
Setelah menyantap makan malam, Sean mengantar sang pujaan hatinya ke apartemen sahabat Jenny, Daisy. Jenny berdiri di depan pintu dan beberapa kali menekan tombol bel pintu. Tidak butuh waktu lama, daun pintu langsung terbuka dan Daisy tampak menyembul dari sana. Gadis berwajah imut itu seketika memasang mimik muka heran melihat plester luka yang tertempel di kening Jenny.
"Jenn, apa kau baik-baik saja? Apa kau baru saja terjatuh?" tanya Daisy cemas.
"Apakah sopan kau bertanya pada tamu yang masih berdiri di depan pintu?" cebik Jenny.
Daisy nyengir kuda dan mempersilahkan Jenny masuk. "Oiya, cepatlah masuk,"
Ketika Jenny menjejakkan kakinya ke dalam, dia juga di sambut oleh Jullian dan Avellyn yang juga langsung memasang mimik muka heran dan bertanya-tanya.
"Jullian? Avellyn? Kalian juga di sini?" tanya Jenny senang namun langsung memasang muka datar karena ketiga sahabatnya itu menatapnya dengan sorotan menuntut sebuah jawaban.
"Iya.. Iya.. Aku tadi kurang berhati-hati saat berjalan terus terjatuh karena tersandung batu, jadi beginilah hasilnya," terang Jenny berbohong. Dia juga menyembunyikan luka bekas kuku Veronica yang menacap di pergelangan tangannya. Dia hanya tidak ingin para sahabatnya itu semakin membombardir pertanyaan-pertanyaan yang sangat ingin dia hindari.
"Apa batunya baik-baik saja?" celetuk Jullian dengan muka datarnya.
"Ck! Harusnya aku bawa pulang batunya biar kau bisa tahu kalau batunya baik-baik saja. Kau sungguh membuatku terharu," cebik Jenny lalu menghempaskan tubuhnya di atas sofa apartemen Daisy.
Pffftt!
Daisy tampak menahan tawanya karena celotehan Jenny. "Tapi kau baik-baik saja kan Jenn? Apa kau merasakan pusing?"
"Ini hanya luka kecil kok," sahut Jenny.
"Apa kau sudah makan malam Jenn?" sela Avellyn.
"Tadi Sean mengajakku makan malam sebelum mengantarku ke sini," jelas Jenny.
"Jadi kau di antar Sean? Kenapa tidak kau ajak masuk ke dalam sekalian?" Avellyn tampak antusias.
"Waah! Jadi kau berharap Sean ada di sini?" sela Jullian tidak suka.
"Ups! Sepertinya aku keceplosan. Aku senang kalau dia bergabung dengan kita, selain tampan dia supel banget,"
"Kau berani memuji pria lain di depanku? Baiklah kita putus saja," gertak Jullian.
"Apa?! Jadi kau berani memutusku? Baiklah!" Avellyn kembali menggertak seraya memunggungi yang langsung membuat Jullian beringsut memasang muka puppy eyes.
Jenny dan Daisy hanya bisa menggeleng seraya menepuk jidat. Pemandangan yang seperti ini sudah sering mereka lihat. Sepasang kekasih itu akan selalu berkata putus saat mereka mendebatkan hal sekecil apapun, tapi nyatanya hubungan mereka masih baik-baik saja hingga sekarang.
"Jenn, tidak seperti biasanya kau mau menginap di tempatku? Kau sedang tidak ada masalah dengan suamimu kan?" pertanyaan Daisy sontak mengalih perhatian Jullian dan Avellyn yang sedang berdebat.
"Bukankah kau tau sendiri aku dan Jeffrey itu seperti anjing dan kucing, tapi bukan karena itu aku disini. Aku memang lagi ingin menginap di tempatmu saja," lagi-lagi Jenny berbohong. Dia benar-benar tidak ingin ketiga sahabatnya mengetahui permasalahan yang baru saja di hadapi.
Baginya itu hanya masalah kecil yang harus dia selesaikan sendiri. Tapi untuk saat ini, Jenny memang masih malas bertatap muka dengan Jeffrey. Dia masih sangat kecewa dengan suaminya itu.
"Jenn, apakah status pernikahan kalian tidak bisa dilakukan dengan sehat?" Jullian menyela dengan tampang yang tiba-tiba berubah serius.
"Maksutnya gimana Jull?" tanya Jenny.
"Maksutku, berhentilah menjadikan ikatan janji suci suatu pernikahan sebuah permainan. Apa itu nikah kontrak? Bukankah itu hal konyol?" tutur Jullian.
"Bukan aku Jull tapi Jeffrey sendiri yang membuat perjanjian itu, apa lagi dia tahu aku menerima pernikahan ini karena uang, aku sudah tidak punya muka untuk membantah," terang Jenny.
"Sekarang bagaimana perasaanmu terhadap Sean?" Jullian masih bertanya serius. Sedangkan Avellyn dan Daisy berusaha menjadi pendengar yang baik.
"Hmmmm, aku selalu merasa nyaman ketika bersamanya. Dia selalu perhatian dan baik kepadaku, mungkin karena aku memang benar-benar menyukainya sebagai pria,"
__ADS_1
"Sekarang aku bertanya, apa kau merasa nyaman ketika bersamaku?"
"Tentu saja aku juga merasa nyaman ketika bersamamu, kau selalu perhatian dan baik kepadaku," jawab Jenny tulus.
"Apa itu bertanda kau menyukaiku sebagai pria?" Jullian masih terus mengorek perasaan Jenny dengan pertanyaan-pertanyaan menjebaknya.
"Tidaklah, rasa sukaku ke kamu hanya sebatas sahabat kesayanganku," timpal Jenny yakin.
"Perasaan yang kau miliki terhadap Sean bisa saja sama dengan perasaanmu kepadaku Jenn. Aku hanya ingin mengingatkanmu saja, jangan memberi harapan yang dimana bisa menyakiti perasaan Sean kelak, berhati-hatilah dengan hatimu,"
"Lagian kau masih berstatus istri orang, aku rasa itu tidak baik jika kau berhubungan dengan pria lain, meski pernikahan kalian berawal dari keterpaksaan tapi hal itu tidak menutup kemungkinan hubungan kalian bisa terjalin dengan baik seiring berjalannya waktu bukan," tutur Jullian lagi,"
"Kenapa kau saakan menyalahkan Jenny saja? Bukankah Jeffrey juga menghianati pernikahannya. Dia juga berpacaran dengan Veronica padahal dia sudah menikah dengan Jenny," sela Daisy membela Jenny. Dia merasa Jullian tidak adil jika hanya menyalahkan Jenny.
"Aku tidak menyalahkan, aku hanya mengingatkan," sanggah Jullian.
"Apa Jeffrey sering memperlakukanmu dengan buruk selama ini?" Jullian kembali melontarkan pertanyaan ke Jenny.
Jenny menggeleng. "Aku merasa akhir-akhir ini dia bersikap baik kepadaku, ya meski sikap menyebalkannya masih ada," jelas Jenny.
"Sekarang dia lebih suka memakan masakanku. Dia juga pernah merawatku saat sakit, dan mengobatiku saat terluka, dan bahkan...," Jenny menggantung ucapannya yang sontak membuat ketiga sahabatnya semakin memasang muka penasaran menanti kelanjutan kalimat Jenny.
"Dia bahkan mengajariku cara berciuman untuk bekalku saat berkencan dengan Sean," sambung Jenny dengan polosnya.
Pernyataan yang lolos begitu saja dari bibir Jenny kontan membuat Jullian, Avellyn, dan Daisy terperangah.
"Apa mungkin kalian juga melakukan seperti ini?" tanya Daisy seraya menyatukan ujung-ujung jarinya seolah memperagakan orang yang sedang berciuman.
Jenny mengangguk cepat. "Iya,"
"Iya," jawab Jenny singkat.
Ketiga sahabat Jenny langsung memasang mimik muka penuh arti. Mereka tampak mengulum bibir untuk menahan tawa. Ketiganya saling melempar tatapan secara bergantian seolah mereka sedang bermonolog lewat batin.
"Ternyata mereka sudah berjalan sejauh ini," batin Jullian seraya menggiring mukanya ke Avellyn dan Daisy bergantian.
"Aku yakin Jeffrey diam-diam sudah memilik rasa ke Jenny, bukankah kau berpikiran yang sama denganku?" batin Daisy.
"Iya, kita tinggal tunggu aja keduanya saling bucin," timpal Avellyn di dalam hati.
"Kalian sedang apa sih? Gelagat kalian sungguh aneh," suara Jenny memecahkan interaksi batin antara Jullian, Avellyn, dan Daisy.
"Tidak ada apa-apa kok. Oya Jenn dari tadi ponselmu bergetar terus, apa kau tidak ingin memeriksanya?" tanya Daisy yang menyadari ponsel Jenny sudah bebebapa kali ada panggilan masuk dari Jeffrey tapi Jenny tampak enggan menerimanya.
"Ah itu, biarkan saja, aku lagi tidak ingin menerima panggilan," ucap Jenny kemudian meng-off-kan ponselnya.
°°°
Di sebuah apartemen, Jeffrey tampak mondar mandir di atas lantai ruang tamunya seraya berkali-kali melakukan sambungan panggilan telepon ke nomor telepon Jenny, namun masih saja tiada respon. Dia tampak gusar karena hari sudah gelap tapi Jenny tak kunjung kembali ke apartemen.
Mengingat Jenny pergi dengan keadaan terluka membuatnya dirundung kegelisahan. Apa lagi dia menyadari, luka itu disebabkan oleh perbuatannya yang bertindak ceroboh.
Tidak hanya perasaan khawatir yang merayap di hatinya, namun perasaan cemburu karena bayang-bayang Jenny sedang bersama Sean terus menggelitik pikirannya yang kian nggak karuan.
Jeffrey meraih kunci motornya yang terletak di atas meja ruang tamu dan menyabet jaket kulit yang masih tersampir pada sandaran sofa. Dia berniat mencari keberadaan Jenny. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti di depan pintu karena panggilan seorang wanita.
"Sayang.., kau mau kemana? Tubuhku masih lemas, jangan tinggalkanku sendirian di sini, aku takut," rengek Veronica yang tiba-tiba keluar dari kamar dengan mimik muka pasi yang dibuat-buat.
__ADS_1
Veronica memang sudah memperhatikan gelagat Jeffrey dari balik pintu kamar Jeffrey sedari tadi. Perempuan itu sangat yakin bahwa Jeffrey sedang mencemaskan Jenny saat ini, dan hal itu sungguh membuatnya kesal.
Kenapa Veronica bisa berada di apartemen dan bahkan dia keluar dari dalam kamar Jeffrey? Itu karena beberapa jam yang lalu, Veronica mendadak pingsan, tepatnya pingsan palsu. Tentu saja itu hanya akal-akalannya saja, agar Jeffrey mengurungkan niatnya untuk mengejar Jenny waktu di halte bus beberapa waktu yang lalu.
Veronica terus saja merungik agar Jeffrey membiarkannya tinggal di apartemennya malam ini dengan alasan kesehatan tubuhnya kurang baik. Hingga akhirnya pria tampan bermuka masam itu memberi ijin meski dengan berat hati.
"Aku hanya pergi sebentar," ucap Jeffrey.
"Apa kau akan mencari perempuan itu? Kenapa kau sangat peduli dengannya? Apa kau mulai menyukainya?" Veronica melempar beberapa pertanyaan sekaligus dengan nada kesal.
Jeffrey terdiam. Dia bahkan tidak tahu perasaan apa yang sedang bergejolak di hatinya saat ini. Begitu sulit baginya untuk mendefinisikannya. Yang dia tahu, saat ini ingin sekali menemui gadis yang entah sejak kapan selalu menguasai pikirannya.
"Kenapa kau tidak menjawabnya? Ekspresi mukamu membuat aku takut sayang, kau tidak akan meninggalkanku karena perempuan itu kan? Kau sudah berjanji akan membuka hatimu untukku," Veronica mulai terisak dan tubuhnya beringsut ke lantai sehingga membuat Jeffrey semakin mengurungkan niatnya untuk pergi.
Jeffrey beberapa kali merutuki dirinya yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengetahui keberadaan Jenny.
Setelah membawa Veronica ke kamar, Jeffrey mengambil ponselnya. Pada akhirnya dia memilih mengirim pesan singkat ke ponsel istri kontraknya.
°°°
Gelapnya malam yang mencekam masih menyelimuti kota Cambridge. Jarum jam yang masih berputar pada porosnya menujuk pada angka 1 dini hari. Waktu di mana kebanyakan para penghuni bumi lebih memilih merehatkan tubuhnya setelah melakukan aktifitas seharian yang melelahkan. Namun gadis berlensa biru itu masih saja terjaga dari tidurnya. Seakan rasa kantuk tak mampu membuat kelopak matanya mengatup cantik.
Jenny meraih ponsel dan menghidupkannya kembali setelah beberapa jam dibiarkan mati. Puluhan laporan panggilan tak terjawab langsung bermunculan pada layar ponselnya.
"Ck! Buat apa dia melakukan begitu banyak panggilan kalau hanya untuk memakiku? Dia pasti tidak terima karena aku menyakiti kekasih pujaan hatinya itu," cebik Jenny seolah dia sedang curhat dengan ponselnya.
Perhatian Jenny lalu berpindah pada 1 notifikasi pesan dengan nama pengirim beruang kutub yang tertera di benda pipihnya. Karena penasaran gadis itu langsung membukanya.
Beruang kutub:
Apa lukamu sudah diobati? Kau di mana sekarang? Maaf, tadi aku tidak bermaksut menyakitimu.
Sepasang mata yang menempel pada mukanya langsung membulat sempuran. Dia tidak percaya si Jeffrey yang terkenal arogan bisa berkata maaf kepadanya.
"Woaaah! Apa aku sedang bermimpi? Ternyata dia bisa juga bilang maaf," lirih Jenny syok sambil menepuk-nepuk pipinya.
Tiba-tiba kedua sudut bibir Jenny melengkung ke atas hingga membentuk bulan sabit. Hatinya mulai melunak, perasaan dongkolnya kian menguap karena ucapan maaf dari si beruang kutub.
Bagaikan mendapat ucapan pengantar tidur yang manis, Jenny pun mulai terlelap.
Keesokan harinya, Jenny kembali ke apartemen tempat dia tinggal. Suasana hatinya sedang cerah, secerah langit kota Cambridge saat ini.
Dia mulai menjejakkan kakinya ke dalam apartemen dan hendak menuju ke kamarnya. Namun langkahnya terhenti ketika dia melewati pintu kamar Jeffrey yang mulai terbuka dari dalam.
Sosok Jeffrey yang muncul dari balik pintu tampak terkejut karena Jenny berdiri di depan kamarnya dan juga merasa lega karena gadis yang semalaman membuatnya khawatir sudah kembali.
"Kucing kumuh, kemana saja kau semalaman? Apakah kau sadar perbuatanmu itu membuatku cem," ucapan Jeffrey seketika terpotong ketika sepasang tangan wanita melingkari perutnya dari belakang.
"Sayang, kau mau kemana? Kegiatan kita belum selesai," suara manja terdengar mendayu-dayu di telingan Jenny yang sontak membuat suasana hatinya kembali memburuk. Entah mengapa, hatinya terasa perih melihat perempuan yang hanya mengenakan kemeja pria itu bersikap manja kepada suaminya.
Bersambung~~
...Semoga berkah Ramadhan tetap ada di hati kita dan menerangi jiwa kita. Selamat Ramadhan dan menunaikan ibadah puasa....
...Untuk para Readers kesayangan:...
...Tolong biasakan tinggalkan like dan coment setelah membaca ya. Vote dan gift juga sangat bisa menyenangkan Author. Dukungan kalian sungguh membuat Auhtor bahagia dan lebih semangat dalam mengetik. Terimakasih🥰...
__ADS_1