
Malam yang panjang dan melelahkan sudah berganti pagi yang cerah. Sang penguasa cahaya sudah berdiri gagah di singgasana kebesarannya. Sinarnya yang hangat menyapu lembut alam semesta. Mutiara embun nan bening yang menggelayut manja pada dedaunan hijau mulai menguap bersatu dengan udara.
Suara cicitan burung yang saling bersaut-sautan terdengar ramah dan merdu, seolah sebagai tanda penyambutan kedatangan sang fajar.
Udara pagi yang dingin yang diiringi anak-anak sinar mentari yang hangat menerobos melalui jendela balkon yang masih terbuka semalaman. Menyapu ruangan yang masih tercium semerbak aroma khas dari kegiatan ranjang yang begitu panas.
Wanita berparas cantik yang masih terlelap itu tampak semakin beringsut kedalam dada bidang sang suami dikala syahdunya hawa dingin pagi membelai nakal kulit tubuh polosnya yang masih bernaung di bawah selimut.
Jiwanya masih menjelajah dunia awan putih namun raganya masih bisa merespon sebuah pergerakan tubuh Jenny yang menggeliat manja di dadanya. Lengan kekarnya semakin menambah frekuensi lilitannya pada tubuh kecil istrinya.
Iya, sepasang suami istri muda itu masih tampak enggan beranjak dari ranjang yang menjadi saksi bisu kegiatan panas mereka semalam.
Dengan terpaksa, perlahan lensa hijau itu mulai muncul dari persembunyiannya karena ulah tengil anak-anak cahaya mentari yang seolah mengetok pintu gerbang mutiara hijaunya. Pemilik mutiara hujau itu adalah Jeffrey.
Dia menggiring kepalanya ke arah Jenny yang masih terlelap dan terlihat nyaman di dalam rengkuhan tubuhnya yang perkasa. Sebuah kecupan sayang mendarat sempurna di pucuk kepala wanitanya.
"Terimakasih, karena telah menjaganya untukku," gumam Jeffrey yang tak henti-hentinya bersyukur dan bangga karena dia adalah pria pertama bagi Jenny.
Jeffrey menatap lekat muka Jenny yang tampak damai dalam lelapnya. Ia menyibak anak-anak rambut yang menutupi muka polos istrinya.
"Hemmm," Jenny mendesah tatkala tidurnya sedikit terusik.
"Good morning kucing kecilku," bisik Jeffrey di telingan Jenny.
Hembusan hangat napas Jeffrey yang menyapu daun telinga Jenny sukses membuat jiwa wanita bermutiara biru itu tertarik dari alam mimpinya.
"Hmmm.. Beruang kutub kau membuatku geli," suara Jenny terdengar serak. Alih-alih bangun dari tidurnya dia justru berbalik memunggungi Jeffrey dan mengangkat selimut sampai menutup kepalanya.
"Kau ingin tidur sampai kapan? Ini sudah pukul 9 pagi," ucap Jeffrey seraya menyibak selimut yang menutupi hingga punggung polos Jenny terbuka sempurna. Tentu saja hal itu sekali lagi sukses membangkitkan kembali benda pusaka keramat milik Jeffrey dari tidurnya.
"Beruang kutub, aku masih sangat mengantuk, semalaman kau menghukumku hingga pukul 3 pagi," balas Jenny yang kembali menarik selimut tebalnya.
Jeffrey memeluk tubuh Jenny dari belakang dan mengecup punggung mulus Jenny.
"Katanya kau ingin menikmati kanal air dengan perahu dan juga memberi makan jerapah," ucap Jeffrey.
Kalimat Jeffrey sukses membuat Jenny membuka sempurna sepasang mata almondnya.
"Iya, bukankah kita masih mempunyai rencana kegiatan di book list hari ini," sambung Jenny yang langsung tampak antusias. Seolah dia lupa dengan rasa lelah pada tubuhnya.
"Tapi....," ucap Jeffrey menggantung.
"Tapi kenapa?" tanya Jenny penasaran.
"Tapi aku tidak yakin kau bisa berjalan dengan benar hari ini," jawab Jeffrey seraya melempar pandangannya ke sembarang arah karena sadar akan perbuatannya semalam.
"Kau ini ngomong apa? Tentu saja aku bisa berjalan dengan benar," sanggah Jenny yang lalu berganti ke posisi duduk.
Jenny sempat terkesiap ketika selimut yang menutup tubuhnya melorot dan mempertontonkan dua bukit sintalnya yang penuh akan sempel kepemilikan akibat ulah nakal Jeffrey. Dia sontak menarik kembali selimutnya untuk menutup kembali tubuhnya.
Jeffrey terkekeh geli melihat gelagat Jenny yang menurutnya sangat menggemaskan.
"Kenapa kau masih malu? Aku bahkan sudah melihat semua bagian tubuhmu dab tidak ada satupun yang terlewatkan termasuk yang itu," cerocos Jeffrey sambil menunjuk bagian bawah tubuh Jenny.
Blush...
__ADS_1
Semburat merah buah persik langsung menghiasi pipi Jenny. Wanita itu berniat kabur dari situasi memalukan itu dengan beranjak dari kasur namun langkahnya tercekat dan tubuhnya hampir terjatuh tapi dengan sigap Jeffrey berhasil menangkapnya tepat waktu.
"Kau kenapa?" tanya Jeffrey.
"Ahhhhh! Sakit sekali," jawab Jenny seraya meringis menahan perih di area organ intimnya.
"Tadi sudah ku katakan bukan, aku tidak yakin kau bisa berjalan dengan benar hari ini, sebaiknya hari ini kita beristirahat dulu di hotel. Lagian kita masih 5 hari lagi disini, masih ada banyak waktu untuk mengisi book list kita," tutur Jeffrey.
"Baiklah, sekarang aku ingin membersihkan tubuhku dulu, sekujur tubuhku terasa sangat lengket," ucap Jenny.
"Oke, kalau begitu kita mandi dulu," balas Jeffrey yang langsung mengangkat tubuh Jenny ala bridal style dan membawanya ke kamar mandi.
"Kyaakk! Beruang kutub, aku mau mandi kenapa kau juga ikut masuk ke kamar mandi?" pekik Jenny.
"Aku ingin membantumu mandi," Jeffrey menyeringai nakal. Tentu saja dia mempunyai niat terselubung. Apa lagi si kepala angsanya sudah memberontak ingin menyosor sesuatu.
°°°
Wanita bersurai blonde itu tampak menekuk mukanya berkali-kali lipat hingga terlihat sangat kusut. Dia sangat kesal dengan Jeffrey. Pasalnya setelah ritual mandi bersama yang memakan waktu hingga 2 jam karena Jeffrey meminta jatahnya lagi di bawah guyuran hangat shower kamar mandi, kegiatan itu masih berlanjut ketika mereka baru saja keluar dari kamar mandi dan melakukannya lagi di depan kaca meja rias.
"Apa kau marah padaku?" Jeffrey tampak menyesali.
"Kau benar-benar ingin membuatku tidak bisa berjalan. Dan sekarang apa? Kau bahkan tidak memberiku kesempatan untuk sekedar mengenakan pakaianku," sungut Jenny merasa kesal.
"Maafkan aku, tapi kau juga tampak menikmatinya tadi kan?" sanggah Jeffrey namun masih dengan mimik muka menyesal tapi tidak sepenuhnya menyesal.
"Itu karena kau memaksaku, kau seperti beruang kutub yang kelaparan" sembur Jenny yang langsung mengundang gelak tawa Jeffrey.
"Sepertinya aku akan selalu kelaparan dan hanya kau yang bisa mengobati rasa laparku," goda Jeffrey lalu menggigit gemas pipi Jenny.
°°°
Sepasang kekasih itu akhirnya memutuskan menikmati kanal air di malam hari. Tentunya hal itu sebelumnya tidak langsung disetujui oleh Jeffrey karena dia khawatir istrinya itu akan kesakitan saat berjalan dan sudah pasti tidak akan nyaman baginya.
Namun Jenny masih saja merengek dan terus merayu suaminya dengan segala cara dan menjelaskan bahwa dia sudah baik-baik saja. Hingga akhirnya Jeffrey pun pasrah dan tidak bisa lagi menolak keinginan kucing kecilnya itu jika sudah beruraikan air mata.
Jeffrey sengaja menyewa private boat sekaligus tour guide untuk menyusuri kanal-kanal air di sepanjang kota Amsterdam. Jenny berkali-kali berdecak kagum menikmati keindahan kanal dari dek outdoor depan. Tranportasi air yang menggunakan kanal-kanal besar maupun kecil juga tertata rapi, dipelihara bersih serta bermanfaat besar untuk warganya.
Sementara itu, di tepi-tepi kanal ini juga terlihat cantik akan jejeran rumah terapung yang menjadi tempat tinggal permanen bagi warga Amsterdam. Rumah terapung ini layaknya rumah tinggal biasa dilengkapi dengan berbagai ruangan kamar, tempat makan dan sebagainya.
"Kau tampak menikmatinya," ucap Jeffrey.
"Tentu saja, tidakkah kau menyukainya?" tanya Jenny tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Jeffrey yang berdiri di sebelahnya.
Jeffrey tersenyum tipis dan mencoba menyibak anak-anak rambut Jenny yang menutupi mukanya karena terpaan semilir angin. Dia menikmati setiap guratan kebahagiaan yang terukir di muka Jenny.
"Sebaiknya kita masuk dulu untuk makan malam. Para pelayan sudah menyiapkan semuanya," ajak Jeffrey yang lantas melingkarkan tangannya di bahu Jenny dan menggiring masuk ke dalam ruangan kapal yang dikelilingi dinding kaca besar. Jadi meskipun berada di dalam mereka tetap bisa menikmati pemandangan kanal di luar.
Sekali lagi, raut muka kagum tercetak jelas di muka Jenny setelah melihat ke sekeliling meja makan yang sudah didekorasi sedemikian rupa. Tambahan lilin candle light dinner yang tertata cantik di atas meja serta seikat bunga mawar merah yang bersemayam indah di singgasana vas porselinnya. Serta alunan musik ber-gendre romansa cinta yang mengalun merdu, memenuhi ruangan kapal. Sehingga menambah atmosfer makan malam yang semakin romantis, hangat, dan penuh sayang.
Jeffrey menarik bangku dan mempersilahkan ratu yang sudah menempati hatinya untuk duduk yang tentu langsung disambut hangat oleh Jenny.
Suasana makan malam mereka berlangsung romantis dan syahdu. Keduanya begitu menikmati makan malamnya yang begitu memorable.
Sesaat setelah selesai menyantap hidangan lezat makan malam. Jeffrey berjalan memutari meja dan bersimpuh di depan Jenny. Sejurus dia langsung mengeluarkan sebuah kotak bludru bewarna merah dari saku mantelnya.
__ADS_1
"Ini untukmu," ucap Jeffrey seraya membuka kotak kecil itu di hadapan Jenny.
Jenny terkesima melihat sebuah cincin bermata biru yang begitu cantik di dalam kotak kecil. Jari-jari kecilnya tampak menutupi mulutnya.
"Apa ini tidak berlebihan? Cincin ini terlihat sangat mahal," ucap Jenny tak percaya setengah terharu.
"Ini adalah satu-satunya cincin beharga peninggalan nenekku, Mommy memintaku untuk diberikan kepadamu," terang Jeffrey.
"Tapi kenapa? Aku merasa tidak pantas menerima cincin itu,"
"Kau sangat pantas menerimanya, aku tidak menerima penolakan," tegas Jeffrey yang lalu menyematkan cincin itu pada jari manis tangan kanannya.
"Pakai cincin ini pada saat tertentu saja. Tapi tidak dengan cincin pernikahan kita. Kau harus terus memakainya. Aku ingin semua orang tahu kalau kucing kecilku ini sudah mempunyai pemilik," sambung Jeffrey lagi yang terkesan posesif.
Muka berseri Jenny sontak berubah datar. "Kau pikir aku ini hewan peliharaan," cebik Jenny.
Malam semakin larut, akhirnya sepasang kekasih itu memutuskan untuk kembali ke penginapan. Keduanya segera memasuki bus kota dan mencari bangku kosong untuk di tempati.
Iya, mereka memang sengaja menggunakan transportasi umum untuk menikmati kota malam Amsterdam. Rengekan Jenny sekali lagi membuat Jeffrey harus menuruti permintaannya.
Dari sudut ruangan bus yang lain, tampak seorang wanita hamil paruh baya yang sedang berdiri tidak jauh dari tempat Jeffrey dan Jenny duduk. Wanita itu memang tidak kebagian bangku Bus.
Jeffrey yang menyadari tatapan penuh iba pada muka Jenny seketika beranjak dari duduknya.
"Anda bisa duduk disini," ucap Jeffrey mempersilahkan wanita hamil tersebut menempati bangku yang sempat dia duduki.
"Terimakasih anak muda, kau tidak hanya tampan tapi juga baik," puji wanita tersebut senang yang hanya mendapat anggukkan Jeffrey sebagai tanda balasan.
Sementara Jenny tampak menarik kedua sudut bibirnya, karena melihat sikap Jeffrey yang menurutnya jauh dari sifat arogansinya. Wanita blonde itu beberapa kali melirik ke arah jeffrey dengan mimik muka senang dan bangga.
Sementara Jeffrey, dia tampak tersenyum kikuk seraya menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. Sejujurnya dia sangat malu dan tidak percaya dengan tindakannya barusan. Pasalnya hal itu adalah tindakan kepedulian sosialnya untuk pertama kali.
Tidak membutuhkan waktu yang lama akhirnya mereka menuruni bus yang mereka tumpangi.
"Beruang kutub bisakah kau mengurangi lebar langkahmu?" pinta Jenny sedikit meringis.
"Kenapa? Apakah ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman?" tanya Jeffrey menyelidik.
"Tiba-tiba perihnya kembali lagi," beber Jenny sedikit malu.
Jeffrey tersenyum tipis karena paham dengan yang dialami istrinya. "Mungkin karena tadi kita terlalu lama berjalan,"
"Bisa jadi, kyaaakkkk! Beruang kutub apa yang sedang kau lakukan? Turunkan aku," pekik Jenny yang mendapati tubuh kecilnya sudah tidak berpijak pada bumi karena Jeffrey langsung menggendong tubuhnya ala bridal style.
"Jangan banyak bergerak, nanti bisa jatuh," ucap Jeffrey yang langsung membawa istrinya menuju penginapan.
Jenny akhirnya hanya bisa pasrah dan semakin menenggelamkan mukanya ke dada bidang Jeffrey. Dia sangat malu karena tindakan Jeffrey menarik perhatian orang-orang yang kebetulan sedang berlalu lalang di sekitar.
Tanpa mereka sadari, dari sudut lain ada dua pasang mata dengan sorotan tajam dan penuh rencana sedang mengawasi mereka.
Bersambung~~
Oke, mulai mendekati konflik lagi ya..😆
...Untuk para Reader tersayang:...
__ADS_1
...Mohon tinggalkan like dan komen pada setiap babnya setelah membaca ya.. Jika ada rejeki lebih bolehlah sumbangkan vote dan gift kalian untuk karya kentangku ini. Mohon maaf jika Nofi terkesan mengemis dukungan kalian. Tapi memang kenyataannya begitu sih🤣...
...Terimakasih🙏🥰...