Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn

Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn
Kissing Course 2


__ADS_3

Pemuda tampan berambut blonde melajukan mobilnya menembus keramaian malam jalanan kota London. Seperti biasanya, setiap seminggu sekali dia akan mengunjungi Ibunya yang tinggal di Ibu kota Inggris. Kebetulan Jarak antara London dan Cambridge hanya membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam dan hal itu bukan masalah baginya.


Dia memarkirkan mobilnya pada halaman yang sangat luas. Di dalam halaman tersebut berdiri sebuah mansion mewah bak istana bernuansa serba putih dengan desain klasik khas Eropa. Pemuda tampan tersebut kemudian melangkahkan kakinya menuju rumah mewah namun bagaikan neraka baginya. Sebuah bangunan yang sebenarnya sangat tidak dia kunjungi.


"Ada apa kau menyuruhku ke sini?" tanya Sean dingin kepada seorang pria beda usia yang memiliki hubungan darah tersebut.


"Duduklah dulu, apa kau sudah makan malam putraku?" tanya Erick yang tak lain ayah kandung Sean.


"Aku sudah makan bersama Ibuku tadi," jawab Sean. Sekilas dia melirik ke arah wanita tengah baya yang duduk di samping Erick. Dia adalah Ingrid, Ibu tirinya. Wanita itu tampak sedang memasang mimik muka tidak senang akan kedatangan Sean.


"Apa kau baru saja mengunjungi Sarah? Bagaimana kondisinya sekarang?" tanya Erick lagi lalu menyesap kopi hitam dari cangkir porselinnya. Sekilas, guratan rasa sedih dan sesal terukir di muka yang sangat mirip dengan Sean.


"Jangan sebut namanya dengan muka seperti itu, seolah kau mengkhawatirkan dia," cibir Sean.


"Apa kau tidak punya rasa hormat sedikitpun kepada Ayahmu? Apa Ibumu tidak pernah mengajarimu sopan santun kepada orang yang lebih tua," seru Ingrid merasa kesal.


Sean hanya merespon celotehan kasar Ingrid dengan senyuman masam.


"Bagaimana aku bisa bersikap hormat kepada orang yang sudah meninggalkanku dan Ibuku demi seorang pelakor," batin Sean.


"Jangan sebut-sebut nama Ibuku untuk menghinaku Tante, dia selalu mengajariku sopan santun," jawab Sean santai seraya melirik ke arah pergelangan tangannya. Dia memang tidak ingin berlama-lama di rumah itu.


"Kau seharusnya berterimakasih kepada Ayahmu, karena dia masih bersedia memenuhi semua kebutuhanmu dan memfasilitasimu dengan barang mewah," Ingrid memang tak pernah sungkan menunjukkan rasa ketidak sukaannya kepada Sean, termasuk di depan suaminya yang merupakan Ayah kandung Sean.


"Tante bicara apa? Itu kan memang sudah kewajibannya menghidupiku," Sean menyeringai geli mendengar ucapan Ibu tirinya.


Ingrid mendengus kesal karena sikap Sean yang berkesan tidak menghargainya.


"Kau!" seruan Ingrid terputus.


"Sudah cukup! Bisakah kau bersikap sedikit lembut kepadanya? Dia juga putraku," tukas Erick yang membuat istrinya berkali-kali menciptakan dengusan seperti kerbau.


"Ayah memanggilmu ke sini karena merindukanmu, sudah lama sekali kita tidak mengobrol. Bisakah malam ini kau menginap di sini? Ini juga rumahmu, putraku," bujuk Erick dengan tatapan penuh harap.


"Maaf, aku tidak bisa. Karena besok aku ada janji dengan seseorang," tolak Sean yang langsung membuat harapan Erick pupus.


"Baiklah, tapi Ayah harap kau mau sering-sering mengunjungi Ayahmu ini,"


"Akan ku usahakan tapi aku tidak janji. Aku harus kembali ke Cambridge sekarang sebelum terlalu larut," pamit Sean tanpa menunggu respon dari Erick pemuda itu berlalu begitu saja dari hadapan sepadang suami istri tersebut.


"Kenapa kau tidak katakan langsung? Bukankah kau memanggilnya karena ingin menjodohkannya dengan salah satu putri keluarga Shawn?" protes Ingrid setelah kepergian Sean.


"Jangan gegabah, kita harus merayunya dengan perlahan. Dia akan semakin membenciku jika aku terlalu memaksanya," timpal Erick.


Ketika Sean sampai pada pintu keluar mansion Ayahnya, dia tidak sengaja bersimpangan dengan seorang pemuda yang berusia lebih muda darinya.


"Sean, sejak kapan kau datang?" sapa Arthur yang tampak senang bertemu dengan Sean. Namun Sean tidak menjawab, meskipun hanya sekedar menjawab sapa'an Arthur dengan senyuman, pemuda itu masih terus melanjutkan langkahnya.


Arthur adalah adik tiri Sean. Meski dia selalu mendapat perlakuan dingin dari Sean tapi dia tetap menghargai Sean sebagai kakaknya. Arthur selalu berusaha mengerti dengan apa yang dirasakan sang Kakak selama ini. Bagaimanpun juga dia dan Ibunya mengambil andil dalam rusaknya kebahagiaan keluarganya.


。。。


"Kau bisa berlatih denganku," tawar Jeffrey yang kontan membuat Jenny tercengang.


"Maksutnya aku harus berciuman denganmu begitu? Nggak nggak nggak! Aku nggak mau. Jangan bilang tujuan awalmu itu seperti pasal 378, isinya modus," tuduh Jenny seraya memicing tajam matanya.


"Terserah kau mau berkata apa. Aku hanya menawarkan bantuan. Lagian itu hanya latihan dan tidak ada landasan nafsu atau saling suka, menurutku itu bukan masalah, lagian kita itu suami istri, bukankan hal biasa jika kita saling berkontak fisik," ucap Jeffrey santai lalu merebahkan tubuhnya, membalut tubuhnya dengan selimut dan mencari posisi ternyaman untuk tidur.


"Hei beruang kutub! Kenapa kau malah pergi tidur? Katanya kau akan mengajariku," Jenny merengek seraya menarik-narik selimut yang menutupi tubuh suami kontraknya tersebut.


"Kau sendiri yang bilang tidak mau kan, setelah ini jangan menangis di depanku jika Sean tiba-tiba menjauhimu karena kau payah dalam berciuman," Jeffrey menarik kembali selimutnya, menutupi tubuhnya hingga kepala.


Jenny tampak berpikir. Dia menimbang-nimbang perkataan Jeffrey.


"Apakah yang dikatakan beruang kutub benar ya?Masa kencan pertamaku harus berakhir menyedihkan sih? Hah! Aku benar-benar belum mengerti bagaimana suasana saat berkencan," Jenny sejenak berperang dengan batinnya.


"B-baiklah," ucap Jenny yang hampir tak terdengar tapi bisa tertangkap dengan jelas oleh indera pendengaran Jeffrey.


Jeffrey menurunkan selimutnya hingga sebatas dada. "Apanya yang baiklah?" tanya Jeffrey meminta kejelasan.


"Baiklah, beritahu aku cara berciuman," ulang Jenny ragu sedikit menunduk.


Seketika Jeffrey menyeringai penuh makna di dalam hati. "Apa dia memang sepolos ini," batin Jeffrey.

__ADS_1


Jeffrey mengangkat tubuhnya dalam posisi duduk.


"Kau mendekatlah, bagaimana bisa kita berlatih jika jarak tubuh kita berjauhan," titah Jeffrey yang langsung dituruti Jenny.


Kini tubuh kedua anak manusia itu saling berhadapan. Jeffrey tampak mengulum bibirnya karena menahan tawa. Mendapati kepolosan istri kontraknya itu membuatnya tidak ingin menghentikan permainannya terlalu cepat.


"Coba langsung kau praktekkan apa yang kau lihat di video tadi,” Jeffrey mulai memberi pengarahan.


"A-apa? Aku harus memulainya darimana?" Jenny memasang muka bingung.


"Dimulai dari ini," Jeffrey memberi isyarat dengan menunjuk bibirnya.


"Sekarang?"


"Tidak tahun depan,"


"Tapi.."


"Ya sudah aku tidur saja,"


"Jangan!" Jenny menarik tangan Jeffrey agar kembali ke posisi duduk.


"Tunggu sebentar," gadis blonde itu menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.


"Kau ini teralu lama, aku keburu ngant,"


Cup!


Ucapan Jeffrey terputus karena kecupan dadakan dari Jenny.


Deg! Deg! Deg!


"Kenapa lagi-lagi jantungku berdenyut hebat? Sepertinya besok aku harus memeriksakan jantungku," batin Jeffrey sempat syok.


"Sudah," ucap Jenny singkat.


"Apanya?"


"Ciumannya,"


"Terus?"


"Kau harus mengulangi,"


"APA?!"


"Ciumanmu belum benar. Jangan menutup matamu terlalu erat. Kau terkesan ketakutan. Memangnya kau sedang berciuman dengan setan?" cerocos Jeffrey.


"Baik akan aku ulangi," Mood Jenny tiba-tiba menjadi lebih semangat.


"Lakukan dengan pelan-pelan dan sedikit miringkan kepalamu," Jeffrey memberi arahan seraya mempraktekkan dengan kepala dan tangannya.


Jenny mengangguk cepat dan mulai melakukan ancang-ancang.


"Mukamu,"


"Hm? Ada apa dengan mukaku?"


"Apa kau ingin memakanku? Lemaskan sedikit otot-otot mukamu itu," celetuk Jeffrey.


"Errgg! Yang benar saja. Oke.. Oke," Jenny mencoba me-relax-kan mimik mukanya. Sedikit mengangkat kedua sudut bibirnya hingga menampilkan senyuman manis.


Pelan-pelan Jenny mendekatkan mukanya, jarak bibir Jenny dan Jeffrey kian terkikis.


Deg! Deg! Deg!


Detak jantung si pemilik permainan kembali menderu hebat. Menunggu detik-detik bibir ranum istri kecilnya mendarat sempurna sungguh menguras kesabarannya.


"Terlalu lambat," ucap Jeffrey yang kontan membuat Jenny menghentikan aksinya yang dimana jarak muka keduanya hampir tak tersisa.


"Hem?" Jenny bertanya-tanya.


Sesaat sepasang netra Jeffrey menatap secara intens mutiara biru Jenny kemudian ia mengangkat tangannya dan menarik pinggang Jenny hingga tubuh mereka benar-benar menempel. Jenny kontan terkejut dengan tindakan Jeffrey.

__ADS_1


Pria tampan bermuka masam itu melanjutkan aksinya dengan mendaratkan bibir kissable-nya pada bibir tipis Jenny. Jenny sempat mengerjapkan matanya ketika suami kontraknya mengecup bibirnya.


Masih sebatas kecupan singkat, Jeffrey menjauhkah mukanya memberi ruang antara mukanya dan Jenny.


"Ini belum bisa dikatakan ciuman. Ciuman yang sebenarnya seperti ini," ucap Jeffrey kemudian melanjutkan kegiatan kiss training-nya.


Jeffrey menarik tengkuk leher Jenny lalu kembali mendaratkan bibirnya ke bibir Jenny. Memberi cecapan ringan nan lembut beberapa kali. Jeffrey menghentikan aksinya setelah menyadari lawan mainnya tiada respon. Bukannya tiada respon, saat ini tubuh Jenny seakan membatu karena merasakan sesuatu yang baru dan asing baginya. Gadis itu belum mengerti bagaimana dia harus mengimbangi ciuman Jeffrey.


"Buka sedikit mulutmu," titah Jeffrey yang sudah terbuai dan ingin menikmati lebih jauh benda kenyal bewarna merah jambu tersebut.


"Hm? Untuk apa?" tanya Jenny yang masih belum bisa menguasahi pikirannya seutuhnya.


"Buka saja," titah Jeffrey mutlak yang langsung dipatuhi Jenny.


Melihat Jenny memberi ruang kepadanya, Jeffrey kembali melesatkan bibirnya kepada bibir Jenny. Me*lum*t bibir atas dan bawah secara bergantian. Merotasikan kepalanya, miring ke kanan dan miring ke kiri secara bergilir. Lidah tak bertulangnya menyapu rongga bibir Jenny dan semakin memperdalam ciumannya.


Perlahan, Jeffrey membawa tubuh Jenny dalam posisi berbaring tanpa melepaskan tautan bibirnya. Menindih tubuh kecil istrinya dan masih terus mencecap dan menghisap bibir ranum yang sepertinya akan menjadi candu baginya setelah ini. Tidak hanya bibir, tangan Jeffrey pun mulai melingkari perut Jenny dan menariknya hingga menciptakan posisi tubuh yang begitu intim.


"Emmmmp.. Emmpp,"


Jeffrey begitu tenggelam dalam permainannya sehingga tidak menyadari Jenny hampir saja kehabisan stok oksigen di dalam paru-parunya. Hingga pada akhirnya tautan bibir Jeffrey terlepas karena dorongan kecil tangan Jenny pada dada bidangnya.


"Kenapa?" tanya Jeffrey sedikit kecewa. Dia merasa seperti ada yang hilang.


"Aku tidak bisa bernapas, huh, huh," ucap Jenny yang masih terengah-engah di bawah kungkungan badan besar Jeffrey.


Masih dalam posisi menindih tubuh Jenny, Jeffrey mengulas senyuman maut yang sangat langka dan tentu saja membuat Jenny sedikit terpukau dengan tatapan tak percaya.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Jeffrey heran.


"Baru kali ini, kau tersenyum kepadaku, aku sungguh terkejut, biasanya kau selalu memasang muka masam di hadapanku," dengan polos Jenny mengutarakan isi hatinya.


"Ehem!" Jeffrey berdehem seraya melempar pandang ke sembarang arah. Dia juga tidak percaya. Semuanya keluar begitu saja tanpa ia sadari.


"Bisakah kau beranjak dari tubuhku? Tubuhmu sangat berat. Bisa-bisa aku berubah menjadi manusia gepeng nanti," cerocos Jenny.


Jeffrey sontak mengangkat tubuhnya dari atas tubuh Jenny yang seketika membuatnya menyadari dan mengutukki dirinya sendiri karena tindakkannya yang berlebihan dan hampir saja hilang kendali.


"Apakah latihannya sudah selesai?" tanya Jenny dengan lugunya. Seolah kegiatan ciuman panas barusan memang hanya sekedar praktek kerja lapangan, tidak lebih.


Berbeda dengan Jeffrey, meski kegiatan ciumannya sudah berakhir, detak jantungnya masih saja berdebar melebihi ritme normal. Suhu tubuhnya kian memanas dan kepalanya terasa pusing.


Jeffrey menuruni ranjang, dan meraih gelas yang sudah terisi air putih dari atas meja kamarnya. Bagaikan seorang musafir yang baru saja menemukan oasis pada gurun gersang, pria itu langsung meneguk air hingga tak tersisa.


"Kembalilah ke kamarmu," titah Jeffrey yang berusaha setenang mungkin dengan muka masamnya.


Jenny pun beranjak dari ranjang, namun langkahnya terhenti di saat melewati kaca panjang yang berdiri di dekat pintu kamar. Matanya membelalak sempurna melihat ada yang aneh pada bentuk bibirnya.


"Astagaaaaaa! Kenapa bibirku menjadi bengkak? Pekik Jenny seraya memandang iba bibirnya.


Sementara Jeffrey tampak salah tingkah karena menyadari hal itu disebabkan karena ulah nakalnya tadi.


"Apakah setiap berciuman akan selalu bengkak?" tanya Jenny dengan muka naifnya.


"Tenang saja, besok bibirmu sudah kembali seperti semula. Sekarang keluarlah, aku ingin beristirahat," Jeffrey membukakan pintu kamar, mengusir Jenny secara halus.


"Hiks, bibirku hampir sama dengan bibir ikan sekarang, padahal besok aku ada kencan dengan Sean," gerutu Jenny seraya melangkah menuju kamarnya yang terletak bersebelahan dengan kamar milik Jeffrey.


Tubuh Jeffrey tiba-tiba terasa lemas dan hampir terjatuh setelah kepergian Jenny dari kamarnya. Dia meremas baju bagian dadanya. Getaran yang begitu hebat masih sangat terasa. Tulang tempururung lututnya seolah sudah lepas dari ruasnya. Membuat pria itu berjalan gontai dan tak berdaya.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan tubuhku ini? berdekatan dengannya membuat jantungku tidak normal. Sebaiknya aku benar-benar harus segera memeriksakan jantungku besok,"


"Sebentar, aku harus menghubungi Duo luknut itu dulu," Jeffrey lantas mengirim sebuah pesan ke dalam group chat yang beranggotakan tiga serangkai yaitu Jeffrey, Sammy, dan Alvin.


Jeffrey:


Besok temui aku. Aku butuh kalian untuk menjadi mata-mataku.


Bersambung~~


...Untuk para Readers kesayangan:...


...Tolong biasakan tinggalkan Like dan Coment setelah membaca ya. Kalau ada rejeki lebih, sangat diperbolehkan untuk mengirim vote atau gift. Dukungan kalian sungguh membuat auhtor bahagia dan lebih semangat dalam mengetik. Terimakasih🥰...

__ADS_1


...Oya sekalian Nofi mau ijin tidak up untuk besok. Karena Nofi berniat mengambil libur 1 hari. Sudah 8 bulan tidak menghirup udara segar. Rasanya jiwa gilaku sudah berontak minta lepas🤣 Sekali lagi terimakasih🙏...


__ADS_2