Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn

Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn
Satu Universitas


__ADS_3

Jenny melangkahkan kakinya memasuki gerbang raksasa nan kokoh Universitas Cambridge yang sedang terbuka lebar. Gadis blonde yang membiarkan rambutnya tergerai hingga hampir menutupi seluruh wajahnya tersebut menyusuri halaman luas yang dikelilingi gedung-gedung fakultas tinggi.


Dia menggiring tubuhnya dengan pandangan mata yang terpusat pada layar ponselnya. Percakapan yang berlangsung di group chat membuatnya beberapa kali mengulas senyuman di balik rambut tirainya. Jari-jarinya menekan huruf-huruf tombol Qwerty dengan lincah.


Daisy:


Jenn, di mana kamu? Aku sudah menunggumu sangat lama😩,"


Jenny:


Aku sudah sampai halaman kampus. Kenapa kamu tidak sabaran sekali😒?"


Daisy:


Bergegaslah! Aku sekarang bersama Julian! Kamu akan sangat terkejut jika bertemu dengannya😆!


Julian adalah sahabat Jenny dan Daisy. Namun dia harus pindah sekolah karena tempat Ayahnya bekerja memindah tugasnya di kota lain. Jadi, mau tidak mau Julian juga ikut pindah.


Jenny:


Memangnya ada apa😲?


Daisy:


Dia sudah bermetamorfosis😱! Julian si ikan buntal sudah berubah menjadi si ikan Dory😆


Jenny:


Benarkah😆?


Julian:


Siapa yang kalian maksut ikan buntal?! Apa kalian ingin mati?!😡


Daisy:


😁😁😁😁


Julian:


Jenn, apa kamu sedang tersangkut di tiang jemuran baju? Kenapa lama sekali?


Jenny:


Aku masih berjalan menuju ke tempat kalian. Tunggu aku.


Dengan perhatian yang masih terpusat dengan layar ponselnya, Jenny menghentikan langkahnya. Ia berniat mengakhiri percakapannya di group chat.


"Kucing kumuh?"


"Angsa putih?"


Terdengar dua suara bariton yang keluar secara bersamaan yang sontak membuat perhatian Jenny beralih ke sumber suara yang berada tidak jauh darinya.


"Jenny? Kenapa kenapa kamu tidak segera menghubungiku selepas dari restauran?" tanya Sean yang membuat Jenny memutar lehernya ke arahnya.


"Kamu? Aku..," ucapan Jenny terputus karena Jeffrey menarik lengan Jenny.

__ADS_1


"Kemana saja kau selama ini?" kini ganti Jeffrey yang bertanya dengan aura dinginnya.


Keterkejutan Jenny saat melihat Sean belumlah berakhir dan keberadaan Jeffrey semakin membuatnya tersentak. Dengan benda pipih yang masih dalam genggamannya Jenny melirik bergantian ke arah Jeffrey dan Sean dengan ekspresi muka antara tercengang, bingung, dan tidak menyangka bahwa dia akan bertemu kembali dengan kedua lelaki tersebut.


"Kenapa kau tidak menjawabnya?" tanya Jeffrey dingin dengan tangan masih mencengkram lengan kecil Jenny.


"Hei, bukannya aku dulu yang bertanya? Seharusnya dia menjawab pertanyaanku dulu," protes Sean yang juga menarik lengan Jenny.


"Apa-apan kau ini? Menyingkirlah dari hadapanku!" seru Jeffrey kepada Sean.


"Kenapa aku harus menyingkir? Aku hanya ingin menyapa temanku," sanggah Sean.


Jenny yang berada di antara lelaki yang sedang berdebat terlihat menautkan kedua ujung alisnya. Suara bariton Jeffrey dan Sean terasa memenuhi gendang telinganya. Bagaikan ada ratusan lebah yang sedang membuat sarang madu di dalamnya.


Perdebatan Jeffrey dan Sean terhenti seketika ketika mendapati seseorang mencoba melepas kedua lengan Jenny dari cengkraman tangan mereka. Orang tersebut lantas menarik tubuh Jenny untuk sedikit menjauh dari mereka.


"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Julian dengan air muka menghakimi.


"Apa kalian tidak melihat kalau dia tampak tidak nyaman?" sambungnya lagi.


Jeffrey dan Sean hanya terdiam.


Tanpa menunggu Jeffrey dan Sean bersuara, Julian lantas menyeret Jenny pergi dari hadapan keduanya yang diikuti Daisy.


"Sayang, siapa mereka tadi?" tanya Veronica yang sempat melihat Jenny, Julian, dan Daisy ketika dalam perjalanan menghampiri Jeffrey.


Jeffrey terlihat enggan untuk menjawab pertanyaan Veronica.


Veronica datang bersama Alvin dan Sammy. Iya, mereka juga meneruskan pendidikkannya di universitas yang sama dengan Jeffrey. Veronica memang berniat untuk selalu mengekori kekasihnya. Sedangkan Alvin dan Sammy. Ah! Jangan ditanyakan lagi. Tentu saja karena tuntutan Jeffrey yang selalu ingin dituruti.


"Kalau aku sudah di alam kubur, berarti yang kau lihat saat ini adalah setan," sarkas Sean.


"Kau tidak beda jauh sama Jeff, kepalaku salalu menjadi sasaran kalian. Lama-lama aku bisa bodoh karena otakku menjadi konslet, aku kan cuma tanya kabarmu," gerutu Sammy seraya mengusap kepalanya.


"Seperti yang kau lihat sekarang, aku bertambah tampan bukan?" kelakar Sean sembari menampakkan senyuman dengan tingkat kepercayaan diri yang menjulang tembus langit ke tujuh.


"Kau masih sama seperti yang dulu. Apa kau masih sering memikat para perempuan dengan ketampananmu itu?" sela Alvin yang berniat menimpal candaan Sean.


"Aku tidak pernah sengaja memikat mereka, mereka sendirilah yang terpikat dan menghampiriku dengan sendirinya," timpal Sean.


"Tapi kali ini, sepertinya aku yang beralih terpikat pada seorang gadis," sambungnya lagi penuh makna. Sean melirik ke arah Jeffrey yang sedang menatapnya tajam.


Jeffrey sepertinya mengerti ucapan Sean yang penuh makna tersebut. Entah mengapa, rasa tidak senang menyeruak di hatinya.


"Baiklah, aku pergi dulu," ucap Sean mengakhiri percakapannya dengan Sammy dan Alvin dan berlallu pergi sebelum memasang kembali kaca mata hitamnya.


"Sayang kenapa tadi tidak menjemputku?" tanya Veronica lagi seraya menggelayut manja pada lengan kekar Jeffrey.


"Bukankah biasanya kamu berangkat sendiri?" balas Jeffrey dingin. Raut mukanya terlihat sedang tidak bersahabat saat ini.


Veronica mengerucutkan bibirnya mendapati tanggapan Jeffrey yang tidak menyenangkan tersebut.


"Dia kekasihku, tapi dia tidak pernah bersikap manis kepadaku. Mungkin saat ini kamu belum mencintaiku, tapi suatu saat akan aku buat kamu bertekuk lutut di kakiku dengan caraku," batin Veronica dengan pikiran iblisnya.


°°°


"Julian?! Kamu benar Julian si ikan buntal? Kamu kemanakan pipi tebemmu itu? Wah! Kamu berubah tampan sekarang," puji Jenny namun diselingi mimik muka mengejek.

__ADS_1


"Kenapa kamu bisa berhubungan dengan mereka Jenn?" tanya Julian tak menghiraukan gurauan Jenny dengan jari-jari yang masih melingkari pergelangan tangan Jenny.


Julian memang tidak dekat dengan Jeffrey dan Sean. Tapi dia sedikit tahu tentang mereka ketika mereka berada di satu atap sekolah waktu SMP. Jeffrey terkenal dengan sikap otoriternya sedangkan Sean terkenal dengan sikap tebar pesonanya. Maka dari itu, dia tampak tidak suka kalau Jenny terlihat dekat dengan mereka. Julian hanya tidak ingin sahabatnya menjadi bahan permainan Jeffrey dan Sean.


"Ah, itu ceritanya panjang, nanti akan aku ceritakan," balas Jenny.


"Berhati-hatilah dengan mereka. Kedua pria tampan itu membawa damage dengan cara yang berbeda, ingat!" tutur Julian penuh penekanan.


"Aku tidak menyangka kalau Jeffrey akan kuliah di sini juga," sela Daisy.


"Tapi lelaki yang satunya aku belum pernah melihatnya, dia sangat tampan," sambung Daisy seraya menangkup kedua pipinya dengan mimik muka terpesona dan mesum.


"Aw! Sakit!" Daisy mengaduh karena Jenny tiba-tiba melayangkan sentilan pada kening Daisy.


"Kau selalu silau ketika lihat yang bening. Dan buanglah muka mesummu itu Dai," cibir Jenny.


Tiba-tiba Jenny tersentak ketika merasa sebuah tampikan keras yang mendarat pada tangannya yang berniat melepas genggaman tangan Julian yang masih bersemayam di pergelangan tangan Jenny.


"Sampai kapan kamu akan memegang tangannya?!" seru seseorang yang baru saja datang.


"Avellyn? Kamu juga sudah datang?" tanya Julian yang seketika memasang senyuman yang mengembang sempurna melihat gadis kesayangannya datang.


"Apa kamu selalu bersentuhan dengannya di belakangku?" tanya Avellyn dengan raut muka di tekuk sepuluh kali lipat.


Julian tersenyum gemas.


"Jangan berpikiran berlebihan, Jenny adalah sahabatku, begitu juga Daisy, kamu sudah tahu itukan?" Julian mencoba menenangkan kekasihnya seraya mengusap lembut pucuk kepalanya.


"Kamu jangan sekali-kali berpikiran untuk merebutnya dariku ya, Julian adalah milikku seorang," ancam Avelly kepada Jenny dengan muka cemberut. Namun perkataan Avellyn tidak sedikitpun membuat Jenny tersinggung. Entah mengapa dia merasa Avellyn bukanlah gadis yang buruk.


Sedangkan Julian justru terlihat semakin gemas dan ingin mencubit pipi Avellyn. Menurutnya semua tingkah Avellyn yang ketus dan apa adanya merupakan salah satu dayatarik yang selalu membuatnya semakin sayang.


"Aku akan pergi. Kalau kamu tidak mengejarku, aku akan ngambek selama seminggu!" gertak Avellyn kepada Julian lalu melenggang pergi.


"Jangan diambil hati perkataan dia ya, sebenarnya dia gadis yang manis," ucap Julian kepada Jenny yang merasa tidak enak.


Jenny tersenyum.


"Tidak apa-apa, aku sangat mengerti. Sudah cepat kejar dia," saran Jenny kepada Julian yang langsung di-iyakan oleh Julian lalu meninggalkan Jenny dan Daisy. Julian menyusul Avellyn yang sedang berjalan menjauh dengan langkah lebar dan terlihat kesal.


Jenny dan Daisy terkekeh melihat tingkah sepasang kekasih yang sudah menjalin hubungan selama 4 tahun tersebut. Julian dan Avellyn memang sering terlihat bertengkar tapi dalam hitungan detik mereka akan kembali dalam hubungan manis lagi.


Bersambung~~


Visual Tokoh🥰


Julian



Avellyn



Terimakasih sudah mampir ke karyaku ya. Author sangat mengaharapkan dukungan like, coment, rate, vote/hadiah dari kalian agar lebih semangat dalam menulis🥰. Jika dukungan itu terlalu berat bagi para Reader, minimal tinggalkanlah like👍saja Author sudah sangat senang🙏


Semoga kalian sehat dan bahagia selalu🙏

__ADS_1


__ADS_2