
Jeffrey mengibas-ngibaskan tangannya yang terasa perih karena gigitan brutal Jenny. Terlihat darah segar sedikit mengintip dari robekan luka yang membentuk deretan gigi tersebut.
"Sepertinya kau rajin sekali mengasah gigi-gigimu itu sehingga begitu tajam seperti gergaji," cibir Jeffrey dengan ringisan di muka masamnya yang khas.
"Sebenarnya apa maksutmu menyeretku dengan paksa?" Jenny tampak celingukkan menyelidik lingkungan di sekitarnya yang tampak sepi.
"Ikut aku sekarang," Jeffrey hendak meraih kembali tangan Jenny namun pemilik tangan tersebut dengan sigap menjauh mengambil satu langkah ke belakang.
"Aku tidak mau, kau pasti mau berbuat yang tidak-tidak," tuduh Jenny yang sudah memasang posisi siap siaga.
"Ck! Aku bahkan tidak nafsu melihat penampilanmu," cemoh Jeffrey.
"Baguslah kalau begitu," balas Jenny lalu memutar tubuhnya berniat pergi dari hadapan Jeffrey.
Akan tetapi, niatnya tersebut kandas dia lakukan karena sekali lagi Jeffrey meraih tangan Jenny dan menyeretnya mendekati motor sport yang terparkir cantik tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Entah bagaimana ceritanya, Jenny yang sedari tadi meronta minta dilepaskan namun berakhir dengan posisi tubuh sudah menduduki jok motor belakang milik Jeffrey. Yang dia ingat lelaki itu dengan mudahnya mengangkat tubuh kecilnya yang mungkin terasa ringan dan meletakkannya di atas kendaraan besi roda duanya. Dengan cekatan Jeffrey segera mengenakan helmnya dan menyusul jenny menaiki motor lalu mulai melajukannya keluar gerbang kampus.
"Apa kau tidak bisa diam?! Turuti saja perintahku dan duduklah dengan tenang!" seru Jeffrey yang kesulitan menjaga keseimbangan motornya karena Jenny berusaha untuk turun dari motor yang masih menembus jalanan sepi kota Cambridge.
"Tidak, turunkan aku sekarang juga!" Jenny beberapa kali memukul punggung bidang Jeffrey.
Motor masih melaju dengan kecepatan sedang. Jeffrey yang merasa jengah lalu menarik maju tangan Jenny dengan sebelah tangannya untuk menghentikan tindakannya yang bisa menyebabkan kecelakaan lalu lintas tersebut.
Jenny berusaha menarik tangan dari cengkraman Jeffrey namun kekuatannya kalah telak. Jeffrey justru melilit tangan kecil miliknya melingkari perut kerasnya sehingga membuat tubuh Jenny menempel di punggung lebar Jeffrey seperti cicak.
Siapa yang tahu, di balik helm full face miliknya, muka Jeffrey seketika memerah. Dia merasa ada dua gundukan kenyal yang menekan tubuh belakangnya. Jika dibiarkan terlalu lama, kemungkinan Jeffrey pulang dengan membawa dua lubang kembar sumber mata air susu yang tercetak di punggungnya.
"Sial! Tubuhnya membuatku merasakan hal aneh," umpat Jeffrey di dalam hati.
__ADS_1
Sontak dia menarik handle rem secara mendadak yang justru membuat punggungnya terasa semakin hangat karena dua tubuh anak manusia yang saling menempel. Jeffrey segera melepaskan lilitan jari-jari panjangnya dari pergelangan tangan perempuan yang dia juluki si kucing kumuh tersebut.
"Jauhkan tubuhmu sekarang juga, kau bisa melubangi punggungku," ucap Jeffrey ketus dengan sedikit memutar lehernya ke samping, melirik muka Jenny melalui ujung sudut mata elangnya.
Jenny yang baru menyadari jarak tubuhnya dengan Jeffrey terlalu intim sontak membuat dia terkesiap dan mendorong tubuh Jeffrey hingga terhuyung ke depan. Tampak muka Jenny yang mulai merona seperti kepiting rebus karena ucapan frontal Jeffrey.
Jeffrey melepas helm full face yang membungkus kepalanya dan meletakkannya di atas tangki motornya.
"Menjauhlah sedikit! Tubuhku jadi ternodai gara-gara berdekatan denganmu," sarkas Jeffrey.
Jenny tercengang mendengar kalimat hinaan dari mulut tajam Jeffrey. Kedua bibir kenyalnya menganga dua jari, mata almondnya membulat, dan alis tipisnya terangkat ke atas. Dia sungguh tidak percaya Jeffrey bisa berkata seperti itu, padahal jika Jeffrey tidak bertindak serampangan, tubuhnya tidak mungkin menempel ke punggungnya.
"Hah? Yang benar saja. Apa aku tidak salah dengar?! Bukankah kau yang memaksaku dan menarik tanganku hingga tubuhku menempel ke tubuhmu?!" Sanggah Jenny membenarkan. Jika memungkinkan, dia sangat ingin melempar manusia di depannya ke belahan bumi kutub selatan Antartika.
Dengan dada yang masih naik turun karena perasaan kesal yang sudah meletup-letup Jenny menuruni motor sport yang ditungganginya.
"Kemana kamu pergi selama ini?" tanya Jeffrey terus terang dengan muka dinginnya.
Memang, selama Jenny meninggalkan kota London, Jeffrey dibuat resah karena pada saat itu Jenny pergi dengan membawa kesalahpahaman. Hal itu sangat mengganggu pikirannya.
"Aku kembali ke rumah Mama kandungku di kota ini, memang kenapa?" jawab Jenny jengah seraya berdecak pinggang.
"Kamu pasti sangat senang bukan? Waktu itu, di acara pesta ulang tahun Ella kamu berhasil mempermalukanku di depan banyak orang. Dan bukannya kamu juga sangat puas melihatku diusir dari rumahku sendiri? Tanpa kamu katakan, aku sudah bisa membaca niat burukmu yang ingin balas dendam dengan menyiksaku," Jenny membeberkan isi hatinya.
"Aku tidak ada sangkut pautnya dalam rencana mempermalukanmu waktu itu, aku hanya menghadiri undangan dari saudara tirimu," bantah Jeffrey.
"Asal kamu tahu aku selama ini," sambung Jeffrey yang terputus.
"Selama ini apa? Tidak usah berkilah. Rasa benciku kepadamu sudah berakar," timpal Jenny sinis.
__ADS_1
Jenny mendengus kasar. Otaknya mengulang ingatan ketika insiden ciuaman pertamanya yang sangat tidak menyenangkan. Jenny menggigit bibir bawahnya guna menahan semburan umpatan yang masih tertinggal di tenggorokan. Tapi tidak bisa. Gadis blonde tersebut tidak tahan dan pada akhirnya pertahanannya runtuh.
"Dasar orang gila berotak mesum!" maki Jenny.
"Jaga mulutmu kucing kumuh!" Jeffrey tidak terima seraya menunjuknke arah muka Jenny dengan tatapan tajamnya. Entah mengapa dia sangat tidak suka ketika Jenny mengatainya orang mesum. Jeffrey bahkan belum berpengalaman banyak dalam bermain cinta apa lagi melakukan hubungan sex.
"Kamu! Asal kamu tahu, kamu sudah mencuri ciuman pertamaku! Kenapa harus kamu?! Seharusnya ciuman pertamaku itu bersama seseorang yang aku cintai. Haiiis! Itu sangat menyebalkan sekali!" Jenny mulai mengungkit salah satu alasan yang membuatnya kesal pada Jeffrey hingga saat ini.
"Itu hanya kecelakaan. Lagian mana mungkin aku melakukannya dengan sengaja sedangkan penampilanmu saja bikin aku tidak nafsu," Cemoh Jeffrey yang juga merasa kesal.
"Kamu! Hah!" Jenny sudah tidak bisa berkata-kata.
"Aku juga di rugikan! Kau mempermalukanku dengan menuduhku mesum dan menamparku di depan umum," Jeffrey tidak mau mengalah.
Jenny sejenak terdiam. Dia mencoba mengambil napas dalam-dalam hingga memenuhi rongga paru-parunya kemudian melepasnya perlahan diikuti gerakan tangan naik turun. Dirasakan emosi jiwanya bisa sedikit terkontrol gadis bermata biru tersebut mulai berkata lagi.
"Jeffrey, aku sangat ingat namamu itu. Bukan karena aku menyukaimu, melainkan kau selalu memberi kesan buruk padaku. Mungkin selamanya aku akan tetap membencimu Jeffrey Allison," tandas Jenny dengan nada tenang tapi penuh penekanan.
Tanpa menunggu respon dari Jeffrey, gadis itu lantas melenggang pergi dari hadapannya. Jeffrey urung mengejar Jenny. Lelaki tampan itu hanya menatap punggung gadis tersebut dengan sorotan mata tak terbaca. Hingga tubuh Jenny mulai tampak mengecil dari pandangannya, sebuah mobil sport terlihat berhenti di tepi jalan yang bersebelahan dengan Jenny.
Sean, dialah pemilik mobil tersebut. Sean tampak keluar dari mobil dan mendekati Jenny. Sekilas mereka tampak melakukan percakapan singkat dan pada akhirnya Jenny masuk ke dalam mobil Sean yang selang tidak lama melaju menembus jalan kota dan benar-benar menghilang dari tangkapan manik hijau Jeffrey yang sedari tadi mengamati.
"Baiklah kalau itu maumu Jenny Dawson, persiapkan dirimu untuk menerima kejutan-kejutan dariku," ucap Jeffrey menyeringai.
Bersambung~~
Terimakasih sudah mampir ke karyaku ya. Author sangat mengaharapkan dukungan like, coment, rate, vote/hadiah dari kalian agar lebih semangat dalam menulis🥰. Jika dukungan itu terlalu berat bagi para Reader, minimal tinggalkanlah like👍saja Author sudah sangat senang🙏
Semoga kalian sehat dan bahagia selalu🙏
__ADS_1