
Setelah melakukan pembedahan pengangkatan serviks dan rahim serta beberapa kali melakukan pengobatan metode radioterapi dan kemoterapi paska operasi, kini kesehatan Emy sudah kembali pulih. Bahkan dia sudah bisa beraktivitas seperti biasanya.
Addy juga sudah tidak berurusan lagi dengan lintah darat yang selalu memerasnya bunga pinjaman yang mencekik leher karena masalah hutang piutang di antara mereka sudah kelar sehingga dia bisa bekerja dengan tenang.
Namun sepasang suami istri itu masih dirundung rasa sesal karena hingga saat ini mereka bahkan belum bisa mengucapkan sepatah dua patah kata sebagai wujud tanda syukur dan berterimakasih kepada orang yang telah membantu mereka. Identitas malaikat tak bersayap tersebut benar-benar dibungkus dengan sangat rapat.
Hari ini merupakan hari di mana Jeffrey dan Jenny akan merubah status mereka menjadi dalam satu rangkaian kata yang terikat oleh ucapan ikrar suci dalam sebuah pernikahan.
Pernikahan yang bersifat rahasia tersebut berlangsung sangat sederhana di sebuah gereja yang berada di kota Cambridge yang hanya di saksikan oleh Darwin, Briana, Darren, Emy dan Addy. Tanpa ada tamu undangan, sepasang baju pengantin dan bahkan iringan lagu pembaktian pernikahan.
Setelah pemberkatan mereka di gereja selesai, sepasang pengantin baru tersebut kembali pada kediaman orang tua Jenny. Para orangtua memang menyarankan agar Jeffrey dan Jenny menginap di rumah Emy dan Addy untuk beberapa hari agar Jeffrey bisa mengenal dan lebih dekat dengan kedua mertuanya sebelum memutuskan untuk tinggal sendiri.
"Sayang, kami akan segera kembali ke London. Mommy akan sering-sering mengunjungi kalian, perlakukan istri kecilmu ini dengan baik. Jangan sekali-kali kamu berniat menyakitinya kalau tidak ingin berurusan dengan Mommy," tutur Briana kepada Jeffrey yang diikuti sebuah ancaman halus dan tidak ketinggalan picingan mata melengkapi mimik muka seriusnya.
"Jenny sayang, jika suamimu ini bertindak kurang ajar, kamu bisa langsung kasih tahu Mommy biar Mommy hukum dia," tutur Briana kepada Jenny.
"Baik Tante," jawab Jenny tersenyum kikuk.
"Kok masih panggil Tante? Panggil Mommy dong. Istri dari putraku berarti anakku juga, bukankah begitu Emy?" Ucap Briana seraya melirik ke arah Emy yang tampak senang dan memberi jawaban anggukan ringan kepalanya.
"B-baik Mommy," ucap Jenny dengan kekikukan yang begitu jelas di mata Jeffrey yang sekali-kali melirik ke arah gadis yang sah manjadi instrinya beberapa saat yang lalu.
"Sebenarnya aku ini anak kandung Mommy atau bukan sih? Atau jangan-jangan anak kandung Mommy dan Daddy hanya Darren sedangkan aku anak pungut," sungut Jeffrey yang sontak membuat Briana, Darwin, serta Emy sedikit tertegun akan kalimat asal Jeffrey.
"Apa yang kau katakan Jeff. Kita adalah kakak beradik tentu saja kau juga anak kandung Mommy. Ternyata adik kesayanganku ini meski sudah menjadi suami anak orang sifatnya masih seperti anak kecil ya," sela gurauan Darren seraya mengayak rambut legam Jeffrey.
Sekali lagi, Briana, Darwin, dan Emy tertegun mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Darren. Ketiga orang dewasa yang saling menyimpan rahasia tentang status Darren tersebut saling melempar tatapan sekilas yang penuh makna.
"Ya Tuhan, bagaimana jadinya kalau dia sampai tahu kalau orang yang selama ini merawatnya bukanlah orang tua kandung?" batin Emy sendu.
"Sungguh aku takut jika putra angkat kesayanganku ini menjadi sedih jika mengetahui yang sebenarnya," Briana juga membatin.
"Baiklah, sebaiknya kita segera pulang karena hari mulai gelap," saran Darwin mencoba mengalihkan topik. Dia tahu kedua wanita yang sama-sama menyayangi Darren tersebut sedang berperang batin.
"Berhati-hatilah selama perjalanan ya, sampai berjumpa lagi," ucap Emy kepada kedua besan dan juga Darren.
Emy melambaikan tangan dengan senyuman terus terulas di mukanya hingga mobil yang ditumpangi Briana, Darwin, dan Darren menghilang dari pandangan netranya.
"Sayang, sebaiknya segera antar suamimu ke kamar. Dia pasti lelah," saran Emy kepada Jenny.
__ADS_1
"Kamar yang mana Ma?" tanya Jenny bingung. Karena di rumahnya hanya ada dua kamar, yaitu kamar orantuanya dan kamar miliknya.
"Tentu saja di kamarmu sayang, memang di kamar yang mana lagi?" ucap Emy heran dengan tingkah putrinya yang masih begitu polos.
"Apa?! Tidak tidak tidak. Aku tidak mau sekamar dengan pria menyebalkan itu, aaargh! Aku harus bagaimana? Andai aku menikah dengan orang yang aku cintai tentu saja aku tidak akan keberatan. Mulai detik ini sepertinya aku harus menyiapkan mental baja dalam menjalani hari-hariku bersamanya. Haruskah aku berubah menjadi Iron Man agar kuat menghadapi sifat menyebalkannya itu?" Jenny masih saja berperang dengan batinnya tanpa dia sadari gelagatnya di perhatikan oleh sang Mama.
"Sayang, sedang apa kamu? Gelagatmu sunggu aneh. Kau membiarkan suamimu pergi ke kamarmu sendirian," tegur Emy.
Sontak Jenny celingukan mencari keberadaan Jeffrey. Ternyata keberadaan suaminya sudah menghilang. Iya, suami, sebutan apa lagi yang pantas bagi pasangan yang sudah menikah? Gadis blonde itu pun menyusul sang suami yang sudah berada di kamarnya dengan langkah yang sangat ragu dan berat. Seakan ada ribuan rantai besi yang melilit kaki kecilnya.
Jeffrey menyapu setiap sudut kamar Jenny yang mulai saat ini juga menjadi kamar miliknya. Tepatnya kamar milik bersama sebagai pasangan suami istri. Kamar mungil yang berukuran 3x4 m² tersebut tampak bersih dan rapi. Beberapa cetakan foto menghiasi dinding. Pernak pernik girly dan bernuansa warna pastel tampak mendominasi kamar tersebut.
Indera penciumannya menangkap sebuah aroma wangi yang sangat dia hafal. Iya, itu adalah aroma tubuh Jenny. Bermula dari pertemuan yang tak mengenakan di mana kedua bibir Jeffrey dan Jenny saling menempel di dalam bus kota, belum lagi kejadian malam penutupan ospek di saat tubuh Jenny yang menempeli punggung Jeffrey ketika sedang duduk di jok motor belakang, di tambah lagi tragedi basah-basahan di danau belakang universitas, membuat Jeffrey begitu hafal aroma parfum yang melekat pada tubuh kecil Jenny.
Jeffrey melangkahkan kakinya mendekati ranjang yang tampak begitu mungil jika dibandingkan dengan bentuk tubuhnya yang besar dan tinggi tersebut.
"Ck! Apa dia itu kurcaci? Panjang ranjangnya saja tidak melebihi panjang kakiku," decih Jeffrey.
"Apa malam ini kami akan tidur satu ranjang?" Sela Jenny begitu ragu yang baru saja memasuki kamar.
"Tentu saja, bukankah kita suami istri sekarang?" jawab Jeffrey begitu santai.
Blush...
"A-apa? Haruskah? Tapi aku tidak bisa?" ucap Jenny kikuk.
"Kalau kau tidak mau, kau bisa tidur di lantai karena aku akan tetap tidur di atas ranjang," jawab Jeffrey dengan mimik muka datar.
"Apa aku tidak salah dengar? Ini adalah kamarku, kenapa harus aku yang tidur di lantai?" rasa kikuk Jenny seketika berubah kesal.
"Masa bodoh," timpal Jeffrey yang semakin menyulut kekesalan Jenny.
Kini Jeffrey mulai membuka satu persatu kancing kemejanya.
"K-kau! Kau mau apa?!" ucap Jenny gugup.
"Tentu saja melakukan ritual malam," Jeffrey masih melanjutkan kegiatan dan akhirnya kain yang membungkus tubuh atasnya terlepas sehingga menampakkan tonjolan otot-otot pada tangan dan perutnya yang begitu, WAOW! bagi kaum wanita yang melihatnya.
"Aahhk! Hentikan! Apa kau tidak malu mempertontonkan tubuhmu di depanku?" pekik Jenny dengan mata yang membulat sempurna bak bola pimpong.
__ADS_1
"Buat apa aku malu," timpal Jeffrey seraya menatap muka Jenny dengan sorot mata tak terbaca.
"Tapi aku yang malu!"
"Ck! Kau bilang malu tapi pandangan matamu sedari tadi tidak lepas dari tubuhku," cibir Jeffrey. Dia melangkahkan kakinya mendekati Jenny yang membatu.
"M-mau apa kau?"
"Bukannya tadi kau dengar kalau aku mau melakukan ritual malam," balas Jeffrey yang semakin memangkas jarak tubuh di antara mereka.
"Tidak! Aku tidak mau. Aku belum siap!" Jenny melangkah mundur seraya menutup tubuhnya dengan posisi tangan yang menyilang.
Alih-alih berhenti, pria tampan bermuka masam itu malah semakin mendekat, jarak tubuhnya dan Jenny hanya tersisa beberapa senti saja. Pria yang berstatus suami muda tersebut mencondongkan tubuhnya ke arah Jenny yang seketika membuat gadis blonde tersebut beringsut seraya memejamkan matanya begitu dalam.
"Sebenarnya apa yang kau pikirkan? Untuk apa kau memejamkan matamu?" tanya Jeffrey yang heran dengan gelagat Jenny.
Menyadari ada yang aneh, Jenny membuka mata almondnya untuk memastikan keadaan. Dia melihat Jeffrey meraih sebuah handuk yang terletak di belakangnya.
Blush...
Lagi-lagi semburat merah menghiasi muka Jenny.
"Aaahhk! Ini sangat memalukan. Aku pikir dia mau anu.., sial! sial!" umpat Jenny di dalam hati. Saat ini ingin rasanya dia mengebor lantai dan menenggelamkan mukanya lalu menutupnya kembali dengan semen.
"Ck! Apa kau berpikir aku akan menyentuhmu. Jangan ngimpi!" cemoh Jeffrey yang melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar namun belum sampai membuka daun pintu dia memutar lehernya ke arah Jenny yang masih setia dengan posisi membatunya.
"Ritual malam yang aku maksut membersihkan tubuhku sebelum tidur. Jangan bilang otakmu ini sudah travelling kemana-mana. Kau sering menghujatku sebagai pria mesum, tapi ternyata otakmu sendiri lebih mesum," timpal Jeffrey seraya menonyol kepala kecil Jenny dan berlalu menuju ke kamar mandi yang berada di luar kamar.
"A-apa kau bilang?!" seru Jenny yang tak dihiraukan Jeffrey.
Dengan perasaan kesal dan gregetan, Jenny langsung melempar tubuhnya ke atas ranjang dan berteriak dibawah bantal agar kedua orang tuanya tidak mendengarnya.
"Aku sangat ingin memakan daging manusia saat ini! Bisa-bisanya dia mengolokku seperti itu. Padahal bukan salahku jika kepancing dengan kalimatnya yang ambigu itu?" gerutu Jenny di balik bantal.
Selang tidak lama Jeffrey pun kembali dari kamar mandi dengan muka yang terlihat lebih segar. Rambutnya tampak basah karena habis keramas. Pria bermuka masam itu tiba-tiba terperangah karena melihat pemandangan di atas ranjang.
Bersambung~~
Terimakasih sudah mampir ke karyaku ya. Author sangat mengaharapkan dukungan like, coment, rate, vote/hadiah dari kalian agar lebih semangat dalam menulis🥰. Jika dukungan itu terlalu berat bagi para Reader, minimal tinggalkanlah like pada setiap chapter saja, Author sudah sangat senang🙏
__ADS_1
Semoga kalian sehat dan bahagia selalu🙏