
Gadis blonde tersebut membulatkan matanya ketika melihat gambar Sammy dan Alvin memenuhi monitor Security Door Camera. Jeffrey yang menyadari gelagat aneh Jenny langsung melempar G-string yang dia pegang ke atas meja dan mendekati Jenny. Sama hal-nya dengan Jenny, Jeffrey juga dibuatnya terkejut akan kedatangan Sammy dan Alvin.
"Tidak biasanya mereka datang tanpa memberi kabar dulu," gerutu Jeffrey.
"Terus kita harus bagaimana? Mereka bisa tahu kalau kita tinggal serumah," Jenny tampak panik.
"Kau bersembunyilah ke kamarmu dan jangan keluar sebelum mereka pergi," titah Jeffrey yang langsung diindahkan Jenny tanpa banyak bicara.
"Mau apa kalian kemari?" tanya Jeffrey dingin setelah Sammy dan Alvin mendaratkan bokongnya di atas sofa ruang tamu.
"Kami hanya ingin mengunjungi apartemenmu Jeff, bukankah biasanya kami juga sering bermain dan bahkan menginap di sini?" balas Alvin dengan sepasang mata menyelidik ruangan.
"Kau sungguh aneh Jeff, kau tampaknya tidak suka melihat kedatangan kami. Kenapa kau jahat sekali?" ucap Sammy memasang muka cemberut.
"Hentikan tingkahmu yang menjijikkan itu!" seru Jeffrey merasa jijik dengan mimik muka Sammy yang seperti banci kaleng.
"Aku haus sekali, aku akan mengambil minuman dingin dari dalam kulkas," Sammy beralasan yang sebenarnya memiliki tujuan lain kemudian dia beranjak dari duduknya.
"Sebenarnya kau mau kemana? Bukankan kulkas ada di dapur? Kenapa kau malah meleng ke arah kamarku?" Jeffrey merasa aneh dengan gelagat Sammy yang tampak mencari sesuatu.
"Oya, aku lupa kalau dapur ada di sebelah sana?" kilah Sammy lalu menuju ke dapur dan berakhir dengan satu kaleng minuman dingin di tangannya.
Brukk!
Suara yang seperti benda terjatuh terdengar sangat keras yang seketika menarik perhatian ketiga sekawan tersebut.
Di dalam kamar, Jenny tampak beringsut di pojokan ruangan karena merasa jijik dengan cicak yang entah darimana asalnya.
"Husst! Husst! Pergi, jangan mendekat!" Jenny berusaha mengusir hewan melata tersebut setengah berbisik karena tidak ingin suaranya terdengar sampai keluar, tapi hewan yang melindungi dirinya dari musuh dengan memutuskan ekornya tersebut justru semakin mendekati Jenny.
"Hiih! Kenapa hewan menjijikkan itu malah mendekat? Dia malah menjulur-julurkan lidahnya seperti bajingan mesum," gerutu Jenny yang semakin berinsut dan tanpa sengaja menyenggol barang yang berada di atas meja hingga terjatuh di lantai.
"Ahhh! Aku sangat jijik! Husst! Husst!"
Sedangkan di luar kamar.
"Suara apa barusan? Sepertinya ada orang lain di apartemenmu," kata Alvin yang baru saja mendengar suara dari dalam kamar gudang.
"Tidak ada orang lain di sini. Kalian sebaiknya pergi karena aku ingin beristirahat,"
"Aku yakin tadi ada suara dari dalam," Alvin tetap ngotot.
"I-itu mungkin karena ulah kucingku yang tidak sengaja menjatuhkan barang," kilah Jeffrey dengan suara lantang memberi kode kepada Jenny.
Meooong...
Terdengar suara kucing jadi-jadian yang tak lain suara Jenny yang langsung memberi jawaban dari kode yang disampaikan Jeffrey.
__ADS_1
"Waah.. Sejak kapan kau memelihara kucing? Aku ingin melihat hewan yang menggemaskan itu, sepertinya dia ada di dalam gudang," ucap Sammy yang hendak menuju gudang.
"Jangaaann!" teriak Jeffrey yang langsung membuat Sammy berhenti karena kaget.
"Kenapa kau suka sekali membuatku jantungan? Kau aneh sekali hari ini, aku hanya ingin melihat kucingmu," gerutu Sammy seraya mengelus sayang dadanya.
"Kucingku sedang kawin, apa kau tega mengganggu kesenangan mereka?" Jeffrey berbohong.
Bruk! Bruk! Bruaak!
Suara dari kamar gudang terdengar semakin keras yang tentu saja semakin membuat Sammy dan Alvin penasaran.
"Sebenarnya apa yang sedang di lakukan kucing kumuh itu di dalam? Apa dia tidak bisa tenang dulu sedikit?! gerutu Jeffrey di dalam hati yang sebenarnya dia semakin panik.
"Waah.. Sepertinya kucing pejantanmu suka bermain kasar dengan pasangannya Jeff, sungguh bringas!" cerocos Alvin.
"Jangan-jangan terjadi pemerkosaan di bawah umur," celetuk Sammy spontan.
"Kalian itu ngomong apa? Itu hanya kucing, mana ada kasus pemerkosaan yang dilakukan kucing?!" timpal Jeffrey jengah.
"Nyatanya ada kok," jawab singkat Sammy.
"Jangan bicara ngawur,"
"Itu kucing garong tetangga baru saja ditangkap polisi karena habis memperkosa nenek-nenek," celetuk Sammy asal yang langsung mendapatkan serangan dua bantal sofa bertubi-tubi dari Jeffrey.
"Apa kau yakin tidak ingin mengeceknya Jeff?" Alvin meyakinkan.
"Tidak perlu, biarkan saja,"
Duk! Duk! Bruak! Aaahkk!
Suara jeritan perempuan seketika membuat ketiga pria tersebut tercekat.
"Shit! Sepertinya aku sudah nggak bisa menutupinya lagi," batin Jeffrey yang mulai pasrah dan pada akhirnya dia melangkah lebar kakinya menuju ruangan tempat Jenny bersembunyi untuk memeriksa apa yang sebenarnya terjadi.
Jeffrey membuka knop pintu dan mendorong daun pintu ke dalam.
Hup!
Tubuh kokoh Jeffrey yang masih bertelanjang dada dengan spontan menangkap tubuh Jenny yang tiba-tiba meloncat ke arahnya dari dalam ruangan ketika daun pintu terbuka.
"Beruang kutub! Tolong usir cicak mesum itu, aku sungguh geli melihatnya," pekik Jenny yang masih dalam gendongan Jeffrey.
"Apa kau tidak menyadari kelakuanmu ini membuat kita ketahuan?!" geram Jeffrey setengah berbisik di telingan Jenny.
"Astaga!" Jenny terkesiap mendengar pernyataan Jeffrey.
__ADS_1
Semetara itu, Sammy dan Alvin yang menyaksikan pertunjukan di depannya seketika tercengang luar biasa dengan mulut yang menganga lebar dan kedua alis tertarik ke atas. Saat ini mereka melihat Jeffrey seakan sedang menggendong baby koala.
"Sepertinya kalian mempunyai hutang penjelasan kepada kami," tuntut Alvin yang masih setia dengan mimik muka tercengangnya yang diikuti Sammy dengan anggukkan kepalanya.
Jeffrey dan Jenny sedang duduk berdampingan di hadapan kedua orang yang baru saja memergoki mereka. Sammy dan Alvin terus menatap mereka dengan mimik muka mengintimidasi. Sepasang anak manusia muda tersebut tampak tak berkutik bagaikan kucing yang baru saja tertangkap basah mencuri ikan di pasar.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" Jeffrey merasa risih mendapat tatapan intimidasi dari kedua sahabatnya itu.
Sedangkan Jenny hanya terpaku tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
"Memangnya kami menatapmu bagaimana? Kau seakan telah melakukan sebuah kesalahan, bukankah begitu Alvin?" sindir Sammy mencari pembelaan kepada Alvin yang dibalas anggukan oleh yang berkesangkutan.
"Ayolah sampai kapan kau akan membuat kami menunggu penjelasanmu?" sela Alvin yang mulai gregetan.
"Oke. Oke. Aku akan cerita. Kalian berhentilah menatapku seperti itu," saut Jeffrey.
Akhirnya Jeffrey menceritakan semuanya tanpa ada yang ketinggalan. Dari awal mula dipaksa dalam perjodohan hingga alasan kenapa akhirnya mereka memutuskan untuk menerima perjodohan dan menikah, serta perihal pernikahan kontrak yang mereka buat sendiri, yang dimana kedua orang tua Jeffrey dan Jenny tidak tahu menahu hal tersebut.
Sammy dan Alvin mendengarkan penjelasan Jeffrey dengan khidmat seraya memanggut-manggutkan kepalanya.
"Dan jaga mulut kalian untuk tetap merahasiakan pernikahanku dengan gadis gila ini," titah Jeffrey di ujung ceritanya.
"Berarti pacarmu si Veronica juga belum mengetahui tentang ini?" tanya Alvin.
"Dia tidak tahu," jawab Jeffrey.
"Wah! Hidupmu memang selalu banyak kejutan Jeff. Kau masih berpacaran dengam Veronica di saat kau sudah beristri," cibir Alvin.
"Sungguh tak ku sangka, kau menikahi gadis yang selalu menjadi mangsa bully-anmu. Padahal selama ini kalian seperti sepasang musuh yang tak pernah akur," cicit Sammy tak percaya.
"Jika kau saja boleh berhubungan dengan wanita lain, bukankah itu juga berlaku untuk dia?" tanya Alvin seraya menunjuk ke arah Jenny yang masih terdiam.
Jeffrey tidak menjawab. Saat ini dia tampak berpikir. Entah apa yang dia pikirkan.
"Kenapa kau hanya diam? Jangan-jangan kau melarangnya untuk berkencan dengan pria lain. Kalau memang benar, kau sungguh tidak adil Jeff, kau egois, aku kecewa kepadamu," Kicau Sammy yang seakan ingin mewakili perasaan Jenny.
"Aku tidak pernah melarangnya," jawab Jeffrey cepat.
"Apa kau dengar barusan Jenn? Kau juga jangan mau kalah. Jangan biarkan si bocah tengik ini bersenang-senang sendiri," Sammy mencoba memprovokatori Jenny.
"Apa mungkin yang dikatakan Sammy itu benar? Tiba-tiba aku teringat Sean. Aku takut Sean akan kecewa jika tahu aku sudah menikah dengan Jeffrey, tapi.... Aku juga ingin tahu bagaimana rasanya berkencan, hiks!" batin Jenny yang sedang dilema
Bersambung~~
...Untuk para Readers:...
...Tolong tinggalkan jejak like, coment, rate 5. Kalau ada rejeki lebih bolehlah kasih vote atau hadiah sebagai bentuk dukungan kepada Author. Terimakasih🥰...
__ADS_1