
Disalah satu belahan kota London, tepatnya di Restaurant And Cafe milik Alvin.
"Sayang, aku pergi ke toilet dulu ya, aku ingin membetulkan make up-ku dulu," pamit si wanita dengan nada super lembut, lumer dan manja. Wanita itu adalah kekasih Sean yang ke sekian kali dalam sebulan.
Sean hanya merespon dengan anggukan kecil dan senyuman samar hingga akhirnya wanita seksi yang berpakaian kurang bahan itu melenggang pergi.
Sedangkan Sammy dan Alvin yang kebetulan juga berada di satu meja, menatap punggung polos kekasih Sean tanpa berkedip sedikitpun hingga sasaran bidikan mata mereka menghilang di telan tembok.
"Waow! Amazing! Dari penelitianku, dia kekasihmu yang paling seksi Sean, tapi terus terang aku tidak menyukainya," seru Sammy antusias tapi mimik mukanya seketika berubah datar di akhir kalimatnya.
"Aku juga tidak menyukainya," tambah Alvin sepemikiran.
"Ck! Kalian bilang tidak suka, tapi bola mata kalian hampir saja meloncat dari sarangnya ketika melihat punggung polosnya ," decih Sean kemudian menyeruput mocktail-nya.
"Itu karena aku heran, dia sudah berdandan totalitas seharusnya kau membawanya ke bar lalu menggiringnya ke hotel bukan membawanya ke kafe ini," lagi-lagi Sammy memberi saran minim ahklak yang menyesatkan.
"Aku sama sekali tidak memiliki hasrat dengannya, aku hanya ingin menjadikannya pelarian saja," tandas Sean santai.
"Dia wanita yang ke berapa?" tanya Alvin santai seraya mengaduk-aduk minumannya dengan sedotan lalu meminumnya hingga tandas. Suara sedotan yang tinggal tetes terakhir itu terdengar sangat berisik.
"Aku tidak ingat,"
"Kalau ingin move on dari Jenny, kau harusnya mencari satu wanita yang bisa kau ajak serius, atau nikahi dia sekalian, bukan berganti-ganti pacar," saran Alvin masih dengan nada santai tapi mimik muka terlihat serius.
"Semua wanita yang pernah menjadi kekasihku akan selalu bersenang hati untuk menikah denganku, tapi sayangnya aku masih belum ingin menikah,"
"Sayaaang....! Aku sangat merindukanmu," tiba-tiba tubuh Sean sedikit terhuyun ke depan karena seseorang memeluknya dari belakang.
"Hai Alesya cantik..," sapa Sammy dan Alvin bersamaan. Seperti biasanya, kedua pria dewasa itu selalu mengagumi kecantikan Alesya. Iya, sebuah rasa yang hanya sekedar mengagumi maha karya Tuhan yang tercetak apik pada muka tirus Alesya.
"Hai kakak-kakak tampan...," balas Alesya menyuguhkan senyuman manis yang mengembang sempurna di mukanya, membuat pria dimanapun terpesona olehnya tapi tidak untuk Sean, atau mungkin belum.
Sean memutar lehernya untuk memastikan apa benar Alesya yang sedang memeluknya sekarang. Dan benar saja, Sean langsung memasang muka masamnya dan terlihat jengah.
"Kamu ap," Sean yang tadinya berniat menggerutu tiba-tiba terputus karena mulutnya dibungkam Alesya dengan tangannya.
"Sttt! Kak, tolong kali ini saja ya, bantu aku, berpura-puralah menjadi kekasihku," bisik Alesya lalu kembali mengulas sebuah senyuman paksanya.
Sean mencoba mencerna situasi dan langsung menyadari keberadaan Kevin yang tentu langsung mengerti apa maksud tujuan Alesya saat ini.
"Sayang kau ternyata disini ya? Kenapa kau pergi tanpa mengajakku? Hm?" Alesya mulai menunjukkan bakat acting amatirannya yang jauh dari kata sempurna.
"Ck! Yang benar saja Alesya, masa kau berpacaran dengan Paman ini? Dia terlihat terlalu tua jika dibandingkan denganmu," cemoh Kevin dengan kalimat ampasnya.
__ADS_1
Mendengar ucapan pemuda yang tanpa melewati penyaringan uji klinis terlebih dahulu tersebut, Sean sontak berdiri dari duduknya. Ia menghunus tatapan sinis yang begitu tajam ke arah Kevin.
"Hei, bocah ingusan! Umurku masih 24 tahun kenapa kau memanggilku paman? Dan lagian sejak kapan nenekmu melahirkanku? Kau ini sudah buta ya, mukaku masih sangat tampan jika dibandingkan dengan muka bertompelmu itu, bisa-bisanya kau bilang aku tua," sergah Sean tidak terima jika salah satu aset paling berharganya dihina seraya berdecak pinggang.
Kevin menyeringai tanpa sopan. "Ayolah Paman, aku hanyalah anak SMA dan kau juga terlihat sudah sangat dewasa, apakah salah jika aku memanggilmu Paman?"
"Pfffft! Dulu Alesya juga memanggilmu Paman, apa kau masih ingat Sean?" celetuk Sammy seraya menahan tawanya yang hampir saja pecah begitu juga dengan Alvin.
Sean langsung melirik tajam ke arah Sammy dan Alvin yang membuat keduanya bungkam seketika.
"Ternyata Sean dan Jeffrey itu sama aja, sekali marah bikin bulu romaku menegang seperti tersengat belut listrik," cicit Sammy kepada Alvin setengah berbisik yang langsung mendapat anggukan cepat Alvin sebagai tanda balasan.
"Kevin sekarang sudah melihat sendiri kan, kalau aku memang sudah memiliki kekasih, jadi berhentilah memaksaku untuk menjadi kekasihmu," sela Alesya yang kembali menggelayut manja seraya mencubit-cubit ringan lengan Sean.
Sean memutar tubuhnya ke arah Alesya. Ia menatap gadis itu dengan mimik muka tak terbaca. Bahkan Alesya juga tidak bisa menebak apa yang dipikirkan Sean saat ini. Hingga akhirnya gadis bermata bulat itu sedikit tercekat ketika melihat pria dewasa pujaan hatinya itu menyungging satu ujung bibirnya.
"Apa arti dari senyuman itu? Oh tidak! Jangan bilang kak Sean akan mengatakan bahwa aku hanya bersandiwara dan mengaku-aku bahwa dia adalah kekasihku. Aaiiihh! Mau ditaruh dimana mukaku nanti? Si Kevin pasti akan semakin memaksaku untuk menjadi kekasihnya, hiks!" batin Alesya mulai panik.
"Memangnya kau pikir aku akan bersedia membantumu begitu saja gadis gila. Kali ini aku akan balas dendam karena kau selalu mengusik hidupku," batin Sean menyeringai sinis.
"Kak Sean please, jangan lakukan itu, kau harus membantuku, hm?" pinta Alesya di dalam hati dengan mimik muka memelas samar-samar.
"Jika aku tidak mau membantumu emang kau mau apa gadis gila?"
"Masa bodoh,"
Beberapa saat kedua anak manusia itu terlihat saling melempar tatapan dengan mimik muka seolah mereka sedang berperang batin. Tapi kenyataannya mereka memang melakukan hal itu.
Alesya yang menyadari bahwa Sean akan membuatnya malu di depan Kevin tampak menggelengkan kepalanya samar-samar berharap Sean mengurungkan niatnya itu. Namun alih-alih mengindahkan permintaan Alesya, Sean justru semakin memperjelas seringainya.
Deg!
"Aiiiissh! firasatku berkata buruk, aku harus melakukan sesuatu," teriak Alesya di dalam hati.
Ah! Tidaaakkkk! Gawat! Gawat! Gawat!" Alesya masih saja berteriak di dalam hati sambil mencari ide. Hingga akhirnya dia berniat menggunakan alternatif terakhir untuk menghentikan aksi Sean.
"Hmm, sayang? Kenapa kau lagi-lagi tersenyum seperti itu? Aku tidak mungkin melakukannya di depan orang, kau selalu saja begitu," ucap Alesya seolah tersipu malu seraya memukul-mukul kecil lengan Sean.
Sean seketika mengerutkan kedua alis tebalnya mendapati gelagat aneh Alesya.
"Kenapa kau malah memasang muka cemberut seperti itu? Sayangku ini sungguh tukang ngambekan ya. Oke, oke aku akan melakukannya sekarang,"
Tanpa memberi jeda kepada Sean untuk berpikir. Dengan sedikit kesulitan, Alesya sedikit menjijit. Kedua tangannya merangkum muka tampan Sean dan tanpa diduga, ia langsung mendaratkan sebuah ciuman berdurasi beberapa detik.
__ADS_1
Awalnya Sean memang sempat terkejut dengan aksi gila dan nekat Alesya, tapi tubuhnya tidak bisa berbohong dan justru memberi respon yang sangat di luar nalarnya. Perlahan ia menutup kedua matanya dan mulai terbuai untuk menikmati permainan ciuman amatiran Alesya. Tidak ada aksi penolakan sedikitpun dari Sean. Ia membiarkan Alesya mendominasi permainan pagutan bibirnya.
"Gila! Kenapa aku justru menikmatinya? Ciumannya saat ini sungguh terasa berbeda dari pada ciumannya dua tahun yang lalu, terasa sangat manis," batin Sean dengan pikiran yang terus menolak tapi tidak dengan tubuhnya.
Sedangkan Kevin yang melihat aksi mesrah antara Alesya dan Sean, memilih menyerah kemudian melangkah pergi keluar kafe dengan perasaan dongkol.
Sementara Sammy dan Kevin tampak melongo dengan mulut yang menganga lebar menyaksikan scene ciuman antara gadis SMA dengan Pria dewasa di hadapannya secara live.
Hingga akhirnya ciuman mereka berakhir karena seseorang menarik kasar tubuh sean dan..
Plak!
Tamparan keras mendarat sempurna di pipi Sean sehingga membuat mukanya menoleh ke samping. Dan adegan tamparan itu juga langsung menarik perhatian para pengunjung kafe lainnya yang tentu saja membuat posisi Sean dipermalukan.
"Dasar fuckboy! Baru aku tinggal sebentar ke toilet tapi kau sudah bermesaraan dengan wanita lain!" hardik orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah kekasih Sean yang baru jadian kemarin malam. Ia tampak sangat marah dan kecewa saat ini.
Wanita itu ganti mengalihkan perhatiannya ke Alesya, matanya tampak menyelidik tubuh Alesya dari ujung kaki hingga ujung kepala dan diakhiri dengan tatapan mencemoh.
"Ck! Ternyata gadis kecil seperti ini bisa kau makan juga, menjijikkan! Sebaiknya kita putus sekarang!" decih wanita itu lalu melenggang pergi dari hadapan Sean dan Alesya.
"Putus ya putus, kenapa harus menamparku segala? Dasar betina," gerutu Sean seraya mengusap pipi bekas tamparan yang masih terasa panas dan bercenut-cenut ria.
"Apa kau puas sekarang?! Sekali lagi kau membuatku malu," seru Sean yang seketika membuat tubuh Alesya terkesiap.
Bersambung~~
Visual Alesya Lawrence
Ini Visual Sean Hansen biar nggak lupa🤭
Bersambung~~
...Untuk para Author, maaf ya jika feedbacknya sering telat. Tapi Nofi pasti tetap usahain mampir dan membaca ke karya super kece kalian🥰...
...Untuk para Readers kesayangan:...
__ADS_1
...Tolong biasakan tinggalkan like dan coment setelah membaca ya. Bila ada rejeki lebih Vote dan Gift juga boleh. Dukungan kalian sungguh membuat auhtor bahagia dan lebih semangat dalam mengetik. Terimakasih🥰...