Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn

Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn
Honey Moon


__ADS_3

Peringatan! Bab ini mengandung unsur 21+ di akhir cerita ya, ingat di akhir cerita. Bagi yang tidak suka bisa diskip. Bacalah secara bijak. Tapi tenang, unsur 21+ nya nggak begitu vulgar kok😆


1 Minggu kemudian, Jeffrey benar-benar membawa Jenny untuk pergi honeymoon. Jenny berkata dia ingin sekali menikmati keindahan ladang bunga tulip yang menjadi ikon negara Belanda tersebut. Kebetulan saat ini musim semi sedang berlangsung dimana bunga tulip sedang bermekaran, jadi merupakan waktu yang tepat untuk berkunjung ke negara yang juga mendapat julukan negeri kincir angin tersebut.


Setelah menempuh perjalanan melalui transportasi udara selama 1 jam 20 menit, akhirnya sepasang suami istri tersebut tiba di Bandara Udara International Schiphol, Amsterdam dan langsung menuju penginapan hotel yang sudah di booking beberapa hari yang lalu.


"Fyuuhh! Akhirnya kita sampai juga," ucap Jenny yang baru saja sampai di penginapan.


"Kau ingin beristirahat terlebih dahulu atau langsung jalan-jalan?" tanya Jeffrey seraya meletakkan tas dan koper di salah satu sudut ruangan.


"Sebaiknya kita langsung jalan-jalan saja, aku sudah tidak sabar ingin melihat jutaan bunga tulip yang sedang bermekaran," jawab Jenny antusias.


"Apa tidak sebaiknya kita beristirahat dulu," saran Jeffrey yang langsung melingkarkan tangannya pada perut Jenny.


Jenny menggeleng cepat. "Aku ingin jalan-jalan," rengek Jenny.


"Baiklah, kalau begitu kita jalan-jalan dulu karena setelah ini aku juga tidak yakin kau bisa berjalan dengan benar atau tidak besok," timpal Jeffrey seraya menyeringai penuh arti.


"Hm? Maksutmu apa?" Jenny tidak mengerti.


"Sudahlah, ayo kita berangkat sekarang,"


"Sebentar, aku ingin mengganti pakaianku dulu,"


Jenny pun mengambil satu setel baju dari koper dan menuju ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Meski Jenny berstatus sebagai istri Jeffrey tapi dia masih sangat malu jika harus mengganti pakaiannya di depan suaminya. Mungkin karena mereka belum pernah melalui ritual malam pertama yang menjadi penyebabnya.


Beberapa saat kemudian Jenny keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang berbeda. Jeffrey langsung terpesona dikala melihat penampilannya yang sangat berbeda dan terlihat lebih feminim. Selama ini, Jenny selalu membalut tubuhnya dengan gaya berpakaian over size. Kemeja, T-shirt, dan sweater yang selalu kedodoran.


Tapi kali ini sangat berbeda. Jenny mengenakan setelan gaun bewarna rose pink dengan pola bunga mawar yang begitu melekat sempurna di tubuhnya yang langsing.



"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa aku terlihat jelek?" tanya Jenny karena mendapati tatapan tak terbaca Jeffrey yang membuatnya mulai tidak percaya diri dengan penampilannya. Ia terlihat menyelidik cara berpakaiannya.


"Iya kau sangat jelek!" balas Jeffrey asal mencoba menutupi rasa kagumnya.


"Cantik, kau sangat cantik kucing kecilku. Hah! Kau selalu saja membuat jantungku berdebar," batin Jeffrey.


"Kau sangat menyebalkan, baiklah aku akan mengganti pakaianku dengan yang lain," dengus Jenny dengan muka cemberutnya.


"Tidak perlu, apa kau ingin membuang waktu jalan-jalan kita?" tukas Jeffrey yang langsung meraih tangan Jenny menuju keluar kamar.


Kali ini Jeffrey dan Jenny memilih Taman Keukenhof yang berada di kota Lisse. Kota yang memerlukan waktu tempuh 30 menit dari ibu kota Belanda, Amsterdam. Keukenhof dijuluki Garden of Europe atau taman Eropa. Keukenhof adalah taman bunga terbesar di dunia dan terdapat 7 juta kuntum bunga tulip dangan 800 spesies yang berbeda.


"Kyaaakkk! Beruang kutub mereka sungguh cantik," seru jenny yang baru saja turun dari sepeda sewaan untuk mempermudah mereka mengelilingi ladang bunga tulip.


Gadis blonde itu tampak berhamburan di tengan-tengah hamparan bunga tulip yang menjadi ikon negara Belanda tersebut. Senyumannya mengembang sempurna.


Seolah terhipnotis akan senyuman manis gadisnya, Jeffrey yang mengikuti setiap langkah Jenny juga ikut tersenyum puas.


Jutaan tangkai bunga tulip tampak meliuk-liuk karena ulah nakal sang penguasa angin. Bak seorang wanita yang sedang menyuguhkan tarian perut, hamparan bunga yang hanya bermekaran di musim semi tersebut melenggak lenggok seolah menyambut keberadaan Jenny yang begitu antusias mengagumi keindahan yang mereka suguhkan.


Sepasang suami istri muda tersebut begitu menikmati spot bunga tulip yang begitu memanjakan mata, mereka juga beberapa kali mengabadikan perjalanan mereka dengan berfoto.


"Beruang kutub ayo sekali lagi kita berfoto berdua," ajak Jenny yang sudah menghidupkan aplikasi kamera pada ponselnya.


Jeffrey pun menuruti permintaan Jenny dan mulai mendekatkan mukanya.


"Satu dua tiga, say cheese," Jenny memberikan aba-aba.

__ADS_1


Cekrek!


Cups!


"Beruang kutub lagi-lagi kau menciumku," dengus Jenny karena malu. Dia memang belum terbiasa jika harus bermesraan di ruang publik.


Selama kegiatan menikmati seluruh bunga penghuni taman Keukenhof, Jeffrey berkali-kali mengahdiahkan ciuman pada pipi, kening, bahkan bibir Jenny. Dia tampak tidak malu melakukannya di tempat umum. Seolah ia ingin memamerkan kemesraannya kepada orang-orang.


Langit senja sudah mulai memayungi sepasang kekasih tersebut, setelah merasa puas dan lelah, mereka berdua akhirnya memutuskan untuk kembali ke penginapan untuk beristirahat menghilangkan penat pada tubuh mereka.


Jeffrey tampak keluar dari kamar mandi dengan masih mengenakan bathrobe.


"Kau segera mandilah, aku akan memesan makan malam untuk diantar ke kamar," titah Jeffrey.


Karena terlalu lelah setelah seharian mengelilingi taman dengan luas 80 hektar tersebut mereka memilih menyantap makan malam di kamar.


Istri kecil itu membuka koper baju untuk mengambil beberapa baju ganti. Tangannya masih terus menyibak satu persatu isi yang berada di dalamnya. Dahinya berangsur-angsur tampak berkerut.


"Kau sedang mencari apa?" tanya Jeffrey yang menyadari istrinya tampak mencari sesuatu.


Alih-alih menjawab pertanyaan Jeffrey, Jenny malah tampak menjembreng lingerie bewarna merah menyala di depan mukanya dengan mata membulat sempurna diikuti mulut yang menganga lebar.


"Kenapa benda ini ada di dalam koperku? Dan kemana perginya baju babydoll kesayanganku?" seru Jenny bingung. Dia merasa tidak memasukkan benda yang terbuat dari kain tipis itu ke dalam kopernya sebelum berangkat.


Jeffrey menyeringai nakal. "Babydoll kekanak-kanakkanmu itu sudah aku ganti dengan itu semua, aku ingin kau memakai itu malam ini,"


Jenny menggeleng. "Nggak mau, karena memakai benda ini sama saja aku tidak berpakaian," dengus Jenny menolak permintaan Jeffrey. Jenny tampak membolak balik lingerie yang sangat transparan itu.


"Kenapa kau berpikiran untuk tetap berpakaian di malam honeymoon kita?" pertanyaan frontal Jeffrey sontak menciptakan semburat merah persik di pipi mulus Jenny. Gadis blonde itu langsung berlari kecil ke kamar mandi untuk menyembunyikan perasaan malunya.


Beberapa menit kemudian, Jenny selesai melakukan ritual bersih-bersihnya. Aroma lezat santapan makan malam langsung menerobos indera penciumannya ketika dia baru saja keluar dari kamar mandi.


"Sebelum kita tidur kan?" tukas Jenny seraya tersenyum receh yang dibuat-buat. Mengingat tujuan utama dari sebuah honeymoon sungguh membuatnya malu dan kikuk.


Jeffrey mengulum bibirnya menahan tawa. Melihat ekspresi muka Jenny saat ini, membuatnya ingin segera menerkam kucing kecil di sampingnya saat ini juga.


"Hmm.. ini enak sekali, kau juga makanlah," ucap Jenny setelah memasukkan 1 sendok hutspot kedalam mulutnya.


Hutspot adalah salah satu makanan lezat khas negara Belanda yang terbuat dari daging yang dipotong dadu lalu dicampur beberapa macam sayur yang dihaluskan dan ditambah bumbu-bumbu pelengkap lainnya khas negara tersebut.


Jeffrey pun mulai menyuapkan satu sendok hutspot ke dalam mulutnya.


"Bagaimana? Beneran enak bukan?" tanya Jenny yang langsung dibalas anggukkan dan senyuman tipis oleh Jeffrey.


Sepasang suami istri muda tersebut menikmati makan malam mereka dalam tenang. Sesekali percakapan ringan ikut mewarnai kegiatan santap menyantap mereka.


Langit malam begitu jernih. Dewi malam tampak menggelayut pada hamparan lautan berlian yang berkelap kelip dengan indahnya.


Gadis berlensa biru itu tampak menikmati pemandangan malam kota Amsterdam dari balkon hotel. Mukanya menengadah ke langit, menyapu setiap sudut cakrawala yang dihiasi beberapa ornamen langit ciptaan Tuhan. Namun tiba-tiba tubuhnya terkesiap dikala merasakan sentuhan hangat tangan kekar yang melingkari perutnya dari belakang.


"Apa kau sedang menghitung bintang?" tanya Jeffrey seraya memeluk tubuh istrinya dari belakang.


"Tidak, karena itu hal yang mustahil," jawab Jenny dengan seutas senyuman di bibirnya.


"Lalu?"


"Lalu aku tinggal menikmatinya saja. Aku tidak harus membenani otakku ini hanya untuk menghitung bintang bukan?"


"Tapi sayang, kadang aku tidak bisa menikmati bintang di setiap malam karena awan selalu menutupinya. Padahal aku sangat menyukai mereka," sambung Jenny lagi dengan mimik muka berubah sendu.

__ADS_1


"Tahukah kau, kadang langit terlihat seperti lembaran hitam kosong. Padahal sebenarnya tidak. Karena para bintang masih setia disana, bumi hanya sedang berputar," tutur Jeffrey, lalu mendaratkan sebuah kecupan lembut pada pundak kucing kecilnya.


"Benarkah? Hmmm, ahhh! Beruang kutub kau membuatku geli," ucap Jenny sedikit mendesah, karena tangan Jeffrey mulai menyelinap di balik kainnya. Jari-jari jenjangnya menari-nari mengelilingi pusar perut Jenny dengan nakal.


"Aku sudah menunggumu di dalam, tapi kenapa kau sama sekali tidak peka?" ucap Jeffrey sedikit protes.


"Ahhh! Aku masih ingin menikmati bintang, ahhh! Beruang kutub hentikan,"


"Lupakan menikmati bintang, seharusnya kau menikmati malam bulan madu kita bukan menikmati bintang," tukas Jeffrey dengan tangan yang mulai menjalar ke tubuh Jenny bagian atas.


"Stop! Apa kita tidak bisa menundanya besok? Aku belum siap," pinta Jenny malu.


"Aku akan membuatmu basah dan siap," timpal Jeffrey yang langsung menggendong tubuh kecil istrinya ala bridal style membawanya ke dalam kamar.


Deg! Deg! Deg!


Organ pemompa darah Jenny mulai bekerja lebih keras di kala Jeffrey sudah berada di atas tubuhnya dengan tatapan dalam yang begitu intens. Tubuh polos mereka yang hanya berbalut satu selimut saling menstranfer kehangatan. Sentuhan-sentuhan kulit yang saling bergesekan semakin menambah tingkat hormon dopamin gairah seksual yang menciptakan suasana seksi.


"Apa kau sudah siap?" tanya Jeffrey dengan suara terdengar parau dan mata berkabut berselimut gairah yang sudah sampai ke ubun-ubun.


"Hm," jawab Jenny gugup seraya mengangguk kecil.


"Mungkin ini akan terasa sakit saat pertama kali, kau boleh memukul atau menggigitku jika tidak kuat," tutur Jeffrey dengan sabar. Dia tidak ingin melakukannya dengan tergesa-gesa meski gairahnya sudah menyeruak hebat luar biasa. Pria itu ingin memberi kesan yang sangat manis pada istri kecilnya di malam pertama mereka.


"Apakah akan sangat sakit?" tanya Jenny gugup. Matanya masih mengunci kedua manik hijau si beruang kutub yang tak lain suaminya.


"Dari yang aku dengar, akan sakit di awal tapi lama-lama akan enak, ini juga baru pertama bagiku, tapi aku akan melakukannya dengan hati-hati," ungkap Jeffrey.


Mimik muka Jenny tampak menegang ketika Jeffrey mulai memposisikan miliknya berada tepat pada organ intimnya hingga akhirnya tubuh mereka menyatu sempurna, meski sempat sedikit mengalami kesulitan di saat menembus gerbang kesucian milik Jenny.


"Hiks! Emmp.. Emmp!" Jenny tampak menahan sakit ketika Jeffrey mulai menggerakkan tubuhnya. Butiran bening menerobos begitu saja tanpa sopan.


"Apakah sangat sakit? Aku bisa menghentikannya," tanya Jeffrey seraya mengusap air mata yang membasahi muka gadis yang sudah berubah status menjadi seorang wanita beberapa detik yang lalu. Dia bahkan menghentikan pergerakan tubuhnya.


"Lanjutkan saja," jawab Jenny pasrah. Dia tidak mungkin membiarkan suaminya tersiksa karena gairahnya yang tak terobati.


"Coba tatap mukaku," pinta Jeffrey.


Dengan mimik muka yang masih menahan sakit, Jenny pun menuruti permintaan Jeffrey. Kedua netra mereka saling terkunci dengan posisi badan yang masih menyatu.


"Aahh! Aku sangat malu, mukaku pasti sangat jelek saat ini, hiks," gerutu Jenny lalu menutupi mukanya dengan kedua telapak tangannya.


Merasa pandangannya terhalang, Jeffrey menurunkan tangan Jenny hingga dia bisa memandangi muka Jenny kembali. Entah mengapa melihat muka cantik Jenny yang sedang menahan sakit seraya menggigit bibir bawahnya justru semakin menambah gairah libido-nya.


"Tidak! Kau terlihat sangat seksi sayang," bisik Jeffrey di telinga Jenny.


Akhirnya ritual pembukaan segel pada malam pertama berlangsung panas. Bahkan mesin pendingin ruangan seolah tidak mampu mengusir hawa panas yang berasal dari penyatuan raga sepasang anak manusia di atas ranjang.


Rasa sakit yang dirasakan Jenny mulai berangsur berganti kenikmatan yang memberikan rasa sensasi bergelenyar di setiap sel-sel tubuhnya.


Tidak pernah dikira, Jeffrey yang terkenal dengan keangkuhannya itu bisa bersikap begitu lembut. Dia memperlakukan istri kecilnya itu dengan sangat manis dan hati-hati.


Sepasang anak manusia itu begitu terbuai ke dalam kenikmatan penyatuan raga dan batin yang memabukkan dan membawanya melambung tinggi ke nirwana dunia.


Bersambung~~


...Untuk para Readers kesayangan:...


...Tolong biasakan tinggalkan like dan coment setelah membaca ya. Bila ada rejeki lebih Vote dan Gift juga boleh. Dukungan kalian sungguh membuat auhtor bahagia dan lebih semangat dalam mengetik. Terimakasih🥰...

__ADS_1


__ADS_2