Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn

Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn
Perjanjian


__ADS_3

Setelah dua hari tinggal di rumah Emy dan Addy, Jeffrey mengajak Jenny untuk tinggal di apartemennya. Manik biru Jenny menyapu seluruh ruangan apartemen Jeffrey yang tampak mewah. Penggunaan warna dengan shade hitam dan abu-abu semakin memperdalam nuansa maskulin ruangan khas pria.


"Kenapa masih berdiri di sana? Kamarku ada di sebelah sana," ucap Jeffrey yang langsung menarik perhatian Jenny.


"Iya," jawab Jenny singkat lalu melangkahkan kakinya menuju kamar Jeffrey namun langkahnya terhenti karena pria yang menyandang status suaminya itu menarik kerah belakang Jenny, sehingga membuat tubuhnga sedikit terhuyung ke belakang.


"Mau kemana kau?" tanya Jeffrey dingin.


"Aku mau meletakkan barang-barangku," jawab Jenny.


"Kamarmu ada di sebelah sana?" Jeffrey menunjuk ruangan yang berada paling ujung sudut ruangan.


"Jadi kami akan tidur terpisah? Fyuh! Syukurlah kalau begitu. Aku bisa tidur dengan tenang," batin Jenny merasa lega.


Tanpa berpikir panjang, Jenny pun memutar tubuhnya ke kiri dan kembali melangkahkan kakinya menuju ruangan yang akan menjadi kamar pribadinya.


Jenny langsung terperangah setelah membuka pintu kamarnya. Dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang. Bahkan kamar mungil di rumahnya jauh lebih baik dari pada kamar yang ada di hadapannya sekarang.


"Apakah kau tidak salah memberiku kamar? Bukankah ini gudang?" tanya Jenny dengan nada kecewa.


"Aku tidak salah, itu memang kamarmu," timpal Jeffrey santai kemudian mendaratkan tubuhnya di sofa. Dia memang sengaja ingin memberi pelajaran ke gadis tersebut karena gara-gara kematreannya, Jeffrey terpaksa menikahinya.


"Apa?! Tapi ini tidak layak untuk dijadikan tempat tidur," protes Jenny.


"Terserah, kau bisa tidur di luar kalau tidak suka," ujar Jeffrey sesuka hatinya.


"Segera taruh barang-barang dan kemarilah. Ada sesuatu yang harus kita bahas," titah Jeffrey.


Dengan pasrah Jenny menuruti perkataan Jeffrey, menempati gudang sebagai kamarnya. Pandangannya menyusuri seisi ruangan gudang. Bibirnya sedikit merekah ketika melihat ada kasur tipis yang masih layak pakai.


"Tidak terlalu buruk. Aku tinggal membersihkan dan merapikan ruangan ini nanti," kata Jenny pada dirinya sendiri.


"Wah, ternyata dari sini aku bisa melihat pemandangan kota," Jenny menuju jendela kaca besar yang berada di samping ruangan.


"Baiklah! Mulai hari ini kau harus lebih kuat menjalani hari-harimu dari sebelumnya Jenny. Setidak kau harus mengingat kebaikan Mommy Briana, jadi kau harus sedikit bersikap baik kepada putranya yang sangat sangat sangat menyebalkan itu," gadis blonde itu memberi suntikan semangat pada dirinya sendiri.


Kemudian Jenny menuju ruangan tempat di mana Jeffrey berada.


"Kau ingin membahas apa?" tanya Jenny penasaran.


"Aku akan melakukan perjanjian kontrak nikah," jawaban Jeffrey seketika menciptakan kerutan pada kedua ujung alis Jenny.


"Kontrak nikah? Maksutnya?"


"Kau tahu kan kalau pernikahan kita ini bersifat rahasia sampai kita lulus kuliah dan aku ingin di saat itu pula kita bercerai. Kau harus menyetujui perjanjian ini," jelas Jeffrey dengan tegas.


"Apa katamu? Kau menganggap sebuah pernikahan hanyalah sebuah permainan yang berarti kau juga mempermainkanku," Jenny tampak keberatan.


"Ck! Apa aku tidak salah dengar? Siapa yang mempermainkan siapa maksutmu? Aku hanya mengikuti alur permainan yang kau buat sendiri," Jeffrey berdecih.


"Aku tidak mengerti maksutmu? Permainan apa yang telah aku buat?"

__ADS_1


"Jangan berlagak bodoh. Aku sudah mengetahuinya, bahwa kau menerima perjodohan ini karena uang. Mommyku pasti sudah memberimu banyak uang. Aku tidak menyangka ternyata kau wanita matrealistis," cela Jeffrey.


Lontaran kalimat yang keluar dari mulut Jeffrey yang tak lain suaminya tersebut seketika membuat Jenny tertegun. Pasalnya dari mana dia bisa tahu hal itu? Karena waktu itu tidak ada yang mengetahui percakapan antara dia dan Briana perihal uang waktu itu. Di sisi lain, Jenny merasa sakit hati ketika Jeffrey menganggapnya sebagai wanita matrealistis.


"Kenapa aku harus sakit hati? Bukankah memang begitu adanya? Aku menerima pernikahan ini karena uang. Aku harus berlapang dada menerima tuduhan itu, ini memang sudah resiko dari keputusanku," batin Jenny menguatkan diri, meski sebenarnya dia sangat merasa sedih.


"Dari mana kau tahu hal itu?" tanya Jenny mencoba tegar.


"Aku mendengarnya saat kau bertemu dengan Mommyku di Coffee Shop. Aku mendengar dengan jelas percakapan kalian. Jadi kau tidak perlu bekerja keras untuk berkilah untuk menutupi keburukanmu," cemoh Jeffrey yang semakin membuat hati Jenny teriris.


"Jika Jefrrey mendengar semua percakapan kami, dia tidak mungkin akan berbicara seperti itu. Biarlah, aku juga tidak ingin dikasihani oleh pria menyebalkan ini," lirih Jenny di dalam hati.


"Aku takut kedua orang tua kita akan kecewa jika mereka mengetahui perjanjian nikah kontrak ini," ujar Jenny.


"Apa kau bodoh?! Perjanjian ini hanya kita berdua yang boleh mengetahuinya," seru Jeffrey. Dia tentu saja tidak ingin mengambil resiko jika kedua orangtuanya sampai tahu kalau putranya membuat sebuah perjanjian gila.


"Tapi..,"


"Tapi apa?" Jeffrey memotong ucapan Jenny.


"Jangan bilang kau keberatan karena mulai menyukaiku?" sambung Jeffrey yang seketika membuat Jenny tercengang.


"Wahai Tuan muda Jeffrey Allison yang terhormat, kenapa anda sangat percaya diri sekali? Aku bahkan tidak tahu, apa yang bisa aku suka pada dirimu, bisa-bisanya kau berkata seperti itu. Rasanya aku ingin muntah pelangi di depanmu," cebik Jenny.


Jeffrey semakin menampilkan muka juteknya karena ucapan Jenny.


"Tutup mulut kalau tidak ingin aku sumpal pakai kakiku!"


"Ingat selama perjanjian nikah kontrak ini berlangsung kau tidak berhak melarangku berhubungan dengan siapa saja, jadi status hubungan suami istri hanya tertulis di atas kertas saja, selain itu kita bukan siapa-siapa," tandas Jeffrey.


Jenny tampak berpikir, menimbang-nimbang keputusan apakah dia harus menerima atau menolak peraturan yang dibuat Jeffrey.


"Kau tidak perlu repot-repot mempertimbangkan hal itu, bagaimanapun juga keputusanmu tidak dibutuhkah di sini karena keputusan mutlak ada di tanganku. Lagian pernikahan kita ini bukan dasar saling cinta melainkan karena demi mendapatkan keuntungan masing-masing. Kau mendapatkan uang yang kau inginkan, sedangkan aku bisa mempertahankan namaku agar tidak tercoreng dari daftar keluarga dan ahli waris. Jadi tidak ada ruginya kalau akhirnya kita bercerai," jelas Jeffrey panjang lebar.


"Dan ada satu lagi," tambah Jeffrey.


"Apa lagi? Kenapa begitu banyak peraturan?" cebik Jenny. Dia bahkan belum menjawab perkataan Jeffrey sebelumnya.


"Mulai hari ini, aku tidak lagi memanggil jasa pembantu untuk melakukan semua pekerjaan rumah,"


"Memang kenapa?"


"Kenapa masih bertanya? Ada kau, buat apa aku memanggil pembantu lagi,"


"Menjadi pembantu di rumah suami sendiri? Sungguh tragis nasibmu Jenny," batin Jenny yang merasa miris dengan takdir hidupnya.


"Ehem!" Jenny berdehem untuk mengembalikan kekutan batinnya.


"Itu bukan masalah bagiku, aku bisa melakukan semua pekerjaan rumah, asalkan kau tidak melarangku untuk pergi kuliah," jawab Jenny yakin.


Beberapa saat Jeffrey menatap Jenny dengan sorotan tak terbaca yang sontak membuat gadis itu terheran-heran.

__ADS_1


"Kenapa kau melihatku seperti itu?


"Aku tidak menyangka bakal menikah dengan gadis sepertimu. Kenapa hidupku begitu sial?!" balas Jeffrey sangat dingin.


"Terserah apa katamu, sebaiknya aku segera bersiap-siap untuk berangkat kuliah siang," Jenny mencoba mengalihkan pembicaraan yang kian membuatnya sakit hati.


"Pel semua lantai yang ada pada ruangan terlebih dahulu sebelum kau berangkat," titah Jeffrey.


"Apa tidak bisa nanti saja, jam kelas keburu mulai jika aku mengepel lantai terlebih dahulu," tawar Jenny.


"Emang kau pikir di sini pasar ikan yang bisa di tawar? Lakukan semua perintahku atau aku akan bilang ke Mamamu kalau kau menikah karena uang? Aku yakin Mamamu belum tahu tentang itu," ancam Jeffrey yang sangat memberatkan Jenny.


"Ya Tuhan! Mengapa dia menggunakan cara itu untuk mengancamku? Tidak! Mama tidak boleh sampai tahu tentang uang itu, dia bisa sedih jika tahu uang itu aku gunakan untuk apa," batin Jenny gusar.


"Baik akan aku turuti semua perintahmu tapi aku mohon jangan kasih tahu Mamaku tentang hal itu," pinta Jenny pasrah.


"Dia benar-benar gadis yang buruk. Padahal aku tadi hanya menebak saja. ternyata tebakanku benar kalau Mamanya memang tidak mengetahui tentang uang pemberian Mommy. Aku yakin, uang itu dia gunakan untuk bersenang-senang," Jeffrey membatin.


"Mulailah dengan mengepel lantai kamar terlebih dulu. Ingat pel lantai menggunakan tanganmu dan pel ulang sebanyak 3x. Jangan sekali-kali berbuat curang karena aku sudah memasang CCTV tersembunyi di setiap ruangan," perintah Jeffrey layaknya majikan kepada pembantu. Sebenarnya Jeffrey berbohong tentang CCTV tersebut.


Suara dering pada ponsel Jeffrey menarik perhatiannya. Nama Veronica tampak menghiasai layar benda pipih.


"Halo," ucap Jeffrey setelah menerima permintaan panggilan dari Veronica dan dia sengaja mengaktifkan loudspeaker agar Jenny mendengarnya.


"Halo sayang, kamu sudah berangkat untuk menjemputku belum? Aku sudah menunggumu, kelas sebentar lagi di mulai," suara Veronica terdengar lembut dan manja di seberang telepon.


"Aku sudah akan berangkat sekarang," jawab Jeffrey.


"Oke sayang, I love you,"


Jeffrey melirik ke arah Jenny sekilas sebelum membalas ucapan manja Veronica.


"I love you too," ucap Jeffrey penuh dusta. Jujur dia mengucapkan kalimat itu agar membuat Jenny merasa tidak dihargai sebagai istri.


Veronica yang berada di seberang telepon sudah bisa dipastikan dia sedang meloncat kegirangan karena mendengar Jeffrey mengatakan kalimat yang begitu manis untuknya untuk pertama kalinya.


Setelah panggilan berakhir, Jeffrey meninggalkan apartemen tanpa menghiraukan Jenny yang masih setia dengan perasaan tertegunnya.


Iya, Jenny yang sedari tadi mendengar percakapan Jeffrey dengan Veronica tampak terperangah.


"Hah! Bisa-bisanya aku mendengar sendiri suamiku mengucap kata cinta kepada kekasihnya. Sepertinya kehidupan pernikahanku akan penuh dengan drama," ucap Jenny seraya tersenyum getir.


"I love you sayang, I love you too..., benar-benar menjijikkan," cebik Jenny sambil meniru percakapan Jeffrey dan Veornica.


Cemburu? Bukan rasa itu yang dirasakan Jenny melainkan kecewa. Meskipun tidak ada perasaan mencinta ataupun dicinta dalam ikatan pernikahan mereka saat ini, tapi tetap saja Jenny berharap statusnya sebagai seorang istri dihargai.


Bersambung~~


Untuk para Readers:


Tolong tinggalkan jejak like, coment, rate 5. Kalau ada rejeki lebih bolehlah kasih vote atau hadiah sebagai bentuk dukungan kepada Author. Terimakasih🥰

__ADS_1


__ADS_2