
Seorang gadis cantik berambut coklat dengan wavy style tampak memasuki apartemen yang berukuran mungil dan sangat sederhana. Dia melempar tas mahal pemberian kekasihnya tersebut dengan asal kemudian membanting tubuhnya di atas sofa. Desahan kasar beberapa kali keluar dari mulut tipisnya. Sepertinya suasana hatinya begitu buruk di hari yang cerah ini.
Dia memejamkan mata dan sekilas ingatan beberapa waktu yang lalu terulang kembali. Melihat Jeffrey dan Jenny berpelukan meski hal itu bukanlah disengaja tetap saja membuat hatinya terasa panas. Gadis yang sedang terbakar api cemburu saat ini adalah Veronica. Si gadis cantik yang berstatus kekasih Jeffrey namun selalu mendapat perlakuan dingin dari sang kekasih.
Jeffrey memang selalu memanjakan Veronica dalam segi materi tapi tidak dengan hatinya. Tentu saja Veronica menyadari hal itu dengan sangat gamblang.
Selama tiga tahun berpacaran, Jeffrey terlihat enggan bersentuhan terlalu intim dengannya. Tapi kenapa Jeffrey terlihat tidak menolak secara kasar ketika Jenny memeluk tubuhnya seperti perlakuan yang diterima Veronica selama ini?
Bahkan Veronica beberapa kali merayu Jeffrey dengan tubuhnya, tapi selalu ditolak Jeffrey mentah-mentah. Entah apa yang ada di pikiran pria yang menjadi kekasihnya tersebut. Seharusnya kegiatan ranjang menjadi hal favorit bagi anak muda seumuranya. Veronica bahkan sempat berpikir apakah Jeffrey mempunyai kelainan seksual tapi pada akhirnya dia tepis pikiran tersebut.
"Sepertinya perempuan burik itu akan menjadi duri dalam hubunganku dengan Jeffrey. Sebaiknya aku harus lebih mengawasinya,"
"Hah! Bisa-bisanya aku menganggap dia rivalku. Padahal sudah jelas kecantikkannya tidak sampai seujung kuku jariku. Kau benar-benar sudah gila Vero," gadis berambut coklat tersebut masih bermonolog dengan dirinya sendiri.
"Jeffrey, aku sangat menginginkanmu. Andai sekali saja aku bisa tidur denganmu. Sudah ku pastikan kau akan menjadi milikku selamanya," gumam Veronica dengan pikiran yang menerawang ke arah mesum.
"Cantik, sejak kapan kau kembali?"
Tiba-tiba tubuh Veronica terjingkat karena sebuah tangan kekar merangkul tubuhnya dari belakang. Pria itu mendaratkan bibirnya pada ceruk leher Veronica tanpa permisi. Memberi kecupan ringan yang membuat tubuh Veronica meremang.
"Seharusnya aku yang bertanya sejak kapan kau datang? Aku bahkan tidak tahu kalau kau berada di dalam apartemenku," Vero bertanya balik seraya memutar tubuhnya untuk memastikan pria yang sedang memeluknya saat ini adalah orang yang sama. Orang yang selalu mendatanginya jauh-jauh dari London hanya untuk memuaskan nafsunya.
"Aku baru datang dua jam yang lalu. Aku sangat merindukanmu, aku ingin melakukannya sekarang," ucap pria tersebut dengan suara parau karena sudah mulai terselubung hawa nafsu yang kian memuncak.
"Jangan sekarang, aku masih lelah," tolak Veronica.
"Ayolah, aku sudah menahannya sedari tadi. Jika kau lelah biar aku saja yang memuaskanmu, kau cukup diam saja," rayu pria tersebut seraya memutar sofa yang diduduki Veronica dan tanpa aba-aba menggencarkan aksinya yang tanpa bisa ditolak Veronica karena cumbuannya yang selalu membuat gadis berstatus kekasih Jeffrey tersebut tenggelam dalam kenikmatan. Akhirnya mereka melakukan kegiatan panas tersebut di sofa.
"Apa kau suka?" tanya pria yang bernama Diven kepada Veronica yang tampak mengenakan kembali bajunya.
"Jangan berpikiran macam-macam. Ingat, hubungan kita hanya sebatas tempat pelampiasan nafsu. Cintaku hanya untuk Jeffrey," timpal Veronica.
Diven menyeringai, "Apa kekasihmu itu tidak bisa memuaskanmu?"
"Jangan tanyakan itu, kami bahkan hanya sekali berciuman itupun karena aku mencuri kesempatan di saat dia mabuk,"
Kali ini gelak tawa Diven terdengar renyah. "Itu karena dia tidak mencintaimu,"
"Aku tahu itu, tapi aku tidak akan membiarkan hal itu larut terlalu lama, dia akan menjadi milikku seutuhnya," ucap Veronica penuh keyakinan.
__ADS_1
"Panggil aku jika kau butuh bantuanku cantik," ucap Diven seraya membelai dan mengecup lembut ceruk leher Veronica.
"Tenang, suatu saat dirimu akan kubutuhkan," balas Veronica dengan mimik muka tak terbaca.
Suara dering telepon Diven tiba- tiba memecahkan suasana percakapan di antara mereka. Diven terlihat malas ketika mengetahui nama salah satu pacaranya tertera di layar ponselnya yang menyala terang tersebut.
Diven tampak mengerutkan dahinya hingga menampakkan garis siku-siku ketika melakukan percakapan dengan seseorang di balik telepon.
"Aku akan memberimu uang dan segera urus semuanya. Lagian belum tentu itu karena hasil dari hubungan kita," ucap Diven di akhir percakapannya.
"Ck! Itu pasti pacarmu. Bisa-bisanya kau bercinta denganku disaat kau sudah mempunyai kekasih," cebik Veronica.
"Hahaha.. bukankah kau juga sama saja?" timpal Diven.
Di sudut kota lain, tepatnya di kediaman keluarga Allison. Briana sedang duduk di sebuah gazebo berdesain modern yang terletak di samping kolam renang. Wanita itu menikmati seduhan afternoon tea seraya menonton sang suami, Darwin yang sedang berenang.
Selang tidak lama, seseorang kepercayaan Briana, Dizon datang menghampirinya.
"Duduklah dulu," titah Briana kepada Dizon lalu menuangkan teh ke dalam salah satu cangkir kosong dan memberikannya kepada Dizon.
"Terimakasih Nyonya," ucap Dizon dengan sopan.
"Masih seperti Tom and Jerry Nyonya, mereka seperti musuh bebuyutan," lapor Dizon.
Briana menghela napas pelan di sela gelengan kepalanya. Selama ini Briana memang diam-diam sering mengawasi tindak tanduk Jeffrey dan Jenny. Briana bahkan memaksa Jeffrey untuk melanjutkankan pendidikannya di universitas yang sama dengan Jenny. Iya, semua itu bukan hanya sekedar kebetulan saja melainkan karena ada ikut campur tangan Briana juga.
"Apa kamu punya saran Dizon?" tanya Briana seraya menghirup aroma teh yang berada di tangannya.
"Kalau menurut saya, sebaiknya anda segera mendatangi Nyonya Emy dan menjodohkan mereka,"
Briana tampak menimbang-nimbang saran Dizon.
"Maaf Nyonya, kalau boleh saya tahu kenapa anda sangat ingin mendekatkan mereka?"
"Alasannya sederhana. Aku sangat menyukai gadis itu, hatiku mengatakan bahwa Jeffrey bisa berubah jika bersamanya," jawab Briana tanpa keberatan.
"Tapi bukankah Tuan Muda sudah memiliki kekasih yang bernama Veronica?" tanya Dizon lagi.
"Jujur aku tidak suka dengannya, dia seperti bukan gadis baik-baik," jawab Briana jujur.
__ADS_1
"Apa yang sedang kalian perbincangkan?" tanya seorang pria yang sangat mirip dengan Jeffrey, Darwin. Tubuhnya yang basah sudah terbungkus bathrobe.
"Kamu pasti sudah bisa menebaknya kan sayang?"
"Apa kamu sangat ingin menjodohkan mereka?" tanya Darwin ke Briana.
"Ya, tentu saja. Tapi sepertinya akan sulit. Kamu tahu sendiri putramu itu sangat keras kepala dan pembangkang, dia pasti akan menolaknya,"
"Kita bisa memberinya sedikit ancaman agar dia mau menerima perjodohan itu," saran Darwin seraya menyunggingkan salah satu sudut bibirnya. Siapa sangka, ternyata Darwin juga mendukung keinginan Briana.
Di belahan bumi lainnya, tampak seorang gadis yang tengah gusar. Dia menatap nanar benda pipih yang menampilkan dua garis merah.
"Kenapa ini harus terjadi? Kenapa aku begitu ceroboh, hiks!" gumam frustasi keluar dari bibirnya.
"Aku masih muda, aku tidak ingin mempunyai anak, hiks!" air matanya terlihat menyungai di pipinya.
"Aku harus meminta pertanggungjawaban darinya, aku tidak ingin menderita sendirian," monolog gadis tersebut yang kemudian mengambil ponselnya dan melakukan sebuah panggilan.
"Sayang kamu dimana?" tanya gadis tersebut kepada orang di seberang sana setelah panggilan terjawab.
"Aku sedang berada di luar kota untuk bersenang-senang dengan teman-temanku,"
"Sayang, aku hamil,"
"Apa?! Bukanya kau meminum obat pencegah hamil? Kenapa kau begitu ceroboh?"
"Mungkin di waktu terakhir kita berhubungan aku lupa tidak meminumnya sebelumnya. Kamu akan bertanggungjawab kan?"
"Tidak, aku belum siap,"
"Tapi ini anakmu, hiks"
"Aku akan memberimu uang dan segera urus semuanya. Lagian belum tentu itu karena hasil dari hubungan kita,"
Tiba-tiba panggilan berakhir secara sepihak.
"Arrrrrrgggg! Bisa-bisanya dia meragukan kalau ini anaknya," teriak isak tangis gadis tersebut begitu menggema.
Bersambung~~
__ADS_1
Minimal kasih dukungan like kepada Author jika rate, vote, coment, dan hadiah terasa berat. Terimakasihš¤