Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn

Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn
Aku Mencintaimu


__ADS_3

Jenny masih tampak sesenggukan di kamar. Tidak dapat disangkal lagi, rasa menyesal memang mulai menyeruak di hatinya, sehingga menciptakan sensasi denyutan yang memilukan.


Ia melirik ke arah makanan kesukaannya yang sengaja dimasak khusus oleh Jeffrey dengan sepenuh hati, lalu ia menggiring pupilnya ke arah sendok dan makanan yang berserakan di lantai. Sekali lagi, rasa menyesal kembali berdenyut dengan eksistensi yang lebih besar.


Setelah membersihkan lantai yang kotor karena makanan yang berceceran, ia mencoba mencari kesibukan untuk sedikit mengurangi kesedihannya seraya menunggu si beruang kutub kesayangannya kembali.


Jenny menatap sendu satu porsi makan malam yang terletak di atas meja makan yang sepertinya belum disentuh sama sekali oleh Jeffrey.


"Sepertinya dia tadi juga belum makan," lirih Jenny sedih.


Jenny melirik ke arah tempat pencucian piring berharap ada sesuatu yang bisa ia kerjakan namun tempat itu bersih.


Jeffrey memang sengaja langsung membersih peralatan dapur yang habis dia gunakan untuk memasak bertujuan untuk meringankan pekerjaan rumah istrinya. Bahkan dapur juga terlihat sangat bersih.


Merasa tidak ada yang bisa ia kerjakan di dapur, lantas Jenny menuju ke tempat dimana baju-baju kotor bertumpuk, namun sekali lagi Jenny semakin dibuat terperangah. Tidak ada lagi baju kotor. Semuanya sudah dicuci bersih dan wangi, bahkan sudah disetrika dan dilipat dengan rapi.


"Ya Tuhan.. Apa semua ini dia yang mengerjakan?" lirih Jenny tidak percaya.


Kalau bukan Jeffrey terus siapa lagi? Pasalnya Jenny selalu menolak menggunakan jasa pembantu selama ini.


Jenny menekan dadanya yang terasa sesak. Sesak karena pikirannya sendiri. Pikiran buruk yang meragukan akan ketulusan Jeffrey hanya karena sebuah pesan yang belum pasti kebenarannya.


"Kau memang bodoh Jenn, bukankah kau sendiri yang bilang, dalam berumah tangga harus saling percaya? Tapi kau sendiri yang melanggar ucapanmu," Jenny mengutuki dirinya sendiri.


Satu jam.. Dua jam.. Jenny terus menunggu kembalinya Jeffrey, namun yang ditunggu tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Ingin sekali ia segera menceritakan semuanya, tentang pesan yang sangat mengusik pikiran beberapa hari ini. Ingin sekali ia mengucap kata maaf dan ingin sekali ia berhambur ke pelukan Jeffrey saat ini.


"Beruang kutub kau kenapa tidak pulang-pulang?" lirih Jenny yang mulai cemas.


Resah, karena kekasih hatinya belum juga pulang hingga akhirnya ia memutuskan keluar apartemen untuk menenangkan perasaannya dengan menghirup udara segar di luar.


Jenny berhenti mengayunkan kakinya dikala sepasang iris birunya menangkap siluet seseorang yang sedang duduk di bangku taman yang terletak tidak begitu jauh dari bangunan apartemennya.


"Beruang kutub," panggil Jenny lirih. Tersirat sebuah penyesalan di muka cantiknya.


Jeffrey menggiring muka tampannya ke arah sumber suara yang sangat ia kenal. Ia tampak mendesah kasar sebelum akhirnya beranjak dari duduknya lalu melangkahkan kakinya ke arah Jenny.


"Kenapa kau keluar malam-malam? Pulanglah sekarang," ucap Jeffrey sedingin gunung es di kutub selatan. Tanpa menunggu ia melanjutkan langkahnya meninggalkan Jenny hendak kembali ke apartemen.


Tubuh Jeffrey sedikit tersentak ketika sepasang tangan melingkari perutnya dari belakang. Seketika langkah kakinya pun terhenti.


"Beruang kutub maafkan aku, hiks!" ucap Jenny seraya memeluk tubuh Jeffrey dari belakang dengan sangat erat.


"Aku mohon jangan marah lagi," lanjutnya lagi sambil sesenggukan.


Jeffrey mengehela napas berat.


"Aku tidak marah, aku hanya kecewa akan sikapmu beberapa hari trakhir ini," balas Jeffrey yang masih enggan memutar tubuh atau bahkan sekedar menyentuh tangan Jenny yang meliliti tubuhnya.


"Beberapa hari ini pikiranku memang sangat kacau karena sebuah pesan yang terkirim ke ponselku. Dan pesan itu sangat menggangguku. Tidak seharusnya aku menyimpannya sendiri, seharusnya aku menanyakannya langsung kepadamu. Tapi aku justru terbuai dengan pikiranku sendiri yang tak tentu," Jenny membeberkan semua yang ia rasakan.


Jeffrey Melepas tangan yang masih melingkari perutnya kemudian memutar tubuhnya menghadap Jenny. Ia menatap lekat muka Jenny dengan penuh tanda tanya. "Pesan apa maksudmu?"


Jenny merogoh ponsel dari saku celananya dan dengan ragu ia memperlihatkan sebuah pesan itu ke Jeffrey.


Saat ini kau pasti merasa berada di atas awan karena sikap baik Jeffrey ke kamu bukan? Jangan senang dulu, semua sikap baiknya itu karena ingin membalas kebaikan Ayahmu. Aku berkata seperti ini karena aku juga pernah berada di posisi yang sama denganmu. Tahukah kau, Jeffrey bahkan mau menjadi kekasihku hanya karena ia merasa berhutang budi kepadaku dan itu berlangsung selama 3 tahun lebih hingga akhirnya dia memutuskanku karena aku ketahuan telah menipunya. Dan aku yakin, Jeffrey bahkan belum pernah mengatakan cinta kepadamu. Ya itu sudah jelas bukan, karena dia memang tidak mencintaimu. Dia masih bertahan tinggal bersamamu karena hanya ingin menebus kesalahannya yang menyebabkan meninggalnya Ayahmu dan tidak lebih.


Begitulah isi pesan yang dikirim Veronica sebelum ia mendekam di penjara.


"Jadi gara-gara pesan ini kau bersikap acuh kepadaku?" tanya Jeffrey kecewa.

__ADS_1


Jenny mengangguk samar membenarkan.


"Apa kau meragukan ketulusanku?" tanya Jeffrey lagi.


Sekali lagi Jenny hanya mengangguk samar.


"Ya Tuhan.. Jenny, apa sikapku kepadamu selama ini belum bisa membuktikan kalau aku memang benar tulus adanya?" Jeffrey tampak frustasi.


"Tapi kau memang belum pernah sekalipun mengatakan cinta kepadaku, terakhir kau hanya berkata menyukaiku itupun hanya sekali pada beberapa bulan yang lalu, jadi apa salahnya kalau aku ragu?" sanggah Jenny yang tiba-tiba mood-nya berubah sensi. Padahal baru saja ia menyesali perbuatannya.


Mendengar cicitan Jenny seketika menciptakan suasana berbeda di hati Jeffrey. Entah mengapa ia merasa Jenny saat ini seperti anak kecil yang ngambek karena tidak pernah mendengarkan kata sayang dari kedua orangtuanya.


Jeffrey merangkum muka Jenny dengan kedua telapak tangannya yang besar. Ia memandang intens hingga kedua pasang lensa berbeda warna itu saling terkunci.


"Coba dengarkan aku. Aku memang merasa berhutang budi kepada almarhum Papamu, aku juga berniat membalas kebaikannya dengan cara memperlakukanmu dengan baik. Salah satunya dengan cara mencurahkan segenap perasaanku kepadamu, dengan cara mencintaimu dengan tulus. Dan asal kau tahu Jenny Dawson, aku sudah mulai mencintaimu sebelum aku mengetahui kebenaran tentang Papamu, jadi aku mohon, berhentilah meragukan ketulusanku ini,"


Jenny mendengar seksama semua perkataan Jeffrey. Ia berusaha mencari kebohongan pada sepasang manik abu-abu pria yang telah menjadi raja di hatinya itu, namun hanya ketulusan yang ia temukan.


"Benarkah?" Jenny berusaha mencari jawaban lagi untuk lebih meyakinkan hatinya.


"Benar sayang, aku sangat mencintaimu. Hingga saat ini pun hatiku masih terus bergetar jika dekat denganmu, itu karena aku mencintaimu. Kau yang sudah menjadi ratu di hatiku,"


Jenny seketika menangis haru. "Aku juga mencintaimu beruang kutubku," ia menenggelamkan mukanya di dada bidang suaminya. Penumpahkan segala perasaannya disana.


Jeffrey mengurai pelukan Jenny lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat di kening Jenny dengan penuh sayang kemudian menurunkan bibir ke arah bibir Jenny. Menghadiahinya sebuah ciuman manis yang semanis madu.


Sepasang kekasih halal itu semakin tenggelam ke dalam cumbuan bibir yang begitu panas. Jenny membuka bibirnya mempersilahkan lidah Jeffrey menjelajah ke dalam rongga mulutnya. Lidah mereka saling bertautan hingga pertukaran cairan saliva pun terjadi.


Jeffrey menarik lebih dalam tengkuk leher Jenny sehingga menciptakan cecapan bibir yang semakin intim. Jenny tampak memukul-mukul dada bidang Jeffrey karena mulai kesulitan bernapas.


Jeffrey tampak mendengus geli setelah melepas pagutan bibirnya. "Kenapa kau masih saja payah?" ledeknya seraya mengusap bibir Jenny yang basah karena cairan salivanya.


"Huh! Huh! Kenapa kau suka sekali membuatku kesulitan bernapas?" sungut Jenny dengan napas tersengal-sengal seolah habis lari maraton.


"Paman, bisakah kau bantu aku turun?" teriak seorang gadis meminta tolong.


Sean yang kebetulan melewati jalan persimpangan gang kecil tampak celingukan, mencari sumber suara yang terdengar dekat.


Kletuk!


Sebuah benda kecil menjatuhi kepalanya. Sean melirik ke benda tersebut sejurus kemudian ia memungutnya yang ternyata sebuah jepitan rambut berbentuk hati. Dahinya mengernyit.


"Siapa yang melempar benda ini ke kepalaku?" teriak Sean yang masih celingukan ke kanan dan ke kiri.


"Paman, itu aku yang melemparnya, aku berada di atas sini. Bisakah kau membantuku turun?" Sean langsung mengangkat kepalanya, mengarahkan pandangannya ke atas pohon yang berdiri kokoh di sebelah kanannya. Sesaat ia sempat dibuat terkejut oleh sosok yang bertengger di dahan pohon yang rindang itu.


"Gadis kecil, apa yang kau lakukan di atas pohon malam-malam begini, hah? Aku hampir terkejut karena mengira kau itu hantu penunggu pohon," seru Sean merasa heran. Ia melihat gadis itu memeluk seekor anak kucing.


"Bisakah kau menolongku terlebih dahulu setelah itu akan bercerita, terus terang aku sangat takut ketinggian saat ini," pinta si gadis memelas.


"Baiklah, tapi bagaimana caraku menolongmu? Tidak ada tangga di sini?"


"Terserah bagaimana caramu menolongku paman, yang penting aku bisa segera turun, aku tidak ingin kencing di celana, hiks!" si gadis mulai merengek dan menangis.


"Hei! Kenapa kau malah menangis? Oke, tunggu sebentar," Sean mencoba menyelidik dengan mengira-ngira jarak ketinggian antara si gadis dan tanah.


"Kau meloncatlah dari sana dan aku akan menangkapmu," titah Sean.


"Paman, apa kau yakin bisa menangkapku dengan benar? Aku masih muda dan aku juga belum pernah pacaran apa lagi merasakan first kiss,"

__ADS_1


"Apa hubungannya dengan pacaran dan first kiss?" Sean mulai kesal.


"Ya kan kalau Paman tidak bisa menangkapku, aku akan mati muda dong, dan aku tidak akan ada kesempatan merasakan itu semua,hiks!"


Sean merotasikan kedua bola matanya jengah.


"Kalau kau tidak ingin loncat sebaiknya aku pergi saja sekarang dan tetaplah disana sampai besok pagi," Sean hendak pergi.


"Jangan pergi! Hiks! Baiklah aku akan loncat sekarang,"


"Baik dalam hitungan ke tiga meloncatlah! Satu.. Dua.. Ti,"


"Tunggu dulu Paman, bisakah kau berhitung sampai sepuluh, kalau sampai tiga itu terlalu cepat, aku belum siap," Sean semakin dongkol.


"Iya sudahlah! Kenapa kau banyak sekali maunya?"


Sean pun mulai berhitung sampai hitungan ke sepuluh hingga akhirnya..


"Kyaaakkk!" teriak si gadis yang mulai loncat.


Hap!


Tubuh si gadis mendarat dengan mulus di dalam tangkapan kedua tangan kekar Sean kemudian menurunkannya.


"Fyuuh! Itu tadi sangat menegangkan," si gadis tampak lega sesekali ia melirik ke arah pohon yang dia panjati tadi.


"Kenapa malam-malam gini gadis kecil seperti kau memanjat pohon?" tanya Sean menuntut jawaban.


"Ah, awalnya aku berusaha ingin menolong kucing kecil ini dengan memanjat pohon. Tapi ternyata aku bisa naik tapi tidak bisa turun, apa lagi dari atas pemandangan di bawah tampak menyeramkan," jelas si gadis bergidik.


"Dasar gadis kecil bodoh!"


Bukannya marah si gadis malah nyengir kuda. "Ngomong-ngomong terimakasih ya paman, hmmm.. bolehkan aku memberimu hadiah sebagai tanda terimakasihku?" ucapnya dengan senyuman penuh makna.


"Memangnya kau ingin memberiku hadiah apa gadis kecil?" Sean penasaran.


"Menunduklah sedikit,"


"Hm? Tidak mau,"


"Ayolah, menunduklah sedikit, hm?"


"Baiklah," Sean menundukkan badannya hingga mukanya sejajar dengan muka si gadis.


Cup!


Gadis itu memberi kecupan singkat di bibir Sean yang membuat pria itu terperangah sesaat.


"Hei! Gadis kecil apa yang baru saja kau lakukan?!" teriak Sean yang menyadari si gadis langsung kabur setelah menciumnya.


Dari jauh si gadis menghentikan langkahnya.


"Paman tampan, asal kau tahu itu ciuman pertamaku, berbanggalah karena kau yang menjadi pertama bagiku. Oya jangan panggil aku gadis kecil, karena umurku sudah 15 tahun, semoga kelak kita bisa bertemu kembali," teriak si gadis itu kemudian melanjutkan langkah berlarinya dengan seekor anak kucing yang masih di dalam gendongannya.


"Usia 15 tahun apa namanya kalau bukan gadis kecil. Dan apa-apa'an dia? Usiaku masih 22 tahun kenapa dipanggil paman?"


"Hiiissh! Dasar bocah, masih kecil tapi sungguh berani mencium pria dewasa. Kenapa setelah berciuman dengannya aku merasa diriku seperti pedofil?" Sean masih saja menggerutu di sepanjang perjalanan menuju apartemenya. Dia tidak menyangka bahwa dia akan memiliki pengalaman berciuman dengan bocah di bawah umur.


Bersambung~~

__ADS_1


...Untuk para Readers kesayangan:...


...Tolong biasakan tinggalkan like dan coment setelah membaca ya. Bila ada rejeki lebih Vote dan Gift juga boleh. Dukungan kalian sungguh membuat auhtor bahagia dan lebih semangat dalam mengetik. Terimakasih🥰...


__ADS_2