
WARNING!!! Bab ini mengandung balsem yang bisa membuat tubuh kalian panas. Siapkan kipas dan putar dengan kecepatan tertinggi. Saran Nofi, baca di tempat yang sepi. Bacalah secara bijak. Bagi yang tidak suka boleh dilewati.
Masih di gazebo pavilion taman belakang rumah.
"Sayang... Aku sangat merindukanmu," lirih Jeffrey yang masih memeluk sang istri.
"Aku juga sangat merindukanmu, suamiku," balas Jenny yang semakin menenggelamkan mukanya pada dada bidang yang selalu ia dambakan tersebut.
"Maafkan aku, karena aku sudah mengingkari janjiku untuk tidak meninggalkanmu. Maafkan aku karena telah membuatmu bersedih. Di saat kau selalu mengingatku, aku justru tidak mengingatmu," sambung Jeffrey kembali. Kini dengan suara bergetar karena menahan tangis meski matanya sudah memerah dan mengembun. Setelah semua ingatannya perlahan mulai kembali satu persatu, di saat itu pula ia merasa bersalah kepada Jenny.
"Kau tidak perlu minta maaf, ini memang sudah ujian takdir pernikahan kita. Yang penting kau sekarang sudah kembali. Beruang kutub kesayangnku tidak akan kemana-mana lagi. Dia akan selalu bersamaku. Aku akan merawatnya dan memberi makan yang banyak agar tetap sehat dan kuat,"
Jeffrey mengurai pelukannya kemudian mencubit gemas kedua pipi Jenny. "Apa kau menganggapku sebagai hewan peliharaanmu?"
Jenny mengangguk cepat dengan senyuman mengembang sempurna. "Iya, kalau boleh sih,"
"Dasar kucing nakal!" Jeffrey mulai menggelitik perut Jenny hingga membuat wanita itu tertawa terpingkal-pingkal.
"Kyaaak! Kau membuatku geli! Hahaha! Hentikan, aku bisa pipis di celana," pinta Jenny di sela tawanya yang renyah.
Jenny tampak beberapa kali menghindari serangan gelitikan nakal jari-jari Jeffrey namun usahanya tampak sia-sia. Hingga akhirnya Jeffrey menghentikan aksinya karena merasa kasian melihat Jenny hampir menangis.
Jenny yang merasa lelah terlihat memeluk tiang pavilion dengan napas terengah-engah. Tubuhnya sedikit tersentak ketika Jeffrey memeluknya dari belakang.
"Sayang... Jadilah kucing nakal malam ini untukku," bisik Jeffrey lalu meniup telinga Jenny hingga membuat tubuhnya seketika menegang dan membuatnya mengangguk pasrah.
Jeffrey menurunkan kain yang menutupi pundak Jenny lalu menggigitnya. "Aw! Beruang kutub kenapa kau menggigitku," protes Jenny.
"Karena hewan peliharaanmu ini sedang lapar. Bukankah kau tadi bilang akan memberiku makan agar aku sehat dan kuat?" balas Jeffrey seolah menagih ucapan Jenny. Ia lalu kembali memainkan pundak mulus Jenny dengan lidahnya.
"Ahhhh!" Jenny mendesah ketika lidah Jeffrey sudah berpindah pada ceruk lehernya dengan satu tangan merayap dan berputar putar di area pusarnya, dan satu tangan yang lainnya meremas-remas gundukan kenyal dadanya.
"Sayang, aku sudah sangat lapar dan aku ingin memakanmu," ucap Jeffrey dengan suara parau akibat hasrat yang kian menyelubungi jiwanya.
"Lakukan saja," ucap Jenny pasrah karena telah terbuai.
Jeffrey memutar tubuh Jenny ke arahnya. Kedua matanya mereka saling mengunci. Kabut nafsu bercampur kerinduan yang berdasarkan cinta tertoreh jelas di netra mereka.
Jeffrey mendekatkan mukanya, memangkas jarak ruang yang memisahkan lalu memberi kecupan ringan pada bibir Jenny. Satu kali, dua kali, tiga kali, hingga beberapa kali.
Sesekali ia menggoda Jenny dengan menghindari ciuman Jenny dengan seringai nakalnya sehingga membuat wanitanya itu menekuk mukanya.
Jenny mencoba mendorong tubuh besar Jeffrey karena kesal, namun pria itu kembali memeluk tubuhnya.
"Jangan marah, aku hanya bercanda,"
Jenny mendengus dan memalingkan mukanya ke samping seraya mengerucutkan bibirnya.
"Kau sangat manis sekali jika sedang marah," Jeffrey menarik dagu Jenny lalu mel*mat bibir ranumnya. Mencecap dan memainkan lidahnya pada rongga mulut Jenny.
Dengan bibir yang masih memagut, Jeffrey meraih tangan Jenny dan menuntunnya ke arah batangnya yang sudah mengeras.
Jenny pun mulai bertindak mengikuti hati nuraninya layaknya seorang istri yang ingin memenuhi kewajibannya melayani sang suami. Dengan lincah tangannya membuka kancing dan resleting celana Jeffrey lalu masuk ke dalam sarang dan mengobrak-ngabrik sesuatu yang sudah siap bertempur di dalam sana.
"Aahhhh! Sayang.. Ahhh!" Jeffrey mendesah karena ulah nakal Jenny.
__ADS_1
"Aku mau sekarang," Jeffrey langsung menurunkan gaun tidur tanpa lengan yang melekat di tubuh Jenny hingga terjatuh di lantai. Lanjut melepas cangkang yang membungkus gunung kembar Jenny dan membuangnya ke segala arah hingga tersangkut di dahan pohon. Menurunkan kain terakhir yang melindungi organ terintim yang ditumbuhi rumput tapi bukan rumput tetangga ya.
"Kau sudah sangat basah sayang," ucap Jeffrey dengan jari tengahnya yang masih memainkan naik turun lembah kenikmatan yang memang sudah sangat basah dan mendambakan pelampiasan untuk menyalurkan hasratnya.
"Ahhh! Lakukan sekarang?" pinta Jenny yang kian menempelkan tubuhnya ke tubuh Jeffrey. Otaknya sudah tidak bisa berpikir secara jernih karena sudah terbuai akan perlakuan Jeffrey yang memabukkan.
Sejenak Jeffrey menghentikan aksinya. Matanya menyapu tubuh polos Jenny yang tanpa sehelai benangpun yang melekat. Memanjakan matanya dengan menikmati pemandangan erotis yang tersaji di depannya.
Menyadari gelagat dan tatapan nakal Jeffrey, Jenny berusaha menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya.
"Aiiissh!.. Sejak kapan aku sudah telanjang bulat?" gerutu Jenny setelah otaknya kembali jernih. Dia merasa malu karena saat ini dia sedang berada di tempat terbuka. Beruntung, di rumah hanya ada mereka berdua saja.
"Kau menghalangi pandanganku sayang, turunkan tanganmu. Lagian kenapa kau tampak malu, bukankah kita sudah sering melakukannya," goda Jeffrey seraya menurunkan tangan Jenny yang menutupi tubuhnya. seringai genit masih terus tergambar jelas di mukanya.
"Ck! Kau sangat egois, kau menanggalkan semua pakaianku sedangkan kau sendiri masih berpakaian lengkap," cebik Jenny merasa tidak adil.
Jeffrey terkekeh geli lalu mulai menanggalkan satu persatu kain yang melekat di tubuhnya hingga kini terpampang sudah sebuah tombak sakti yang sudah berdiri tegak menantang dan siap bertempur mengobrak-abrik isi hutan belantara milik Jenny setelah sekian lama bertapa di dalam gua.
Jenny sontak memalingkan mukanya ketika pisang tunggal milik Jeffrey melambai-lambai manja di depannya. Entah mengapa ia merasa malu layaknya gadis ting-ting yang baru pertama kali melihat sosis berurat.
(Sosis berurat.. Yuhuuu... Sosis rasa ayam, rasa sapi, rasa otak-otak, sosis so nice dong. Kalau sosis berurat cuma ada di cerita ini karena ulah otak cabul Author🤣)
Jeffrey menggiring muka Jenny agar melihat miliknya yang langsung membuat Jenny menelan cairan salivanya dengan kasar. Sekilas otaknya sempat menerka ukuran panjang leher si kepala angsa tersebut. Kira-kira 17 cm sampai 18 cm, itu yang dia perkirakan.
(Masih sempet2nya lu itu Jenn, nih gue pinjemin meteran tukang sekalian buat ngukur😤)
Jeffrey menuntun Jenny berbaring di atas sofa berukuran besar yang sudah tersedia di gazebo pavilion taman. Mengukungnya penuh posesif seraya malahap bibir Jenny dengan rakus. Tangan besar sudah menjelajah ke setiap seluk tubuh Jenny tanpa satu bagianpun yang terlewatkan.
Jeffrey melepas pagutan bibirnya dan memainkan lidahnya pada leher Jenny hingga basah. Menggambar beberapa pola kupu-kupu merah kemudian melandai pada dua gundukan kembar dan kembali memainkan lidahnya disana. Melahap, menyesap, dan menikmatinya.
"Apa sakit? Hentikan aku jika aku menyakitimu," Alih-alih menjawab, Jenny justru semakin mencengkram rambut tebal Jeffrey dengan kedua tangannya dan menenggelamkannya mukanya di tengah-tengah lereng gunung. Mengisyaratkan agar Jeffrey melanjutkan permainan nakalnya.
Jeffrey tersenyum bangga ketika melihat maha karyanya berupa lukisan kupu-kupu yang berterbaran cantik pada gunung suci tempat tampungan ASI calon anaknya itu.
Dirasa sesi foreplay sudah cukup, Jeffrey mengambil sebuah bantal sofa dan meletakkannya di bawah pinggul Jenny.
"Ini untuk apa?" tanya Jenny.
"Sssttt! Turuti saja dan ikuti alur permainanannya," titah Jeffrey. Memang dasarnya, Jeffrey lebih suka mendominasi dalam setiap permainan ranjangnya bersama istrinya.
Pria bermata elang itu mulai memposisikan miliknya dan..
"Ahhhhh...!" desahan kembali keluar dari mulut Jenny ketika tubuh mereka menyatu.
"Panggil namaku sayang," bisik Jeffrey seraya menggerakkan tubuhnya maju mundur dengan ritme teratur.
"Jeff.. Ahhh!"
"Iya sayang benar begitu, panggil namaku,"
"Jeff.. Hmmmm!" Jenny menjambak rambut Jeffrey meluapkan segala rasa kenikmatan yang tercipta.
Sepasang kekasih halal tersebut kian tenggelam dalam kenikmatan surga duniawi. Hasrat kerinduan yang telah lama terpendam telah tersalurkan dengan begitu panas. Mereka terbuai akan nikmatnya bercumbu berdasarkan cinta.
Bermain di tempat terbuka seolah tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk bermain bebas. Dinginnya hembusan angin malam sudah tak mampu menembus atmosfer panas yang menyelimuti kegiatan bercinta mereka. Suara hewan malam seakan kalah telak dari suara desahan dan lenguhan dari bibir sepasang kekasih halal tersebut.
__ADS_1
Sang dewi malam tampak bersembunyi di balik gumpalan awan. Seolah malu menyaksikan kegiatan penuntasan libido keduanya.
Tubuh mereka yang basah oleh keringat tampak berkilau di bawah biasan cahaya.
Jeffrey semakin mempercepat pergerakannya. Hentakannya membuat tubuh Jenny ikut terguncang.
Dengan gagahnya pria itu menghujam tubuh Jenny semakin dalam. Diikuti desiran darah yang mulai berkumpul di dalam otak, jantung yang semakin berdentum hebat di luar ritme. Jenny yang berada di bawah kungkungan Jeffrey tampak mengerak-gerakkan pinggulnya, mencoba menyeimbangi permainan Jeffrey.
"Ahhhh! Ahhh! Ahhh!" desahan mereka terdengar saling bersuatan. Begitu merdu dan seksi.
"Jenn, aku mencintaimu. Aku mencintaimu," racau Jeffrey di sela lum*tan bibirnya.
"Jeff, aku mau keluar," ucap Jenny tersengal-sengal.
"Kita keluar bersama,"
Hingga akhirnya tubuh mereka begetar hebat karena sudah mencapai pada titik puncak kenikmatan tertinggi bersamaan, diikuti semburan calon benih malaikat kecil ke dalam rahim Jenny.
"Aaahhhhh!"
Mereka tampak lemas dengan napas masih tersengal-sengal. Dengan tubuh yang masih menyatu, Jeffrey mengecup dahi Jenny dengan penuh sayang.
"Terimakasih sayang,"
"Sama-sama,"
Jeffrey membanting tubuhnya ke sebelah Jenny. Mengumpulkan kembali tenaganya yang telah terkuras.
"Kau mau kemana?" tanya Jeffrey yang melihat Jenny hendak beranjak namun langsung dihentikannya.
"Aku sangat haus, aku ingin meminum itu," balas Jenny seraya menunju ke arah minuman kaleng yang terletak di atas meja.
"Kau tidak boleh banyak bergerak dulu sayang, kecebongnya masih berenang. Biar aku saja yang mengambilkan minum," Jenny mengerutkan dahinya, tampak bingung dengan ucapan Jeffrey.
"Ini minumlah, pelan-pelan saja nanti bisa tersedak,"
Jenny menenggak minumannya dan menyisakan setengah yang dimana sisanya langsung diteguk Jeffrey hingga tandas.
Jeffrey mendekatkan mukanya pada perut Jenny lalu menciumnya. "Kau jangan banyak bergerak dulu, karena Jeffrey junior masih berjuang di dalam sini," ucap Jeffrey tersenyum penuh harap.
Jenny mendengus geli. "Terus apa hubungannya dengan kecebong berenang?"
"Iya saat ini calon Jeffrey junior bentuknya memang masih seperti kecebong. Dia sedang berjuang dan berenang sekuat tenaga untuk menuju rahim," jelas Jeffrey. Entah mengapa, dia sangat yakin bahwa usahanya kali ini akan membuahkan hasil.
Malam semakin larut, setelah melakukan 3 ronde kegiatan panas yang menggairahkan, Jeffrey membopong tubuh Jenny ala-ala bridal style dan membawanya masuk ke dalam rumah.
"Aku ingin melakukannya lagi, tapi di atas ranjang," ucap Jeffrey di sela langkahnya menuju kamar.
"Hah? Lagi?"
Bersambung~~
Bagaimana kabarnya kalian saat ini? Masih baik-baik saja kan? Alhamdulilah kalau begitu🥰. Jangan lupa minum air putih yang banyak ya..🥰
...Untuk para Readers kesayangan:...
__ADS_1
...Tolong biasakan tinggalkan like dan coment setelah membaca ya. Bila ada rejeki lebih Vote dan Gift juga boleh. Dukungan kalian sungguh membuat auhtor bahagia dan lebih semangat dalam mengetik. Terimakasih🥰...