijikkan itu.
Belum. Aksi Jenny belumlah berakhir. Dia menekan dengan kuat permen karet tersebut dan meremas-remas dengan mimik muka gemas sehingga seluruh poni datar itu menyatu dengan permen sehingga menyerupai bola dari rambut kusut.
Gadis pemilik poni tersebut langsung menampik tangan Jenny dengan kasar. Sedangkan kedua temannya terlihat tercengang dengan mulut menganga lebar dengan air liur yang siap mengucur bagaikan air terjun Niagara.
"Hei perempuan gila! Perempuan burik! Apa yang kau lakukan! Kau merusak poniku!" bentak gadis berponi itu. Mukanya sudah terlihat merah padam.
"Aku hanya membuang sampah pada tempatnya," balas Jenny menyeringai.
"Apa kau butuh alat untuk melepas permen itu dari rambutmu?" tawar Jenny seraya mengulurkan tangannya yang sedang menggenggam sebuah gunting.
"Aaaaaaarrrgg! Rambutku!" gadis berponi tersebut seketika menangis histeris. Merenungi nasib poni tirainya yang mengenaskan. Mungkin beberapa minggu terkahir dia tidak akan masuk kuliah sampai poninya tumbuh kembali.
Jenny pun kembali ke bangkunya dengan senyum kemenangan yang menghiasi muka di balik rambut yang hampir menutupi sebagian mukanya.
Bersamaan dengan kembalinya Jenny ke bangkunya, Jeffrey memasuki kelas yang diikuti Alvin dan Sammy. Dia mendaratkan tubuhnya pada bangku yang terletak tepat di belakang bangku tempat Jenny duduk.
Dia menggiring manik hijaunya pada tubuh Jenny yang sedang membelakanginya dengan sorot mata tak terbaca.
Bruk!
Jenny memutar matanya jengah dan tidak ingin merespon tindakan usil Jeffrey. Gadis yang selalu mendapati tindakan jahil Jeffrey itu kadang merasa heran. Sampai kapan dia akan bebas dari rundungan lelaki otoriter tersebut.
Dua tahun lamanya. Iya sudah selama itu, Jenny terus menjalani kegiatan kuliahnya yang selalu diwarnai dengan tindakan nakal Jeffrey. Bahkan teman-teman sekelas lainnya juga ikut-ikutan mem-bully-nya.
Bruk!
Sekali lagi Jeffrey menendang bangku Jenny yang berhasil menarik perhatian gadis blonde yang merasa terusik tersebut. Tanpa beranjak dari tempat duduknya, Jenny sedikit memutar tubuhnya ke arah Jeffrey. Gadis bernetra biru itu mendesis seraya melirik tajam ke arah Jeffrey.
"Apa?!" ucap Jeffrey tanpa dosa.
"Dasar kekanak-kanakan," cibir Jenny.
"Kau menghalangi pandanganku, berpindahlah ke tempat lain," ucap Jeffrey yang memang sengaja memancing emosi Jenny.
"Kau bisa duduk di bangku dosen jika tidak ingin pandanganmu terhalangi," dengus Jenny lalu memutar kembali tubuhnya ke depan.
__ADS_1
Selang tidak lama, Dosen mata kuliah jam pertama terlihat memasuki ruang kelas untuk memulai kegiatan belajar mengajarnya.
Jam istirahat sudah tiba, seperti biasanya sambil menunggu jam mata pelajaran selanjutanya dimulai Jenny dan Daisy menuju ke kantin untuk mengisi perut mereka yang sudah bergemuruh karena cacing-cacing di perut yang mulai merengek minta makan.
"Hai Jenn," sapa Sean yang kebetulan kelasnya juga memiliki jadwal kuliah yang sama dengan Jenny jadi dia beristirahat bersama.
Selang tidak lama, sepasang kekasih yang selalu menempel dan menebar kemesraan, Julian dan Avellyn juga tampak bergabung.
Mereka pun memesan makanan dan mulai menyantap makan siangnya yang diwarnai obrolan ringan.
"Cium dia!" suara bariton Jeffrey yang terdengar memberi titah kepada seorang mahasiswa yang sedang dirundungnya mengalihkan perhatian semua seluruh penghuni kantin termasuk Jenny dan kawan-kawan.
Mahasiswa yang berpenampilan sangat rapi dengan gaya rambut klimis yang membelah tengah dan kaca mata tebal yang bertengger di hidungnya. Kemeja yang dimasukkan ke dalam celana dengan ikat pinggang yang melingkari tubuh di atas pusarnya. Orang-orang biasa memanggilnya si culun.
"Cepat cium dia, maka kau akan aku lepaskan," titah Jeffrey kepada si culun.
"Tapi aku tidak mungkin mencium orang sembarangan. Aku mohon ampuni aku. Aku tadi tidak sengaja menumpahkan minuman di bajumu," mohon si culun.
Beberapa saat yang lalu, si culun membawa segelas minuman dengan langkah tergesa-gesa dan kurang memperhatikan jalannya, sehingga dia tidak sengaja menabrak tubuh Jeffrey yang menyebabkan air menumpahi bajunya.
"Kamu berani mengajak aku bernegoisasi rupanya, tapi sayangnya aku menolaknya. Atau kau ingin aku menghancurkan milikmu ini?" ancam Jeffrey seraya mengangkat sebuah laporan tugas kuliahnya dari mata pelajaran yang terkenal sulit.
"B-aik, a-ku akan menciumnya," ucap si culun terbata-bata. Dia tidak punya pilihan lain selain menuruti perintah Jeffrey. Diapun mulai melangkahkan kakinya dengan ragu. Mendekati Jenny yang memang dialah yang dijadikan objek sasaran utama Jeffrey sebenarnya.
Jenny yang baru menyadari bahwa dia akan dijadikan objek sasaran Jeffrey sontak membolakan mata almondnya dan bergegas berdiri dari tempat duduknya dan mulai melangkah mundur.
Jeffrey melirik ke arah Alvin dan Sammy memberi isyarat yang langsung mendapat tanggapan mengerti oleh mereka berdua.
Dengan sedikit ragu Alvin dan Sammy mengapit kedua tangan Jenny yang seketika mendapat tatapan tajam Jenny. Iya, kalau bukan karena Jeffrey, Alvin dan Sammy tidak mungkin akan melakukan hal seperti saat ini.
Bagi mereka, Jenny adalah gadis nekat yang bisa berbuat apa saja untuk melawan musuhnya seperti menendang, menampar, menerjang, bahkan membanting tubuh lawannya meskipun lelaki sekalipun. Mereka sering dibuat bergidik kalau mengingat selama ini merekapun pernah beberapakali menjadi korban kekuatan super Jenny.
"Jeff, jangan berbuat gila!" seru Sean yang tidak terima gadis yang selama ini menarik perhatiannya mendapat perlakuan buruk.
Sean mencoba mencegah perbuatan Jeffrey, namun sekali lagi dan bahkan sudah berkali-kali si gadis bermutiara biru tersebut melarang Sean termasuk Julian, daisy, dan Avellyn untuk ikut campur setiap Jeffrey berulah.
Jarak muka si culun dengan muka Jenny hanya tinggal beberapa senti. Bagaikan adegan slow motion, sedikit demi sedikit jarak muka di antara mereka terpangkas.
Bersambung~~
__ADS_1
Minimal kasih dukungan like kepada Author jika rate, vote, coment, dan hadiah terasa berat. Terimakasihš¤