
Malam panjang mulai lengser dan bergilir pagi yang cerah. Sang raja cahaya perlahan menyingsing dari singgasananya yang megah. Sinarnya yang hangat mulai menyapu bumi yang masih basah karena embun pagi yang menyejukkan.
Gadis yang masih larut dalam dunia mimpinya tampak mengerutkan dahi tatkala anak-anak sinar mentari menerobos melewati kaca jendela dan menyapu muka cantiknya dengan nakal.
Alih-alih terbangun dari tidurnya, ia justru semakin beringsut, menenggelamkan tubuhnya ke dalam selimut dan hanya menyisakan kepalanya. Masih dengan mata yang terpejam, tangannya meraba-raba mencari bantal guling untuk menambah kenyamanan untuk meneruskan bunga tidurnya.
Aksinya berhenti dikala dia mendapatkan apa yang ia cari. Gadis blonde tersebut memeluk erat bantal yang berbentuk tabung panjang itu lalu menenggelamkan kepalanya begitu dalam.
"Hmmm, gulingnya sangat hangat, aku sangat menyukainya," gumam Jenny di sela tidur setengah sadarnya.
"Benarkah kau menyukainya?"
"Hm," respon Jenny singkat dengan kedua sudut bibir melengkung ke atas dan semakin menyamankan posisinya.
"Guling, sejak kapan kau bisa berbicara? Kau seperti guling hidup saja," ucap Jenny ngelindur.
Hening sesaat~~
"Sebentar, mana ada guling bisa berbicara?" bisik batin Jenny dengan kesadaran berangsur-angsur terisi penuh.
Sekali lagi, masih dengan mata tertutup, Jenny meraba guling yang dia peluk naik turun, hingga tangannya berhenti pada dua gundukan padat yang terasa hangat.
"Sejak kapan guling mempunyai pantat?"
Perlahan-lahan Jenny membuka matanya yang masih terasa berat. Gerbang matanya masih terbuka separuh, ia menggiring mutiara biru di balik gerbang mata ke area tangannya berpijak.
"Ternyata gulingnya punya pantat," batin Jenny yang tersenyum bodoh lalu mengatupkan kembali kelopak matanya karena rasa kantuk masih mendominasi.
"Guling? Pantat?"
Tiba-tiba kedua mata Jenny terbuka lebar, seakan rasa kantuk yang baru saja menguasainya menguap begitu saja dan menarik paksa kesadarannya. Pandangannya menyelidik ke sekitar lalu lanjut mendongkrak mukanya keatas dengan tangan masih melingkari guling hidupnya dengan posesif. Mata almondnya semakin membola tatkala melihat sosok pria yang yang berada dalam pelukan tengah menatapnya dengan intens.
"Selamat pagi, kucing manisku," sapa'an selamat pagi menjadi pembukaan pagi Jenny yang penuh kejutan. Sontak Jenny beringsut mundur, memberi jarak tubuhnya dengan tubuh Jeffrey.
"K-kau kenapa berada di ranjangku?! seru Jenny gugup.
"Ini ranjangku," jawab Jeffrey singkat.
"Apa maksutmu?"
"Iya, kau berada di kamarku sekarang,"
Jenny sontak mengambil posisi duduk, mengedarkan pandangannya menyapu ruangan. Sekali lagi, Jenny tercekat dengan mata terbelalak diikuti mulut yang menganga lebar.
"A-aku kenapa bisa berada di sini? Bukannya semalam aku tidur di kamarku?"
Jeffrey bangun dari berbaringannya lalu menyandarkan tubuhnya pada headboard ranjang.
"Apa kau tidak mengingatnya, semalam kau berjalan sendiri mendatangi kamarku," jelas Jeffrey berdusta.
"Euuuuhw! Benarkah itu, aaargh! Ini sangat memalukan," teriak Jenny di dalam hati. Dia sangat malu saat ini.
Tiba-tiba ide bodoh terlintas pada otak besar Jenny. Dia mencoba kembali tidur seolah-olah dia baru saja mengingagau. Tentu saja hal itu untuk menutupi rasanya malunya yang sudah sampai ke puncak ubun-ubun. Bodoh sekali.
__ADS_1
"Hmmmm.. Aku sepertinya mengigau. Hmmm.. Aku akan kembali tidur saja, nyem nyem nyem," ucap Jenny yang langsung merubah nada suara ke khas orang mengantuk. Gadis itu memunggungi Jeffrey dan mengangkat selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
Jeffrey terkekeh geli melihat gelagat Jenny yang menurutnya sangat menggemaskan itu. Tidak ingin hanya berdiam saja, dia lantas ikut menenggelamkan tubuhnya pada satu selimut yang sama dengan Jenny lalu menghadiahkan gelitikan nakal pada perutnya sehingga membuat Jenny menggeliat dan tertawa terpingkal-pingkal.
"Beruang kutub, aku mohon hentikan, ini sangat geli," mohon Jenny di sela tawanya menahan geli.
Jeffrey menghentikan permainan jari-jarinya sejenak.
"Coba katakan, apakah kau sangat menyukai guling hidupmu ini?" tanya Jeffrey menggoda.
Blush...
Semburat semu merah sektika muncul pada permukaan pipi mulus gadis blonde itu.
"Ti-tidak, aku tidak menyukainya," kilah Jenny yang justru membuat Jeffrey menggencarkan kembali aksi gelitiknya.
"Kyaaaakkk! Beruang kutub hentikan! Hiks! Hahaha. Hiks! Hiks, apa kau ingin membuatku terkencing di ranjang?!" pekik Jenny mencoba membebaskan diri dari ulah tangan nakal suaminya yang belum tampak ada niat menghentikan aksinya.
"Iya iya iya, aku menyukainya, aku menyukainya, jadi tolong hentikan!" aku Jenny.
Jeffrey menyeringai puas tatkala mendengar akuan Jenny lalu menghentikan aksi nakalnya.
Cups!
"Morning kiss," ucap Jeffrey setelah memberikan kecupan singkat pada bibir Jenny lalu turun ranjang dan meninggalkan Jenny yang masih membeku karena terkejut akan serangan dadakan Jeffrey yang begitu manis.
"Apa kau tidak akan pergi ke kampus? Segera bersiap-siaplah, atau kau ingin aku memandikanmu?" ucapan Jeffrey berhasil mencairkan tubuh Jenny yang sempat membeku.
"Hiiish! Dasar mesum!" cebik Jenny seraya melempar picingan tajam ke arah Jeffrey lalu bergegas kembali ke kamarnya.
Jenny dan Jeffrey datang ke kampus secara terpisah seperti biasanya. Awalnya Jeffrey menawarkan tumpangan ke pada Jenny, namun langsung di tolak halus olehnya.
Mengingat status Jeffrey adalah kekasih Veronica, membuat Jenny tidak perlu berpikir lama untuk menolak tawaran Jeffrey. Alasannya, dia tidak ingin mengundang tanda tanya besar di kepala anak-anak di kampusnya. Hal itu tentu akan sangat merepotkan dan membuatnya risih.
Bruk!
Suara tas yang mendarat kasar pada bangku kelas menarik perhatian Daisy yang kebetulan sudah berada di sana lebih dulu.
"Kau kenapa sih? Masih pagi, muka sudah ditekuk begitu," tanya Daisy heran.
"Lagi badmood aja," jawab Jenny lesu. Sebenarnya dia semakin dibuat galau gundah gulana akan sifat Jeffrey yang menurutnya berubah 180 derajat dengan kecepatan kilat alias perubahan yang tiba-tiba.
Jenny merasa senang tapi dia juga sedih. Begitu banyak yang harus dipertimbangkan tentang perasaannya. Tentang hubungannya dengan Jeffrey, tentang perjanjian dalam pernikahannya dan tentang hubungan Jeffrey dengan Veronica. Hal itu membuatnya berkali-kali untuk meyakinkan diri secara mati-matian agar hatinya tidak oleng dan tenggelam dalam perasaan yang dimana akan sulit baginya untuk muncul kembali ke permukaan jika sudah terlajur basah.
Plak!
Muka Jenny tiba-tiba memutar kesamping karena sebuah tamparan keras mendarat di pipinya tanpa sopan. Gadis yang baru saja menjadi korban aksi frontal tersebut menangkup pipinya yang masih terasa panas lalu menghunus tatapan tajam kepada makhluk yang sedang berdiri di hadapannya dengan tatapan membunuh.
Sebuah aksi tamparan tersebut tentu saja langsung menarik perhatian seluruh para penghuni kelas yang kebetulan sudah terlihat padat.
Dia adalah Veronica kekasih Jeffrey. Bukan, tepatnya mantan kekasih Jeffrey. Wanita yang di putuskan secara sepihak dan tidak terhormat tersebut berusaha melampiaskan amarahnya kepada Jenny, yang menurutnya sebagai salah satu penyebab berakhirnya hubungannya dengan sang pujaan hati. Sungguh sangat menggelikan, Veronica seolah enggan untuk berkaca akan kesalahannya sendiri.
"Dasar jalang!" hardik Veronica yang mulai mengangkat kembali tangannya berniat melayangkan kembali sebuah tamparan namun na'as, tiba-tiba tubuhnya terhuyun ke belakang hingga terjungkal.
"Jangan sakiti sahabatku atau kau ingin aku menelanjangimu di tempat ini juga," gertak Daisy yang baru saja menghentikan aksi gila Veronica dengan mendorong tubuhnya dengan kuat.
__ADS_1
Veronica mencoba berdiri seraya menahan ngilu pada pantatnya. "Kau jangan ikut campur! Apa kau tahu? Disini akulah korban dari tindakan bejat sahabatmu itu," hardik Veronica kepada Daisy.
"Apa maksutmu?! Korban apa? Apa yang telah ku perbuat kepadamu?!" sela Jenny yang mulai tidak terima akan tuduhan yang tidak dia ketahui.
Veronica menyeringai penuh arti. "Dengar kalian semua, dia adalah perempuan jalang yang selalu merayu dan merebut kekasihku dengan cara memberikan tubuhnya secara gratis," fitnah Veronica yang memang itu tujuan utamanya untuk mempermalukan Jenny di depan orang-orang.
Jenny menggenggam jari-jari tangannya dengan begitu erat hingga buku-buku tangannya terlihat memutih. Saat ini dia mencoba menahan emosi yang sewaktu-waktu bisa saja menyembur dari ujung kepalanya.
Jenny tampak menghirup napas lalu menghembuskannya dengan berat sebelum kembali menyanggah fitnahan Veronica.
"Aku tidak pernah merayu kekasihmu apa lagi menggodanya dengan tubuhku," sanggah Jenny setenang mungkin.
"Halah jangan berkilah! Aku mempunyai banyak bukti bahwa kau mencoba mendekati Jeffrey padahal jelas-jelas kau sudah sangat tahu bahwa Jeffrey adalah kekasihku," balas Veronica seraya merogoh isi tasnya lalu melempar beberapa lembar foto yang menunjukkan kedekatan Jenny dan Jeffrey.
"Eh, coba kalian lihat foto ini. Ternyata benar yang dikatakan Veronica," ucap salah satu mahasiswa yang baru saja memungut lembaran foto yang berhamburan di lantai. Di dalam foto tergambar sosok Jenny yang sedang memeluk Jeffrey dan berciuman.
"Hih! Ternyata dia tidak sepolos kelihatannya. Sungguh menjijikkan," sahut mahasiswa yang lain.
"Sungguh tidak punya hati, dia telah merusak hubungan orang lain,"
"Dasar pelakor tak tau malu,"
"Sungguh Veronica yang malang,"
"Orang seperti dia tak pantas hidup bahagia,"
"Aku sekarang merasa jijik melihat mukanya, ternyata selama ini dia hanya bersikap munafik, sungguh memalukan,"
"Tabiat buruknya pasti diturunkan dari kedua orang tuanya,"
Begitulah kasak kusuk yang sedang memenuhi isi ruangan saat ini. Perkataan pedas dan hinaan menghujam berkali-kali hati Jenny. Semua pasangan mata tampak tertuju ke Jenny dengan tatapan mencemoh dan memojokkan.
"Apa kalian tidak bisa menjaga mulut licin kalian itu?! Jangan asal bicara!" seru Daisy yang tidak terima sahabatnya dihina.
Sementara itu Veronica tampak menyeringai puas karena rencananya untuk mempermalukan Jenny akhirnya berhasil.
Jenny yang tidak ingin ikut-ikutan gila lebih memilih pergi dari hadapan Veronica. Namun Veronica mengikutinya dan menarik kasar tangan Jenny untuk menghentikan langkahnya.
Jenny menyapu kondisi sekitar dengan perasaan kesal. Ternyata para mahasiswa yang kebetulan melihat aksi pertengkaran Jenny dan Veronica tampak mengerubungi mereka berdua. Tentu saja hati nitizen kini sudah dipenuhi oleh perasaan ingin tahu yang begitu tinggi.
"Jangan dekati Jeffreyku aku mohon, aku akan memaafkanmu jika kau mengehentikan niat burukmu itu," ucap Veronica yang langsung memasang mimik muka sedih dibuat-buat.
Para nitizen yang sedang menonton pertengkaran mereka sontak memasang muka iba terhadap Veronica.
"Kau tidak sepantasnya berkata seperti itu," suara bariton Jeffrey yang begitu menggema langsung mengalihkan semua perhatian orang-orang di sekitar termasuk Jenny.
Kedatangan Jeffrey juga berbarengan dengan kedatangan Sean, Jullian, dan Avellyn yang langsung memasang tanda tanya besar di kepalanya.
"Sayang, apa maksutmu? Aku hanya ingin mempertahankan apa yang seharusnya menjadi milikku. Aku mohon jauhi dia," ucap Veronica mengandung unsur merayu.
"AKU TIDAK AKAN MENJAUHI ISTRIKU!" ucap Jeffrey yang penuh dengan ketegasan.
Bersambung~~
...Untuk para Readers kesayangan:...
__ADS_1
...Tolong biasakan tinggalkan like dan coment setelah membaca ya. Bila ada rejeki lebih Vote dan Gift juga boleh. Dukungan kalian sungguh membuat auhtor bahagia dan lebih semangat dalam mengetik. Terimakasih🥰...