
Bumi masih terus berotasi pada sumbunya dan terus berevolusi mengelilingi matahari, menggiring waktu untuk terus melangkah ke depan menyusul masa depan. Hari berganti bulan, dan bulan berganti tahun. Sang surya masih setia terbit dari ufuk timur dan tenggelam ke ufuk barat. Tidak pernah lelah mengemban tugas mulianya, memberi kehangatan pada setiap kalbu penghuni bumi untuk mengawali hari-hari. Dan tidak pernah bosan menghadirkan siang dan malam.
Waktu masih akan terus mengembara seperti itu selamanya hingga akhirnya sang pemilik segalanya berkehendak untuk menutup buku perjalanan semua mahkluk yang bernyawa dengan mengosongkan isi bumi dan alam semesta dengan sekali titahnya.
Di sebuah Restaurant And Cafe empat pria dewasa yang telah menyandang profesinya masing-masing tampak sedang duduk mengitari meja makan yang terletak di salah satu sudut ruangan.
Setelah dua tahun kelulusan, keempat sekawan satu garis generasi tersebut memang masih berusaha menyisihkan waktunya untuk berkumpul meski tidak sesering dulu karena disibukkan oleh pekerjaan profesi mereka masing-masing. Mereka adalah Jeffrey, Sean, Sammy, dan Alvin.
Alvin adalah pemilik Restauran And Cafe yang sedang mereka kunjungi saat ini.
Sedangkan Sammy kini bekerja di perusahaan kontraktor yang bergerak di bidang arsitektural dan pekerjaan sipil.
Sean bekerja di perusahaan Ayahnya yang bergerak di bidang industri makanan ringan dan minuman. Selain itu dia juga tengah meng-hadle bisnis fashion milik Mamanya yang pernah sempat terbengkalai.
Sementara Jeffrey bekerja di Darwin Corporation, perusahaan raksasa milik keluarga Allison yang bergerak di bidang manufaktur. Selain itu, saat ini dia juga mulai mengembangkan sebuah bisnis baru yang bergerak di bidang ritel supermarket yang belum lama ini ia jalankan.
"Vin, kenapa kau terus saja menekuk mukamu hah? Kau sudah jelek, jangan kau membuatnya tambah jelek," ledek Sammy dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.
"Yakk! Kenapa kau jorok sekali, kau menyembur semua makanan dari mulutmu! Telan dulu makanan di dalam mulutmu baru bicara!" hardik Jeffrey merasa jijik dan Sammy hanya meresponnya dengan cengiran ala kuda poni yang menampilkan serentetan gigi putihnya.
"Kan aku menyelam sambil minum air, yaitu makan sambil bicara," sanggah Sammy masa bodoh meski mulutnya masih penuh makanan.
"Kalian itu kenapa selalu berisik kalau sedang kumpul?" sela Sean lalu mendesah kasar.
Sedangkan Alvin masih tampak murung, bahkan kopi yang sama sekali belum terjamah olehnya sudah dingin.
"Vin, coba ceritalah, kenapa kau tampak tak bersemangat?" tanya Sean yang sok peduli.
"Aku tahu, pasti karena lamarannya ditolak lagi oleh mama muda itu," Sammy menyela dengan nada meledek.
"Pfffff! Hahaha..!" Sean yang awalnya ingin menahan tawanya akhirnya pecah juga karena tak tertahan.
Alvin semakin menekuk mukanya hingga kusut. "Kau tadi bertanya seolah sangat peduli dan kasian kepadaku, tapi nyatanya kau lah yang suara tertawanya paling keras," sungut Alvin.
"Dan kau Sam! Awas ya, aku akan mengadu ke Daisy kalau kau pernah menggoda para karyawan wanitaku," ancam Alvin yang membuat Sammy menelan cairan salivanya dengan bersusah payah.
"Jangan lakukan itu! Kau tahu sendirikan seberapa gilanya dia kalau lagi cemburu," mohon Sammy mengiba.
__ADS_1
"Masa bodoh!"
"Sean, ngomong-ngomong bagaimana kabar si gadis kecil bernama Alesya yang selalu mengejar-ngejarmu itu?" Jeffrey yang sedari jengah mendengar perdebat para pria dewasa namun masih seperti anak kecil itu mencoba mengganti topik.
"Jangan bahas tentang dia," jawab Sean sinis.
"Memang kenapa?" Jeffrey tampak menyungging sudut bibirnya.
"Aku setiap hari hampir dibuat gila olehnya. Dia selalu mengejarku dan menyatakan cinta, hal itu membuatku sangat risih,"
"Ada apa denganmu Sean? Bukankah kau menyukai gadis cantik? Aku lihat dia sangat cantik dan menyenangkan," sela Sammy antusias.
"Dia itu masih kecil, apa kalian ingin temanmu ini menjadi pedofil?" sahut Sean sinis.
"Kau ini berbicara apa? Dua tahun lagi dia sudah menjadi wanita dewasa," kini ganti Alvin yang menyela.
"Terserah kalian mau bilang apa," Sean menyeruput kopi dari dalam cangkirnya kemudian mengedar pandangannya ke arah dinding kaca besar yang memperlihatkan pemandangan di luar kafe.
Sepasang matanya memicing ketika tanpa sengaja melihat sosok gadis yang baru saja dijadikan topik obrolan. Sean tampak gelagapan ketika ternyata si Alesya menyadari keberadaannya dari luar kaca dinding kafe.
Alesya tampak melambai-lambaikan tangannya secara antusias ke arah Sean dengan senyuman manis mengembang sempurna.
"Oke, aku juga harus menjemput Jenny," Jeffrey juga berpamitan. Hingga kini tinggalah Alvin dan Sammy.
Alvin menatap sinis ke arah Sammy. " Kau jangan pergi dulu sebelum membayar makanan dan minuman mereka,"
"Ck! Kedua pria tampan itu memiliki banyak uang tetapi kenapa selalu aku yang membayar makanan dan minuman mereka ketika berkumpul?" gerutu Sammy yang masih melanjutkan makannya yang herannya sedari tadi tidak habis-habis.
°°°
"Apa kau sudah menunggu lama?" Jenny tersentak ketika Jeffrey memeluknya dari belakang.
"Beruang kutub apa yang kau lakukan? Kita masih berada di depan kantorku, jika orang kantor sampai melihat, aku akan sangat malu," gerutu Jenny yang berusaha melepas lilitan tangan Jeffrey di perutnya.
Jeffrey mengulas senyuman lalu mencium singkat pipi Jenny hingga akhirnya dia melepas pelukannya dan menarik wanitanya menuju ke mobil.
"Bagaimana pekerjaanmu di kantor? Apa menyenangkan?" tanya Jeffrey sekilas ia melirik ke arah Jenny lalu kembali fokus pada jalanan di depan.
__ADS_1
Jenny saat ini memang sedang bekerja di salah satu perusahaan yang lumayan besar yang berada di pusat kota London. Disana iya bekerja sebagai Staff Accounting.
"Seperti biasanya, sangat menyenangkan tapi juga melelahkan," jawab Jenny.
"Kalau kau bagaimana pekerjaanmu di kantor?" Jenny balik bertanya seraya menyandarkan kepalanya di bahu Jeffrey yang sedang fokus menyetir.
"Aku merasa tidak bersemangat, karena kau tidak bersedia bekerja satu perusahaan denganku. Apa kau tahu, aku selalu merindukanmu saat bekerja. Andai kau bekerja denganku pasti aku bisa mengobati rinduku di kantor setiap hari," timpal Jeffrey penuh harap. Jeffrrey menghentikan laju mobilnya ketika lampu stopan bewarna merah menyala.
Jenny mendengus geli melihat ekspresi Jeffrey ketika berbicara. "Kau itu sangat berlebihan, kita bahkan setiap hari masih bertemu di saat pulang kerja, kenapa kau masih merindukanku?" Jenny menarik tubuhnya dan kembali menegakkan tubuhnya dan duduk bersandar pada sandaran bangku mobil. Ia mengedarkan pandangannya ke luar jendela mobil.
Sapuan matanya seketika terpaku pada sepasang suami istri yang sedang duduk di bangku trotoar. Sang suami tampak mengusap sayang perut sang istri yang sepertinya tengah hamil. Dari muka mereka terlihat pancaran kebahagiaan yang begitu besar.
Sekilas, senyuman getir terulas di muka Jenny yang berubah sendu. Sudah dua tahun setelah keguguran, tapi hingga saat ini Tuhan masih enggan mempercayai mereka seorang malaikat kecil di dalam perutnya.
"Beruang kutub, tidakkah kau lihat? Sepasang suami istri itu terlihat sangat bahagia," ucap Jenny yang langsung membuat Jeffrey menggiring pendangannya ke arah pemandangan yang dituju Jenny.
Jeffrey langsung mengerti apa yang dirasakan sang istri ketika melihat wanita hamil yang berada di luar sana. Lantas pria itu mengusap lembut rambut panjang wanitanya.
"Bukankah kita juga hidup bahagia? Hm?"
"Iya aku bahagia hidup bersamamu, tapi kebahagiaan kita akan semakin lengkap dengan adanya kehadiran buah hati hasil cinta kita," Jenny berkata dengan sedih.
"Sayang, kau harus bersabar, mungkin kita memang belum diberi kesempatan tapi kita harus yakin bahwa kita akan segera dikaruniai anak," tutur Jeffrey memberi pengertian.
"Apakah karena rahimku bermasalah makanya aku susah untuk hamil kembali?" Jenny mulai insecure dengan dirinya sendiri.
"Tidak sayang, tidak ada yang bermasalah pada dirimu dan juga diriku. Bukankah Dokter bilang organ produksi kita masih sangat sehat, apa kau sudah melupakannya?"
Jenny menggelengkan kepalanya. "Aku tidak lupa, tapi..,"
"Sudah, kau jangan berpikiran yang aneh-aneh. Yang penting kita jangan berhenti untuk berusaha, oke?"
Lampu lalu lintas berubah warna hijau, Jeffrey pun kembali menancap gas mobil dan membawa melaju menembus keramaian jalanan kota London.
Bersambung~~
...Untuk para Readers kesayangan:...
__ADS_1
...Tolong biasakan tinggalkan like dan coment setelah membaca ya. Bila ada rejeki lebih Vote dan Gift juga boleh. Dukungan kalian sungguh membuat auhtor bahagia dan lebih semangat dalam mengetik. Terimakasih🥰...