
Warning!Ada part dewasanya ya. Harap bijak dalam membaca🙏
"Nona, apa kau tidak mendengarku?" tanya pria itu yang tak lain adalah Jeffrey.
Alih-alih segera menjawab pertanyaannya, wanita yang bernama Jenny itu melempar tatapan tidak percaya kepada Jeffrey. Ia mengangkat kedua tangannya dan menyapu setiap lekuk muka tampan itu dengan jari-jemarinya, meyakinkan dirinya bahwa pria di hadapannya adalah pria yang sama dengan pria yang selama ini sudah sangat ia rindukan.
Muka yang tampak lebih kurus tapi tidak mengurangi ketampanannya sedikitpun. Muka yang ditumbuhi jambang tipis namun tidak membuat jenny ragu akan keyakinannya bahwa pria ini adalah suaminya. Si beruang kutub kesayangannya.
Cairan bening yang sudah membendung di pelupuk matanya akhirnya membuncah bercampur rasa haru.
"Kenapa kau tega membuatku menunggu lama? Tahukah kau, aku sudah sangat menderita karenamu. Kenapa kau jahat sekali?" Jenny terisak seraya berkali-kali menghadiahi pukulan di dada bidang Jeffrey yang dimana tidak ada sedikitpun penolakan darinya. Jeffrey terlihat membatu dan masih berusaha mencerna situasi saat ini.
Merasa pukulannya tiada guna, Jenny menghentikan aksinya dan langsung memeluk erat tubuh Jeffrey, menenggelamkan mukanya ke dalam dada lebar itu dengan tangis yang kian pecah. Seolah dituntun oleh insting nalurinya, Jeffrey membalas pelukan Jenny.
Deg! Deg? Deg!
"Aroma rambut dan tubuhnya kenapa sangat tidak asing bagiku? Siapa wanita ini sebenarnya? Aku yakin dia adalah satu satu bagian memoriku yang hilang," batin Jeffrey ketika indera penciumannya bekerja.
Jeffrey sedikit mengurai pelukannya, menatap muka Jenny yang masih basah karena air mata. Memaksa otaknya untuk mengingat muka cantik di hadapannya namun belum juga mendapatkan jawaban.
"Aku yakin kau adalah seseorang yang sangat beharga di hidupku karena hatiku berkata seperti itu, tapi maaf untuk sementara ini aku belum bisa mengingat semuanya karena aku menderita amnesia, bisakah kau membantuku untuk mengingat semuanya?" ucapan Jeffrey sontak membuat Jenny terperangah tak percaya. Ia sangat bahagia karena akhirnya bisa bertemu lagi dengan Jeffrey, akan tetapi dia juga sangat sedih karena ternyata suaminya tidak mengingatnya.
Sebenarnya reaksi Jeffrey saat ini membuat kepala Jenny dihinggapi sebuah pertanyaan yang cukup mengganggunya. Apa yang telah terjadi selama beruang kutubnya itu menghilang?
"Sungguh kau tidak mengingatku? Aku adalah Jenny, kucing kecilmu. Kita adalah pasangan suami istri," terang Jenny yang masih diiringi isak tangis.
Jeffrey tampak terkejut, namun tak dapat dipungkiri, hatinya tidak bisa untuk tidak percaya dengan ucapan Jenny. Perasaan senang seketika menyelimuti jiwanya meski ia belum bisa mengingat semuanya.
"Jadi selama ini aku telah jatuh cinta kepada istriku sendiri? Mungkinkah sebelum semua ingatanku menghilang aku begitu sangat mencintainya? Bahkan di saat aku amnesia sekalipun, hatiku masih memiliki perasaan yang sama kepadanya," batin Jeffrey.
Jenny meneliti mimik muka Jeffrey secara sesakma. Dia tahu, saat ini pria ini masih belum bisa mengingat semuanya. Kemudian ia berinisiatif menunjukkan sebuah kalung yang masih melingkari lehernya.
"Apa kau ingat? Ini adalah hadiah yang akan kau berikan kepadaku sebelum akhirnya kau menghilang di saat insiden kecelakaan itu,"
"Kalung ini...," ucapan Jeffrey terjeda karena bentuk liontin kalung yang di pakai Jenny mengingatkannya pada sesuatu.
__ADS_1
Jeffrey merogoh saku celananya dan mengeluarkan sesuatu. Sebuah kalung liontin berbetuk serupa dengan milik Jenny namun dengan garis ukiran huruf dan potongan berlian bewarna merah yang berbeda.
Jeffrey mencoba menyatukan liontin tersebut dan langsung menampilkan tulisan Jeff & Jenn forever in ❤. Sebuah kalimat yang diakhiri dangan berlian kecil berbentuk hati bewarna merah. Memang sederhana tapi sungguh berkesan.
Melihat dua liontin yang disatukan seketika membuat hati Jenny kembali mengharu, ternyata kalung yang selama ini ia pakai merupakan kalung couple dengan liontin yang menyematkan sebuah ukiran kata yang begitu indah.
"Mungkin jika situasinya berbeda, aku pasti sudah menertawaimu karena bagiku ini sangat menggelikan karena orang sejutek kau punya inisiatif membuat kalung couple seperti ini sungguh langka," cerocos Jenny di antara tawa dan haru menjadi satu.
"Apa dengan melihat kalung ini kau bisa mengingat sesuatu meski sedikit?" sambung Jenny mulai penasaran.
Jeffrey menggeleng kecil. "Maaf, aku sama sekali belum bisa mengingatnya," jawab Jeffrey tampak kecewa.
Jenny kembali mengulas senyum. "Tidak apa-apa, aku akan membantumu mengingat semuanya secara pelan-pelan. Yang penting saat ini kita bisa hidup bersama lagi. Berjanjilah setelah ini kau jangan meninggalkanku lagi," ucap Jenny yang kembali menenggelamkan mukanya di dada Jeffrey yang selalu berhasil membuatnya nyaman.
Beberapa saat mereka masih dalam posisi yang sama. Duduk di atas pasir pantai yang basah sambil berpelukan meluapkan segala rasa yang telah lama terpendam. Suasana mengharu biru masih terus menyelimuti kedua kalbu tersebut.
Masih dalam posisi berpelukan, Jenny menengadahkan mukanya ke arah Jeffrey, kedua pasang jendela hatipun saling mengunci. Masing-masing seolah tampak meyakinkan diri bahwa saat ini bukanlah mimpi. Ini adalah nyata adanya.
Jenny tidak menyangka, keyakinannya selama ini bahwa kekasih hatinya itu belum meninggal sudah terbukti nyata di depan mata.
Tanpa sepatah katapun yang terdengar lagi, sepasang kekasih halal itu hanya mengikuti dorongan insting hati kecil mereka. Perlahan mereka memangkas habis jarak ruang di antara muka mereka hingga akhirnya bibir mereka saling bertemu, menempel sedikit lama sebelum akhirnya Jenny membuka sedikit bibir kenyalnya yang langsung direspon antusias oleh Jeffrey.
Ciuman yang bermula dari lum*tan lembut kini berubah sedikit kasar. Suara cecapan bibir seolah melebur jadi satu dengan suara ombak dan angin. Lidah Jeffrey menjelajah liar ke dalam rongga mulut Jenny. Lidah mereka saling bertautan hingga terjadilah pertukaran cairan saliva yang begitu menggairahkan.
Adegan ciuman mereka semakin panas ketika keduanya sudah berubah dalam kondisi terbaring di atas pasir dengan posisi Jeffrey mengukungi tubuh kecil Jenny. Entah sejak kapan, tangan besar Jeffrey sudah berada di balik kain dan meremas-remas salah satu gundukan sintal yang sudah sangat menegang.
"Ahhhh! Jeff.." desahan merdu akhirnya lolos juga dari mulut Jenny.
Jenny tampak tidak mempermasalahkan sentuhan Jeffrey, dia justru semakin menikmati dan mulai mengalungkan tangannya di leher Jeffrey dengan manja. Membiarkan tangan nakal Jeffrey menggerilya tubuhnya dengan liar.
"Aaaahhhh! Ssstttt! Jeff.. Aku.. menginginkannya," rancau Jenny ketika satu tangan Jeffrey sudah berpindah di pusat inti kenikmatan Jenny, mengusap lembut sesuatu yang bersembunyi di balik semak-semak belukar. Sungguh Jenny sudah terbuai dengan permainan nakal Jeffrey. Sungguh dia juga rindu akan cumbuan sang suami dan tidak dapat ia pungkiri lagi.
"Aku juga menginginkan sayang," balas Jeffrey parau yang ternyata hasrat libido-nya sudah mencapai ubun-ubun.
Muka Jenny semakin memerah ketika merasakan sesuatu yang sudah mengeras bergesekan di antara dua pahanya. Sesaat ia sedikit merasa malu namun dengan cepat ia menghempaskan perasaan yang bisa merusak suasana itu dan kembali mengikuti permainan Jeffrey.
__ADS_1
Mereka bahkan sama sekali tidak terusik ketika deburan ombak meluncur ke bibir pantai membasahi tubuh mereka. Kedua anak manusia itu sudah terlena akan kenikmatan bercumbu dengan orang yang dicintai. Seakan lupa dimana posisi mereka sekarang.
"Aahhhh! Tidak, kita harus hentikan ini," tiba-tiba Jeffrey menghentikan permainannya dan sedikit beranjak dari tubuh Jenny.
"Kita tidak boleh melakukannya di tempat terbuka seperti ini," ucap Jeffrey yang sekuat tenaga berusaha melebur nafsu gairahnya.
Pandangan Jenny sontak menyapu sekelilinya dan seketika ia tercekat dan merasa malu. "Aiiihhh! Ini sangat memalukan. Untungnya tidak ada pengunjung lain," gerutu Jenny yang langsung menutup mukanya.
Jeffrey mendengus geli. "Apakah kau memang selalu menggemaskan seperti ini?" Ia lalu membetulkan pakaian Jenny yang terlihat berantakan.
"Aku tidak ingin mengumbar tubuh istriku di tempat terbuka, karena hanya aku yang boleh melihatnya,"
"Hissh! Sepertinya sifat mesummu itu tetap ada meski ingatanmu hilang," cebik Jenny.
Jeffrey beranjak dari tubuh Jenny dan membantu nya duduk. Lalu lanjut membersihkan rambut Jenny yang penuh dengan pasir.
"Maaf, aku hampir saja kehilangan kendali. Sebaiknya sekarang aku antar kau ke tempatmu untuk membersihkan diri," ucap Jeffrey yang masih telaten mengibas pasir di punggung Jenny.
"Baiklah,"
"Aku sudah mencarimu kemana-mana ternyata kau berada disini?" tiba-tiba Jeffrey dan Jenny tersentak karena menyadari kedatangan seseorang, Luke.
"Untung saja, dia datang setelah ciuman kami berakhir, kalau tidak mungkin aku sudah menenggelamkan diriku ke laut karena sangking malunya," batin Jenny. Ia mengutuki dirinya sendiri karena hampir hilang kendali. Andai saja Jeffrey tidak menghentikan aksinya, mungkin saat ini mereka sudah... Ahh.. tahu sendirikan?Di sebuah tempat alam terbuka yang tampak sepi. Mereka sedang anu dengan beratapkan langit dan beralaskan pasir putih. Sudah pasti sensasinyapun juga akan berbeda bukan.
"Apa yang sedang terjadi? Apa kau baik-baik saja? Dimana kursi rodamu? Aku akan mengambilnya untukmu," Luke tampak cemas melihat kondisi Jeffrey yang duduk di atas pasir pantai padahal kakinya jelas-jelas belum bisa berjalan.
"Aku sudah tidak memerlukan kursi roda lagi sekarang," ucap Jeffrey kemudian bangkit dari duduknya sejurus kemudian mengulur tangannya ke arah Jenny sebagai tanda tawaran bantuan.
Luke melihat tak percaya bahwa Jeffrey bisa berdiri tanpa bantuan apapun saat ini. Sebagai seorang pria tua yang selama ini bertugas merawat Jeffrey, tentu ia sangat senang melihatnya.
Bersambung~~
...Untuk para Readers kesayangan:...
...Tolong biasakan tinggalkan like dan coment setelah membaca ya. Bila ada rejeki lebih Vote dan Gift juga boleh. Dukungan kalian sungguh membuat auhtor bahagia dan lebih semangat dalam mengetik. Terimakasih🥰...
__ADS_1