Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn

Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn
Insiden Tenggelam


__ADS_3

Hari ke tiga di Amsterdam, Jeffrey dan Jenny kembali mengisi agenda honeymoon mereka dengan mengunjungi Artis Zoo, yaitu sebuah kebun binatang yang terletak di pusat kota Amsterdam. Artis Zoo adalah salah satu kebun binatang tertua di daratan benua Eropa. 


"Kenapa kau begitu lama? Ini sudah hampir siang, Jangan salahkan aku jika kau tidak jadi memberi makan jerapah," ucap Jeffrey.


Jenny lantas melirik tajam ke Jeffrey seraya mendengus kesal.


"Apa kau sedang menyalahkanku sekarang? Coba kalau kau semalaman tidak meminta jatah terus-terusan, aku mungkin tidak kelelahan dan bisa bangun lebih pagi," sembur Jenny seraya berdecak pinggang.


"Kau masih mau menyalahkanku?" sambung Jenny lagi.


"B-bukan begitu maksutku," jawab Jeffrey yang mulai terpojokkan.


"Malam ini kau tidur di sofa saja dan jangan harap kau bisa melakukannya lagi malam ini," dengus Jenny seraya melempar mukanya ke sembarang arah.


Jeffrey yang mendengar ancaman Jenny sontak berdiri cepat dari duduknya lalu memeluk tubuh kecil Jenny. Entah mengapa ancaman Jenny yang satu itu lebih mengerikan dari pada ancaman maut Darwin yang akan membekukan kartu kreditnya.


"Jangan lakukan itu aku mohon, mana mungkin kau bisa setega itu kepadaku," mohon Jeffrey tampak melas.


"Sumpah, aku sedang tidak menyalahkanmu, aku hanya takut kau akan bersedih jika tidak jadi memberi makan jerapah. Kau kan tahu sendiri, kita hanya bisa memberi makan binatang pada waktu-waktu tertentu saja," kilah Jeffrey berharap Jenny menarik kembali ancamannya tadi.


Jenny masih bergeming, ia masih sangat kesal karena Jeffrey seolah menyalahkannya.


"Jangan marah ya, aku minta maaf. Kau ingin apa agar kau tidak marah lagi? Hm?" rayu Jeffrey namun tidak ada balasan dari Jenny.


"Apa kau ingin barang-barang mewah, seperti baju, tas, sepatu bermerek, dan perhiasan? Aku bisa membelikannya untukmu,"


"Kau kira aku wanita matre yang selalu luluh ketika diiming-imingi barang mewah? Apa kau sedang memandang rendah diriku?" semprot Jenny seraya melepaskan tubuhnya dari lilitan tangan kekar Jeffrey yang tentu hal itu semakin membuat Jeffrey kebingungan.


"Mampus! Sepertinya aku salah bicara lagi, kau memang bodoh Jeff" lirih Jeffrey, mengutukki dirinya sendiri.


Pria bermata elang itu masih berusaha memikirkan sesuatu yang bisa merubah mood istrinya yang sedang buruk. Selang tidak lama lampu pijar yang tak kasat mata menyala terang di atas kepalanya sebagai tanda sebuah ide brilian sudah memenuhi otaknya.


"Hmm, apa kau ingin memelihara binatang di apartemen kita? Katakanlah kau ingin hewan apa dan aku akan membawanya untukmu," tawar Jeffrey dengan rayuannya.


Mimik muka Jenny seketika berubah berseri-seri.


"Benarkah? Aku ingin memelihara hewan berbulu," ucap Jenny melontarkan keinginannya dengan antusias.


"Hewan berbulu? Apa seperti tikus? Menurutku sebaiknya jangan hewan yang satu itu," Jeffrey berniat menggoda istrinya.


Merasa kesal Jenny meninju dada bidang Jeffrey sehingga membuatnya seketika meringis seraya menyentuh dada bagian yang terkena tinju Jenny seolah merasa sakit suungguhan padahal bohong.


"Begitu banyak hewan berbulu di dunia ini kenapa harus hewan tikus yang kau sebut?" sembur Jenny dengan bibir manyun 1 meter.


Jeffrey merasa gemas melihat reaksi muka Jenny, sejurus dia mencapit bibir yang masih mengerucut tersebut menggunakan jari telunjuk dan ibu jarinya.


"Apa kau sedang menggodaku dengan bibirmu ini? Hm?" tanya Jeffrey.


Jenny menggeleng lalu melepas capitan jari Jeffrey dari bibirnya. "Enak saja kalau ngomong, kau memang masih sangat menyebalkan," sungut Jenny menyanggah perkataan Jeffrey.


"Apa kau ingin memelihara panda? Atau mungkin harimau atau srigala? Mereka juga hewan berbulu,"


"Bolehkah?" sahut Jenny dengan mata seketika berbinar-binar yang langsung mendapat hadiah sentilan di keningnya.


"Aw! Kenapa kau malah menyentilku?" protes Jenny seraya mengusap keningnya.

__ADS_1


"Dasar bodoh! Apa kau ingin menjadikan apartemen kita seperti kebun binatang?" tukas Jeffrey.


"Kau sendiri yang menawarkan tadi. Baiklah aku ingin memelihara anak kucing,"


"Anak kucing?" Jeffrey tampak berpikir. "Baiklah setelah kembali dari bulan madu, aku akan membelikanmu anak kucing,"


"Yey! Terimakasih beruang kutubku," girang Jenny reflek menghadiahkan satu kecupan pada pipi Jeffrey.


Jeffrey yang mendapat serangan dadakan dari Jenny yang begitu singkat merasa tidak puas, ia sontak menarik tubuh kecil istrinya dan membaring ke ranjang dengan kasar.


"Apa mungkin sebaiknya kita ke Artis Zoo besok saja?" saran Jeffrey kemudian menghadiahkan kecupan ringan di bibir Jenny. Sejujurnya Jeffrey lebih suka menghabiskan waktu bulan madunya bermesraah di kamar bersama istrinya.


"Nggak mau, Aku ingin sekali memberi makan jerapah, ayo kita berangkat sekarang," Jenny langsung beranjak dan menarik tangan Jeffrey agar segera bangkit dari ranjang.


。。。


"Lidahnya terasa kasar dan membuatku geli," Jenny terkikik ketika lidah jerapah tanpa sengaja menjilat tangan Jenny yang sedang mengulurkan makanan sayuran berupa wortel dan kacang panjang.


"Beruang kutub sebaiknya kau juga mencoba memberi makan mereka, ini sangat menyenangkan," saran Jenny di sela tawanya.


Alih-alih merespon ucapan Jenny, pria bermuka masam itu malah tampak mendengus.


"Apa binatang ini pejantan?" tanya Jeffrey kepada pengawas kebun binatang yang bertugas menjaga area tempat para pengunjung memberi makan jerapah.


"Iya tuan, yang itu kebetulan pejantan," jawab si pengawas dengan ramah.


"Pantas saja, dasar jerapah mesum, berani-beraninya dia mencoba menggoda kucing kecilku," gerutu Jeffrey yang seketika mendapat perhatian pengunjung sekitar yang tampak menyembunyikan tawa mereka.


Sedangkan Jenny, dia hanya mendesis jengah karena tingkah Jeffrey yang menurutnya sangat berlebihan.


"Beruang kutub aku ingin berfoto dengan simpanse itu," pinta Jenny.


"Boleh, tapi harus dengan yang betina," ucap Jeffrey ketus.


Jenny memutar kedua bola matanya. Dia merasa heran, bisa-bisanya suaminya itu cemburu dengan hewan.


Tidak ingin berdebat, Jenny menuruti perkataan Jeffrey lalu mereka lantas menuju ke stand yang disediakan khusus bagi pengunjung yang ingin berselfi dengan hewan-hewan yang sudah jinak seperti simpanse salah satu contohnya.


Tidak terasa mereka mengitari kebun binatang sudah selama 3 jam hingga waktu makan siangpun tiba. Kali ini mereka memilih mengisi perut kosong mereka dengan street food berupa stroopwafles sambil menikmati keramaian Bloemenmarkt.


*Bloemenmarkt adalah pasar bunga terapung di Amsterdam dan menjadi satu-satunya di dunia.


"Kau tunggulah di sini, aku akan ke seberang jalan untuk membelikan makanan yang kau minta, ingat jangan kemana-kemana kalau tidak ingin tersesat," tutur Jeffrey seolah paham bahwa istri kecilnya itu susah untuk berdiam diri terlalu lama.


"Iya iya.. Kenapa kau sekarang cerewet seperti nenek-nenek ompong?" cibir Jenny yang langsung mendaratkan bokongnya pada bangku yang terletak tidak jauh dari tepian kanal.


"Anak pintar," puji Jeffrey seraya mengayak gemas rambut Jenny sehingga tampak sedikit berantakan, kemudian pergi menuju penjual stroopwafles yang berada di seberang jalan.


Suasana area pasar terapung sedang tampak ramai pengunjung wisatawan asing saat ini. Tak heran kalau banyak pengguna jalan kaki yang berlalu lalang di depan Jenny.


Gadis blonde itu tampak sedikit bosan, dia mencoba beranjak dari duduknya dan lebih mendekatkan diri di tepian kanal air yang tidak jauh dari bangku duduk untuk menghilangkan kejenuhannya.


Sepasang netranya begitu fokus menyapu pemandangan di depannya dan tanpa ia sadari, seseorang yang mempunyai niat jahat diam-diam menyelinap di sela-sela keramaian dan perlahan mendekatinya dari belakang.


"Kyaaaakk!"

__ADS_1


Byuurrr...!


Pekik Jenny sebelum tubuhnya terjun bebas ke dalam kanal air yang lumayan dalam. Jenny yang pada dasarnya tidak memiliki kemampuan berenang seketika berteriak minta tolong.


"T-tolong! hmp! T-tolong...! Hmp" teriak Jenny yang tampak berkali-kali secara paksa menelan air kanal. Tubuhnya beberapakali tampak tenggelam lalu kembali muncul ke permukaan.


Jenny berusaha mati-matian agar tangannya bisa menggapai pinggiran kanal sebagai pegangan namun hasilnya tampak sia-sia. Tubuhnya bahkan tidak bisa berpindah dari tempatnya tenggelam. pergerakan tubuhnya perlahan-lahan terkikis. Hingga akhirnya tenaga yang dia miliki mulai terkuras habis dan tubuhnya tenggelam ke dasaran kanal.


Beberapa saat kemudian Jeffrey yang baru saja kembali dengan membawa dua bungkus stroopwafles pada setiap tangannya tampak memperhatikan kehebohan kerumunan orang yang berada tidak jauh dari tempat Jenny menunggunya.


Dia merasa janggal karena tidak dapat menemukan sosok Jenny disana. Entah mengapa firasat buruk mulai merayapi hatinya. Seolah kata hatinya berbisik dan menuntunnya, ia pun berlari menembus kerumunan orang dan mencari tahu apa yang sedang terjadi hingga akhirnya dia dibuat terkejut dengan apa yang ditangkap oleh kedua lensa matanya saat ini.


"Jenny! Apa yang terjadi?!" pekik Jeffrey yang langsung berhamburan ke arah istrinya yang tampak terbaring di atas tanah dengan kondisi tak sadarkan diri.


"Tadi nona ini tenggelam di kanal air Tuan," jelas seorang pria asing yang telah menolong Jenny.


Jeffrey yang mendengar penjelasan dari pria tersebut langsung berinisiatif memberikan pertolongan pertama kepada Jenny. Dia berusaha sebisa mungkin untuk tidak terlalu tenggelam dalam kepanikannya dan berusaha fokus mimikirkan cara untuk menyelamatkan Jenny.


Pertama dia memeriksa pernapasan Jenny dengan mendekatkan telinganya ke hidung Jenny, namun tidak ada tanda-tanda pernapasan. Kemudian ia mencoba memeriksa denyut nadinya, namun hasilnya juga sama. Pergerakan jantungnya pun tidak terasa.


Sepasang mata Jeffrey mulai memanas, perasaan takut kehilangan mulai menyelubung hati dan pikirannya. Melihat tubuh Jenny yang terkapar tak berdaya seolah ada ribuan batu yang menghantam tubuhnya.


"Sayang, aku mohon sadarlah!" teriak Jeffrey seraya melakukan teknik CPR. Dia berulang kali menekan dada Jenny dengan kedua tangannya. Napas buatan juga tidak tak luput dari usahanya.


*CPR  (Cardiopulmonary Resuscitation) atau dikenal juga dengan sebutan RJP ( Resusitas Jantung Paru ) adalah tindakan medis darurat yang dilakukan untuk orang-orang yang kesulitan bernapas secara normal atau mengalami henti jantung dengan cara menekan di area dada korban.


Hampir 10 menit usaha Jeffrey berlangsung, namun tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan pergerakan.


"Arrrggg! Aku mohon sadarlah kucing kumuh! Kalau tidak, aku akan menghukummu dengan sangat kejam!" teriak Jeffrey yang masih memompa dada Jenny dengan air mata yang sudah tak tertahan dan akhirnya jatuh begitu saja membasahi pipi.


Putus asa, iya saat ini rasa putus asa hampir saja merangkak merajai jiwanya. Namun raganya masih enggan bersinkron dengan pikiran hatinya. Dengan tenaga yang hampir terkuras dan tubuh yang sudah berpeluh keringat, pria itu tak henti-hentinya memberikan tindakan CPR. Hingga akhirnya dengan segala keputus asa'annya, dia memberi pukulan keras pada dada bagian atas Jenny.


"Aku mohon bangunlah! Kau tidak boleh mati!" pekik Jeffrey frustasi.


"Uhuk! Uhuk! Hah! Hah! Uhuk!" Jenny terbatuk-batuk memuntahkan semua air yang memenuhi paru-parunya.


"Sayang, akhirnya kau sadar! Syukurlah, kau membuatku khawatir," ucap Jeffrey yang langsung memeluk tubuh Jenny yang masih terlihat lemas. Rasa lega seketika menyingkirkan perasaan cemas Jeffrey.


"Beruang kutub.." ucap Jenny sebisa mungkin.


Mobil ambulan datang pas ketepatan sadarnya Jenny. Karena masih membutuhkan penanganan lebih lanjut, Jenny pun di bawa ke Rumah Sakit terdekat.


Sedangkan di sudut lain, tampak dua orang yang sedang mengawasi diam-diam insiden tenggelamnya Jenny di balik kerumunan orang-orang.


"Apa kau gila?! Kenapa kau berbuat nekat? Bagaimana kalau dia sampai mati?!" hardik si pria.


"Aku awalnya hanya ingin memberi dia pelajaran. Aku tidak menyangka bakal separah itu? Tapi aku tidak menyesal melakukannya. Dia memang pantas mendapatkannya," timpal si wanita dengan seringai sinisnya.


"Apa kau lupa, aku mau membantumu dengan syarat wanita itu harus menjadi milikku. Kalau dia mati, apa untungnya aku membantumu," tukas si pria.


Bersambung~~


...Untuk para Reader tersayang:...


...Mohon tinggalkan like dan komen pada setiap babnya setelah membaca ya.. Jika ada rejeki lebih bolehlah sumbangkan vote dan gift kalian untuk karya kentangku ini. Mohon maaf jika Nofi terkesan mengemis dukungan kalian. Tapi memang kenyataannya begitu sih🤣...

__ADS_1


...Terimakasih🙏🥰...


__ADS_2