Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn

Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn
Akankah Baik Baik Saja? Janinku.


__ADS_3

"Ella juga butuh bantuan, dia berada di dalam gudang," lapor Jenny sebelum Jeffrey bergabung dengan yang lain. Siang tadi, Ella sempat memergoki anak buah Diven yang hendak menculik Jenny. Ia berusaha menggagalkan aksi jahat mereka namu pada akhirnya dia juga terseret dalam penculikan.


Delapan kawanan preman telah mengelilingi Jeffrey, Sean, Sammy, sedangkan Alvin diberi tugas oleh Jeffrey untuk menolong Ella.


Sementara Jenny yang berada sedikit jauh dari mereka terlihat sangat tegang dan cemas. Dalam kondisinya yang masih lemah ia hanya bisa berdoa agar semuanya baik-baik saja dan tidak ada yang terluka.


Perkelahian akhirnya tak terhindarkan. Sekelompok kawanan preman itu mulai menyerang menggunakan senjata tumpul di tangannya.


Jeffrey yang masih fokus menyerang balik lawan dengan terjangan dan pukulan maut tiba-tiba pergerakannya terkunci karena satu preman membelenggu tubuhnya dari belakang, sedangkan dari arah depan tampak satu kawan preman lainnya yang sudah mengayun tongkat bisbolnya ke arah Jeffrey namun pria itu bergerak lebih cepat dengan menendang perutnya membuat tubuh besar si preman seketika terjerembab dengan bokong mendarat ke tanah duluan.


Bug! Bug! Bruak!


Pria bermata elang itu lanjut mengayun kepalanya ke belakang dengan kecepatan kilat sehingga menghantam keras muka preman yang mendekap tubuhnya dari belakang.


"Aarrrgggggg! Hidungku!" Jeffrey yakin dari suara lolongan si preman, tulang hidungnya patah.


"Jeff menunduklah!" teriak Sean menginterupsi yang langsung melempar tongkat bisbol ke arah preman yang hendak menyerang Jeffrey dari belakang hingga gigi depannya rontok berguguran. Na'as.


Bug! Bruak!


"Aarrrggg! Kurang ajar kau!" bentak si preman seraya menahan sakit di kepalanya yang pecah mengeluarkan darah.


Sedangkan di sisi lain, Sammy dan si preman Hello Kitty saling memasang kuda-kuda siap untuk bertarung dengan kedua tangan mengepal di depan. Mereka saling melempar tatapan tajam. Belum ada dari mereka yang memulai serangan, mereka hanya berputar-putar berhadapan sehingga membentuk garis lingkaran.


"Woi pengecut! Anak ingusan! Sini serang duluan kalau berani," tantang si preman Hello Kitty dengan muka garangnya.


"Ck! Dasar tua bangka kriput bau tanah kuburan, aku hanya berusaha menghormati yang lebih tua, ku persilahkan kau menyerang duluan," balas Sammy berdecih.


"Kurang ajar kau memanggilku tua bangka! Akan aku tunjukan kepadamu kelebihanku," si preman membuka kaosnya dan memamerkan otot-otot tubuhnya. Kedua dadanya yang dempal tampak naik turun bergantian menyombongkan hasil karya dari rajin nge-gym.


"Emang dipikir hanya kau saja yang mempunyai tubuh seperti itu," Sammy yang tidak mau kalah ikut melucuti kaos yang membungkus tubuhnya sehingga memperlihatkan otot-otot tubuhnya yang menyembul di balik kulit ari-arinya. Dia juga menaik turunkan dada dempalnya seirama.


"Hahahaha! Biji dadamu sangat besar, seperti put*ng wanita yang sedang menyusui," ejek si preman dengan tawannya yang kian pecah.


"Asal kau tahu, p*ting ini adalah hasil karya kekasihku, dan berhentilah mentertawaiku tua bangka," celoteh Sammy dengan bangganya memamerkan hasil karya Daisy yang suka memilin gemas p*ting Sammy ketika berkencan.


(Ya Allah, ingat waktu Author hamil, suka banget memilin susunya suami🤣)

__ADS_1


"Sudah jangan banyak bacot!" si preman mulai beraksi, ia melangkah maju hendak menyerang, namun belum sampai pukulannya mendarat dia sudah melolong kesakitan dan roboh dengan begitu mudahnya karena tendangan aesthetic si Sammy. Iya, bisa dikatakan si preman tumbang sebelum berperang.


"Aaaaauuuuuughhh!" raung si preman langsung memenuhi langit kota London karena rasa sakit dengan sensasi cenutan yang luar biasa pada batangnya yang mungkin saat ini sudah bengkok dengan dua telurnya yang retak.


"Uuuuhh.. Pasti sakit sekali ya, saranku habis ini jangan kau perlihatkan burungmu di depan seorang wanita. Nanti dia bisa pingsan karena syok setelah melihat bentuk burungmu yang aneh seperti siput laut," Ejek Sammy lalu menghadiahkan satu tendangan lagi dan pergi meninggalkan si preman yang sedang meratapi nasib burungnya.


°°°


Dok! Dok! Dok!


"Apa ada orang di dalam?!" teriak Alvin seraya menggedor pintu yang terkuci rapat.


"Heemm! Heemm!" Ella berusaha menjawab meski kesulitan karena mulutnya di bekap kain. Saat ini dia juga merasa kram pada perutnya yang teramat sakit.


Alvin yang bisa menangkap suara samar-samar dari luar langsung mengambil inisiatif untuk mendobrak pintu. Dengan beberapa kali dobrakan akhirnya daun pintu terbanting sangat keras.


Pria itu sempat terpana ketika melihat kondisi wanita hamil yang masih terikat di kursi sambil meringis kesakitan. Dia semakin gupuh ketika melihat darah mulai merembes di balik kain Ella. Tidak ingin terjadi apa-apa dengan Ibu beserta anaknya, Alvin bergegas membawa Ella keluar dengan membopongnya.


°°°


Suasana area pembuangan mobil tersebut semakin menegangkan, di tambah lagi hari yang semakin gelap menciptakan atmosfer sekitar kian mencekam.


Dor! Suara sebuah tembakan ke langit terdengar menggelegar. Semua orang sontak menghentikan perkelahiannya. Dari arah lain, tampak Jullian dan Elfrad datang bersama beberapa petugas polisi.


Jeffrey, Jenny, Sean, dan Sammy langsung bisa bernapas lega seketika. Para preman sudah berhasil dibekuk, namun pembekukkan mereka tidak semerta-merta berjalan dengan mulus karena salah satu dari preman ada yang berusaha melawan dengan menyandra Jenny.


Ia merengkuh tubuh Jenny dari belakang dengan meletakkan sebuah pisau kecil di lehernya yang langsung membuat semua orang dirundung panik termasuk Jeffrey. Air muka Jeffrey begitu tegang dikala melihat benda tajam tersebut membentuk sebuah goresan kecil dan memanjang di leher Jenny hingga darah segar terlihat mengalir.


"Turunkan senjata kalian dan biarkan aku lepas atau aku akan melukainya lebih dari ini," ancam si preman yang menyandra Jenny.


Pandangan Jeffrey dan Jenny masih terus bertautan, seolah mereka sedang saling bertukar batin. Dari sorot mata dan air mukanya, Jenny terlihat sangat ketakutan seraya meringis menahan perih di lehernya. Dia berkali-kali berdoa di dalam hati, agar dia dan janinnya selamat.


"Beruang kutub, aku sangat takut, hiks," batin Jenny menjerit.


"Tenanglah sayang, kau pasti akan selamat," jawab batin Jeffrey mencoba menenangkan Jenny melalui sorot matanya, seolah ia bisa mendangar rintihan batinnya.


Menyadari si penyandra bisa saja berbuat nekat, dengan perlahan satu persatu petugas polisi menurunkan senjata belaras pendeknya. Mereka tidak semerta merta menyerah begitu saja. Mereka hanya sedang mencari cela yang tepat agar bisa meringkusnya dengan cepat.

__ADS_1


Dengan langkah mundur, penyandra menjadikan tubuh Jenny sebagai tameng dan membawanya menjauh. Diperkirakan ada kesempatan untuk melarikan diri, ia lantas mendorong tubuh Jenny hingga perutnya membentur knap belakang mobil rongsokan dengan sangat keras.


"Aaaaahhh! Perutku!" pekik Jenny yang merasa kesakitan pada perutnya.


"Jenny..!" Teriak Jeffrey cemas langsung mendekati Jenny.


Dor! Dor!


Dua tembakan melesat cepat dan berhasil melumpuhkan penyandra yang sempat melarikan diri itu. Akhirnya Diven beserta anak buahnya berhasil diringkus.


"Bertahanlah sayang, aku akan membawamu ke Rumah Sakit," Jeffrey sangat panik melihat Jenny yang sudah tidak sadarkan diri. Kecemasan dan ketakutan semakin mendera jiwanya dikala darah segar tampak merembes di antara dua paha istrinya. Pandangannya sudah memanas, butiran-butiran air mata mulai bergulir satu persatu.


"Sean, bisakah kau lebih cepat sedikit?!" pinta Jeffrey yang kian panik dan gusar.


Sean yang sedang fokus menyetir hanya bisa menghela napas ringan, pasalnya saat ini ia sudah melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, namun ia bisa memahami perasaan yang sedang dirasakan Jeffrey, oleh sebab itu dia hanya meng-iya-kan permintaan sahabat lamanya itu dan tidak ingin berdebat.


"Kau harus tenangkan dirimu Jeff, ini juga hampir sampai Rumah Sakit," tutur Sammy menenangka .


°°°


"Permisi Tuan, silahkan anda masuk ke dalam untuk menemani istri anda melahirkan," perintah seorang perawat kepada Alvin yang memang dialah yang mengantar Ella tadi.


Sesaat Alvin terperangah, sejak kapan ia mempunyai istri? Dia bahkan belum menikah. Saat ini ia masih bingung dalam menghadapi situasi.


"Tuan, silahkan masuk, istri anda segera melahirkan," sekali lagi sang perawat memberi insterupsi yang seketika menarik paksa lamunan Alvin.


"B-baik!" dengan ragu akhirnya Alvin masuk ke dalam ruang persalinan dan harus berperan sebagai suami sekaligus ayah palsu dadakan.


Di dalam ruang bersalin, layaknya seorang suami, Alvin tampak sungguh-sungguh menjalani peran dadakannya. Menggenggam tangan Ella, mengusap keringat di dahi, serta memberi suport. Bahkan ia rela menjadi korban cakaran dan cubitan jari-jemari Ella yang merasakan kesakitan ketika perutnya berkontraksi.


Bersambung~~


Maaf ya, masih membosankan🙏


Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, atau gift dan vote ya..🥰


Sekecil apapun dukungan kalian, sudah sangat membuat Author Nofi senang🥰

__ADS_1


Ayo dukung terus karyaku. Masa sih veiwernya ribuan tapi yang ngelike nggak ada seratus. Sedih banget ta-hu nggak sih..😭


TERIMAKASIH🥰


__ADS_2