
Jarak muka si culun dengan muka Jenny hanya tinggal beberapa senti. Bagaikan adegan slow motion, sedikit demi sedikit jarak muka di antara mereka terpangkas.
"Ah tidak! Mukanya sudah sangat dekat. Andai dia bukan korban bully juga, sudah pasti akan aku tendang dia. Sepertinya kali ini aku harus merelakan ciuman keduaku, Ya Tuhan kenapa nasib bibirku begitu buruk, hiks," gerutu Jenny di dalam hati. Jantungnya sudah berdegub kencang. Dia mencoba menyembunyikan bibir ranumnya dengan cara mengulum dalam benda kenyal yang terlihat basah tersebut. Merasa sangat tidak rela jika bibirnya dicium sembarangan orang.
"Kenapa dia malah terlihat pasrah? Biasanya dia akan melawan atau berontak jika diganggu, apalagi saat ini, dia dipaksa berciuman dengan si cupu, tapi kenapa dia tidak cepat bertindak?" di sisi lain, Jeffrey juga sedang berbicara di dalam hatinya. Sepertinya rencananya berjalan di luar prediksi.
Jenny langsung memejamkan matanya begitu erat ketika bibir si cupu hampir mendarat ke bibirnya.
Sedangkan Sean yang sudah tidak tahan, berniat menghentikan tontonan yang ada di depannya sekarang. Namun sekali lagi, usahanya yang ingin menjadi pahlawan bagi Jenny tersendat karena suara bariton orang lain yang terdengar dingin.
"Cukup! Jangan dilanjutkan lagi," kalimat titah seseorang seketika membuat si cupu berhenti dan memundurkan mukanya.
Begitu juga Jenny, dia langsung membuka mata almondnya dan merasa lega ketika muka si cupu sudah berada jauh darinya.
Titah tersebut keluar dari mulut Jeffrey yang sebenarnya juga sudah tidak tahan melihat tontonan yang tak lain hasil dari ulahnya sendiri.
"Lepaskan tangan kalian," titah Jenny kepada Alvin dan Sammy dengan sorotan mata tajam.
Seperti mendapat perintah dari Bosnya, kedua orang tersebut menuruti perkataan Jenny begitu saja dengan menganggukkan kepala dan melepaskan cengkeraman tangan mereka secara kompak.
"Siapa yang menyuruh kalian melepaskannya?" tanya Jeffrey kepada Alvin dan Sammy dengan alis tebal yang hampir terpaut.
Tentu saja ucapan Jeffrey membuat kedua garda tersebut reflek memegang kembali tangan Jenny dengan tampang bodohnya.
"Sudah hentikan!" kini ganti Avellyn yang bersuara seraya menampik tangan Alvin dan Sammy yang sontak melepaskan kembali pagutan tangannya dari lengan kecil Jenny.
Avellyn mendekati tubuh Jeffrey seraya melipat kedua tangannya di depan dada. Mimik muka malas karena bosan dengan tindakan jahil Jeffrey yang tiada hentinya terlihat nyata di sana. Dia mendekatkan bibirnya di telingan Jeffrey.
"Apa kamu tidak bisa berhenti bersikap kekanak-kanakan? Apa kamu ingin aku melaporkannya kepada Tante Briana agar semua fasilitasmu dicabut kembali?" bisik Avellyn.
__ADS_1
"Aku tidak takut dengam ancamanmu," balas Jeffrey yang berupaya menutupi perasaannya yang mulai gusar. Dia sangat tahu, sang Mommy sangat mempercayai perkataan Avellyn yang merupakan anak dari adik kesayangannya.
Byurr!
Tiba-tiba satu ember air mendarat tepat pada muka dan tubuh Jeffrey. Siapa yang berani menyiramnya tanpa sungkan? Siapa lagi kalau bukan Jenny yang tidak ada sedikitpun merasa takut untuk mengibarkan bendera perang kepada Jeffrey. Entah sejak kapan dan dari mana dia mendapatkan satu ember air tersebut.
"Bukankah alasanmu mem-bully dia karena tidak sengaja menumpahkan air di bajumu? Sekarang aku sudah membersihkannya. Apa kau sudah puas?" ucap Jenny dengan rasa jengkel yang masih meletup-letup di ujung ubun-ubunnya. Mengingat bibirnya hampir saja menjadi korban kejahilan Jeffrey sungguh membuatnya naik pitam.
Apa yang terjadi pada Jeffrey? Tentu saja hampir seluruh tubuhnya basah kuyup. Sebagian anak rambut terlihat layu menutupi muka tampannya yang khas.
Jeffrey masih terdiam tak bersuara. Namun suara gemeretak giginya yang mengerat kuat terdengar di telinga Jenny. Tatapan mata elangnya terlihat semakin tajam dan tidak lepas dari Jenny yang seakan bakal menjadi santapan mangsanya.
Kejadian flasback di saat acara penutupan ospek dua tahun yang lalu sepertinya kembali terulang. Jeffrey menarik tangan Jenny dan menyeretnya dengan paksa. Dia tidak peduli di saat semua mata dengan bentuk dan warna iris yang berbeda memandang mereka berdua dengan rasa penasaran.
Alvin dan Sammy yang tidak ingin ketinggalan lantas mengekori Jeffrey. Begitu juga dengan Sean, Daisy, Julian dan Avellyn yang berharap Jeffrey segera menghentikan tindakannya.
Beberapa saat kemudian Jeffrey dan Jenny berhenti di pinggir danau yang terletak di belakang bangunan Universitas Cambridge.
"Kau mau apa?!"
"Aku akan memberi pelajaran padamu kucing kumuh," timpal Jeffrey geram.
Jenny masih berusaha melepaskan tubuhnya dari pengaruh kekuatan otot Jeffrey. Mencoba memutar tubuhnya dan melarikan diri tapi nyatanya salah satu organ tubuhnya tidak bisa diajak kompromi secara solid. Salah satu kakinya kesandung dengan kakinya yang lain. Alhasil tubuhnya oleng di luar kuasanya.
Jeffrey yang awal mula hanya ingin menggertak Jenny agar menyesal akan perbuatannya yang telah menyiramnya dengan air terlihat kesusahan menjaga keseimbangan kakinya untuk berpijak di bumi karena tubuh Jenny terus saja berontak.
Mendapati tubuh Jenny yang tampak oleng ke arah danau dengan sigap Jeffrey menangkap tubuh kecilnya. Namun apalah daya, untuk kedua kalinya setelah kejadian di bus kota beberapa tahun yang lalu kembali terulang. Kaki jenjang Jeffrey tidak kuasa menahan keseimbangan tubuhnya yang membuat kedua tubuh anak manusia yang bagaikan anjing dan kucing tersebut terjebur ke dalam danau.
"Tolong! Tolong!" teriak Jenny minta tolong. Gadis blonde itu dengan cekatan menarik baju Jeffrey yang tidak jauh darinya untuk menyelamatkan diri.
__ADS_1
Saat ini Jenny terlihat seperti anak kucing yang ketakutan meminta perlindungan pada tubuh kekar Jeffrey di antara dinginnya genangan air danau. Tanpa sadar dia mengalungkan tangannya ke leher Jeffrey dengan kaki melingkar erat pada pinggang keras Jeffrey yang membuatnya tampak seperti anak monyet. Dinginnya air danau seakan tiada arti jika dibandingkan dengan kehangatan dua tubuh anak manusia yang saling menempel begitu lekat.
Apa yang dirasakan Jeffrey? Tentu saja saat ini jantungnya terasa bergetar dahsyat melampaui ritme normal detakan jantung yang semestinya. Tubuhnya seakan membeku seperti patung es. Berusaha sekuat mungkin mengendalikan gerak kerja organ-organ tubuhnya yang hampir keluar jalur.
"Sial! Kenapa perasaan ini datang lagi?! Aku bisa saja melemapar jauh gadis ini, tapi kenapa aku nggak bisa? Arrrgg!" umpat frustasi Jeffrey di dalam hati.
"Sayang, apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Veronica yang entah sejak kapan muncul di antara gerombolan orang-orang dari kubu Jeffrey dan kubu Jenny yang datang terlambat setelah kedua insan tersebut terjatuh ke dalam air.
Tampak raut muka sangat tidak senang menghiasi muka gadis yang merupakan kekasih Jeffrey tersebut. Bagaimana dia akan terima melihat prianya sedang berpelukan dan berbasah-basahan di alam terbuka seperti saat ini.
Tidak hanya Veronica, ada hati lain yang merasakan hal yang sama secara diam-diam, dia adalah Sean. Ingin rasanya dia menarik tubuh Jenny saat ini juga.
Suara Veronica seketika mengembalikan cara kerja otak Jeffrey yang sedari tadi membeku.
"Sampai kapan kau akan memelukku?" tanya Jeffrey kepada Jenney dengan nada ketusnya.
"Aku takut tenggelam, bawa aku ke pinggiran terlebih dahulu," balas Jenny tanpa melihat keadaan yang sebenarnya. Dia masih menenggelamkan mukanya pada ceruk leher Jeffrey.
"Hei perempuan gila! Anak kecilpun tidak akan tenggelam jika airnya sangat dangkal," seru Jeffrey yang mulai meremang karena hembusan napas yang hangat dan lembut Jenny menyapu lehernya.
Setelah berhasil mencerna perkataan Jeffrey, Jenny mendongak kepalanya dan menyelidik keadaan sekitar. Seketika mukanya memerah bagaikan tomat yang sudah kelewat matang karena malu. Iya, dia sangat malu dengan posisi tubuhnya sekarang. Dia seperti seekor monyet kecil yang sedang memanjat pohon kelapa.
"Airnya tidak dalam, cepat turun!" titah Jeffrey yang menatap lekat Jenny.
Dengan hat-hati Jenny menurunkan kakinya ke dalam air. Dan benar saja, ketinggian airnya danau hanya sebatas dada. Tercengang, gadis blonde beriris biru tersebut sunggung tercengang. Rasanya ingin sekali ia menenggelamkan mukanya ke dalam danau karena malu.
Daisy yang melihat tingkah sahabatnya yang memalukan hanya bisa menepuk jidat. Sedangkan Julian dan Avellyn terlihat mendesah pelan karena lega. Sementara Sean segera mengulurkan tangannya kepada Jenny untuk membantunya naik ke tepian danau dangkal tersebut yang langsung disambut oleh Jenny. Tidak ingin membiarkan Jenny kedinginan, lelaki tampan berwajah kalem tersebut melepas jaketnya dan memakaikannya ke tubuh Jenny yang basah.
Di sisi lain, Sammy justru sedang asyik mengambil gambar dari kejadian yang menurutnya sangat langka tersebut.
__ADS_1
Bersambung~~
Minimal kasih dukungan like kepada Author jika rate, vote, coment, dan hadiah terasa berat. Terimakasihš¤