
"Sayang, apa tidak sebaiknya kita menggunakan jasa pembantu di rumah? Kandunganmu sudah semakin besar. Aku tidak tega melihat kau kelelahan mengurus rumah sendiri," saran Jeffrey seraya mengaduk-aduk mashed potato yang tampak masih mengepulkan asap karena baru saja matang. Sejurus kemudian diciduknya satu sendok olahan kentang tersebut dan disuapkan ke Jenny.
Jenny mengunyah makanannya seraya berkata.
"Ya sudah aku nurut saja apa katamu. Aku mau lagi, aaaaa," ia kembali membuka mulutnya setelah menelan makanan yang ia kunyah.
Jeffrey mendengus geli melihat tingkah Jenny yang menurutnya semakin manja selama ia hamil. Baginya sikapnya itu sungguh menggemaskan. "Dasar kucing rakus, pelan-pelan saja makannya," ia kembali menyuapi Jenny dengan telaten.
Jeffrey memang sangat jarang melontarkan kalimat romantis, namun bagi Jenny sikap perhatian Jeffrey untuknya selama ini sudah sangat cukup membuatnya nyaman dan bahagia. Selalu memposisikan dirinya sebagai ratu dan menjadi suami serta calon ayah yang baik, itulah Jeffrey. Sekalipun ada beberapa untaian kata romantis yang keluar dari sepasang bibir pria tampan itu, hal itu merupakan bonus perhatian lebih baginya.
Siapa sangka, Jeffrey si beruang kutub yang berkepribadian dingin dan bertampang masam saat di kantor seketika akan berubah menjadi seorang pria berkepribadian hangat saat di rumah, terutama di depan istrinya. Namun hal itu tidak sedikitpun mengurangi ketegasannya sebagai nahkoda yang membawa bahtera rumah tangga untuk mengarungi luasnya samudra kisah cinta mereka.
"Beruang kutub, bolehkah aku nanti keluar sebentar?"
Jeffrey yang hendak memasukkan sesendok makanan ke dalam mulutnya seketika berhenti dan menautkan mutiara birunya ke arah Jenny.
"Kau mau kemana? Kau sedang hamil jangan berkeliaran di saat aku tidak di rumah," tutur Jeffrey yang selalu menyelipkan unsur posesifnya.
"Hmm, aku sedang bosan saja di rumah. Aku ingin mengunjungi anak-anak yayasan karena aku sudah merindukan mereka," jawab Jenny.
"Tunggu aku pulang kerja, biar aku yang mengantarmu,"
"Hmmm, kau pasti lama pulangnya,"
"Aku usahakan pulang lebih awal. Jangan membantah dan turuti perkataanku," titah Jeffrey mutlak.
"Baiklah," ucap Jenny pasrah.
°°°
"Sayang, aku berangkat kerja dulu ya. Jangan lakukan apapun yang bisa membahayakan dirimu. Jangan hidupkan kompor, jangan berlarian, dan jangan keluar tanpa ijin,"
"Ya Tuhan, kenapa sekarang kau sangat cerewet sekali, seperti nenek tetangga di sebelah? Iya iya..," cebik Jenny.
Jeffrey mengulas senyuman ringan lalu mengecup singkat bibir Jenny lalu sedikit membungkuk mensejajarkan kepalanya dengan perut Jenny yang sudah tampak membuncit.
"Hai, baby boy, Daddy berangkat kerja ya. Jangan nakal ya di dalam sana," bisik Jeffrey lalu mencium perut Jenny. Pria itu sempat tersentak ketika merasakan sebuah tendangan kecil dari perut Jenny.
"Si kecil sepertinya merespon ucapanmu," Jenny terkikik seraya menutup bibirnya dengan jari-jemarinya.
Seutas senyuman hangat menghiasi muka tampan Jeffrey. Lantas ia mengusap perut Jenny dan kembali berbisik.
__ADS_1
"Hai, baby boy, nanti malam Daddy akan kembali mengunjungimu ya. Sampai bertemu," bisik Jeffrey dengan mimik muka penuh arti yang sontak membuat muka Jenny memerah setelah mendengarnya.
"Aku mencintaimu," satu kalimat melesat indah dari bibir kissable-nya sebelum akhirnya kembali menghadiahi sebuah kecupan dalam pada kening Jenny dan berlalu dari hadapannya.
°°°
Di sebuah gedung raksasa yang menjulang tinggi, Darwin Corp. Jeffrey sedang berkutat dengan alat tempurnya berupa laptop dan beberapa dokumen yang tampak menggunung di atas meja kerja besarnya. Fokusnya tiba-tiba sedikit terusik ketika sebuah ketukan pintu terdengar memenuhi ruangan.
"Masuk," titah Jeffrey.
Elfrad muncul dari balik pintu. "Permisi Tuan, saya membawa seseorang yang akan bekerja sebagai sekretaris baru anda,"
Jeffrey menggiring perhatiannya ke arah Elfrad lalu beralih ke arah wanita yang berdiri di sebelahnya. Penampilan wanita itu bisa dikatakan sangat cantik dan memiliki tubuh yang seksi dan padat. Ditambah lagi setelan pakaian yang membungkusnya begitu pressbody dengan rok mini di atas lutut, memamerkan betis kakinya yang ramping serta memperlihatkan lekuk tubuhnya yang begitu indah.
"Perkenalkan dirimu," titah Elfrad dengan nada berwibawa.
"Nama saya Natasya Tuan. Saya yang akan bekerja sebagai sekretaris baru anda. Terima kasih telah memberi saya kesempatan untuk bergabung dengan perusahaan anda," ucap Natasya dengan suara sedikit mendayu-dayu dan centil namun masih dalam batas sopan.
Jeffrey kembali menautkan matanya ke arah Elfrad yang merupakan asisten pribadinya.
"Katakan padanya untuk mengenakan pakaian yang lebih sopan kalau ingin bekerja disini. Kalian bisa pergi sekarang," ucap Jeffrey sangat dingin, membuat wanita yang baru saja menjabat sebagai sekretaris itu merasa kikuk.
"Baik Tuan," ucap Elfrad menundukkan kepalanya sekilas lanjut melangkahkan kakinya keluar ruangan dan diikuti oleh Natasya.
°°°
Di sebuah kamar bernuasa feminim, seorang wanita bersurai coklat terang tampak berdiri di depan jendela menatap pemandangan di luar dengan tatapan kosong. Satu setengah tahun lamanya, ia masih terbelenggu dalam perasaan patah hati setelah hubungannya kandas dengan sang kekasih.
Hubungan yang sudah berjalan tujuh tahun lamanya namun harus pupus begitu saja sebelum berhasil berdiri di atas altar pernikahan untuk menepati janji mereka.
Tok.. Tok.. Tok..
Suara ketukan pintu seketika membuyar lamunannya.
"Sayang, apa Mama boleh masuk?"
"Masuk saja Ma, pintunya tidak dikunci,"
Wanita tengah baya tampak menyembul dari balik daun pintu dan melangkah mendekati sang putri.
"Avellyn sayang, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu," ucap Mama Reta.
__ADS_1
"Siapa Ma?"
"Kau akan tahu setelah kau turun dan bertemu dengannya. Papamu juga sudah di bawah bersamanya," jawab Mama Reta seraya mengulas senyuman penuh makna.
"Baiklah Ma," jawab Avellyn tanpa rasa curiga sedikitpun.
Sesampainya di ruang tamu, wanita itu dibuat terperangah ketika melihat sosok pria yang sudah membuatnya larut dalam sakitnya patah hati selama ini, namun bodohnya rasa cintanya untuk pria itu tidak sedikitpun beranjak dari hati kecilnya.
Dengan perasaan gusar, Evellyn duduk di sofa seberang meja berhadapan dengan Jullian dan diikuti oleh sang Mama. Iya, pria itu adalah Jullian. Dia datang membawa maksud dan tujuan tertentu.
Ehem!
Hadley berdehem sebelum akhirnya ia membuka suara.
"Jadi jelaskan alasan tujuanmu datang kemari," tanya Hadley dengan nada tegasnya. Sedikit ada perasaan tidak suka yang menyelinap ke bilik hati kecilnya. Mengingat, pemuda yang berada di depannya adalah sumber kesedihan putri semata wayangnya membuat ia sedikit sensi.
Sejenak Jullian terdiam. Menyiapkan rangkaian kata yang tepat dan juga memantapkan tekad dan keberanian.
"Saya datang kemari karena ingin melamar putri anda Tuan," jawab Jullian dengan suara tegas, lugas, dan jelas. Bahkan tidak ada sedikitpun keraguan dari nada bicaranya. Mimik mukanya juga meunjukkan keseriusan.
Ucapan Jullian sukses membuat Avellyn terkejut tak percaya. Selama 1,5 tahun mereka berpisah, Jullian bagaikan hilang ditelan Bumi. Akan tetapi, tiba-tiba hari ini ia datang dengan membawa kemantapan dan ketekatan yang sudah menancap begitu dalam di dalam hatinya.
Hadley mengulas senyuman tipis, tepatnya senyuman sinis. "Bukannya kau yang meninggalkan putriku? Setelah menyakitinya kau pergi begitu saja. Kemana saja kau selama ini?" ucap Hadley kecewa.
"Maaf Tuan saya memang bersalah, tapi saya pergi sementara untuk menjadi seorang pria yang pantas berdiri disebelah Avellyn. Dan sekarang saya kembali untuk menepati janji saya untuk menikahi Avellyn," Evellyn seketika terharu mendengar ucapan tegas Jullian. Ia pikir, pria itu sudah melupakan janjinya tapi ternyata ia masih mengingatnya. Kesedihannya menguap begitu saja, tergantikan rasa kebahagiaan.
"Saya sangat mengharapkan restu dari anda karena saya sangat mencintai Evellyn," sambung Jullian penuh ketulusan yang sangat dalam.
Lolos sudah air mata kebahagiaan dari pelupuk mata Evellyn setelah mendengar ucapan Jullian. Ia menautkan pandangannya ke arah sang Papa yang ternyata sedang melihatnya, seolah meminta jawaban tentang perasaan sang putri.
Evellyn mengangguk samar sebagai jawaban bahwa ia mau dan tidak bakal menolak lamaran Jullian yang sudah lama ia dambakan.
Hadley kembali menggiring mukanya ke arah Jullian yang sebenarnya sedang mati-matian menutupi kegugupannya.
"Baiklah, aku akan merestui kalian. Tapi berjanjilah jangan sakiti lagi putriku. Sekali aku melihat kau membuatnya kembali menangis, aku takkan segan-segan membawanya kembali,"
Bersambung~~
...Untuk para Readers kesayangan:...
...Tolong biasakan tinggalkan like dan coment setelah membaca ya. Bila ada rejeki lebih Vote dan Gift juga boleh. Dukungan kalian sungguh membuat auhtor bahagia dan lebih semangat dalam mengetik. Terimakasih🥰...
__ADS_1