
Sepanjang perjalanan kembali ke restauran tempat Emy berada, Jenny tampak beberapa kali melirik ke arah Jeffrey yang masih setia diam seribu bahasa namun tak lepas dari espresi muka masam dengan tingkat dua level lebih tinggi.
Wanita blonde itu sangat tahu kalau suaminya sedang kesal dengannya saat ini. Hanya alasan ia pergi ke tempat Ella tanpa ijin terlebih dahulu sudah cukup membuat sepasang tanduk mencuat di atas kepalanya. Setelah kegiatan honeymoon mereka, Jeffrey memang semakin bersikap posesif.
Di tambah lagi, Jeffrey sangat tidak suka jika Jenny masih berhubungan dengan Ella dan Amber, karena dia merasa salah satu dari mereka atau bahkan keduanya akan kembali melakukan sesuatu yang buruk terhadap Jenny. Hal itu tidak menutup kemungkinan karena tingkat rasa kemanusiaan yang tertanam di hati kucing kecilnya itu sangatlah besar yang dimana hal itu bisa saja dimanfaatkan oleh Ella dan Amber. Pria bermuka masam itu sudah membayangkan sederat kemungkinan yang akan terjadi jika Jenny terlalu dekat dengan mereka.
Jeffrey memarkirkan mobilnya di pelataran restauran. Sebelum turun ia menggiring mukanya ke arah Jenny yang masih menatapnya dengan mimik muka memelas. Berharap si beruang kutubnya kembali bersikap manis kepadanya.
"Kenapa kau tidak segera turun?" tanya Jeffrey dingin.
"Maaf ya, lain kali aku akan ijin terlebih dahulu ke kamu. Kau jangan marah ya? Hm?" bujuk Jenny seraya memasang mimik muka Puppy eyes.
Jeffrey mengehela napas berat. Rasanya ingin sekali ia mengutuk dirinya sendiri karena selalu luluh jika si kucing kecilnya itu sudah membujuk dengan mimik muka seperti sekarang.
"Sudahlah, sebaiknya kita turun sekarang, kau pasti lapar," ucap Jeffrey seraya membantu Jenny melepaskan seatbelt-nya namun pergerakan tangannya terhenti dikala Jenny menyerangnya dengan sebuah kecupan di bibir kissable-nya.
"Kalau kau masih marah, anggap saja ciuman barusan adalah ciuman terkahir untuk satu minggu kedepan," Jenny mulai menggunakan jurus handalannya. Jurus yang selalu berhasil sesuai ekspestasi-nya.
"Berhentilah mengancamku, aku bukannya marah tapi aku hanya mencemaskanmu. Sebaiknya kita segera turun, jam makan siang sudah lewat," tutur Jeffrey.
°°°
Jenny berhamburan ke pelukan Emy yang langsung disambut hangat oleh Emy.
"Mama, Jenny sangat rindu," ucap manja Jenny seraya mendaratkan beberapa ciuman di pipi sang Mama.
"Putri Mama kenapa semakin manja, padahal baru seminggu yang lalu Mama mengunjungimu di Cambridge," Emy terkekeh geli melihat tingkah putrinya yang memang tidak seperti biasanya.
Sedangkan Jeffrey hanya tersenyum tipis menyaksikan pemandangan hangat di depannya.
"Kalian duduklah, kali ini Mama akan menyiapkannya sendiri makan siang untuk kalian,"
Selang beberapa waktu kemudian Emy datang dengan membawa meja troli restauran yang berisi beberapa menu makan siang.
Dengan hati-hati Emy meletakkan satu persatu piring yang berisi makanan ke atas meja. Namun ekspresi muka Jenny seketika berubah ketika satu porsi daging panggang yang beraburan bawang bombay cincang di atasnya tersaji nyata di hadapannya.
Dahinya mengernyit hingga kedua ujung alisnya hampir bersatu. Aroma yang beberapa hari begitu haram baginya mulai tercium kembali. Otaknya langsung bekerja dengan cepat mengirimkan sinyal-sinyal pemberontakan akan aroma asing yang menerobos ke dalam indera penciumannya.
__ADS_1
Isi dalam perutnya mulai bergejolak, menciptakan rasa mual yang begitu hebat. Jenny beranjak dari duduknya dan langsung melangkah cepat ke toilet.
Jeffrey yang menyadari gelagat aneh Jenny langsung merasa cemas dan berinisitaf mengikutinya.
"Hueekk! Hueekk! Hah! Hah!" Jenny terus memuntahkan isi perutnya yang bahkan belum terisi oleh makan siangnya.
Sementara Jeffrey tampak memijat-mijat tengkuk leher Jenny berharap dapat meringankan rasa mualnya.
"Apa kau sakit?" Jeffrey tampak cemas.
Setelah berhasil memuntahkan semua isi perutnya, Jenny mencuci mulut dengan air yang mengucur dari kran wastafel. Kemudian ia memutar tubuhnya dengan masih bersandar di pinggiran keramik wastafel.
"Entahlah, aku merasa sangat mual jika mencium aroma daging yang dipanggang," jawab Jenny dengan sisa-sisa tenaganya.
"Sayang, apa kau merasa ada perubahan aneh pada tubuhnya beberapa hari ini?" sela Emy yang ternyata juga mengikuti Jenny ke toilet.
"Iya Ma, akhir-akhir ini aku merasa sering mengantuk dan lelah, terus aku juga merasa mual jika mencium aroma makanan yang di bakar atau di panggang," beber Jenny.
Alih-alih Emy merasa cemas, justru sebuah senyuman penuh akan makna tersirat di bibirnya.
"Nak Jeffrey, sebaiknya kau bawa istrimu ke Dokter sekarang, aku harap ini adalah sebuah tanda yang akan membawa kabar gembira bagi kita," tutur Emy yang masih belum dipahami sepenuhnya oleh Jeffrey dan Jenny.
°°°
Senang karena Tuhan telah memberikan kepercayaan dengan menitipkan benih calon malaikat kecil di dalam perut Jenny. Dan tidak percaya, bahwa mereka akan menjadi seorang orangtua di usianya yang relatif sangat muda.
Setelah mendengarkan semua penjelasan dan penuturan Dokter mengenai semua panduan yang menunjang kesehatan kandungan, Jeffrey menuntun istrinya keluar ruangan menuju mobil.
Sedangkan di sudut bangunan Rumah Sakit lainnya, tampak seorang pria yang tanpa sengaja melihat sepasang suami istri tersebut keluar dari ruangan poli kandungan.
"Dilihat dari mukanya mereka tampak bahagia, aku yakin Jenny sedang hamil. Ck! Aku bahkan belum sempat memiliki dan merasakan tubuhnya, tapi dia sudah hamil duluan. Si Vero terlalu lambat dalam bergerak. Sebaiknya aku segera bertindak. Aku akan memanfaatkan kehamilannya," ucapnya seraya berseringai licik.
"Aduh! Kenapa ini terasa sangat nyeri? Sebaiknya aku segera memeriksanya," keluhnya hingga akhirnya dia melanjutkan niatnya untuk memeriksa keluhannya.
°°°
"Terimakasih, karena kau bersedia mengandung calon anakku," ucap Jeffrey dengan melempar tatapan hangat seraya tangan menyapu lembut pipinya.
__ADS_1
Jenny mengangguk senang, namun senyuman yang terulas di bibirnya perlahan-lahan luntur.
"Tapi apa kau tidak malu? Kau akan menjadi ayah di usiamu yang sekarang, kau dulu bahkan malu ketika kau menikah di usia muda," ungkit Jenny sedikit ragu.
"Dulu dan sekarang sudah berbeda sayang, apa kau tidak bisa melihat saat ini betapa aku bahagia karena kau telah mengandung anakku?" tutur Jeffrey meyakinkan.
Kedua pasang netra mereka saling mengunci, seolah menyalurkan sebuah isyarat dengan sejuta rasa yang bercampur jadi satu. Perlahan Jeffrey mengecup lembut bibir ranum Jenny. Sebuah kecupan yang perlahan berubah menjadi lum*tan dan sesapan panas namun memabukkan.
Jenny semakin dibuat terbuai ketika tangan nakal nan kekar itu mulai menyelinap masuk ke balik kain dan mulai menjelajah ke area larangan dua bukit kenyal nan sintal.
"Ahhh! Beruang kutub apa kau akan melakukannya di mobil? Nanti ada orang yang melihat, hentikan," mulut Jenny memang menolak tapi tidak dengan tubuhnya. Ia justru mengalungkan tangannya ke leher Jeffrey dan semakin memperdalam ciumannya.
"Tidak akan ada yang melihat, karena kaca mobil ini anti tembus pandang," jelas Jeffrey yang mulai berpindah dengan permainan lidahnya yang menggambar pola kupu-kupu di leher putih susu Jenny serta tangan yang masih asyik memilin kedua biji yang sudah tegak menantang di peraduannya.
Dering ponsel yang terdengar nyaring seketika memenuhi langit-langit mobil yang membuat aksi cumbuan keduanya terhenti.
Jeffrey mendengus kesal karena merasa kesenangannya terganggu. Dengan malas ia menerima permintaan sambungan panggilan yang ternyata dari Mommy Briana.
"Halo Mom,"
"Apa kau sudah kembali ke Cambridge?"
"Belum Mom, aku baru saja dari," kalimat Jeffrey tiba-tiba terputus.
"Daddymu pingsan dan sekarang ia berada di Rumah Sakit,"
Jeffrey seketika terkejut setelah mendengar kabar dari Mommy. Sebesar apapun sikap acuhnya, dia tetap akan cemas jika sesuatu yang buruk menimpa keluarganya.
Di belahan bumi lainnya, seorang wanita tampak menyeringai puas.
"Permainan menuju pintu neraka sudah waktunya dimulai. Sudah cukup aku memberi waktu kepada kalian untuk berbahagia. Kalian tidak harusnya bersatu karena Jeffrey adalah milikku," Veronica menyeringai tajam.
Bersambung~~
...Untuk para Reader tersayang:...
...Mohon tinggalkan like dan komen pada setiap babnya setelah membaca ya.. Jika ada rejeki lebih bolehlah sumbangkan vote dan gift kalian untuk karya kentangku ini. Mohon maaf jika Nofi terkesan mengemis dukungan kalian. Tapi memang kenyataannya begitu sih🤣...
__ADS_1
...Terimakasih🙏🥰...