
Di dalam sebuah kamar perawatan Rumah Sakit, Briana tampak menamati wajah gadis yang sedang terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang fasilitas Rumah Sakit. Seorang gadis yang telah menyelamatkannya dari mobil yang hampir menabraknya karena keteledorannya sendiri.
Sesaat Brina seperti merasakan dejavu. Kejadian beberapa saat yang lalu hampir sama dengan kejadian dua tahun yang lalu. Bedanya waktu itu bukan dia yang hampir tertabrak, melainkan putranya. Anak lelakinya lolos dari sebuah insiden tabrakan beruntun karena seorang pria tak dikenal berusaha mendorong tubuhnya, meskipun pada akhirnya pria tersebut yang harus kehilangan nyawanya setelah menolong putranya.
Setelah kejadian itu, putranya sempat mendapatkan syok berat karena melihat secara langsung pria yang telah menolongnya tertabrak mobil dan meninggal di tempat.
"Jenny Dawson," Briana tampak membaca ulang sebuah nama yang tertera pada kartu identitas milik gadis tersebut.
Dia mencoba mengingat sesuatu yang tidak dia ingat. Kemudian dia kembali menggiring manik matanya ke arah wajah Jenny yang masih terpejam. Menamati setiap inci muka Jenny.
"Mukamu mengingatkanku pada seseorang yang sudah lama ingin aku temui, tapi aku tidak tahu dimana dia sekarang," gumam Briana tersenyum tipis.
"Gadis ini seumuran dengan putra bungsuku," gumamnya lagi. Mungkin karena jiwa keibuan yang sudah melekat pada Briana, dia membelai pipi Jenny dengan sayang. Kemudian dia melirik ke arah kain perban dengan bercak darah yang menghiasi kepala Gadis itu dan hal itu membuatnya semakin merasa bersalah.
Cklek! Dizon muncul dari balik daun pintu kamar perawatan. Briana langsung memalingkan mukanya ke arah salah satu orang kepercayaannya tersebut.
"Bagaimana? Apa kamu sudah bisa menemui orang tuanya?" tanya Briana kepada Dizon.
Briana berpikir, bagaimanapun juga orang tua Jenny harus mengetahui keadaannya sekarang.
"Nyonya saya sudah datang ke alamat yang tertera di kartu identitasnya, tapi disana tidak ada siapapun. Saya mencoba bertanya kepada seorang Nenek yang tinggal di sebelahnya. Dia berkata penghuni rumah terlihat keluar rumah membawa barang-barangnya," lapor Dizon.
"Dan ada lagi Nyonya, kabar ini sangat mengejutkan," sambungnya lagi.
"Kita pernah datang ke alamat rumah yang tertera pada kartu identitas milik Gadis itu. Jenny Dawson adalah anak dari almarhum Thoman Dawson. Anak kandung dari orang yang telah menyelamatkan Tuan Muda, dan..," ucapan Dizon terputus karena Briana menyela.
"Apa?! Bukankah almarhum Thomas Dawson memiliki anak bernama Ella dari istrinya bernama Amber?" Briana tercengang.
"Ella adalah anak Amber bersama suaminya terdahulu sebelum menikah dengan almarhum Nyonya," beber Dizon lagi.
__ADS_1
"Dan..," ucapan Dizon menggantung.
"Dan apa lagi? cepat katakan? Kenapa kamu selalu suka menggantung ucapanmu?" Briana terlihat tidak sabar.
"Ella dan Amber yang merupakan keluarga tiri Nona Jenny ternyata selalu bersikap buruk kepadanya. Nona Jenny juga harus kerja part time untuk membiayai sekolahnya. Kemarin dia juga baru saja diusir dari rumah almarhum Tuan Thomas," beber Dizon lagi yang semakin membuat Briana tertegun.
"Ah, yang benar saja. Apa kita telah salah orang?" Briana tampak kecewa.
FLASHBACK ON
Mobil Briana sudah terparkir rapi di pekarangan keluarga Dawson.
"Perkenalkan nama saya Briana Allison, saya adalah orang tua dari pemuda yang telah diselamatkan almarhum Tuan Thomas Dawson," ucap Briana ramah.
Amber yang mengetahui hal itu langsung terisak berurai air mata. Tanpa disadari Briana, bahwa Amber hanya bersandiwara.
"Kalau bukan karena menolong putra anda mungkin saya tidak menjadi janda sekarang, mungkin anakku tidak kehilangan Ayahnya," keluh palsu Amber seraya menundukkan kepalanya.
Air matanya benar - benar menetes. Entah bagaimana cairan bening palsu bisa semudah itu mengalir, seakan memberi dukungan dalam drama yang dibuatnya.
"Sebelumnya saya ingin bertanya, apakah almarhum memiliki anak lain selain gadis ini?" tanya Briana seraya melirik ke arah Ella yang sedang duduk di sebelah Amber.
"Dia adalah putri satu - satunya, tidak ada yang lain," jawab Amber berbohong.
"Jadi begini Nyonya Dawson, saya datang kemari selain ingin meminta maaf tapi juga ingin mengucapkan banyak terimakasih. Karena bagaimanapun juga, nyawa putra saya tertolong berkat jiwa kepahlawanan almarhum," Briana menghentikan ucapannya. Memberi kesempatan kepada orang yang ada di depannya untuk mencerna perkataannya.
"Saya akan membiayai pendidikan putri anda hingga ke jenjang pendidikan S2 dan memberi sedikit modal untuk mengembangkan bisnis keluarga Dawson," sambung Briana lagi.
"Benarkah?" Amber reflek menampakkan muka senangnya namun segera kembali ke mode sedih lagi sebelum Briana menyadarinya.
__ADS_1
Batin Amber tertawa jahat mengetahui dia akan mendapatkan keuntungan dari kematian suaminya. Sedangkan Ella hanya terdiam, menyimak percakapan Briana dan Amber. Jangan salah, sama halnya dengan Amber, Ella juga tertawa dalam kebisuannya.
"Saya sangat berterimakasih Nyonya," ucap Amber yang masih tersedu - sedu.
"Anda tidak perlu berterimakasih Nyonya, apa yang saya berikan tidak sebanding dengan apa yang telah almarhum korbankan ," ucap Briana.
FLASHBACK OFF
"Apa kamu tidak menemukan dimana Ibu kandungnya tinggal saat ini?" Briana masih terus mengorek informasi tentang Jenny. Terlepas dari itu, dia harus bertanggungjawab tentang apa yang telah menimpa gadis malang di hadapannya saat ini.
"Maaf Nyonya, saya hanya menemukan informasi kalau Ibu kandung tinggal di kota Cambrigde, namun tentang alamat pastinya saya belum menemukannya," jawab Dizon merasa tidak enak.
"Ya sudah, kita akan menanyakannya ketika gadis ini siuman. Seharusnya kita bisa dengan mudah menghubungi Ibunya jika saja ponselnya tidak rusak," sesal Briana.
"Maaf Nyonya, tentang keluarga tiri Jenny, mereka sudah berbohong, apakah kita perlu memberi pelajaran kepada mereka?" tanya Dizon ragu.
"Biarkan saja, bagaimanapun juga mereka tetap keluarga alhamarhum. Kelak mereka akan memanen hasil dari perbuatan mereka sendiri,"
"Baik Nyonya, kalau begitu saya permisi dulu," Dizon berlalu keluar ruangan.
"Tidak kepada almarhum Thomas saja, bahkan kini aku juga merasa sangat berhutang budi kepada Putrinya,"
"Tapi selain itu, mengapa hatiku merasa hangat ketika melihat mukanya? Aku sepertinya menyukai gadis ini. Aku sangat yakin dia adalah gadis baik. Andai saja dia mau menjadi menantuku kelak. Aku pasti akan sangat senang," Briana berdialog dengan dirinya sendiri.
Bersambung~~
Terimakasih sudah mampir ke karyaku ya. Author sangat mengaharapkan dukungan like, coment, rate, vote/hadiah dari kalian agar lebih semangat dalam menulis🥰. Jika dukungan itu terlalu berat bagi para Reader, minimal tinggalkanlah like👍saja Author sudah sangat senang🙏
Semoga kalian sehat dan bahagia selalu🙏
__ADS_1