
Pemandangan yang ada di hadapannya membuat pria bermuka masam tersebut terperangah. Jenny tampak sudah tertidur dengan posisi telentang di atas ranjang. Terus apa yang membuat Jeffrey begitu kesulitan menelan cairan salivanya? Seakan ada bongkahan batu yang menyumbat tenggorokannya.
Kemeja yang sedikit tersingkap sehingga memperlihatkan kulit perut Jenny yang seputih susu. Bukan itu saja, dua kancing kemejanya tampak terbuka sehingga menampilkan sebuah garis di antara gundukan gunung kembarnya.
"Apa dia mencoba menggodaku? Ck! ternyata dia tidak hanya pantas mendapat julukan si kucing kumuh tapi juga rubah betina yang matre dan penggoda,"
Pria bertubuh jangkung itu mendekati ranjang yang di tiduri Jenny.
"Woi kucing kumuh! Bangun, kau memenuhi ranjang, setidaknya sisakan tempat untukku tidur," Jeffrey menggoyang-goyangkan tubuh Jenny dengan kakinya. Benar-benar kaki tak ada ahklak.
Alih-alih terbangun, Jenny yang merasa tidurnya terusik malah menggeliat sehingga semakin menampakkan belahan buah dadanya yang ternyata begitu sintal di balik kain kedodoran yang selalu dia kenakan sehari-hari.
Glek!
Sekali lagi tenggorokannya tampak berusaha keras menelan cairan saliva. Tanpa melihat ke arah Jenny, Jeffrey langsung menutup tubuh Jenny dengan selimut. Namun selimut tebal tersebut merosot jatuh ke lantai karena Jenny menendangnya.
"Ck! Kebiasaan tidurnya seperti kuda liar, sungguh merepotkan," gerutu Jeffrey. Dia mengambil kembali selimut yang berserakan di lantai lalu membungkus rapat tubuh Jenny yang hanya menyisakan kepalanya sehinggga membentuk seekor kepompong raksasa.
Jeffrey menggiring sepasang pupil hijaunya pada sisi ranjang kosong yang hanya tersisa tidak lebih dari tiga kilan telapak tangannya.
"Bagaimana aku bisa tidur kalau begini? Ranjangnya begitu sempit," Jeffrey mendengus.
Hmmm..
Perhatian Jeffrey beralih ke Jenny yang lagi-lagi menggeliat di balik selimutnya hingga akhirnya..
Bruk!
Kepompong raksasa tersebut menggelundung jatuh ke lantai. Alih-alih terbangun, Jenny malah melanjutkan tidurnya di lantai.
__ADS_1
"Woi! Apa kau ingin tidur di lantai?" tanya Jeffrey seraya menendang ringan kaki Jenny tapi tidak ada respon.
"Dia tidur seperti orang mati saja, baiklah kalau begitu teruslah tidur di lantai, aku akan tidur di ranjang,"
Akhirnya Jeffrey merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan mulai memejamkan mata hingga akhirnya jiwanya mulai terbang ke alam mimpi.
Waktu terus bergulir, hingga sang mentari keluar dari peraduannya. Pendarnya yang hangat mulai menyapu alam semesta. Kicauan burung yang bertengger di pohon oak di sebelah rumah tampak memamerkan kicauan merdunya.
Sepasang almond eyes yang sedang mengatup tampak mengernyit karena ulah nakal anak sinar mentari yang menerobos jendela kaca kamar Jenny. Dia mulai menggerakkan tubuhnya yang terasa sesak karena balutan selimut tebal mengurangi ruang geraknya yang bebas. Dia mengedar pandangannya dan mulai mendengus karena menyadari semalaman dia tidur di lantai. Rasa kesal semakin bertambah di kala lensa birunya melihat Jeffrey yang tampak tertidur pulas di atas ranjang kesayangannya. Ekspresi kusut Jenny berangsur-angsur melunak ketika mengamati muka Jeffrey yang masih nyenyak dengan dengkuran kecil.
"Saat tidur mukanya terlihat damai seperti bayi tanpa dosa. Heh! Setidak kau tampak lebih baik kalau sedang tidur. Aku jadi tidak tega untuk membangunkannya," gumam Jenny sangat lirih.
Jenny kini menggiring mutiara birunya ke arah penunjuk waktu yang terpasang di dinding. Dia tertegun ketika menyadari jam sudah menunjukkan pukul 9. Ternyata dia bangun kesiangan. Akhirnya Jenny segera keluar menuju kamar mandi. Ketika melewati ruang makan dia melihat secarik kertas memo yang diletakkan di atas meja.
Sayang, Mama sudah menyiapkan sarapan untuk kalian berdua, tadi Mama memang sengaja tidak membangunkan kalian karena mengerti bagaimana rasanya di malam pengantin baru. Kalian pasti kecapekan setelah berjuang membuat cucu untuk Mama. Mama dan Papa berangkat kerja dulu ya.
"Apa'an sih Mama ini? Semalam kami bahkan tidak banyak berbincang karena aku langsung tertidur. Memangnya capek dari mana coba?" gerutu Jenny dengan muka yang memerah lalu meletakkan kembali secarik kertas memo tersebut di atas meja. Dia membuka tudung saji yang memang sudah ada beberapa makanan di dalam sana.
Tidur Jeffrey mulai terusik karena merasa ada yang bergejolak di dalam tubuhnya. Tampungan kantung kemihnya terasa penuh dan membuatnya ingin segera menumpahkan sisa cairan pembuangannya.
Dengan nyawa yang masih terisi seperempat tubuh, dia beranjak dari ranjang dan menuju ke kamar mandi dengan mata setengah terbuka sehingga tidak sadar jika ada seseorang di dalamnya.
Jenny mematikan shower-nya setelah selesai membersihkan busa-busa sabun dari tubuhnya. Suara shower yang menggericik dan posisi tubuhnya yang membelakangi sehingga membuatnya tidak sadar bahwa seseorang memasukki kamar mandinya. Dia meraih handuk yang menyentel pada gantungan dinding dan membalutkan pada tubuhnya. Kemudian dia memutar tubuhnya dan seketika membuat Jenny terkejut dengan mata yang membola karena melihat benda asing panjang dan berurat yang sedang menyembur cairan bening ke dalam kloset.
"S-sosis?! Kyaaaak!" Teriak Jenny sontak membuat Jeffrey terkejut dan membuat air kencing yang tadinya mengalir lancar bebas hambatan seperti jalan tol menjadi auto tersedat-sendat dan akhirnya macet.
"Kau?! Sedang apa kau disini?!" Jeffrey balik berteriak.
"Kyaaaaak! Dasar pria mesum! Apa kau sudah bosan hidup?!" teriak Jenny seraya meraih benda apapun sekenanya dan melemparnya ke arah Jeffrey namun terus ditangkis olehnya.
__ADS_1
"Aku tidak tahu kalau ada orang di dalam!" sanggah Jeffrey yang masih mencoba menghindari serangan brutal Jenny.
"Mustahil, kau pasti ingin berbuat mesum!" tuduh Jenny yang masih melempari Jeffrey dengan benda.
"Aaaahhk!" pekik Jenny mendapati tubuhnya terdorong ke belakang hingga membentur dinding kamar mandi karena perbuatan Jeffrey.
Pria bermata elang itu mencoba menghentikan aksi brutal Jenny dengan mendorong tubuhnya ke dinding dan mencengkram kedua tangannya kemudian mengangkatnya ke atas. Jeffrey memposisikan satu kaki jenjangnya di antara kedua paha mulus Jenny untuk menekan gerakannya.
"Diamlah! Atau aku akan memakanmu di tempat ini sekarang juga!" gertakan Jeffrey sontak membuat Jenny terbungkam. Jeffrey yang selama ini selalu memendam libidonya yang tinggi bisa saja melakukan kegiatan panasnya saat ini. Melihat penampilan Jenny dengan tubuh yang hanya berbalut handuk, rambut yang basah, serta harum tubuhnya yang segar sudah cukup bisa memacu hormon terstosteron-nya.
"K-kau mau apa? Lepaskan tanganku," pinta Jenny gugup.
Posisi tubuh mereka saat ini begitu dekat dan sensual.
"Aku hanya ingin menghentikan aksi gilamu ini, bukankah sudah aku bilang kalau aku tidak menyadari keberadaanmu," jelas Jeffrey dengan nada suara geram diikuti tatapan tajamnya.
"O-oke, sekarang lepasin tanganku, posisi kita saat ini sungguh membuatku tidak nyaman," ucap Jenny pasrah seraya mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Tatapan Jeffrey sungguh mengintimidasinya.
"Kenapa tidak nyaman? Apa kau lupa aku adalah suamimu sekarang?"
"Tentu saja aku merasa tidak nyaman karena selama ini kita bermusuhan. Tidak ada momen-momen baik di antara kita, semuanya buruk. Bukankah wajar jika aku merasakan hal itu?" tukas Jenny tanpa melihat muka Jeffrey.
Lantas Jeffrey melepaskan cengkeraman dari tangan kecil Jenny.
"Betul sekali, mungkin hubungan kita akan tetap seperti itu selamanya," timpal Jeffrey dingin.
"Satu lagi, kunci pintu ketika kau sedang mandi. Kejadian barusan tidak seutuhnya salahku melainkan salahmu juga yang ceroboh tidak mengunci pintu," tandas Jeffrey kemudian berlalu dari hadapan Jenny yang masih membatu di posisinya.
Bersambung~~
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir ke karyaku ya. Author sangat mengaharapkan dukungan like, coment, rate, vote/hadiah dari kalian agar lebih semangat dalam menulis🥰. Jika dukungan itu terlalu berat bagi para Reader, minimal tinggalkanlah like pada setiap chapter saja, Author sudah sangat senang🙏
Semoga kalian sehat dan bahagia selalu🙏