Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn

Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn
Mengetahui Kebenaran


__ADS_3

"Mommy, kenapa masih saja kebiasaan masuk tanpa permisi?" protes Jeffrey yang baru saja bangkit dari atas tubuh Jenny. Sedikitpun tidak ada rasa canggung di depan Briana.


Sedangkan Jenny tampak beringsut di balik punggung Jeffrey seraya menutup kemejanya yang masih terbuka bebas, bersembunyi menahan malu bagaikan anak kucing yang mencari perlindungan.


Berbeda dengan Jeffrey. Muka Jenny sudah memerah bagaikan kepiting rebus seolah sedang mengidap rasa malu stadium akhir.


"Mommy tidak akan nyelonong begitu saja kalau kau menutup pintunya dengan benar sayang," sanggah Briana yang tampak mengulum senyumannya.


"Lain kali tutup rapat dan kunci pintunya, untung Mommy yang datang, coba kalau teman-temanmu? Apa kau ingin memamerkan tubuh menantu kesayanganku ini kepada orang lain?" tutur Briana dengan mimik muka berubah serius.


"Mommy menggangu kesenanganku saja, padahal aku hampir saja membuatkan cucu buat Mommy," ketus Jeffrey. Tentu saja saat ini dia merasa sangat kesal. Pasalnya si junior di bawah sana sudah terasa ngilu minta penawar yang di mana hanya istrinyalah yang memiliki obat penawar paling mujarab.


Ucapan frontal Jeffrey sukses membuat Jenny semakin menciut karena sangking malunya, kalau bisa ingin sekali ia mengungsi ke planet Venus saat ini juga.


Jenny menghadiahkan beberapa cubitan pada pinggang suaminya dikala menyadari pembungkus gunung kembarnya berserakan di lantai.


"Aww! Kenapa kau mencubitku?" Jeffrey mengaduh seraya memutar lehernya ke arah Jenny.


"Ituu.." bisik Jenny seraya menunjuk BHnya dengan cara memberi isyarat melalui matanya yang langsung di sadari Jeffrey.


Briana yang juga menyadari gelagat menantu kesayangannya tersebut lantas memungut bra putih yang terkapar lemas tepat di bawah kakinya.


"Ini punyamu kan sayang, waah, sepertinya suamimu agresif ya," goda Briana seraya mengulurkan bra di tangannya.


Alih-alih menjawab atau sekedar berterimakasih, setelah meraih bra miliknya dari tangan sang mertua, gadis itu langsung mengambil langkah seribu dengan kecepatan cahaya meninggalkan sepasang ibu dan anak tersebut.


"Aaaaaiiiihhh! Aku malu sekali, mau ditaruh kemana mukaku ini?" gerutu Jenny di sela langkahnya menuju kamar.


"Mommy ada perlu apa datang kemari?" tanya Jeffrey.


"Tadinya Mommy ingin memberikan ini kepada istrimu," ucap Briana setelah mendaratkan bokongnya di atas sofa kemudian mengeluarkan sebuah cincin berlian berwarna biru yang dikelilingi oleh berlian berwarna putih dengan ukuran yang lebih kecil sehingga tampak begitu cantik dan mewah.


"Bukankah itu cincin satu-satunya peninggalan nenek yang sangat beharga? Kenapa tidak Mommy simpan saja? Aku bisa membelikan istriku cincin yang lain," tanya Jeffrey.


Briana mengulas seutas senyuman di bibirnya. "Karena istrimu juga sangat beharga sayang, dia pantas menerima cincin ini,"


Tatapan mata Jeffrey tampak menyelidik, pasalnya begitu banyak pertanyaan di benak kepalanya saat ini. Kenapa dari awal sang Mommy sangat menyayangi Jenny? Kenapa cincin itu diberikan ke Jenny? Bukankah kelak dia juga akan mempunyai menantu lain dari Darren? Apakah hal itu tidak akan menimbulkan kesenjangan sosial antar menantu kedepannya? Apakah hal ini ada hubungannya dengan potongan-potongan ingatan yang sangat mengganggunya beberapa hari ini?


"Mom, bisakah kita berbicara sebentar? Tapi tidak disini, kita cari tempat lain," pinta Jeffrey kepada Briana.


"Baiklah," jawab Briana yang sebenarnya penasaran hal penting apa yang akan disampaikan putranya.


Setelah memberi tahu Jenny bahwa dia akan keluar sebentar dengan sang Mommy, Jeffrey pun membawa Briana ke sebuah kafe yang tidak jauh dari apartemennya.


"Apa yang ingin kau bicarakan sayang?" tanya Briana setelah beberapa saat menduduki sebuah bangku kafe.

__ADS_1


"Mom, apakah ada sesuatu yang Mommy sembunyikan dariku?" Jeffrey mulai memberi pertanyaan menyelidik.


"Apa maksutmu sayang?"


Jeffrey menghela napas panjang sebelum akhirnya dia mulai menceritakan apa yang terjadi pada dirinya setelah melihat foto Thomas, Papa Jenny yang sudah meninggal.


Sebenarnya, pagi tadi otaknyapun kembali bekerja, slebetan klise-klise secara acak dan tak beraturan kembali muncul pada ingatannya. Dalam bayangan yang masih temaram, dia melihat sang Mommy menangis di sebelahnya. Tentu saja hal itu semakin membuatnya yakin bahwa sang Mommy mengetahui sesuatu.


Briana tampak terperangah setelah mendengar cerita putranya. Dia tidak menyangka, ingatan yang sudah lama terpendam perlahan mulai bermunculan kembalk ke permukaan.


"Bukannya Mommy ingin menyembunyikannya darimu sayang, tapi Mommy tidak ingin jiwamu tergoncang lagi tapi sepertinya saat ini memang sudah waktunya kau tahu yang sebenarnya," ucap Briana.


Jeffrey masih enggan bersuara, dia lebih memilih mendengar penjelasan sang Mommy.


"Sebenarnya, Ayah Jenny meninggal karena menolongmu dari insiden tabrakan beruntun beberapa tahun yang lalu," beber Briana sedikit ragu.


Jeffrey seketika terkejut luar biasa setelah mendengar ucapan Briana. Dia meremas kepalanya karena merasakan denyutan hebat yang tiba-tiba kembali menyeruak sebagai tanda otaknya sedang bekerja keras untuk mengumpulkan puzzle-puzzle ingatan dan menatanya dengan rapi sehingga kini menampilkan sebuah klise-klise yang berputar berurutan.


"Sayang, apa kau baik-baik saja? Sebaiknya kita ke Rumah Sakit sekarang," Briana tampak panik. Inilah yang membuatnya urung menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada Jeffrey.


"Aku tidak perlu ke Rumah Sakit Mom, aku tidak apa-apa, tolong ceritakan kepadaku kenapa aku tidak bisa mengingat kejadian itu?" pinta Jeffrey seraya menahan sisa sakit di kepalanya.


"Akan Mommy ceritakan nanti setelah kau diobati," saran Briana. Dia sangat cemas melihat muka putranya yang mulai pias.


"Bagaiamana Mommy bisa bercerita dengan melihatmu kesakitan seperti ini?"


"Mom..?"


"Baiklah," dengan berat hati Brina pun mulai bercerita, ingatannya kembali ke masa beberapa tahun yang lalu, ketika insiden yang merenggut nyawa Papa Jenny. Waktu itu Jeffrey masih berusia 15 tahun.


Suasana di sekitar begitu ramai dan heboh, di depan setidaknya ada 4 mobil dan 1 truk yang rengsek akibat tabrakan keras. Beberapa warga yang kebetulan berada di sekitar kejadian insiden kecelakaan tersebut mulai mengerumuni, mencari tahu apa yang telah terjadi.


Di sudut lain yang tidak jauh dari tempat kejadian ada seorang remaja laki-laki yang tampak panik melihat seorang pria paruh baya yang sudah dalam keadaan terluka parah dengan darah segar yang terus merembes dari kepalanya.


"Mom?! Kenapa dia sudah tidak bergerak?" tanya Jeffrey seraya mendekatkan telinganya pada muka Thomas yang sedang terbaring di pangkuannya. Berharap masih bisa mendengar deru napas dari hidung Dimas.


Briana yang tak kalah paniknya, mencoba menggoyang-goyangkan tubuh Dimas berharap ia kembali sadar. Wanita itu juga mencoba mengecek napas dan denyut nadinya namun tidak ada tanda-tanda kehidupan.


Jeffrey yang kebetulan bisa menangkap raut muka kesedihan di muka sang Mommy seketika histeris.


"Mom, apa dia sudah meninggal? Mommy?! Aku telah membunuhnya Mom. Aku pembunuh, aaarrrggg!" teriak Jeffrey histeris.


Remaja berusia 15 tahun itu tampak tergoncang hebat. Dia menangis meratapi kesalahannya.


"Mom, andai dia tidak menolongku, dia pasti masih hidup. Aku telah membunuhnya," tangisan Jeffrey semakin pecah.

__ADS_1


"Sayang sudah tenangkan dirimu, ini bukan kesalahanmu," Briana memeluk putranya mencoba menenangkan. Namun wanita itu tersentak ketika menangkap tubuh Jeffrey yang lemas tak sadarkan diri dan berbarengan dengan itu mobil ambulan datang dengan membawa beberapa petugas medis.


Di Rumah Sakit St. Thomas London, Briana terduduk di sebelah ranjang perawatan tempat Jeffrey terbaring. Mukanya masih terus tersirat akan kesedihan dan kecemasan.


Darwin sang suami yang berdiri seraya mengusap-ngusap lembut bahu sang istri juga tak kalah sedih.


Beberapa saat yang lalu, setelah sadar dari pingsannya, Jeffrey kembali berteriak histeris dan terus menyalahkan dirinya. Hingga akhirnya Dokter kembali memberikan suntikan obat penenang agar mentalnya tidak terlalu tergoncang.


Karena syok berat yang disebabkan oleh peristiwa traumatis dari insiden kecelakaan tersebut mengakibatkan Jeffrey mengalami Amnesia psikogenik yang dimana dia tidak dapat mengingat peristiwa kecelakaan beruntun serta aksi hero Dimas terhadapnya. Remaja tampan itu akan kembali tergoncang dan pingsan ketika ada sesuatu yang memicu ingatannya tentang Thomas. Oleh sebab itu, keluarga Jeffrey memutuskan untuk merahasiakan peristiwa itu dari Jeffrey.


"Itulah sebabnya kenapa Mommy selalu ingin membuat Jenny bahagia sayang, karena kita sangat berhutang budi kepada Ayahnya. Kita berhutang nyawa. Di tambah lagi setelah kepergian Thomas, Jenny harus menjalani hidupnya dengan berat, karena perlakuan tidak adil keluarga tirinya. Tapi di luar semua itu, sebelum Mommy mengetahui fakta kebenarannya, Mommy memang sudah menyukai dia sejak saat pertama kali kami bertemu," tutur panjang Briana setelah menceritakan insiden waktu itu.


"Asal kau tahu sayang, sejujurnya Mommylah yang memaksa dia agar menerima perjodohan itu. Dengan memanfaatkan musibah yang menimpa keluarganya, Mommy menawarkan bantuan berupa uang dan memberinya pilihan," sambung Briana lagi. Sebenarnya dia juga merasa berat untuk menlanjutkan ceritanya.


"Musibah yang menimpa keluarganya? Menawarkan bantuan? Apa maksutnya Mom? Jeffrey tidak paham," desak Jeffrey meminta kejelasan lebih lanjut.


Sekali lagi, Briana menghela napas panjang. "Iya, waktu itu Jenny benar-benar dalam kesulitan. Coba kau pikirkan, darimana dia harus mendapatkan banyak uang untuk membiayai operasi kanker Ibunya dan ditambah lagi beban dari Ayah tirinya yang dimana terancam dipenjara jika dalam 1 minggu tidak segera melunasi hutangnya yang begitu besar kepada lintah darat. Dan pada saat itu Mommy datang untuk membantunya dengan iming-iming berupa uang yang cukup besar tapi dengan syarat dia harus bersedia menikah denganmu," jelas Briana lagi.


Hati kecil Jeffrey terasa tercubit setelah mendengar semua penjelasan dari sang Mommy. Lagi-lagi rasa bersalah kembali menyeruak dari dalam dirinya. Apa lagi mengingat di awal pernikahannya, dia beberapa kali menuduh Jenny sebagai perempuan matre yang menikah karena uang.


"Bodoh! Kenapa dulu aku tidak bepikiran lebih jauh. Kalau dia perempaun matre, pasti dia sudah menggunakan uang dari pemberian Mommy untuk berbelanja benda-benda mahal yang bisa menunjang penampilannya. Nyatanya dia tidak seperti itu, kau sungguh bodoh Jeff," Jeffrey mengutuki atas perbuatannya di dalam hati.


"Mom, aku khawatir Jenny akan kecewa setelah mengetahui bahwa Ayahnya meninggal karena menolongku," guratan ketakutan tergambar jelas di muka tampan Jeffrey.


"Jenny adalah anak yang baik, Mommy yakin dia bisa berlapang dada untuk memaafkan, kita hanya butuh mencari waktu yang tepat saja untuk menceritakan semuanya," tutur Briana.


"Aku tidak tahu bagaimana caraku membalas kebaikan yang telah aku terima,"


"Bahagiakan istrimu, buat dia merasakan bahwa dia adalah istri yang paling beruntung. Sayang, ajaklah dia untuk berbulan madu ke suatu tempat yang dia suka, dia pasti akan sangat senang. Meski pernikahan kalian berawal dari keterpaksaan, tapi bukan berarti pernikahan kalian tidak bisa bahagia bukan?" Briana masih terus menuturi putra tampannya tersebut.


"Bulan madu? Jeffrey bahkan belum sampai kepikiran sampai ke situ. Baiklah, aku akan mengajaknya honeymoon yang sempat tertunda," Jeffrey menyetujui saran Briana.


"Iya, buruan berikan Mommy cucu-cucu yang lucu ya," goda Briana namun penuh harap.


Ucapan sang Mommy langsung mengingatkan Jeffrey pada kegiatan panasnya bersama Jenny yang sempat tertunda tadi, membuatnya kedua sudut bibirnya reflek melengkung ke atas.


"Baiklah, sebaiknya Mommy pulang sekarang, sepertinya kau juga sudah baik-baik saja, syukurlah ternyata ketakutanku jika psikismu akan kembali tergoncang saat kau mengetahui semua tidak terjadi, dan tolong berikan cincin ini kepada menantu kesayanganku itu," ucap Briana seraya meletakkan sebuah kotak bludru bewarna merah di atas meja depan Jeffrey.


"Iya sebaiknya Mommy segera pulang saja," timpal Jeffrey yang berniat mengusir secara halus.


Bersambung~~


...Untuk para Readers kesayangan:...


...Tolong biasakan tinggalkan like dan coment setelah membaca ya. Bila ada rejeki lebih Vote dan Gift juga boleh. Dukungan kalian sungguh membuat auhtor bahagia dan lebih semangat dalam mengetik. Terimakasih🥰...

__ADS_1


__ADS_2