Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn

Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn
Perjodohan


__ADS_3

Di sebuah rumah mewah berdesain klasik khas Eropa. Beberapa maid yang mengenakan seragam dengan warna dan corak yang sama sedang sibuk menyiapkan sajian makan siang yang terlihat hampir selesai.


Beberapa makanan lezat yang terbuat dari daging seperti bubble & squeak dan roast meats serta makanan pendamping seperti black pudding, pie dan bir peterseli juga tampak memenuhi meja makan 8 kursi dengan ukiran klasik relief tersebut.


Cuaca langit kota London hari tampak sedang bersahabat. Sehingga membuat Briana semakin bersemangat untuk menyiapkan acara makan siang bersama keluarga sahabatnya, Emy. Hari ini adalah hari di mana kedua pasang orangtua tersebut akan memperkenalkan putra dan putri mereka.


Briana memang sengaja mengadakan acara makan siang antar sahabat tersebut di kediaman Allison. Dengan alasan agar Emy bisa bertemu dengan putranya Darren. Setidaknya itu bisa menjadi obat kerinduan bagi Emy kepada putranya yang sampai saat ini kebenaran status hubungan darahnya masih dibungkus rapat.


Di salah satu ruangan yang berada di lantai dua, pemuda tampan sedang merebahkan tubuhnya di atas ranjang berukuran king size milik kakaknya.


Iya semenjak Jeffrey tiba dari kota Cambridge, dia lebih sering berada di kamar Darren. Mengambil pendidikan di kota tetangga membuatnya jarang bertemu dengan sang kakak kesayangannya dan ingin memanfaatkan waktunya bersama Darren.


"Kenapa kau memasang muka seperti itu?" tanya Darren yang menyadari adik lelakinya itu menekuk mukanya hingga kusut di sela perkutatannya dengan file dokumen kerjanya di laptop.


"Suasana hatiku sedang buruk, kau bahkan mengetahui itu, masih saja bertanya," jawab Jeffrey ketus.


Darren mengakhiri perkutatannya dengan laptopnya dan ganti mengalihkan perhatian penuh ke Jeffrey.


"Regangkan sedikit otot-otot mukamu, lama-lama kau bisa terlihat lebih tua daripada aku, relax," Darren mencoba menenangkan seraya tersenyum.


"Apa kau sedang bercanda? Mana mungkin aku bisa relax ketika aku harus melakukan sesuatu yang tidak aku suka? Andai Daddy tidak mengancam akan mencabut semua fasilitasku, aku tidak akan sudi menerima rencana perkenalan yang berujung ke perjodohan ini. Aku bahkan belum pernah melihat siapa gadis itu," gerutu Jeffrey panjang lebar.


"Hai kenapa kau terlalu memikirkannya terlalu jauh? Bukankah Mommy dan Daddy bilang pertemuan pertama kalian hari ini masih tahap berkenalan dan kalian akan dijodohkan jika merasa saling cocok," tutur Darren.


"Tapi firasatku berkata lain. Mommy dan Daddy seperti punya rencana lain," Jeffrey mulai menerka-nerka.


"Dan aku semakin heran kenapa tidak Kau saja yang dijodohkan? Bukannya kau lebih dewasa dan sudah mapan?" protes Jeffrey lagi.


Darren mengedikkan kedua bahunya sebagai jawaban bahwa dia juga tidak tahu. Meski kenyataannya Darren merasa sedikit lega bahwa bukan dia yang dijodohkan, tapi tetap saja rasa penasaran sempat bersarang di hatinya. Kenapa bukan dia yang dijodohkan yang jelas-jelas lebih dewasa? Kenapa justru Jeffrey yang pendidikan S1nya saja belum kelar?


Perhatian kedua kakak beradik tersebut tiba-tiba beralih pada suara knop pintu yang terbuka.

__ADS_1


"Kenapa kalian masih berada di sini? Segera turunlah karena tamunya sudah datang, sangat tidak sopan jika membiarkan mereka menunggu lama," ucap Briana yang muncul dari balik daun pintu.


"Aku sangat malas Mom, bolehkah Darren saja yang menggantikanku untuk dijodohkan?" ucap Jeffrey yang langsung mendapat sentilan maut di jidatnya.


"Apa yang kamu katakan? Hal itu tidak mungkin terjadi," ucap Briana yang hampir keceplosan. Mana mungkin dia menjodohkan Darren dengan adiknya sendiri. Itu hal gila.


"Kenapa tidak mungkin?" Jeffrey menyelidik yang di mana pertanyaan Jeffrey juga mewakili rasa ingin tahu Darren.


"I.. itu karena Kakakmu ini bisa mencari sendiri wanita yang baik untuk dijadikan istri. Tidak seperti kamu yang asal memilih wanita untuk dijadikan pacar," Briana mencari alibi sekaligus menyindir Jeffrey tentang hubungannya dengan Veronica.


"Oh, jadi itu alasannya," batin Darren. Dia juga tampak mengulum bibirnya menahan tawa karena perkataan sang Mommy.


"Tapi Mom..,"


"Apa Mommy harus menyeret dan menggelindingkan tubuhmu dari atas tangga agar kau segera turun?" seru Briana seraya menatap tajam Jeffrey.


Setelah perdebatan sengit antar ibu dan anak tersebut, akhirnya Jeffrey menuruni tangga berjalan menuju ruang makan yang diikuti Briana. Sedangkan Darren akan menyusul belakangan karena harus menerima panggilan telepon penting terlebih dahulu.


"Kamu?!" secepat kilat Jeffrey dan Jenny langsung beranjak dari tempat duduknya seraya saling melempar jari telunjuk.


Tentu saja aksi sepasang musuh itu membuat semua orang di ruang makan merasa terkejut dan heran kecuali Briana.


"Ternyata kalian sudah saling kenal ya?" tanya Briana yang berpura-pura tidak tahu.


"Tentu saja," jawab Jeffrey dan Jenny bersamaan.


"Jeffrey kembalilah ke kursimu," titah Darwin dengan nada tegasnya.


Sedangkan Emy juga tampak menarik tubuh Jenny agar segera duduk.


"Emy, anak-anak kita tampaknya sudah saling dekat, apa langsung kita jodohkan saja mereka?" saran Briana berseri-seri. Sepertinya dia sangat tidak sabar menunggu waktu di mana Jenny akan menjadi menantu kesayangannya.

__ADS_1


"Tidak mau!" tolak Jeffrey dan Jenny dengan kompak yang membuat senyuman di antara para orang tua tersebut mulai meredup.


"Mom, Dad, apa kalian tega menjodohkanku dengan si kucing kumuh ini?" protes Jeffrey kepada kedua orangtuanya seraya menunjuk tepat di depan Jenny yang sedang menatap Jeffrey dengan tatapan tidak bersahabat.


Briana dan Darwin menghela napas dan menggelengkan kepala mereka secara bersmaan.


"Aku tidak sudi menikah dengannya," tolak Jeffrey dengan tegas.


"Memang hanya kau saja? Aku jauh tidak sudi menjadi istri dari lelaki menyebalkan dan pencuri ciuman pertamaku," cerocos Jenny kesal dan seketika membuat Jeffrey mendelik. Bisa-bisa Jenny mengatakan hal itu di depan para orang tua.


"Apa kau sudah gila mengatakan hal itu di depan mereka?" geram Jeffrey dengan nada level 4 lebih rendah yang tentu saja membuat Jenny langsung menutupi bibirnya yang entah sejak kapan menjadi begitu licin seperti belut.


Semua orang tua tampak terkejut mendengar perkataan frontal Jenny beberapa detik yang lalu. Mereka tidak menyangka hubungan putra dan putri mereka sudah di tahap berciuman.


"Sudah, Jeff kenapa kamu malah bersikap tidak sopan terhadap tamu, tidak baik bergaduh di depan makanan. Sebaiknya kita makan dulu," sela Darwin mencoba menghentikan perseteruan sepasng Tom and Jerry tersebut.


Sementara disisi lain, Briana diam-diam sedang tersenyum penuh arti.


"Ternyata mereka sudah berciuman, kenapa mereka manis sekali. Apapun caranya, aku akan cari cara agar mereka bisa menikah," batin Briana.


"Selamat siang semuanya, maaf aku baru turun," kedatangan Darren langsung mendapat perhatian orang-orang tak terkecuali Emy, sang Mama kandung rahasia.


Raut muka Emy langsung berubah seketika. Rasa rindu dan sedih begitu tersirat pada tatapan matanya yang sendu. Saat ini, ingin rasanya dia berhambur memeluk putranya tersebut. Putra satu-satunya yang dia bahkan belum bisa memberikan sebuah peran seorang ibu kepada Darren.


"Putraku, kau tumbuh menjadi anak yang tampan sayang, sepertinya Briana dan Darwin sudah merawatmu dengan sangat baik, syukurlah," batin Emy dengan penuh pilu di hatinya namun tak sedikitpun rasa syukur pada dirinya berkurang.


Akhirnya acara pertemuan kedua kepala keluarga tersebut berakhir. Mereka berencana akan membicarakan perjodohan putra dan putri mereka lagi di lain hari seraya mencari cara agar keduanya menerima perjodohan tersebut.


Bersambung~~


Minimal kasih dukungan like kepada Author jika rate, vote, coment, dan hadiah terasa berat. TerimakasihšŸ¤—

__ADS_1


__ADS_2