
Di dalam sebuah restauran mewah yang terletak tidak jauh dari sungai Thames, sungai yang paling terkenal di Inggris dan merupakan salah satu sungai terbersih di dunia, Jeffrey dan Veronica tampak mengisi bangku tamu kosong yang berada di salah satu sudut restauran. Beberapa menu dinner mewah sudah tersaji di hadapan mereka.
Veronica yang cantik masih setia dengan mimik muka masamnya.
"Apa kamu sedang marah sekarang?" tanya Jeffrey santai dengan tingkat kepekaan nol persen.
"Kenapa kamu sangat tidak peka? Padahal kita sudah janjian mau nonton film, tapi kamu selalu datang tidak pernah on time setiap kita janjian," sewot Veronica. Dia kecewa pada akhirnya rencana untuk menonton film di bioskop batal karena Jeffrey menjemputnya sangat terlambat.
"Maafkan aku, tadi aku harus mengantar Alvin dan Sammy terlebih dahulu," jelas Jeffrey.
"Lagi - lagi teman - temanmu itu lebih penting dari pada aku," sungut gadis cantik itu.
"Aku tidak mungkin menurunkan mereka di jalanan Vero," jelas Jeffrey berusaha sabar.
Iya, kepada Veronica, Jeffrey sebisa mungkin bersikap sabar karena dia sangat merasa berhutang budi kepadanya.
Veronica semakin terlihat cemberut seraya menatap jeffrey dengan mimik muka kecewa.
"Habis ini aku akan membawamu ke mall. Berbelanjalah sepuasmu," akhirnya Jeffrey mengeluarkan jurus yang sering dia gunakan di saat kekasihnya tersebut mengambek.
"Benarkah sayang? Baiklah," ucap Veronica yang langsung melunak dengan mata yang berbinar - binar.
"Segera habiskan makananmu, setelah itu kita akan berbelanja,"
"Iya sayang," jawab Veronica antusias.
Jeffrey dan Veronica mulai menyantap makan malam mereka. Sesekali Veronica berusaha bertingkah mesrah dengan mengarahkan sendok yang berisi makanan ke arah mulut Jeffrey namun selalu ditolaknya. Hal itu tentu saja membuat Veronica berkali - kali bersungut.
Tiba - tiba sepasang tamu yang baru memasukki restauran dan menuju ke meja kosong yang terletak di salah satu sudut ruangan menarik perhatian Jeffrey. Perhatiannya lebih tertuju kepada perempuan yang berpenampilan asal - asalan dengan membawa koper besar.
"Bukankah itu si kucing kumuh?" batin Jeffrey.
"Apa lelaki itu pacarnya? Ternyata ada juga yang mau dengan cewek seperti dia," Jeffrey masih bermonolog di dalam hati. Sesungguhnya dia juga penasaran bagaimana bentuk muka lelaki bersama Jenny sekarang.
Seketika rasa penasarannya terjawab sudah setelah lelaki yang bersama Jenny tersebut mendudukkan tubuhnya di atas kursi yang menghadap ke arahnya. Sehingga memperlihat bentuk mukanya.
"Ternyata bocah sialan itu yang sedang bersama Jenny, apa hubungan mereka? Mana mungkin Sean mau berpacaran dengan cewek yang bernampilan buruk seperti itu. Aku sangat tahu bocah sialan itu selalu berpacaran dengan perempuan dengan paras cantik," Jeffrey masih saja berperang dengan batinnya.
"Sayang kamu kenapa tidak melanjutkan makanmu?" tanya Veronica heran.
"Aku sudah selesai makan, kamu teruskan saja makanmu," jawab Jeffrey yang seketika merasa kenyang.
__ADS_1
Waktu terus bergulir, hingga tidak terasa kegiatan menyantap makan malam berakhir.
"Sayang, aku ke toilet sebentar ya," ijin Veronica yang dijawab dengan anggukkan kecil oleh Jeffrey.
Jeffrey masih memperhatikan gerak gerik Sean dan Jenny. Tampaknya kedua orang itu juga sudah selesai menikmati makan malamnya. Disana mereka juga terlihat sedang melakukan percakapan sebelum akhirnya Jenny pergi meninggalkan Sean sendirian.
Seketika Jeffrey merasa tertangkap basah di kala Sean memalingkan mukanya ke arah Jeffrey yang sedang mencuri - curi pandang. Ternyata Sean juga menyadari keberadaan Jeffrey sedari tadi
Kedua pasang mata elang milik para remaja tampan tersebut saling melempar pandang. Sesaat Sean terlihat tersenyum dingin sebelum membayar tagihan makanan dan keluar dari restauran.
"Sayang aku sudah selesai, ayo kita pergi dari sini dan berbelanja," ajak Veronica yang baru saja kembali dari toilet.
°°°
Di sudut kota lain, Daisy menatap Jenny dengan mimik muka tanda tanya besar.
"Iya.. Iya.. Aku akan bercerita, jadi berhentilah memasang muka seperti itu," ucap Jenny kepada Daisy.
"Aku baru saja diusir dari rumahku," tambah Jenny lagi sedih.
Tentu saja Daisy dibuat tercengang dengan cerita Jenny. Bayangkan saja, dia diusir dari rumahnya sendiri oleh Ibu tiri dan saudara tirinya.
"Terus kamu akan tinggal dimana setelah ini Jenn?" tanya Daisy yang mulai mencemaskan temannya itu.
"Mungkin aku akan ke rumah Mamaku di kota Cambridge," jawab Jenny.
"Bagaimana dengan sekolahmu disini Jenn? Apa kamu akan pindah sekolah?" Daisy terlihat sedih.
"Sepertinya akan begitu," Jenny menjawab tanpa semangat.
"Dan akhirnya aku akan menambah beban Mamaku," tambah Jenny lagi yang terdengar sendu.
"Jangan berpikir dirimu itu sebuah beban. Mama Emy pasti akan sangat senang sekali kalau kamu bisa tinggal dengan Jenn. Bukankah dia selalu membujukmu untuk tinggal bersamanya?" tutur Daisy.
Jenny merespon tuturan temannya dengan senyuman simpul lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang milik Daisy.
"Hari ini aku sangat lelah sekali, bolehkan aku langsung beristirahat saja?" ucap Jenny.
"Ya tentu saja, kamu beristirahatlah,"
Keesokan harinya Jenny berniat untuk langsung pergi ke rumah Mama Emy setelah mendapat pinjaman uang dari Daisy untuk membeli tiket dan bekal di perjalanan.
__ADS_1
"Aku akan sangat merindukanmu Jenn," ucap Daisy yang sudah berurai air mata.
"Aku juga pasti akan sangat merindukanmu," Balas Jenny kemudian memeluk tubuh Daisy.
"Aku akan segera mengembalikan uangmu," ucap Jenny setelah melepas pelukannya.
"Sudah aku katakan, uang itu untukmu. Kamu tidak perlu mengembalikannya. Aku akan sangat marah jika kamu tetap mengembalikannya," sungut Daisy.
"Terimakasih ya Dai," timpal Jenny dengan senyum terharunya.
"Tahun depan semoga kita akan sering berjumpa lagi ya, karena aku berniat mengambil kuliah di Universitas Cambridge," ucap Daisy berharap.
"Benarkah? Aku sangat senang sekali, kalau begitu sampai jumpa," pamit Jenny seraya melambaikan tangannya yang juga dibalas Daisy.
°°°
Briana terlihat berjalan keluar dari salah satu bangunan pusat perbelanjaan yang terletak tidak jauh dari Satsiun Liverpool Street. Wanita tengah baya namun masih terlihat sangat cantik tersebut tengah sibuk berbicara dengan seseorang di seberang telepon tanpa memperhatikan keramaian lalu lintas yang sedang menembus jalan kota London.
"Awas!!"
"Ckiitttt!" suara rem mobil.
"Bruk!!"
Tubuh Briana tersungkur karena sebuah dorongan dari pemilik suara yang baru saja berteriak memberinya peringatan.
Perasaan tercekat masih bersemayam di dadanya, Briana berusaha berdiri seraya menahan sakit pada tubuhnya. Dia mengedarkan sepasang netranya guna mencari sosok orang yang telah mendorongnya.
Matanya membulat sempurna, ritme jantung yang masih berdegup kencang karena sebuah dorongan dadakan tadi kini berdetak semakin tidak beraturan.
Seorang gadis terlihat tak sadarkan diri dengan darah segar mengalir dari kepalanya. Semua barang - barang keluar berserakan dari dalam kopernya.
Dengan langkah tersendat - sendat karena rasa tersentak yang begitu menderu, Briana menghampiri gadis tersebut.
"Ambulan, cepat panggil ambulan," pinta Briana pada orang - orang yang juga berada di sekitarnya.
Bersambung~~
Terimakasih sudah mampir ke karyaku ya. Author sangat mengaharapkan dukungan like, coment, rate, vote/hadiah dari kalian agar lebih semangat dalam menulis🥰. Jika dukungan itu terlalu berat bagi para Reader, minimal tinggalkanlah like👍saja Author sudah sangat senang🙏
Semoga kalian sehat dan bahagia selalu🙏
__ADS_1