
Hari ini Jeffrey dan Jenny memutuskan untuk kembali ke Cambridge. Sebenarnya para orangtua menyarankan untuk tinggal di London lebih lama, karena mereka masih sangat mencemaskan keadaannya Jenny.
Namun Jenny terus saja bersikukuh untuk segera kembali karena mengingat ia dan Jeffrey harus segera menyelesaikan skripsi kuliahnya. Selain itu ia juga ingin mencari kesibukan guna mengalihkan kesedihan serta pikirannya yang sedang berkecamuk .
Iya, saat ini ada hal lain yang sangat mengganggu pikirannya. Sebuah pesan singkat yang dikirim seseorang beberapa hari yang lalu membuat sebuah perasaan ragu terus menggerogoti hati dan pikirannya akan ketulusan Jeffrey.
"Jenn, sebaiknya kau beristirahatlah dulu, untuk makan siang kita bisa memesan makanan, kau tidak boleh kelelahan," tutur Jeffrey setelah sampai di apartemen.
"Hm," jawab Jenny cuek yang langsung melenggang pergi ke kamar.
Jeffrey hanya bisa menghela napas seraya mengelus dadanya karena mendapat perlakuan dingin dari istrinya. Setelah pasca keguguran, kesabaran Jeffrey benar-benar terus diuji oleh sikap Jenny yang menurut berubah sangat dingin. Suasana hatinya sering sekali berubah-ubah tidak beraturan, ia juga sering marah dan mudah sekali tersinggung.
Pria yang terlahir dengan karakter keras itu terpaksa harus mati-matian menyisihkan sifat egonya dalam menghadapi sikap Jenny. Hatinya kecil sudah sangat rindu dengan kucing kecilnya yang manja dan cerewet.
Dengan perasaan frustasi, Jeffrey langsung mengikuti Jenny masuk ke kamar mereka. Sesampainya di kamar ia melihat Jenny yang ternyata sudah duduk di bibir ranjang seraya memainkan ponselnya. Ia pun langsung menyusul Jenny dan duduk di sebelahnya.
"Jenn, untuk makan siang kau ingin makan apa? Aku akan membelikannya untukmu," tanya Jeffrey seraya mengusap lembut surai panjang istrinya itu.
Ting tong! Ting tong!
"Ah, itu pasti mereka," alih-alih merespon ucapan Jeffrey, Jenny malah melenggang pergi untuk membukakan pintu untuk tamu yang sudah ia tunggu-tunggu.
Sekali lagi, Jeffrey terlihat menggelas napas kasar, berusaha menahan emosinya.
"Sabar Jeff, kau harus sedikit bersabar. Mungkin dia masih dalam pengaruh hormonal pasca keguguran," Jeffrey mencoba menenangkan diri sendiri.
Sedangkan di luar kamar Jenny tampak senang ketika para sahabatnya datang. Sepasang iris birunya tampak berbinar-binar ketika melihat hewan berbulu yang sangat lucu berada di pelukan Daisy.
Tanpa Jenny sadari, para sahabatnya bisa menyadari kalau Jenny sedang berusaha menutupi kesedihannya saat ini.
"Gerry..! Aku sangat merindukanmu," ucap Jenny setengah memekik lalu mengambil alih si Gerry dari pelukan Daisy.
"Apa dia nakal selama aku titipkan ke tempatmu?"
"Hah! Dia selalu menggangguku di saat aku sedang bermesraan dengan si kingkong mesum," gerutu Daisy yang membuat Jenny dan lainnya terkikik.
"Kau sungguh tega sekali memanggilku kingkong mesum," cebik Sammy.
"Itu adalah panggilan sayang dariku, seperti Jenny yang memanggil Jeffrey dengan sebutan beruang kutub," sanggah Daisy.
"Tapi panggilan beruang kutub terdengar lebih keren dari pada kingkong mesum. Apa tidak ada nama lain, seperti kelinci gemoy misalnya," Sammy menggelayut manja di lengan Daisy.
"Panggilan itu sangat menjijikkan, apa kau tidak pernah berkaca?" sela Jullian sengit.
"Sepertinya kau sangat rajin mengasah lidahmu, perkataanmu selalu saja tajam, kau selalu berkata yang melukai hatiku yang imut ini," Sammy mulai mendrama.
"Avellyn apa kau tidak mempunyai panggilan sayang untuk kekasihmu yang berlidah tajam itu?" tanya Sammy yang masih mendrama.
"Kau kan tahu sendiri, di antara kalian semua aku yang paling normal," timpal Avellyn dengan nada bicaranya yang khas dan diikuti muka juteknya.
"Ck! Kalian memang pasangan yang serasi, yang satu berlidah tajam dan yang satu bermulut pedas," cibir Sammy yang diikuti anggukan Daisy. Sementara Jenny hanya menyaksikan perdebat unfaedah mereka seraya memainkan kucingnya.
"Kalian kira-kira kapan pulangnya?" sela Jeffrey yang baru saja keluar dari kamarnya dan ikut nimbrung.
__ADS_1
"Dasar teman luknut! Kami baru saja datang tapi kau sudah menanyakan kapan kami pulang. Kau memang berniat mengusir kami rupanya," sungut Sammy kesal.
"Kau jangan berlebihan, aku hanya bertanya. Ngomomg-ngomong kemana Sean dan Alvin? Tidak seperti biasanya mereka tidak ikut?" tanya Jeffrey yang tidak melihat keberadaan dua sahabatnya itu.
"Iya, aku juga baru sadar kalau mereka berdua tidak ada di sini," sahut Jenny sepemikiran.
"Sean bilang dia harus menjenguk ibunya yang sakit," jelas Sammy.
"Sebenarnya Ibunya Sean itu sakit apa? Sepertinya aku harus mencari waktu untuk menjenguknya juga," batin Jeffrey.
"Apa kalian tahu?" sambung Sammy lagi.
"Tidak," sela Jeffrey dan Jenny bersamaan.
"Aku belum selesai berbicara, dengerin dulu," sungut Sammy kesal.
"Si Alvin sedang menikmati perannya menjadi Ayah dadakan,"
"Hah? Apa? Bagaimana bisa?" seru seluruh penghuni apartemen secara serentak. Pasalnya memang belum ada yang tahu tentang cerita Alvin selain Sammy sendiri.
"Gara-gara menolong Ella, Alvin terpaksa menemaninya melahirkan karena perawat Rumah Sakit mengira ia adalah suaminya Ella. Karena ia merasa kasihan, ia juga mengantar Ella beserta bayinya ke rumahnya setelah melahirkan. Tidak hanya itu saja, Alvin juga membantu menyiapkan semua keperluan si bayi. Aku bisa membayangkan ekspresi mukanya pasti sangat lucu sekali saat mendampngi Ella melahirkan. Jeff kau yang sudah menikah tapi Alvin yang punya anak duluan," jelas Sammy yang membuat raut muka Jeffrey dan Jenny berubah murung seketika.
Gurauan Sammy, mengingatkan kembali pada janin mereka yang belum lama meninggal. Daisy yang menyadari perubahan air muka sepasang suami istri itu langsung menghadiahi cubitan matang pada lengan Sammy yang masih saja berceloteh tanpa bisa mengerem mulutnya.
"Awh! Kenapa kau mencubitku?" Sammy mengadu . Ia belum peka dengan situasi di hadapannya.
"Kingkong mesum, apa kau tidak bisa melihat situasi saat ini?" geram Daisy sedikit berbisik. Sungguh ia merasa tidak enak hati kepada Jenny dan Jeffrey.
"Makanya itu mulut jangan terlalu sering menjilat pelumas mesin agar bisa ngerem dan tidak asal nyerocos saja," cibir Avellyn sensi.
Sammy yang mulai sadar kesalahannya hanya bisa menerima ejekan dari kawan-kawannya seraya sesekali menepuk-nepuk mulutnya yang lancang.
"Sudah, jangan merasa tidak enak hati. Aku tidak apa-apa kok. Oya kalian ingin minum apa? Aku sampai lupa belum menawarkan kalian minuman," Jenny mencoba mengalihkan topik. Sementara Jeffrey hanya bisa memandang sendu punggung Jenny yang sedang berjalan menuju dapur.
"Jenn, biar aku saja yang mengambilkan minuman, kau harus banyak beristirahat," ucap Avellyn setengah berteriak seraya mengekori Jenny.
"Ya sudah, kalau begitu aku akan menyiapkan camilan buat kalian,"
"Biar aku yang menyiapkannya, kau duduk saja" sela Daisy yang juga ingin menunjukkan perhatiannya ke sahabat kesayangannya itu.
"Baiklah, terimakasih ya,"
"Waah.. Begitu banyak makanan ringan di dalam kulkas, ini semua makanan kesukaan kesayanganku si Sammy," seru Daisy seolah baru saja menemukan tumpukan harta karun.
"Aku melihat kau sangat bahagia ketika bersama Sammy," ucap Jenny tersenyum hangat.
"Di balik sikapnya yang absurd tapi dia sangat pandai membuatku senang Jenn, sikapnya sangat manis dan hampir setiap hari ungkapan cinta selalu terucap di bibirnya," Daisy bercerita dengan hati berbunga-bunga.
"Apakah Jullian juga seperti itu Ave? Apa dia sering mengatakan cinta kepadamu?" Jenny kini bertanya ke Avellyn.
"Kenapa kau masih bertanya? Di dalam suatu hubungan, mengungkapkan kata cinta adalah hal yang wajar dan harus ada," timpal Avellyn seraya menata minuman di atas nampan.
"Lagian kau ini aneh, bukankah Jeffrey juga sering mengatakan hal itu? Ayo kita kembali ke ruang tamu sekarang," ucap Daisy seraya melenggang pergi yang juga di susul Avellyn.
__ADS_1
Semburat senja terlukis elok di cakrawala. Sudah waktunya sang surya kembali ke peraduan setelah seharian mengemban tugas mulianya.
Wanita itu, Jenny, tengah duduk di depan meja rias dekat pintu balkon yang dibiarkan terbuka. Membiarkan angin malam menyebar ke dalam ruangan kamar memberikan hembusan dingin.
Sepasang mata almondnya masih tampak enggan berpaling dari benda pipih di tangannya. Entah sudah berapa kali ia membaca pesan singkat yang sudah beberapa hari ini terus mengusik pikirannya.
Dadanya berdenyut nyeri setiap ia membaca setiap kata-kata yang berbaris rapi membentuk sebuah paragraf di layar ponselnya.
Ceklek! Krieeek...
Suara pintu terbuka dan Jeffrey tampak menyembul dari balik pintu dengan membawa nampan yang berisi makan malam.
"Ini sudah waktunya makan malam, karena kau tidak kunjung keluar jadi aku membawanya kesini. Makanlah, jangan siksa tubuhmu," tutur Jeffrey sesabar dan selembut mungkin. Ia meletak piring berisi makanan tersebut di atas meja rias Jenny.
"Aku tidak ingin makan karena aku belum lapar," jawab Jenny dingin.
"Aku sudah bersusah payah memasaknya untukmu, aku akan menyuapimu," Jeffrey mengambil sesendok makanan dan menyodorkannya di depan mulut Jenny.
"Aku bilang aku belum lapar,"
Klonteng..!
Sendok berisi sesuap makanan tersebut seketika terjatuh ke lantai dikala Jenny tanpa sengaja menampiknya.
Apakah yang terjadi dengan pria yang beberapa hari ini sudah mati-matian berusaha sabar dan mengalah dalam menghadapi Jenny?
Iya, pertahanan kesabarannya akhirnya roboh. Ia sudah tidak bisa menahannya lebih lama lagi. Bagaimanapun juga Jeffrey bukanlah manusia yang memiliki kesabaran tinggi. Beberapa hari terakhir, ia bisa bersabar menghadapi perubahan sikap Jenny sudah termasuk hal yang luar biasa baginya.
"Sebenarnya ada apa denganmu hah?!" bentak Jeffrey yang sempat membuat Jenny terkesiap.
"A-aku," ucapan Jenny terputus.
"Apa kau sadar sikapmu ini sudah keterlaluan?! Tidak bisakah kau menghargaiku sebagai suamimu?!" hati Jenny seketika terasa tercubit.
"Aku tahu kau sedang bersedih karena baru saja kehilangan janin di dalam perutmu tapi bukan berarti kau harus menjadikan hal itu sebagai alasan untuk melampiaskan semua emosimu kepadaku?" Jenny masih membisu.
"Tidak hanya kau, aku juga sedih, aku juga terluka, dan aku juga sangat terpukul karena kehilangan calon bayiku, jadi berhentilah bersikap bahwa kau paling menderita disini," seru Jeffrey dengan tingkat emosi yang sudah menggebu-gebu sebelum akhirnya dia keluar kamar seraya membanting daun pintu dengan sangat keras.
Blam!!
Suara keras dentuman pintu membuat tubuh Jenny terperanjat kaget. Dadanya bergetar hebat, hatinya terasa pilu. Hingga akhirnya butiran kristal bening sudah tidak tertahan dan bergulir tanpa sopan membasahi pipinya.
Wanita yang sedang dirundung sesal itu mulai terisak, kedua bahunya tampak naik turun tak beraturan. Ia berharap Jeffrey segera kembali dan memeluknya. Bagaimanapun juga ia sangat membutuhkan dekapan hangat Jeffrey yang selalu menenangkan.
Bersambung~~
Hayoo..sebenarnya pesan singkat dari siapa dan isinya seperti apa sih sehingga membuat Jenny meragukan ketulusan Jeffrey?
Untuk para Reader tersayang, mohon dukungannya dong.. tinggalkan jejak Like dan komen, atau kalau ada rejeki lebih bisa sumbangkan Gift dan vote mingguannya🙏
Tahu nggak sih, dukungan kalian adalah bentuk penghargaan dari karya recehku ini, terus terang bayaran perhari Nofi disini tidak lebih besar dari harga satu biji gorengan😭 jadi hanya dukungan kalianlah yang buat Nofi bersemangat nulis.
teruntuk silent reader, kalian disini bacanya gratis, coba kalian baca di lapak sebelah, kalian harus merogoh kantong untuk membuka setiap babnya. Jadi apa susahnya sih hanya sekedar memberi dukungan yang dimana tidak akan membuat jempolan kalian cantengen ketika menekan simbol like, tidak akan membuat kalian miskin juga kan.. Etlah..jangan pelit-pelit ya.. please🙏
__ADS_1
Terimakasih🙏🥰