
Di basement apartemen, Jeffrey langsung memarkirkan motor sport-nya dengan rapi. Melepas helm yang membungkus kepalanya lalu sedikit memutar tubuhnya ke belakang untuk melirik sekilas keberadaan Jenny. Namun ternyata jok belakangnya sudah kosong nan hampa. Entah sejak kapan, Jenny sudah turun dari motor. Jeffrey bahkan tidak merasakan goncangan ketika Jenny menuruni motornya. Apa Jenny turun dengan cara meloncat ala kutu, terbang, atau ber-teleportasi, entahlah.
Sepasang mata elang Jeffrey menangkap tubuh Jenny yang sedang setengah berlari menuju kotak besi yang mengantarnya pada kamar apartemen.
Jeffrey terkekeh geli melihat tingkah Jenny yang tampak menggemaskan, tidak ingin tertinggal jauh kemudian dia segera menyusulnya dengan langkah lebarnya.
Jenny terus saja menekan tombol yang berjajar rapi di dalam kotak lift berharap dua daun pintu besi tersebut segera tertutup sebelum Jeffrey ikut masuk ke dalam.
Mengingat adegan ciuman basah mereka beberapa saat yang lalu, membuat Jenny sangat malu.
"Ayolah.. Kenapa pintunya tidak segera tertutup?" batin Jenny yang masih terus menekan tombol close seraya beberapa kali melempar pandangannya kepada sosok tubuh Jeffrey yang kian mendekat.
"Sebenarnya kau ini kenapa?" tanya Jeffrey heran yang baru saja berhasil mengejar Jenny dan masuk ke dalam lift dengan tepat waktu.
Jenny tidak menjawab dan melempar pandangannya ke sembarang arah, dia merasa sangat canggung jika berdekatan dengan Jeffrey saat ini. Tanpa Jenny sadari, Jeffrey juga berusaha sekuat tenaga untuk menutupi rasa canggungnya agar tetap terlihat sebiasa mungkin.
Iya, tak kalah dengan Jenny, pria itu juga merasakan ketercanggungan yang luar biasa, namun juga terselip perasaan senang di hatinya.
Sesampainya di apartemen, sepasang suami istri itu langsung menuju ke kamarnya masing-masing. Membersihkan diri dari sisa-sia air hujan dengan air hangat.
Jenny yang baru saja keluar dari kamar mandi yang hanya berbalut handuk tiba-tiba tersentak karena mendapati sosok Jeffrey yang sudah berbaring di atas ranjang seraya memainkan benda pipih di tangannya. Pria itu tampak sekilas melirik ke arah Jenny lalu mengalihkan pandangannya ke ponselnya kembali.
"Kau sejak kapan berada di sini? Harusnya kau mengetuk pintu dulu sebelum masuk," protes jenny.
"Percuma aku mengetuk pintu jika kau saja sedang mandi, terus siapa yang akan membukanya?" jawab Jeffrey santai.
Jenny mendengus kesal lalu mengambil pakaiannya dari dalam lemari dan kembali ke kamar mandi dengan langkah sedikit berlari.
"Fyuh! Kenapa dia harus berpenampilan seperti itu di hadapanku? Dia bisa membuatku terkena serangan jantung dadakan," gerutu Jeffrey seraya memukul-mukul kepalanya dengan bantal. Jenny tidak tahu, kalau Jeffrey berusaha mati-matian menahan gejolak libido adik kecilnya.
"Kau sedang apa?" tanya Jenny yang baru saja keluar dari kamar mandi dan sudah memakai piyama celana pendek. Gadis itu heran dengan gelagat Jeffrey yang tergolong aneh.
Seraya menunggu suara dari Jeffrey serta menyelimur perasaan kikuk, jenny mengambil hair dryer untuk mengeringkan rambutnya yang basah setelah keramas.
"Kau datang kemari memangnya ada apa?" tanya Jenny lagi yang terlihat kesulitan saat mengeringkan rambutnya yang panjang sepinggang.
"Aku hanya ingin memastikan kalau kau baik-baik saja, tadi kau sempat bersin-bersin di jalan. Aku takut kau terkena flu," terang Jeffrey lalu beranjak dari ranjang dan mengambil alih mesin hair dryer dari tangan Jenny.
"Kau mau apa?" tanya Jenny kikuk.
"Aku akan membantumu mengeringkan rambutmu," ucap Jeffrey yang menuntun Jenny duduk ke tepian ranjang untuk mempermudahkannya mengeringkan rambutnya.
Dengan sangat tlaten, Jeffrey mengeringkan setiap helai rambut panjang berwarna blonde tersebut. Sesekali dia menghirup dalam aroma wangi sampo yang melekat pada rambut Jenny. Aroma yang sangat Jeffrey hafal. Entah sejak kapan, Jeffrey sudah sangat hafal dengan aroma rambut dan tubuh Jenny.
Sepasang manik hijau Jeffrey beberapa kali menangkap kulit leher yang tampak putih, lembut dan menggoda. Seolah sedang tersipu malu , kulit mulus itu tampak mengintip dari balik helaian rambut yang sedang melambai-lambai karena tiupan angin dari mesin hair dryer.
Glek!
Sekali lagi, Jeffrey tampak bersusah payah menelan cairan salivanya. Matanya tidak lepas dari pemandangan di hadapannya. Entah setan apa yang mempengaruhinya, pikiran di bawah alam sadarnya seakan menuntunnya untuk bertindak lebih.
Jeffrey mematikan mesin hair dryer kemudian menyampir seluruh rambut Jenny ke samping sehingga memperlihatkan secara sempurna bentuk tengkuk leher Jenny dari belakang.
Bagaikan mengandung unsur magnet yang menarik-narik, perlahan dia mendekatkan mukanya lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat yang berlangsung singkat.
Jenny seketika membatu dalam diam diikuti sepasang bola mata yang membulat sempurna ketika merasakan benda kenyal nan hangat itu mendarat pada kulit tengkuk lehernya. Sesaat Jenny lupa untuk bernapas dengan benar.
Dengan perasaan kikuk yang menjadi-jadi, Jenny memberanikan diri membuka suara ketika Jeffrey mendaratkan sebuah kecupan lagi untuk kedua kalinya.
"Be-beruang kutub, kau sedang apa?" tanya Jenny lirih gugup.
__ADS_1
"Ssssttt! Diamlah," bisik Jeffrey yang masih terlena dengan kelembutan kulit serta aroma khas yang di miliki Jenny. Aroma yang mulai menjadi candu baginya.
Jeffrey melingkari perut Jenny dari belakang dan menarik tubuhnya untuk lebih mendekat. Menenggelamkan mukanya pada ceruk leher istri kecilnya seraya memejamkan mata. Menikmati salah satu bagian tubuh sensual gadisnya yang menyuguhkan kenyamanan yang belum pernah dia dapatkan dari wanita manapun sebelumnya.
Deg! Deg! Deg!
Deg! Deg! Deg!
Kali ini jantung Jenny semakin bergetar hebat. Tindakan Jeffrey membuat tubuhnya membeku. Aliran darahnya berdesir hebat ketika tangan Jeffrey mulai bertindak nakal. Menelusup ke balik kain yang menutup perut ramping Jenny. Memberi usapan lembut di sekitarnya.
Jeffrey masih melanjutkan aksinya, menarik dagu tirus Jenny ke samping agar mempermudahkannya mendaratkan bibirnya pada benda kenyal nan ranum milik istrinya.
Sekali lagi, ciuman manis tak terhindarkan. Seakan suasana canggung berlebur menjadi terbiasa, keduanya saling menikmati setiap lum*tan bibir yang tercipta.
Jeffrey yang sudah terselubung penuh gairah libido-nya mulai membawa tangannya mendaki tanjakan lereng gunung kembar yang masih asri dan belum pernah terjamah oleh tangan-tangan nakal manusia. Namun gerakan tangannya seketika terhenti karena sang empu gunung kembar itu tampak keberatan akan tindakan Jeffrey yang mulai ke ranah aksi panas yang siapapun akan terlena dan tidak dapat menolak jika sudah terlanjur basah.
"Kenapa?" tanya Jeffrey yang tampak kecewa.
"Kita pasti lapar karena belum menyantap makan malam, aku akan ke dapur dan menyiapkan makan malam," kilah Jenny yang mencoba kabur dari situasi yang memabukkan itu dengan segera menuruni ranjang dan menuju pintu keluar kamar.
"Aaarrg! Apa aku sudah bertindak terlalu berlebihan? Tapi bukankah aku berhak melakukannya karena aku ini suaminya. Mungkinkah aku bertindak terlalu cepat?" gumam jeffrey setelah kepergian Jenny.
Jeffrey menunduk dan menggiring bola matanya ke salah satu pusat tubuhnya yang ternyata sudah mendobrak dari balik kain celananya namun perlahan-lahan kembali menyusut dan layu.
"Kasian sekali kau adik kecil, kau harus bersabar ya, tidak boleh main paksa," ucap Jeffrey seraya menatap iba si adik kecilnya.
Sedangkan di dapur Jenny tampak sibuk mengeluarkan bahan-bahan makanan dari dalam kulkas, namun pikiran tidak selaras dengan kegiatannya saat ini.
"Aku tidak boleh sampai terlena hingga di luar batas. Memang saat ini aku mulai mendapatkan kenyamanan saat bersama dia tapi aku yakin hal itu hanya bersifat sementara. Aku hanyalah seorang istri yang akan berakhir dengan perceraian," bisik Jenny di dalam hati.
"Jenn, kau harus sadar diri. Kau tidak pantas berharap lebih kepadanya karena kau bukanlah seorang istri yang di anggap layaknya istri-istri lain di luar sana. Ingat! Ciuman tadi tidak berlandaskan cinta, mungkin saja dia sedang terbawa suasana dan perasaan," bisik batin Jenny lagi yang berusaha menguatkan hati.
Aaahhhk!
Teriak Jenny ketika tanpa sengaja mengiris jarinya dengan pisau.
"Kenapa kau begitu ceroboh!" seru Jeffrey yang tanpa sengaja melihat kejadian.
Jeffrey langsung memberi tindakan pertolongan pertama dengan memasukan jari Jenny yang terluka ke dalam mulutnya lalu menghisapnya untuk mengurangi rasa perih dan menghilangkan darahnya.
Deg! Deg! Deg!
Tubuh Jenny seketika membeku namun tidak untuk jantungnya. Layaknya seorang pemain yang menabuhkan genderang dengan api semangat yang berkobar-kobar, organ pemompa darah Jenny menderu hebat. Bagi Jenny, perlakuan Jeffrey saat ini merupakan pemandangan yang erotis yang bisa membuat hati wanita dimanapun meleleh.
"Beruang kutubbbbb! Apa kau tidak sadar, tindakanmu ini bisa membuatku mati muda," teriak batin Jenny.
"Sudah selesai," suara Jeffrey mengembalikan lamunan Jenny yang berkutat dengan pikirannya.
"Hah? Sejak kapan dia memasang plester pada lukaku?" batin Jenny yang tidak sadar di saat Jeffrey mengobati lukanya karena terlalu tenggelam dengan pikirannya.
"Hai, apa yang kau lamunkan?" tanya Jeffrey yang mengibas-ngibaskan tangan di depan muka Jenny.
"A-ah, kau bilang apa tadi?" ucap Jenny gagap.
"Sebenarnya kau ini kenapa? Aku sudah mengobati lukamu. Apa kau tidak bisa lebih berhati-hati? Dasar gadis ceroboh," cibir Jeffrey.
Jenny seketika mendengus kesal. "Kalau bukan karena kau tanganku juga tidak akan teriris,"
"Memangnya aku kenapa?" tanya Jeffrey yang memang sejatinya tingkat kepekaannya sangat minim.
__ADS_1
Lidah Jenny seketika kelu, dia tidak mungkin menjawab pertanyaan Jeffrey apa adanya.
"Ah, sudahlah! Kau tak akan pernah mengerti. Dasar beruang kutub menyebalkan," ketus Jenny lalu kembali berkiprah dengan bahan makanan dan alat dapurnya dengan mulut yang masih terus berkomat-kamit.
"Dasar betina, seharusnya jawab pertanyaanku biar aku mengerti," bisik Jeffrey di dalam hati.
"Kau duduk saja, biar aku yang memasak," perintah Jeffrey yang langsung mendapat respon mimik muka tak percaya Jenny.
"Apa kau bisa memasak?" tanya Jenny dengan alis terangkat ke atas.
"Jangan banyak bicara, kau duduk saja," Jeffrey langsung mengambil alih dapur.
Sementara Jenny masih memasang muka tak percayanya seraya mendaratkan bokongnya pada bangku meja makan.
Selama proses memasak, sepasang mata almond Jenny tidak lepas dari punggung kokoh Jeffrey yang menurutnya tampak lebih seksi ketika memasak.
"Kenapa saat memasak dia terlihat begitu keren? What?! Apa yang baru saja aku katakan? Apa aku baru saja memujinya? Ah tapi sudahlah, memang kenyataannya begitu," perang batin Jenny.
Tidak butuh waktu lama, 2 porsi spageti bolognese yang terbuat dari saus tomat, daging sapi cincang, bawang bombay, dan bumbu-bumbu tambahan lainya sudah siap di eksekusi indera pengecap.
Sepasang mata Jenny tampak berbinar-binar menatap makanan yang tampak begitu menggugah selera ditunjang dengan aroma lezat yang menyeruak ke rongga indera penciuman, membuat cacing-cacing nakal di perut semakin gencar melakukan unjuk rasa karena Jenny lalai memberi makan mereka secara on time.
"Hmmmm, ini sangat lezat, aku tidak menyangka si beruang kutub bisa memasak," puji Jenny lalu menyuapkan kembali spageti ke dalam mulutnya. Gadis itu tampak menikmati makanannya. Dia memakannya dengan lahap. Sepertinya setelah berhujan-hujannan membuat perutnya sangat lapar.
"Makanlah pelan-pelan, nanti kau bisa tersedak," tutur Jeffrey yang juga tampak menikmati santapan makan malamnya.
"Haaahh, perutku sudah kenyang," lapor Jenny seraya menyenderkan tubuhnya pada sandaran kursi seraya mengusap perutnya yang terasa penuh.
"Karena kenyang aku sekarang jadi mengantuk, sebaiknya aku langsung tidur saja," sambung Jenny lagi.
"Kau yakin habis makan langsung tidur?" tanya Jeffrey.
"Iya,"
"Akan aku pastikan, setelah bangun tidur besok kau sudah menjelma menjadi babi betina," ledek Jeffrey yang langsung mendapatkan wajah Jenny yang cemberut. Bibirnya mengerucut tajam dengan muka ditekuk.
"Jika aku jadi babi, maka aku akan memakan semua makanan dari dalam kulkas lalu mengotori ranjangmu dengan kotoranku," cerocos Jenny kesal yang sontak mengundang gelak tawa Jeffrey.
Jenny seketika terkesima karena ini kali pertama melihat Jeffrey tertawa lepas seperti itu di hadapannya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Jeffrey di sisa tawanya yang menyadari tatapan Jenny yang penuh arti.
"Karena aku baru pertama kali melihatmu tertawa renyah di depanku, biasanya kau selalu memasang muka masam dan sangat menyebalkan kepadaku," jelas Jenny apa adanya.
"Jadilah babi, maka kau akan melihatku tertawa setiap hari sampai gila," seloroh Jeffrey seraya mengusap air mata pada sudut matanya yang basah karena ketawa.
"Enak saja! Kau memang berniat menyumpahiku jadi babi," cebik Jenny.
"Apa kau suka menonton kartun?" tawar Jeffrey.
"Tentu saja aku suka, apa kau mempunyai koleksi film kartun?" tanya Jenny berseri-seri. Suasana hatinya langsung berubah 180 derajad.
Bersambung~~
...Untuk para Readers kesayangan:...
__ADS_1
...Tolong biasakan tinggalkan like dan coment setelah membaca ya. Bila ada rejeki lebih Vote dan Gift juga boleh. Dukungan kalian sungguh membuat auhtor bahagia dan lebih semangat dalam mengetik. Terimakasih🥰...