Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn

Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn
Tuduhan Menyakitkan


__ADS_3

Gadis blonde itu merasakan denyutan yang begitu dalam di dadanya. Mungkin selama ini Jenny memang belum memiliki perasaan lebih yang bersemayam di hatinya terhadap Jeffrey. Akan tetapi, sedikit banyak hatinya mulai memberi ruang karena sikap Jeffrey yang kian menghangat beberapa hari ini.


Entah kenapa, melihat pemandangan yang tersaji di hadapannya saat ini membuatnya muak.


"Sepertinya aku pulang di waktu yang salah. Bukan, sepertinya aku pulang di tempat yang salah," sindir Jenny dengan senyuman getir.


"Maaf kalau aku mengganggu, aku akan pergi, kalian bisa melanjutkan aktivitas kalian," ucap Jenny sebisa mungkin menampilkan mimik muka biasa lalu memutar tubuhnya hendak menuju pintu keluar namun Jeffrey mencegahnya dengan menarik tangannya hingga membuat tubuhnya terhuyun mundur menabrak dada bidang Jeffrey yang tanpa tertutup sehelai benangpun.


"Kau mau kemana? Kembalilah ke kamarmu? Titah Jeffrey kepada Jenny. Pria itu tidak ingin mengulang kegelisahannya lagi karena keberadaan Jenny yang tidak ada di apartemen semalaman.


"Sayang, kamu kenapa sih? Biarkan saja dia pergi, mungkin semalaman dia bersama Sean, kan kamu lihat sendiri kemarin dia pergi bersama pria itu," Veronica menyela yang langsung mendapat tatapan tajam dari Jenny.


Alih-alih merasa terintimidasi dengan tatapan membunuh Jenny, Veronica justru memasang mimik muka tak bersalah. Perempuan yang selalu mengaku perawan di hadapan Jeffrey masih terus menggelayut manja pada lengan kekar kekasihnya bagaikan benalu perusak tanaman.


Tanpa Veronica sadari, kalimat tuduhannya barusan telah memprovokasi pematik untuk menyulut api cemburu yang membuat hati Jeffrey terasa panas.


"Apa benar yang dikatakannya? Semalaman kau bersama Sean? Apa kau tidur bersamanya?" tuduh Jeffrey tanpa berpikir kalau hal itu bisa saja melukai hati Jenny.


Jenny tersenyum getir di sela rasa sakit hatinya.


"Memang apa urusanmu jika aku bersama Sean? Kau bahkan tidak berhak melarangku kalaupun aku tidur bersamanya," ucap Jenny sinis. Telaga putih nan indahnya mulai terasa panas.


Jeffrey melepas cengkeraman jari-jarinya dari tangan Jenny. "Tidak ku sangka kau semurah itu, setidaknya tidurlah bersama pria lain setelah kita bercerai," cemoh Jeffrey yang sebenarnya hatinya kini kian memanas.


Deg!


Bagaikan terhimpit dua batu raksasa, dadanya terasa sesak, seolah stok oksigen di dalam paru-parunya kian terenggut.


"Aku kira kita bisa berteman dan menjalin hubungan yang lebih baik. Tapi sepertinya hal itu hanya sebuah angan-angan," Jenny tertunduk. Butiran bening yang sudah dia sembunyikan dari kemarin akhirnya tak tertahan dan lolos begitu saja.


"Baru saja aku merasa senang karena kau bersikap baik kepadaku, tapi sepertinya aku yang terlalu percaya diri," sambung Jenny lagi.


Deg!


Seketika Jeffrey merasa ada yang aneh pada dadanya ketika melihat Jenny mulai berurai air mata. Hatinya seakan ikut sakit, ingin sekali ia mengusap cairan bening yang tanpa sopan mrembes di pipi Jenny. Akan tetapi rasa ego sepertinya lebih merajai hati dan pikirannya saat ini. Sehingga membuat pria berstatus suami muda tersebut memilih untuk tetap bersikap dingin.


Jenny mengusap cairan bening yang membasahi pipinya lalu mengangkat muka. Sekali lagi matanya menyelidik penampilan sepasang anak manusia dihadapannya.


Jeffrey sedang bertelanjang dada sedangkan Veronica tampak hanya berbalut kemeja kebesaran yang sepertinya itu milik Jeffrey. Beberapa kancing kemeja dibiarkan terbuka sehingga menampilkan garis belahan dada.


"Bagaimana bisa kau menghinaku padahal kau sendiri tampak usai melakukan kegiatan terlarang dengan wanita yang jelas-jelas bukan istrimu," sindir Jenny seraya tersenyum getir dengan air mata yang masih saja menyungai.


Gadis itu tampak beberapa kali mengusap cairan bening yang membuatnya berkali-kali mengumpat di dalam hati karena air mata yang masih enggan untuk berhenti. Hal itu tentu membuatnya tampak menyedihkan.


Jeffrey tersentak mendengar perkataan Jenny. Dia mulai menyapu penampilannya dan Veronica yang seketika membuat dia sadar, bahwa siapapun yang melihatnya akan mempunyai pendapat yang sama dengan Jenny.

__ADS_1


Namun, Alih-alih memberi penjelasan, Jeffrey justru semakin gencar menambah luka di hati Jenny.


"Kau saja bisa tidur dengan pria lain, kenapa aku tidak bisa tidur dengan wanita lain? Bukankah di awal perjanjian pernikahan, kau tidak berhak melarangku berhubungan dengan siapa saja?" ucap Jeffrey semakin sinis dan pedas.


Sementara Veronica semakin merasa besar kepala karena ucapan Jeffrey barusan.


"Bagus! Terus saja kalian saling bertengkar dan membenci. Setidaknya hal itu membuatku lega dan tidak perlu mencemaskan keberadaan wanita jalang ini di sisi Jeffrey," batin Veronica. Diam-diam wanita ular itu menyeringai iblis.


"Memangnya kapan aku pernah melarangmu berhubungan dengan wanita lain? Memangnya aku ini siapa? Aku hanya seoarang istri kontrak yang akan berakhir dengan status janda," timpal Jenny dengan kecewa yang kian membuncah.


Sekali lagi Jenny mengusap air matanya. "Aku membencimu! Aku sangat membencimu! Kau beruang kutub berhati dingin dan tak punya perasaan," Teriak Jenny kemudian mengambil langkah lebar menuju pintu keluar. Sedangkan Jefrrey tidak ada niat sedikitpun untuk menghentikan istrinya tersebut. Hatinya kini benar-benar telah dikuasai rasa ego yang tinggi.


Setelah kepergian Jenny, Jeffrey memalingkan mukanya ke arah Veronica yang sekilas tampak menutupi rasa senang akan kemenangannya.


"Sudah ku bilang, berpakaianlah yang benar. Bukankah aku sudah mengganti pakaian kotormu dengan yang baru? Kenapa kau malah memakai kemejaku? Berhentilah bersikap seperti wanita murahan karena aku tidak suka," tegas Jeffrey dingin sehingga membuat Veronica seketika memasang muka masam.


"Tapi sayang, aku ingin menyenangkanmu," Veronica tampak cemberut.


"Sepertinya keadaanmu sudah baik-baik saja. Dan sepertinya kau sudah bisa berjalan dengan baik. Jadi tidak masalah jika kau kembali ke tempat tinggalmu sekarang,"


Semalam Jeffrey tidak tidur di kamar bersama Veronica. Meski seribu rayuan maut sudah Veronica suguhkan, pria tampan bermuka masam itu tetap lebih memilih tidur di sofa ruang tamu.


Pagi tadi, Veronica kembali mendrama dengan menjatuhkan tubuhnya di lantai kamar mandi, mengaduh kesakitan karena kakinya terkilir. Hingga pada akhirnya Jeffrey berada pada situasi yang mengundang kesalahpahaman antara dia dan Jenny.


"Tapi sayang, aku ingin lebih lama tinggal bersamamu," Veronica merengek.


Di dalam kamar mandi, Jeffrey berdiri di depan cermin wastafel. Dia menatap tajam bayangan muka yang terpantul pada benda bening di depannya.


"Apakah benar dia semalam bermalam di tempat Sean? Tapi seumpama itu benar seharusnya aku tidak perlu kaget. Karena beberapa hari yang lalu dia bahkan tidak keberatan berciuman denganku. Sepertinya, aku yang menganggap dia gadis polos adalah kesalahan," batin Jeffrey yang berkecamuk.


°°°


Jam kelas kuliah terkahir sudah selesai. Jeffrey, Veronica, Sammy, dan Alvin tampak berjalan menyusuri lorong kampus.


"Jeff, berhenti dulu," panggil seseorang dari belakang yang tak lain adalah Daisy yang diikuti Jullian dan Avellyn.


Sontak Jeffrey memutar tubuhnya ke arah sumber suara.


"Jenny kenapa tidak masuk kelas hari ini? Tidak biasanya dia melewati tugas persentasinya. Aku sudah menghubunginya dari tadi pagi hingga menjelang sore tapi tidak bisa," tanya Daisy.


"Kenapa kau malah bertanya kepadaku? Seharusnya kau bertanya kepada Sean. Sudah pasti dia sedang bersama Sean saat ini," jawab Jeffrey ketus.


"Siapa yang kau maksut bersamaku?" sela Sean yang tiba-tiba datang.


"Dai, kenapa Jenny tidak bisa dihubungi dari tadi pagi?" Sean bertanya ke Daisy.

__ADS_1


"Aku juga sedang menanyakan hal itu ke dia, tapi sepertinya suaminya pun tidak mengetahui keberadaannya," timpal Daisy menunjuk ke Jeffry.


"Setelah semalam menginap di tempatku, Jenny bilang akan langsung kembali ke apartemennya," beber Daisy yang sontak membuat dada Jeffrey bagaikan dihantam ribuan batu.


"Maksutmu, Jenny semalam bersamamu dan bukan bersama Sean?" Jeffrey kembali bertanya untuk meyakinkan apa yang dia dengar itu benar.


"Iya, dia bersamaku semalam," jawab Daisy dengan mimik muka curiga begitu juga dengan yang lain.


"Berarti tadi aku sudah berkata yang tidak-tidak ke Jenny. Siaalll! Kenapa aku tidak berpikir dulu sebelum menuduhnya, aku terlalu kemakan dengan perkataan Vero, sial!" umpat Jeffrey di dalam hati. Kini dia tampak begitu gusar. Rasa bersalah mulai merambat di hatinya.


Jullian yang merasa curiga dengan gelagat Jeffrey sontak menarik kerah baju Jeffrey.


"Jangan bilang kau sudah menyakiti sahabatku?" tanya Jullian dengan tatapan menusuk.


"Lepaskan tanganmu dari tubuhku, ini urusan rumah tanggaku, kalian tidak berhak ikut campur," ucap Jeffrey sinis seraya menghempas tangan Jullian dari kerah bajunya.


"Sebaiknya kau cepat mencari dimana dia sekarang, hari sudah hampir petang," saran Jullian setengah memerintah.


"Tanpa kau suruhpun aku akan mencarinya," jawab Jeffrey yang langsung melangkah pergi dan langsung di ikuti Sean. Bagaimanapun juga Sean tidak mungkin hanya berdiam diri jika hal itu menyangkut tentang gadis pujaan hatinya.


"Sayang, kau mau kemana? Biarkan saja Sean yang mencarinya," teriak Veronica yang berusaha menyeimbangi langkah lebar Jeffrey.


"Sayang, berhentilah! Apa kau tidak mendengarkanku?" Jeffrey seketika menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya ke arah Veronica dengan muka merah padam menahan amarah.


"Sudah cukup Veronica. Jangan hentikan aku karena memang seharusnya aku mencarinya. Ini semua gara-gara kebodohanku yang terlalu mudah termakan oleh perkataanmu,"


"Ayolah, biarkan saja dia, masih ada Sean yang akan mencarinya. Kenapa kau begitu peduli dengannya? Atau jangan-jangan kau mulai menyukainya?"


"Benar! Aku memang mulai menyukainya, apa kau puas?!" seru Jeffrey yang tak habis pikir dengan sikap Veronica yang sedikitpun tidak merasa bersalah.


Veronica seketika tertegun mendengar pengakuan Jeffrey. Tubuhnya terasa lemas karena pernyataan kekasihnya yang tentu sangat melukai hatinya.


"Tidak! Kau harusnya menyukaiku sayang. Ini pasti karena wanita murahan itu sering menggodamu, iya kan?" Veronica mencoba meraih tangan Jeffrey.


Jeffrey semakin jengah dalam menghadapi Veronica. Rasanya ingin sekali dia mengakhiri hubungan mereka saat ini.


Tanpa merespon ucapan Veronica, Jeffrey melepas genggaman tangannya dan berlalu begitu saja bersama mobilnya.


Di sudut lain, seorang pria yang sudah dua tahun lebih berusaha memperjuangkan cintanya kepada seorang gadis yang berstatus istri orang tersebut tampak terkejut dan tidak percaya. Tanpa sengaja, dia juga mendengar pengakuan perasaan Jeffrey beberapa saat yang lalu.


"Inilah yang aku takutkan selama ini? Lambat laun Jeffrey akan menyadari perasaannya. Sepertinya aku akan kalah. Tapi aku tidak akan menyerah dengan perasaanku," gumam Sean, lalu mulai menggerakkan kembali tubuhnya yang sempat membatu. Mencari keberadaan Jenny.


Bersambung~~


...Semoga berkah Ramadhan tetap ada di hati kita dan menerangi jiwa kita. Selamat Ramadhan dan menunaikan ibadah puasa....

__ADS_1


...Untuk para Readers kesayangan:...


...Tolong biasakan tinggalkan like dan coment setelah membaca ya. Vote dan gift juga sangat bisa menyenangkan Author. Dukungan kalian sungguh membuat auhtor bahagia dan lebih semangat dalam mengetik. Terimakasih🥰...


__ADS_2