
Jeffrey menutup daun pintu kamarnya dengan sedikit kasar. Kedua manik hijaunya menatap lurus ke ranjang kebesarannya. Saat ini ingin rasanya dia melempar kasar tubuhnya di atas ranjang, berguling - guling dan menendang bantal dan selimut ke sembarang arah untuk meluapkan semua emosinya.
"Mana mungkin aku melakukan hal itu di saat rasa ngilu ini masih terasa," gumam Jeffrey setelah mengalihkan pandangannya ke bagian organ tubuhnya yang mungkin kini sedang menangis meratapi nasib di balik kain.
Remaja tampan itu menjejakkan tubuhnya di atas sofa yang terletak di depan ranjang yang berukuran King size tersebut. Dia teringat, sebelum pulang ada salah satu murid dari ST George's High School memberikan sebuah lembaran kecil kepadanya. Jeffrey mengambil sesuatu dari saku mantelnya yang masih melekat pada tubuhnya. Kedua manik matanya yang hijau menatap benda tersebut dengan sorotan tak terbaca.
FLASHBACK ON
"Ehem!"
Perhatian Jeffrey, Alvin, dan Sammy beralih ke sumber suara deheman seseorang.
"Kamu... Jeffrey kan?" tanya seorang gadis yang terlihat ragu.
Jeffrey langsung mengatur posisi tubuhnya dalam tegap dengan mimik muka dingin yang selalu menjadi khas ketampanannya. Menutupi rasa sakit yang masih bercenut - cenut ria di bawah sana.
"Ada perlu apa?" tanya Jeffrey balik. Nada suaranya terdengar dingin.
"Apa kamu sangat membenci cewek burik tadi?"
"Apa urusanmu?"
"Tadi.. aku melihat semuanya. Kamu terlihat sangat membencinya,"
"Kamu sudah tahu, kenapa masih bertanya?" ucap Jeffrey ketus.
"Aku juga sangat membencinya,"
"Itu urusanmu dan aku tidak peduli,"
"Kalau kamu mau, aku bisa membantumu untuk mempermalukannya," ucap gadis itu penuh makna.
"Aku tidak butuh bantuanmu," tolak Jeffrey.
Gadis tersebut terlihat kecewa, tapi dia tidak berhenti begitu saja. Dia mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan mengulurkan tangannya ke arah Jeffrey.
"Aku berharap kamu mau datang ke acara pesta Ulang Tahunku,"
"Kenapa aku harus datang ke acara tidak pentingmu itu?"
__ADS_1
"Astaga.. Kenapa dia sangat ketus sekali? untung dia tampan dan kaya," batin Gadis itu.
"Karena cewek burik itu tinggal bersamaku, jadi tentu saja dia akan ada di acara pestaku," jawab Gadis itu dengan mimik muka yang masih sangat penuh makna.
"Jadi tolong datang ya. Aku akan sangat senang sekali jika kamu mau datang. Alamatnya sudah ada di dalam kartu undangan," sambungnya lagi.
Jeffrey langsung menyaut kartu undangan yang sedari tadi disodorkan di depannya.
"Aku tidak janji," ucap Jeffrey dan berlalu dari hadapan Ella.
Iya, Ella lah yang baru saja berbicara dengan Jeffrey. Seringaian jahat muncul di mukanya setelah Jeffrey menghilang dari pandangannya. Dia merasa sangat senang, karena ternyata bukan dia saja yang membenci Jenny. Tentu saja hal itu membuatnya seakan mendapat sekutu yang memiliki musuh yang sama.
FLASHBACK OFF
"Sebaiknya aku datang ke acara itu. Aku ingin lihat seberapa jauh orang itu mempermalukan kucing kumuh itu," gumam Jeffrey.
"Arrrggg! Aku benar - benar masih kesal. Dasar kucing kumuh," Jeffrey frustasi.
"Dia tidak hanya seperti kucing kumuh tapi dia juga perempuan gila yang harusnya dikurung di Rumah Sakit Jiwa," gerutunya lagi.
Suara ketukan pintu menyadarkan Jeffrey yang sempat tenggelam dalam frustasinya.
Cklek! Daun pintu terbuka. Sosok yang muncul dari balik daun pintu membuat otot - otot muka Jeffrey mulai melunak.
"Kakak? Tidak seperti biasanya jam segini sudah pulang?" tanya Jeffrey kepada Deren.
Darren adalah Kakak Jeffrey yang umurnya hanya terpaut tiga tahun dengannya. Di usianya yang masih menginjak 20 tahun, dia sudah melalang lintang ke dalam dunia bisnis. Dia juga diberi kepercayaan oleh Darwin untuk menjalankan beberapa cabang perusahaan manufaktur kendaraan milik keluarga Allison. Pada usia 17 tahun, Darren berhasil mendapatkan Gelar Master dan lulus dengan predikat cumlaude. Semasa mengenyam bangku sekolah, dia mengikuti program pendidikan akselerasi. Jadi tidak heran jika dia bisa lulus sekolah lebih cepat dibandingkan teman - temannya.
Berbeda dengan Jeffrey. Karakter Darren lebih ramah dan penyayang apalagi terhadap keluarganya. Ya, bukan berarti Jeffrey tidak memiliki rasa cinta dengan keluarga. Di balik karakternya yang keras sebenarnya Jeffrey sangat menyayangi keluarganya. Hanya saja, rasa gengsinya memang lebih mendominasi sehingga membuatnya urung membiarkan dirinya terlalu mengespresikan perasaan cintanya. Entah rasa gengsi atau malu, perbedaan kedua jenis emosi itu sangat berbeda tipis.
"Sepertinya kamu tidak senang jika Kakak pulang cepat," ucap Darren terdengar nada kecewa yang dibuat - buat.
"Hei, aku hanya bertanya Kak," sanggah Jeffrey.
"Aku dengar, hal buruk baru saja menimpamu? Apakah kamu baik - baik saja sekarang?" tanya Darren dengan mimik muka cemas.
"Pasti Mommy yang memberitahumu,"
"Iya, aku baru saja tiba di rumah dan Mommy langsung mengabariku. Menurutku tidak ada yang salah dengan hal itu," ucap Darren.
__ADS_1
"Hari ini pasti begitu buruk ya bagimu?" tambahnya lagi.
"Iya, hari ini sangat buruk sekali. Semenjak aku bertemu dengan si kucing kumuh itu, hari - hariku menjadi sial," gerutu Jeffrey.
"Kucing kumuh?" Mimik muka Darren tampak bertanya - tanya.
"Iya kucing kumuh. Penampilannya sangat buruk sekali. Biasanya anak gadis selalu suka berpenampilan manis tapi tidak dengan cewek gila itu," beber Jeffrey tampak kesal setiap membahas tentang Jenny.
Darren mulai mengerti dan tersenyum penuh makna.
"Asal kamu tahu, kucing itu adalah mahkluk yang sangat menggemaskan. Kalau anabul itu terlihat kumuh, kita tinggal memandikan dan merawatnya maka akan kembali cantik," tutur Darren dengan guratan muka yang penuh arti.
Jeffrey hanya menanggapi tuturan Darren dengan mimik muka jengah. Sedangkan Darren tersenyum hangat mendapati respon sang Adik.
"Jangan membenci seseorang terlalu dalam kalau tidak ingin terjebak dengan perasaanmu sendiri. Apalagi membenci seorang perempuan," Darren kembali menuturi. Senyuman hangat masih terus terulas pada mukanya.
"Aku tidak mengerti maksutmu," timpal Jeffrey seraya menautkan kedua ujung alis tebalnya.
"Sudahlah, aku hanya ingin memastikan bahwa adikku yang tampan ini masih baik - baik saja," ucap Darren seraya mengayak rambut tebal Jeffrey dan berlalu pergi.
Jeffrey menatap punggung Darren hingga hilang dari tangkapan matanya. Pikirannya masih terpaku pada kata - kata Kakaknya tadi. Cukup lama dia berfikir untuk mencernanya, namun dia belum juga mendapatkan jawaban.
Bersambung~~
Visual Tokoh
Darren Allison saat bekerja.
Darren Allison saat santai.
Kebetulan si tukang ketiknya suka sekali sama film Spiderman, jadi aku ambil pemeran Spiderman sebagai visual Darrenš
Tidak hanya Spiderman saja sih. Semua film yang berbau Superhero aku suka. Astaga ni kang ketiknya nggak ingat umurš
Terimakasih sudah mampir ke karyaku ya. Jangan lupa tekan gambar ā„ļø agar masuk dalam rak buku kalian. Like, coment, rate, vote/hadiah dari kalian sangat beharga bagi Authorš¤
__ADS_1
Semoga kalian sehat dan bahagia selaluš