
Setelah turun dari bus, Jenny terlihat tidak bersemangat dalam melangkahkan kakinya menuju rumahnya. Ingatan tentang sikap kasar Jeffrey kepadanya masih saja terus terlintas di otaknya. Belum lagi dia masih akan mendapatkan perlakuan buruk dari Amber dan Ella ketika sudah sampai rumah. Ya, meskipun Jenny selalu bersikap kuat dan berani, tapi tetap saja dia sangat menginginkan kehidupan yang tenang dengan dikelilingi oleh orang - orang baik.
Jenny sudah hampir memasuki pekarangan namun panggilan seseorang menghentikan langkahnya.
"Selamat sore sayang," sapa seorang wanita lanjut usia yang kebetulan sedang menyiram bunga di halaman mungil rumahnya yang berada tepat di sebelah rumah Jenny.
"Selamat sore juga Nenek Anne," balas Jenny mengulas senyuman ramah.
"Kenapa kamu terlihat tidak bersemangat sayang?" tanya Nenek Anne.
"Ah, itu karena saya merasa lelah saja Nek," jawab Jenny menutupi.
Nenek Anne berjalan mendekati Jenny. Mata tuanya berusaha menamati penampilan Jenny saat ini.
"Kenapa kamu terlihat basah sayang?"
"Ah, i.. Ini karena.. Emm, ini karena aku habis berlari - lari Nek, jadi rambut dan tubuhku basah karena keringat," Jenny memberikan alasan yang sedikit tidak masuk akal. Saat ini udara di luar terasa dingin, bagaimana mungkin dia akan berkeringat.
"Oya, tunggu sebentar, kamu jangan kemana - mana ya," pinta Nenek Anne.
Wanita renta tersebut berjalan menuju rumahnya. Selang tidak lama dia keluar membawa beberapa kue muffin yang bertabur frosting cake berwarna-warni di atasnya.
"Ini ambillah, Nenek membuatnya tadi siang, semoga ini bisa membuatmu kembali bersemangat ya," ucap Nenek seraya menyodorkan muffin dari tangannya.
"Wah, ini untuk Jenny Nek? terimakasih Nek, aku sangat menyukai muffin buatan Nenek Anne," ucap Jenny dengan sorotan mata yang berbinar - binar.
"Iya, segera bawa masuk ke dalam kamarmu, jangan sampai Ibu tiri dan saudara tirimu melihatnya. Nanti yang ada kau tidak jadi memakannya," saran Nenek Anne setengah berbisik. Dia sangat tahu bagaimana sikap Amber dan Ella kepada Jenny selama ini.
Nenek Anne memang sering diam - diam memberikan makanan kepada Jenny. Meski hubungan mereka hanya bertetangga tapi wanita tua itu sangat perhatian dengan Jenny selayaknya perlakuan sang Nenek dengan cucunya sendiri.
"Baik Nek, Jenny akan bawa masuk sekarang,"
"Ini rahasia di antara kita ya," bisik Nenek seraya meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya.
"Oke Nek," Jenny balas berbisik seraya menyatukan ujung jari telunjuk dengan ibu jari hingga membentuk lambang OK.
Kemudian Jenny segera berlalu dari hadapan Nenek Anne. Wanita yang berumur menginjak 80 tahun tersebut terus mengulas senyuman hangat seraya menatap punggung Jenny hingga menghilang di balik daun pintu rumahnya.
__ADS_1
Jenny segera masuk ke dalam kamar kesayangannya dan tidak lupa mengunci pintu. Gadis itu meletakkan kue muffin dan tasnya di atas meja belajarnya yang terletak di sebelah ranjang kecilnya.
Dia menjejakkan tubuhnya di atas ranjang dan bersandar pada headboard bed. Sepasang iris birunya menatap lurus ke depan dan diikuti helaan panjang.
Jenny menggiring pupilnya ke arah punggung tangannya yang terlihat memerah dan lecet akibat injakan kaki Jeffrey.
"Lukaku yang sebelumnya saja masih belum mengering, sekarang masih ada luka lagi," Jenny tersenyum miris.
Jenny langsung beranjak dari ranjang dan membersihkan lukanya dengan air bersih. Kemudian mengambil salep antiseptik yang berada di dalam kotak P3K dan kembali ke atas ranjangnya. Gadis itu mengolesi salep pada luka - lukanya dengan hati - hati.
"Haahhh," lagi - lagi Jenny menghela napas panjang. Berharap tindakannya itu bisa mengusir semua pikiran yang bisa membuatnya lemah.
"Hidup itu memang tidak mudah Jenn, tapi kamu harus tetap menjalaninya," Jenny mencoba memberi semangat pada dirinya sendiri.
"Hai, kamu, kamu, dan kamu, kali ini aku biarkan kalian singgah di tubuhku karena aku sedang berbaik hati," celetuk Jenny seraya menunjuk luka - lukanya yang baru saja diobati.
"Aku harap luka - lukaku ini akan menjadi obat di kehidupanku kelak," gumam Jenny.
Jenny lalu meraih foto berbingkai dari atas nakas yang berada di sebelah ranjangnya.
"Papa, kamu harus bangga pada putrimu ini. Aku adalah anak gadismu yang kuat. Bukankah kamu selalu menginginkan putri yang kuat?" celoteh Jenny seraya memandang sendu foto almarhum Papa.
°°°
Briana sedang duduk di sofa ruang tamu yang terletak tidak jauh dari pintu masuk rumahnya. Dia sedang menunggu kepulangan Jeffrey. Saat ini, dia sangat ingin menyembur omelan kepada putranya yang sudah dia tahan sedari tadi.
Selang tidak lama, Jeffrey pulang dengan di antarkan Alvin dan Sammy. Briana yang melihat pemandangan di hadapannya saat ini merasa heran. Seketika keinginannya untuk memarahi Jeffrey tenggelam sudah.
"Ada apa denganmu sayang?" tanya Briana panik melihat Jeffrey dipapah Alvin dan Sammy. Dia menamati cara putranya berjalan yang terlihat kesulitan dengan raut muka memerah menahan sakit.
"Alvin, Sammy, apa yang telah terjadi dengan teman kalian ini," Briana mengalihkan pertanyaannya kepada Alvin dan Sammy karena tidak mendapat jawaban dari Jeffrey.
"Itu Tante, telur Jeffrey pecah," ceplos Sammy.
Jeffrey langsung mendelik ke arah Sammy. Ingin rasanya dia menjitak kepala temannya itu, namun dia urungkan karena rasa ngilu pada telur belalainya masih mendominasi.
"Telur?! Telur yang itu maksut kamu?" tanya Briana semakin panik seraya menunjuk tubuh bagian bawah Jeffrey.
__ADS_1
"Iya tante, telur yang itu. Memang telur yang mana lagi?" balas Sammy sambil melirik ke arah pejantan milik Jeffrey yang entah bagaimana nasibnya saat ini. Apakah masih simetris? Formasi telur bergeserkah? Menciutkah? Atau membesar karena bengkakkah? Entahlah, hanya Jeffrey yang tahu. Sungguh na'as.
"Sam, bisa nggak kamu pikir dulu sebelum berbicara?" Ketus Jeffrey.
"Lepaskan tanganmu, aku bisa berjalan sendiri," pinta Jeffrey kepada Alvin yang masih memegang lengannya.
Faktanya Jeffrey masih bisa berjalan sendiri meskipun rasa ngilu pada organ reproduksinya masih sangat terasa dan sangat mengganggunya saat berjalan. Namun Alvin dan Sammy yang terlalu berinisiatif membantu Jeffrey berjalan sehingga membuatnya terlihat sangat menyedihkan.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Coba ceritakan," pinta Briana.
Kali ini ganti Alvin yang bersuara dan mulai menceritakan semuanya termasuk tentang Jenny. Briana mengerutkan dahi, dan sesekali dia terlihat mamanggut - manggutkan kepalanya saat mendengarkan penjelasan dari Alvin.
Briana tampak menahan tawanya setelah mendengar cerita tragis yang menimpa putranya tersebut. Alih - alih bukannya merasa iba, dia justru malah ingin memarahi Jeffrey yang suka bertindak sesuka hati itu.
"Mommy benar - benar salut dengan gadis itu, dia sangat berani melawan putraku yang sangat menyebalkan ini," cibir Briana kepada Jeffrey.
"Sebenarnya aku sempat berpikir, apakah aku ini anak pungut?" sewot Jeffrey kemudian berlalu menuju kamarnya.
"Tentu kamu anak kandung Mommy sayang," ucap Briana dengan mimik muka yang masih menahan tawa, namun Jeffrey tak menghiraukannya.
"Sayang apa perlu Mommy periksa langsung kondisi telurmu?" sambung Briana lagi yang berhasil membuat putranya menghentikan langkahnya ketika sudah berada di anak tangga yang menghubungkan lantai satu dan dua.
"Jeffrey sudah besar Mom, itu sangat memalukan," tandas Jeffrey setelah memutar tubuhnya.
"Apanya yang memalukan? Kamu masih putra kecil Mommy sayang,"
"Tidak, terimakasih. Aku bisa memeriksanya sendiri," ketus Jeffrey lalu melanjutkan langkahnya.
"Tante kalau begitu kami permisi dulu," pamit Alvin yang diikuti Sammy.
"Iya, hati - hati di jalan," saut Briana.
"Baik Tante,"
Alvin dan Sammy pun berlalu meninggalkan Briana sendiri. Hingga detik ini Briana sampai lupa tujuannya yang ingin menumpahkan omelannya ke Jeffrey.
Terimakasih sudah mampir ke karyaku ya. Jangan lupa tekan gambar ♥️ agar masuk dalam rak buku kalian. Like, coment, rate, vote/hadiah dari kalian sangat beharga bagi Author🤗
__ADS_1
Semoga kalian sehat dan bahagia selalu🙏