
Empat musim telah bergulir secara bergantian menjalankan perannya. Meninggalkan kisah sejuta kenangan di setiap hembusan anginnya. Kenangan yang setia mematri lekat di setiap ruang kalbu ciptaannya.
Di sebuah pulau lepas yang bernama Isle Of Wight yang masih menjadi bagian daratan negara Inggris tepatnya di kota kecil Ryde yang terletak di tepi laut.
Seorang pria yang sedang duduk di atas kursi roda kesayangannya, tampak menikmati pemandangan di luar jendela. Sepasang manik tajamnya sama sekali tidak lepas dari sosok wanita blonde yang sudah satu minggu ini menarik perhatiannya.
Setiap menjelang petang, wanita itu pasti duduk di bangku yang berjajar rapi di sepanjang pinggiran jalan setapak yang tidak jauh dari tepian pantai. Wanita itu selalu memanfaatkan waktu sorenya untuk menikmati pemandangan alam matahari terbenam.
Pria itu meraba dadanya yang bergemuruh dikala matanya menangkap muka cantik nan jelita milik si wanita yang masih terlihat jelas meski jarak keduanya tidak terlalu dekat. Sebuah perasaan tak biasa selalu menggelayuti jiwanya sejak pertama kali melihat wanita asing yang sama sekali belum pernah ia ketemui atau bahkan hanya sekedar bertegur sapa.
Pria itu mengulas senyuman tipis. "Apakah ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama?" gumamnya.
Ia lalu menghela napas panjang untuk menepis segala rasa keinginannya untuk mendekati dan memiliki yang menurutnya hanya sekedar angan-angan. "Mimpimu terlalu tinggi Nuan, kau hanya seorang pria cacat yang tak pantas untuk dicintai? Hingga saat ini kau bahkan masih berada dibawah belas kasihan seseorang berhati malaikat yang bahkan belum pernah kau lihat sosoknya untuk bertahan hidup," pria itu bernama Nuan, ia masih terus bermonolog dengan dirinya sendiri.
Selama satu minggu ini, pria yang sudah 1 tahun mengandalkan kursi roda sebagai teman berjalannya tersebut terus mengamati sang wanita hanya dari balik jendela.
Suasana hatinya seketika memburuk dikala wanita itu beranjak pergi dan menghilang dari pemandangannya dan rindunya akan kembali terobati keesokan harinya dikala ia melihat sosok wanita itu kembali menempati bangku kosong yang sepertinya sudah menjadi tempat favoritnya.
"Sepertinya, wanita itu telah menarik perhatianmu beberapa hari ini Nuan," sela Luke yang datang dengan membawa sebuah nampan berisi obat dan minuman.
Sekilas Nuan memalingkan mukanya ke arah Luke sejurus kemudian kembali mengamati sosok wanita yang ternyata sudah beranjak dari bangkunya dan pergi dari pemandangannya. Roman muka Nuan seketika berubah suram.
Luke adalah seorang pria tengah baya yang selama ini bertugas merawat dan menemani Nuan.
"Sebenarnya aku penasaran dengan wanita itu, tapi,"
"Tapi kau merasa rendah diri karena kondisimu sekarang bukan?" sela Luke memotong ucapan Nuan.
Nuan tersenyum getir. "Kau memang selalu bisa membaca isi otakku,"
"Maka dari itu minumlah obat ini agar kondisimu segera pulih, kau harus semangat untuk sembuh. Lagian aku tidak ingin dipecat oleh tuanku karena gagal membuatmu meminum semua obat-obat. ini," cerocos Luke yang sebenarnya ia sangat peduli dengan Nuan yang sudah dia anggap sebagai anaknya sendiri.
Tidak ingin berdebat, Nuan lantas sedikit memutar tubuhnya ke arah Luke. Ia mengambil satu persatu-satu obat dari atas nampan dan meminumnya.
"Sebenarnya siapa tuanmu itu?" tanya Nuan penasaran dengan rasa sangat ingin tahunya yang begitu tinggi. Meskipun sebenarnya ia sudah bisa menebak akhir dari jawaban Luke yang tetap kekeuh untuk selalu menutup mulutnya.
__ADS_1
"Maaf, aku tidak bisa mengatakannya Nuan. Tapi asal kau tahu, dia selalu mengharapkan kesembuhanmu,"
"Luke, apa kau tahu siapa wanita yang sudah satu minggu ini selalu duduk di bangku itu?" tanya Nuan mengganti topik pembicaraan.
"Yang aku tahu, dia adalah pengunjung pantai Ryde dan tinggal di penginapan yang tidak jauh dari sini," jelas Luke.
"Aku berharap bisa memiliki kesempatan untuk berbicara kepadanya sebulm akhirnya dia kembali?" ucap Nuan penuh harap.
°°°
Seorang pria berlensa biru dan berbadan tegap, tampak semangat menapakkan kakinya di pelataran rumah mungil dengan dua paperbag besar di setiap belah tangannya.
"Papa...," pria itu langsung disambut riang oleh seorang balita menggemaskan ketika dia sudah berdiri di ambang pintu.
Ia meletakkan kedua paperbag-nya dan dengan ceketan mengangkat balita berbadan padat tersebut lalu mendaratkan ciuman bertubi-tubi pada kedua pipi chuby-nya.
"Apa Shelly kangen sama Papa?"
Si balita mengangguk antusias. "Celi angen Papa," balas Shelly dengan logat cadelnya.
"Papa juga kangen sama Shelly, Papa datang dengan membawa banyak mainan buat Shelly," dengan masih menggendong tubuh Shelly, pria itu berjongkok dan mengeluarkan satu persatu mainan yang sudah beli.
"Apa kau suka?"
Shelly mengangguk cepat.
"Celi angat cuka!"
"Terus bilang apa kalau sudah dikasih?"
"ima acih Papa," ucap Shelly lalu menghadiahi sebuah kecupan menggemaskan di pipinya.
"Alvin, sejak kapan kau datang? Ya Tuhan.. Lagi-lagi kau membelikannya banyak mainan," ucap Ella setengah terkejut yang baru saja keluar dari kamar mandi. Pasalnya Alvin hampir setiap minggu membelikan mainan untuk putrinya hingga membuat setiap sudut rumah kecil tampak penuh dan sesak akan tumpukan mainan yang menggunung.
Pria itu, Alvin menggiring mukanya ke arah Ella kemudian mengulas seutas senyuman. "Aku baru saja datang, apa kau sibuk?"
__ADS_1
"Kesibukanku hanya merawat anak dan rumah tidak ada yang lain. Kau duduklah, aku akan membuatkan minuman untukmu,"
Alvin tersenyum simpul lalu menggendong Shella dan membawanya duduk bersamanya di atas sofa.
Selang tidak lama, Ella datang dengan secangkir kopi di tangannya. "Ini untukmu, minumlah mumpung masih panas," ucapnya setelah meletakkan secangkir kopi tersebut di atas meja depan Alvin lalu ia mencari tempat duduk tepat di sebelah pria yang sudah tiga tahun masih setia menunggu Ella merubah pikirannya agar mau menerimanya menjadi pendamping hidupnya.
"Shelly sayang, kamu pergi mainan dulu ya, om Alvin nanti capek kalau mangku Shelly terus. Kan Shelly gendut," pinta Ella lembut dan gemas.
Shelly seketika menekuk mukanya dan mengerucutkan bibirnya hingga terlihat lancip seperti ikan cucut. "Celi nggak endut Ma! Mama jahat celalu ilang Celi endut," sungut Shelly ngambek yang membuat Ella dan Alvin justru terkekeh geli. Mereka tidak habis pikir, bayi se kecil Shelly bisa tersinggung saat dikatakan gendut.
"Iya sayang, maafkan Mama ya, Shelly nggak gendut kok, cuma padat berisi saja seperti roti bantal," ucap Ella di sela menahan tawanya.
"Uuuh! Uuh! Mama nacal!" ucapan Ella semakin membuat Shelly cemberut dengan pipinya yang semakin mengembang seperti roti yang baru saja keluar dari oven. Sejurus kemudian Shelly akhirnya memilih turun dari pangkuan Alvin dan bermain dengan mainan barunya.
Sesaat suasana tampak hening tanpa ada yang berkata hingga akhirnya deheman Alvin memecah kesunyian.
"El, kau tahu kan tujuan utamaku datang kali ini?" ucap Alvin yang sontak membuat Ella menghela napas beratnya.
"El, setelah ini aku tidak akan memaksamu, jawabanmu yang kau berikan kali ini aku anggap keputusan mutlakmu," sambung Alvin kembali.
"Vin, apa kau tidak malu menikah denganku? Aku terlalu sering melakukan kesalahan dan aku ini wanita dengan banyak kekurangan. Kau pria baik, sudah pantasnya kau menikah dengan wanita baik pula," tutur Ella yang merasa tidak pantas mendampingi hidup Alvin.
"Kesalahan masih bisa diperbaiki, dan kita juga bisa saling melengkapi kekurangan kita masing-masing. El aku sangat mencintaimu dan aku juga menyayangi Shelly seperti anakku sendiri. Tapi apapun jawaban akhirmu, aku akan tetap menghargainya," tandas Alvin yang langsung membuat jantung Ella bergetar hebat.
"Vin..,"
Tok! Tok! Tok!
Ucapan Ella terputus karena suara ketukan pintu. Dirinya terkejut ketika melihat kedatangan seorang pria yang sangat ia kenal berada di depan pintu rumahnya dalam kondisi yang terlihat tidak sehat sambil duduk di atas kursi roda.
"Diven?" lirih Ella.
"Ella?" sahut Diven.
Bersambung~~
__ADS_1
...Untuk para Readers kesayangan:...
...Tolong biasakan tinggalkan like dan coment setelah membaca ya. Bila ada rejeki lebih Vote dan Gift juga boleh. Dukungan kalian sungguh membuat auhtor bahagia dan lebih semangat dalam mengetik. Terimakasih🥰...