
Gadis bersurai patah ombak bewarna pirang tampak berlari mengejar waktu jam kelas berharap kali ini dia tidak terlambat lagi dalam mengikuti kelas. Dengan langkah kakinya yang timpang karena rasa ngilu pada lututnya, dia semakin menambah laju kecepatan larinya karena menyadari dia sudah terlambat 10 menit.
"Maaf Mr. George, saya datang terlambat," ucap Jenny dengan napas ngos-ngosan.
Kedatangan Jenny sontak menarik perhatian penghuni seluru kelas, termasuk Jeffrey dan kawan-kawan.
"Kenapa 1 bulan terakhir ini kamu sering terlambat masuk kelas Jenny? Sebagai hukumannya berdiri di depan kelas dan jawab pertanyaan dariku,"
Iya, selama satu bulan menjalani pernikahan Jenny bagaikan seorang tawanan Romusha pada jaman penjajahan Jepang di salah satu negara Asia Tenggara. Romusha adalah sebuah panggilan bagi orang Indonesia yang dipekerjakan secara paksa pada masa penjajahan Jepang di Indonesia dari tahun 1942 hingga 1945.
Jenny harus melakukan semua perintah Jeffrey yang selalu seenak jidat dan tak mengenal waktu. Hal itulah yang membuat Jenny sering terlambat datang ke kampus. Gadis itu bahkan harus merelakan kerja part time-nya.
"Baik Mr. George," Jenny berdiri di depan kelas dengan mimik muka pasrah. Pasalnya Mr. George adalah salah satu Dosen yang terkenal sering memberikan pertanyaan maut yang bisa membuat para mahasiswanya mati kutu.
"Apa yang dimaksut dengan Financial repression yang dikemukan oleh Mc Kinnon dan Shaw?" Mr. George mulai melempar satu pertanyaan.
Glek!
Jenny seketika menelan cairan salivanya dengan berat mendapati pertanyaan yang menurutnya level kesulitannya melewati kemampuan otaknya.
"Financial repression adalah... Emm.. Financial repression adalah sebuah kondisi keuangan yang dibatasi oleh suku bunga," jawab Jenny ragu.
"Apa hanya segitu saja jawaban darimu Jenny?" tanya Mr. George.
"Apa yang lain bisa membantu menjawabnya?" Mr. George mengedar ke seluruh kelas menunggu respon dari anak-anak didiknya.
"Iya kamu, silahkan menjawab pertanyaan dari saya," Mr. George mempersilah salah satu mahasiswa yang mengangkat sebelah tangannya untuk meneruskan jawaban Jenny. Mahasiswa tersebut adalah Jeffrey.
"Financial repression adalah sebuah tekanan keuangan yang bermula dari kondisi di mana pasar modal tidak efisien atau berada dalam ketidak seimbangan. Sistem finansial suatu negara disebut "ditindas" apabila pasar finansialnya mengalami distorsi," jawab Jeffrey dengan sangat mudah dan langsung membuat seluruh penghuni kelas berdecak kagum.
Meskipun Jeffrey terkenal dengan sifatnya yang arogan dan semena-mena tapi dia memiliki kecerdasan otak di atas rata-rata yang di mana hal itu diturunkan dari sang Daddy, Darwin.
"Jawaban yang tepat Jeffrey," puji Mr. George kepada Jeffrey.
"Jenny berterima kasihlah kepadanya karena telah membantumu menjawab pertanyaan dariku. Kamu diperbolehkan duduk sekarang dan lain kali datanglah ke kelas tepat waktu," tutur George kepada Jenny.
Sementara itu, sekilas Jenny tampak memasang muka sebal dengan batin yang terus berkomat kamit.
"Padahal dia yang selalu bikin aku terlambat datang ke kelas, tapi kenapa sekarang dia bersikap seolah ingin menjadi pahlawanku di depan orang-orang? Sungguh pria menyebalkan!"
Jeffrey? Tentu saja dia menyadari raut sebal Jenny yang tak lain istri rahasianya itu. Dia menyeringai tipis yang hampir tak kasat mata, merasa puas melihat muka Jenny yang ditekuk 10 kali.
°°°
Bumi masih berputar pada porosnya, waktu menggantikan siang menuju malam. Jarum jam sudah menunjuk pada angka 6 petang yang seharusnya santapan makan malam sudah tersaji rapi di atas meja makan. Iya, memang seharusnya hidangan harus sudah tersaji dan siap dieksekusi. Namun hari ini Jenny enggan melakukan pekerjaan rumah yang satu itu.
"Hari ini badanku lelah sekali. Aku akan malam dengan roti saja, lagian si Jeffrey menyebalkan itu tidak pernah mau memakan masakan yang aku buat,"
"Hiiish! Dia bahkan tidak pernah sekalipun mengembus masakanku, jadi buat apa coba dia selalu menyuruhku memasak? Apa dia tidak pernah menghargai makanan?" Jenny terus saja mengoceh seraya melahap roti sebagai makan malamnya.
Setelah selesai menyantap makan malam sederhananya, gadis blonde itu menuju ke ruang tamu. Dia berniat menunggu Jeffrey pulang sambil mengerjakan tugasnya.
Jeffrey memang melarang Jenny tidur duluan sebelum dia pulang. Entah, apa tujuannya sebenarnya. Jenny hanya menuruti kemauan suaminya untuk mengurangi perdebatan di antara mereka. Bagi Jenny aktivitas sehari-hari sudah sangat melelahkan dan dia tidak ingin menambahnya dengan meladeni omelan Jeffrey yang tiada guna tersebut.
__ADS_1
Jam sudah menunjuk pukul 9 malam. Jeffrey baru saja pulang dari klub biliar. Dia membuka pintu apartemen dan mulai menjejakkan kakinya ke dalam ruangan.
"Ck! Dasar pemalas, baru jam segini sudah tidur," decih Jeffrey yang melihat pemandangan di depannya. Saat ini Jenny sedang ketiduran dengan posisi duduk di lantai beralaskan karpet dan meja sebagai tumpuan kepalanya. Beberapa lembar tugas yang sudah selesai dia kerjakan tampak tertata rapi di sebelahnya.
Jeffrey melirik ke arah gelas yang berisi air putih yang berada di atas meja ruang tamu. Dengan seringai usil dia lalu meraih gelas tersebut dan menumpahkan air tepat ke muka Jenny yang sontak membuat Jenny terbangun gelagapan dengan nyawa langsung terisi penuh.
Jenny mengusap mukanya yang basah dan seketika matanya membulat sempurna ketika menangkap lembaran-lembaran tugas kuliah yang sudah dia kerjakan basah terkena air.
Gadis blonde itu menggiring pupil birunya ke sumber provokasi emosinya yang berdiri tepat di depannya dengan tampang tak berdosanya. Masih menahan sumbu emosi yang bisa sewaktu-waktu tersulut bara api, Jenny berdiri tegap menghadap Jeffrey.
"Kenapa kau lakukan itu?" tanya Jenny dingin dengan pertahanan emosi yang hampir meluap.
"Karena kau memang pantas diperlakukan seperti itu," jawab Jeffrey dengan garis-garis kearoganan yang begitu jelas.
"Apa kau tidak bisa bersikap lebih dewasa? Sampai kapan kau akan terus bersikap seperti ini? Apa kau tidak bisa memperlakukanku selayaknya manusia? Bahkan anjing peliharaan mendapatkan perlakuan yang lebih baik daripada aku. APA KAU TAHU BAGAIMANA SELAMA INI AKU MENJALANI HIDUPKU?! SELAMA INI AKU SUDAH BANYAK MENDERITA!" bentak Jenny yang akhirnya menumpahkan semua emosinya yang sudah sampai ke ubun-ubun yang diikuti mata yang memerah karena genangan cairan bening yang pada akhirnya luruh membentuk butiran mutiara yang tanpa sopan membasahi pipinya.
Jeffrey seketika tertegun tatkala mendengar perkataan Jenny. Butiran mutiara bening yang meluncur mulus ke pipi Jenny semakin menarik perhatiannya. Untuk kedua kalinya dia melihat seorang Jenny Dawson menangis setelah kejadian beberapa tahun yang lalu ketika gadis itu diusir dari rumahnya oleh keluarga tirinya.
"Aku bahkan sudah menguras seluruh isi otakku untuk mengerjakan tugas-tugas ini, hiks, kau sungguh jahat kepadaku Jeff," keluh Jenny sesenggukan.
Dengan mata yang masih basah, Jenny menatap tajam muka Jeffrey yang masih terpaku dengan kearoganannya sebelum akhirnya dia menyaut lembaran-lembaran tugas seraya mengusap air matanya kemudian melangkahkan kakinya dengan cepat menuju kamar. Bukan, kata kamar terlalu bagus untuk sebutan sebuah ruangan yang banyak dipenuhi barang-barang dan debu. Gudang, iya gudang, itulah kata yang cocok untuk sebutan ruang tersebut.
Blam!
Jenny membanting pintu kamar gudangnya sehingga mengembalikan Jeffrey dari keterpakuannya.
"Berani-beraninya dia membentakku! Tapi hari ini aku akan berbaik hati untuk tidak menghukumnya," gerutu Jeffrey.
Pria bertubuh semampai tersebut mendekati pintu kamar Jenny. Tangannya mencoba membuka pintu Jenny tanpa mengetuk pintu tapi sepertinya Jenny menguncinya dari dalam.
Tok.. Tok.. Tok..
Jeffrey mengetok pintu.
"Hei! Apa kau sedang menguji kesabaranku? Keluarlah sekarang,"
Tok..Tok..Tok..
"Untuk apa aku keluar? Aku tidak mau!" Akhirnya Jenny menyaut dari dalam kamar.
"Aku lapar, buatkan aku makan malam," perintah Jeffrey. Tadi waktu keluar dia memang tidak sempat membeli makan malam di luar.
Cklek!
Jenny membuka pintu dan keluar dari balik daun pintu. Dia menatap sinis muka Jeffrey dengan netra yang masih terlihat lembab.
"Apa kau sungguh akan memakannya jika aku memasaknya untukmu?"
Kruk.. Kruk..
Suara keroncongan dari perut Jeffrey sudah cukup dijadikan jawaban dari pertanyaan Jenny.
"Jangan banyak bertanya, cepat masak makanan untukku," ketus Jeffrey sedikit malu.
__ADS_1
Jenny mendengus lalu melangkahkan kakinya menuju dapur. Dia mengambil beberapa bahan dari lemari pendingin dan mulai bertempur dengan alat dapurnya.
Sedangkan Jeffrey, sambil menunggu makan malamnya siap dia memilih berkutat dengan pena dan lembaran kertas di ruang tamu. Sepertinya dia sedang mengerjakan sesuatu.
Tidak butuh waktu lama, dua porsi nasi goreng sosis plus telur mata kuda sudah siap di atas meja makan. Harum aroma masakannya menyapu seluruh ruangan. Jenny memang sengaja membuat tambahan satu porsi makan malam untuknya. Hanya mengisi perutnya dengan roti ternyata cepat membuat dia lapar kembali.
Jeffrey tampak menuju ke meja makan sebelum Jenny memanggilnya.
Puk!
Jeffrey meletakkan beberapa lembaran kertas di atas meja yang membuat Jenny memasang muka bertanya-tanya.
"Ini untukmu," ucap Jeffrey dingin.
"Apa? Benarkah? Apa aku tidak sedang bermimpi? Sejak kapan kau punya rasa tanggung jawab?" tanya Jenny setelah melihat isi lembaran kertas tersebut. Gadis itu masih belum percaya kalau Jeffrey akan mengganti tugas kuliahnya yang telah rusak.
"Jangan ke ge'eran dulu, aku hanya tidak ingin kau menjadi tidak waras karena memaksa otak kentangmu itu untuk mengerjakan kembali tugas kuliahmu," kilah Jeffrey dingin. Sebenarnya dia sempat merasa beralah karena perbuatannya tadi.
Gila! Seorang Jeffrey Allison yang terlahir dengan kearoganan tingkat iblis sejak lahir bisa merasa bersalah untuk ke dua kalinya kepada gadis yang sama, yaitu Jenny orang yang paling dia benci.
"Waow! Kau bisa mengerjakan semua ini dalam waktu singkat. Ck! Kemampuan otakmu yang luar biasa sungguh tidak cocok dengan karaktermu yang suka membuat onar," cibir Jenny.
"Apa kau tidak mempunyai rasa berterimakasih?" saut Jeffrey mulai kesal.
"Terimakasih," ucap Jenny singkat. Dia tidak ingin berlebihan, toh itu memang sudah tugas Jeffrey untuk mengganti tugasnya yang sudah dia rusak.
"Kenapa kau hanya membuat nasi goreng?" Jeffrey tampak protes setelah melihat makanan yang tersaji di depannya.
"Aku memasak dengan bahan seadanya, lagian aku sudah tidak memiliki uang untuk belanja bahan makanan," jawab Jenny dengan muka datarnya.
"Bukankah kau mempunyai banyak uang, karena aku yakin Mommyku memberimu uang yang sangat banyak waktu itu," sindir Jeffrey.
"Uang itu sudah terpakai semua, kau tidak usah bertanya aku gunakan untuk apa uang itu, karena itu bukan urusanmu," sahut Jenny kemudian mulai menyuap makanan ke mulutnya.
"Ck! Aku juga tidak ingin tahu urusanmu, dasar gadis gila," cebik Jeffrey yang juga mulai memasukkan makanan ke mulutnya. Tanpa disadari Jeffrey tampak menikmati masakan Jenny dan memakannya dengan lahap. Dia tidak bisa menyangkalnya karena masakan Jenny yang tampak sederhana ternyata sangat lezat.
"Akhirnya kau mau memakan masakanku, aku kira kau akan merasa jijik, ternyata kau bisa memakannya dengan sangat lahap," cebik Jenny setelah melihat piring di depan Jeffrey tinggal sendok dan garbu.
Jeffrey tidak menjawab sindiran Jenny. Pria tampan bermuka masam tersebut berdiri dan lalu melempar sebuah kartu kredit di atas meja makan.
"Pakai ini untuk belanja," ucap Jeffrey dingin.
Seketika Jenny memasang muka senang dengan mata berbinar-binar setelah melihat sebuah benda tipis yang dipercaya berisi banyak uang di dalamnya.
"Yey! Akhirnya aku bisa mengisi penuh kulkas besok," ucap Jenny senang lalu dia mengambil kartu tersebut dan menyimpannya. Kemudian dia mengambil dua piring kotor dan membawanya ke washtafel cuci piring.
Jeffrey mengulas sedikit senyum melihat tingkah Jenny tanpa dia sadari.
Jeffrey yang hendak melangkah pergi dari dapur, tiba-tiba mengurungkan niatnya sesaat karena melihat ada yang aneh pada Jenny.
Bersambung~~
...Untuk para Readers:...
__ADS_1
...Tolong tinggalkan jejak like, coment, rate 5. Kalau ada rejeki lebih bolehlah kasih vote atau hadiah sebagai bentuk dukungan kepada Author. Terimakasih🥰...