
Di basement apartemen, Jeffrey belum juga beranjak dari bangku depan setir mobilnya. Pikirannya masih berkcamuk, fakta kebenaran yang baru dia ketahui beberapa saat yang lalu membuat hatinya menciut karena rasa bersalah yang begitu besar terus meliputi dirinya.
Pikirannya sudah melalang buana begitu jauh. Jeffrey sudah membayangkan resiko-resiko yang akan dia terima jika Jenny mengetahui fakta bahwa dialah penyebab kematian Papanya.
Saat ini hanya satu kata yang begitu menghantuinya, yaitu kehilangan. Dia takut Jenny akan pergi meninggalkannya dan menghilang dari kehidupannya.
Jeffrey menghempas kasar kepalanya pada sandaran bangku mobil. Dia beberapa kali mencoba menarik napas dalam-dalam lalu menghembusnya dengan pelan bertujuan menenangkan hati dan meluruskan pikirannya.
"Suatu saat, Jenny memang wajib mengetahui semuanya, tapi tidak untuk saat ini karena terus terang aku belum siap menerima resikonya. Sekarang lebih baik aku fokus membuat hubungan ku dengannya semakin dekat," Jeffrey bermonolog pada dirinya sendiri.
"Haahhh! Baru 1 jam tidak bertemu kenapa aku sudah sangat merindukannya? Kucing kecilku itu pasti sudah menungguku di dalam," Jeffrey menyunggingkan bibirnya setelah menyadari bahwa bukan kucing kumuh lagi yang dia gunakan sebagai panggilan sayang istrinya, namun kucing kecil. Bahkan baginya sekarang, Jenny adalah kucing kecilnya yang sangat manis dan menggemaskan.
Tidak ingin membuat istrinya sendirian terlalu lama di apartemen, Jeffrey bergegas menuruni mobil sport mewahnya dan melangkahkan kakinya menuju ke kotak lift yang membawanya ke ruang apartemennya.
Setibanya di apartemen, Jeffrey tampak menyapu setiap ruangan satu persatu guna mencari keberadaan Jenny namun nyatanya sosok kucing kecilnya itu memang sedang tidak ada di dalam apartemen.
Pria tampan itu lantas meraih ponselnya dari saku celananya dan melakukan panggilan ke nomor Jenny, akan tetapi nomor yang dituju tidak dapat dihubungi. Hingga akhirnya iris hijau milik Jeffrey tanpa sengaja menangkap secarik kertas yang tertempel di pintu kulkas dapurnya.
Istrimu sedang kami culik, jika ingin bertemu dengannya selamat maka datangi alamat ini.
Bagaikan tersambar kilat petir di siang bolong, Jeffrey dibuat terkejut luar biasa setelah membaca pesan yang tertulis rapi di atas kertas tersebut. Hatinya mulai terselubung rasa khawatir dan takut. Pria itu benar-benar terlihat panik.
Tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa istri kecilnya, Jeffrey kembali keluar apartemen kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, menembus jalanan kota menuju alamat yang tertera pada secarik kertas tadi.
Setelah satu jam perjalanan, Jeffrey mulai memasuki kawasan pegunungan yang berada di pinggiran kota Cambrigde. Hingga akhirnya, mobilnya berhenti pada pelataran Vila yang tampak tidak begitu besar namun terlihat sangat terawat dan indah. Bahkan bangunan itu sama sekali tidak cocok jika dijadikan tempat penyekapan sandra penculikan.
Sebenarnya dari sini Jeffrey sudah mulai curiga. Namun ia tidak ingin mengulur-ulur waktu hanya untuk menela'ah sesuatu yang tidak berguna. Pria tampan bermuka masam itu bergegas melangkahkan kakinya menuju vila yang berdiri kokoh di depannya.
°°°
Beberapa anak muda tampak sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Malam ini mereka berencana mengadakan pesta barbeque dadakan. Iya, beberapa saat yang lalu, Sammy dan Daisy tiba-tiba mengajak para sahabat untuk mengadakan pesta tersebut. Tentu saja mereka tidak akan sukses menyeret para sahabat tanpa adanya jurus handalan berupa paksaan brutal, rayuan maut serta tangisan palsu.
Jenny, Daisy dan Avellyn tampak sedang berkutat dengan bahan-bahan makanan seperti daging, sayur, jamur dan sosis. Sedangkan para pria yang tak lain adalah Sean, Sammy, Alvin, dan Jullian tampak mempersiapkan alat pemanggang serta bangku dan meja yang di letakkan di tengah-tengah taman belakang vila. Iya, saat ini mereka semua sedang berada di sebuah vila milik kakek Sammy.
"Jenn, apa si beruang kutubmu itu tidak menghubungimu?" tanya Daisy seraya melirik ke arah Sammy. Mimik muka keduanya tampak penuh arti.
"Ah, itu aku tidak tahu, karena ponselku berada di tas sedari tadi, coba aku cek dulu," jawab Jenny seraya mengambil ponselnya dari dalam tasnya.
"Ya Tuhan, ternyata batrai ponselku habis," seru Jenny.
"Pasti saat ini si Jeffrey itu sedang kebingungan karena istri kecilnya menghilang," cerocos Daisy seraya terkekeh.
__ADS_1
"Bukankah kalian sudah memberitahunya tadi?" tanya Jenny sambil menatap ke arah Daisy dan Sammy secara bergantian.
"Iya, tadi aku dan Sammy memang memberitahunya lewat secarik kertas yang tertulis bahwa kami sedang menculikmu," kekeh Daisy tanpa merasa berdosa.
"Kalian memang suka mencari gara-gara ya," sungut Jenny dengan raut muka jengah seraya berdecak pinggang.
"Tenang saja, kami sudah memberitahu dia alamat posisi kita kok, mungkin saat ini dia sedang menuju kesini," timpal Daisy santai.
Setelah mendengar penjelasan Daisy, Jenny pun sedikit merasa lega. Lalu dia melanjutkan kembali kegiatannya. Gadis blonde itu mencoba membuka tutup botol caos barbeque, namun ia tampak kesulitan untuk membukanya, sesekali dia mengibas-ngibaskan telapak tangannya karena rasa panas dan nyut-nyutan yang meremang.
Sean yang melihat Jenny sedang kesusahan dalam membuka tutup botol tersebut lantas menghampirinya.
"Kau terlihat kesulitan membukanya, coba berikan botol itu kepadaku,," pinta Sean yang langsung dituruti Jenny.
Tidak butuh banyak tenaga, Sean berhasil membuka tutup botol tersebut dengan sangat mudah. Pria itu meletakkan botol itu di atas meja kemudian meraih tangan Jenny yang terlihat memerah karena terlalu memaksakan tenaganya untuk membuka tutup botol tadi.
"Seharusnya kau meminta bantuanku jika kesulitan, coba lihat tanganmu sekarang memerah dan sedikit lecet," tutur Sean yang menatap iba telapak tangan gadis yang masih menempati hatinya tersebut.
"Jangan pegang-pegang!" sergah Jeffrey yang baru saja datang dengan mimik muka masamnya.
Jeffrey melangkahkan kakinya mendekati Jenny dan Sean lalu meraup tangan Jenny dari tangan Sean.
"Jangan berlebihan, aku hanya ingin memeriksa tangannya saja," ucap Sean yang tersenyum receh. Sesungguhnya dia masih merasakan keperihan di hatinya melihat kedekatan sepasang suami istri itu. Namun dia berusaha menampik rasa egonya dan mencoba menerima serta memahami kenyataan di depan matanya.
"Sialan! Berani-beraninya kau mengerjaiku!" sembur Jeffrey lalu mengambil seikat asparagus dari atas meja dan melemparnya ke arah Sammy namun berhasil tertangkap dengan sempurna.
Acara pesta Barbeque berlangsung secara sederhana. Kegiatan panggang memanggangpun dimulai.
"Waah.. Sean ternyata kau sangat pintar dalam memanggang daging," puji Jenny, Daisy, dan Avellyn dengan mata berbinar-binar.
Sean tersenyum lebar dan mulai bercanda. "Apa kalian mulai terpesona kepadaku?"
Ketiga gadis itu mengangguk cepat secara serentak. Sebagai tanda mereka memang terpesona melihat sosok Sean yang tampan dan tampak seksi ketika memanggang barbeque.
Tanpa mereka sadari Jeffrey dan Jullian sedang mendengar interaksi mereka dengan tatapan tidak suka.
"Ehem! Sean kau pasti lelah, biar aku menggantikanmu," tawar Jullian lalu mengambil alih capitan daging dari tangan Sean.
"Tenang saja, aku tidak lelah, aku masih bisa melakukannya," sanggah Sean yang kembali mengambil capitan dari tangan Jullian.
"Apa yang sedang kalian ributkan? Aku lebih ahli dalam memanggang. Biar aku saja," kini ganti Jeffrey yang merebut capitan tersebut dengan paksa.
__ADS_1
"Aahh.. Apa kau lupa, aku juga sudah banyak belajar dalam hal ini," timpal Sean tidak mau kalah dan tersenyum dibuat-buat.
"Ck! Aku bahkan sudah pernah memanggang babi utuh-utuh dengan isi perutnya yang masih utuh, sepertinya aku yang lebih ahli di sini," lagi-lagi Jullian tidak mau kalah.
"Ck! Apa kau tolol? Kau memanggang babi tanpa membersihkan isi perutnya terlebih dahulu, apa kau juga memakan kotorannya sekaligus?" cerca Jeffrey yang kembali menyabet capitan tersebut.
Aksi saling rebut capitan yang bernasib malang tersebut berlangsung beberapa menit. Mereka begitu antusias untuk saling unjuk gigi guna menarik perhatian para gadis.
"Sebenarnya mereka kenapa?" tanya Jenny heran.
"Entahlah, saat ini aku justru merasa iba dengan capitan daging itu," timpal Daisy memandang iba si capitan yang malang.
"Mereka seperti anak kecil saja," tambah Avellyn dengan raut muka jengah.
Sedangkan Sammy dan Alvin hanya menyaksikan perebutan sengit itu dengan raut muka datar.
Beberapa saat kemudian, hidangan barbeque yang sudah melalui proses panjang yang begitu dramatis tersebut telah tersaji di meja makan dan siap disantap. Tidak lupa minuman pendamping seperti honey lemon tea dan beberapa minuman kaleng pun ikut melengkapi.
"Teman-teman sebenarnya aku mengajak kalian untuk datang ke acara ini karena ingin mengumumkan sesuatu," ucap Daisy yang tampak berseri-seri. Sesekali dia melempar senyuman ke arah Sammy yang juga membalas balik senyuman Daisy yang diikuti kerlingan pada kedua matanya yang berkedip-kedip bagaikan mata barongsai yang sedang melakukan beratraksi.
"Memangnya kau ingin mengumumkan hal apa? Hingga kau dan Sammy menyeret kami dengan paksa," sela Jullian yang diikutin anggukan oleh yang lainnya seraya saling melempar tatapan.
"Sebenarnya Aku dan Sammy baru saja jadian, Yeyyy..." beber Daisy dan Sammy serentak yang tampak antusias dan senang lalu berpelukan.
*K*rik..! Krik..! Krik..!
Hening, hanya terdengar suara jangkrik yang sedang berderik di balik rerumputan taman.
Jeffrey, Jenny, Sean, Alvin, Jullian, dan Avellyn hanya merespon dengan tatapan datar sedatar datarnya.
"Perasaan baru siang tadi kalian berdebat, eh sekarang malah jadian. Sungguh konyol," ledek Alvin yang diikuti lainnya.
Waktu masih terus bergulir. Malam kian menyelimuti kalbu, menjamah waktu. Semua penghuni vila juga sudah tampak terlelap.
Jenny yang merasa tidurnya terusik karena tenggorokan yang terasa kering pun mulai terjaga dari tidurnya. Dia menuruni ranjang lalu melangkahkan kakinya menuju dapur untuk mencari sesuatu yang bisa membasahi tenggorokannya yang sudah menandus.
"Beruang kutub!" Jenny tiba-tiba terkesiap ketika mendapati Jeffrey memeluknya dari belakang.
"Sssst! Jangan berisik. Segera habiskan minumanmu, aku ingin membawamu ke suatu tempat," bisik Jeffrey lalu menghadiahkan kecupan di pipi Jenny.
Bersambung~~
__ADS_1
...Untuk para Readers kesayangan:...
...Tolong biasakan tinggalkan like dan coment setelah membaca ya. Bila ada rejeki lebih Vote dan Gift juga boleh. Dukungan kalian sungguh membuat auhtor bahagia dan lebih semangat dalam mengetik. Terimakasih🥰...