Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn

Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn
Menolak Kenyataan.


__ADS_3

Tok! Tok! Tok!


"Sayang, tolong buka pintunya, setidaknya isi sedikit saja perutmu dengan makanan agar kau tidak sakit," pinta Emy yang berulang kali mengetuk pintu berharap si empu kamar segera keluar.


"Sayang, Mama mohon Nak, keluarlah," pinta Emy sekali lagi yang tampak cemas dengan kondisi putrinya.


Ceklek!


Suara knop pintu terbuka dengan kasar yang diikuti dengan Jenny yang keluar dari kamar dengan langkah cepatnya menuruni anak tangga meninggalkan Emy yang seolah tidak terlihat disana.


Emy yang panik akan gelagat Jenny lantas mengikuti sang putri.


"Sayang, kau mau kemana? Sayang pakai dulu sandalmu," ucap Emy setengah berteriak seraya mengejar Jenny yang sudah masuk ke dalam mobil namun tidak dapat menututinya karena mobilnya yang ditumpangi Jenny sudah melaju dengan cepat.


Emy sangat panik jika terjadi apa-apa dengan putrinya. Mengingat kondisi mentalnya yang masih sangat terpukul serta keahlian menyetir mobilnya belum begitu pandai.


°°°


Sepasang netranya sudah memerah dan mulai memanas. Kabut kesedihan kembali muncul ke permukaan. Langkah kakinya begitu cepat seolah sedang lari dari perasaan takut yang terus menghantuinya selama dua pekan ini. Tidak peduli dengan kakinya yang mulai perih karena goresan-goresan kecil mengukir telapak kakinya yang tak beralas.


Ia menyusuri halaman luas istana keluarga Allison, melewati taman indah yang dipenuhi bunga dengan kelopak yang bermekaran begitu cantik, tangkai dan daunnya meliuk-liuk manja karena terpaan angin nakal. Sungguh pemandangan saat ini sangat tidak cocok dengan suasana hati Jenny saat ini.


"Mom..?" lirih Jenny dengan bibir yang bergetar setelah berhasil memijakkan kaki polosnya di lantai ruang tamu yang sudah ada Darwin, Briana, Darren, serta dua orang petugas kepolisian.


"Sayang..," Briana langsung berhambur memeluk erat tubuh Jenny yang tampak lemas tak bertenaga.


"Sebaiknya kita harus belajar ihklas agar dia tenang di surga," tutur Briana yang sudah terisak.


Jenny mengurai pelukan Briana.


"Tidak Mom! Tubuhnya saja belum ditemukan, kenapa Mommy menganggap suamiku sudah meninggal?" Jenny tidak terima.


"Dad? Waktu pencarian masih bisa diperpanjang bukan? Kenapa kalian begitu mudahnya menyerah dan pasrah?!" Jenny beralih ke Darwin berharap sang ayah mertua sependapat dengannya namun Darwin hanya membisu dengan mimik muka kesedihannya.


"Kak Darren, bukankah kak Darren orang hebat? Kau pasti punya banyak kenalan orang-orang hebat juga yang bisa menemukan Jeffrey, bukankah begitu? Hm? Kak, Jenny mohon berbicaralah! Kenapa semuanya hanya diam?!" teriak Jenny yang tampak frustasi. Ia menatap marah satu persatu orang yang ada.


"Maafkan aku," hanya itu yang mampu keluar dari bibir Darren. Ia tampak tertunduk, menahan segala yang bergejolak di hatinya.


Jenny kini beralih ke kedua petugas polisi yang selama dua pekan memang bertanggungjawab dalam oprasi pencarian Jeffrey.


"Tuan, kenapa pencariannya harus dihentikan? Aku mohon jangan berhenti, tolong bantu aku menemukan suamiku. Kalian pasti tahu kalau aku menaruh harapan besar kepada kalian," ucap jenny yang terus memohon dengan sorot mata penuh harap.


"Sayang, tenangkan dirimu. Kita dengarkan dulu penjelasan dari petugas kepolisian," tutur Briana dengan suara sumbangnya lalu menuntun tubuh lunglai Jenny untuk duduk di sebuah sofa ruang tamu bersebelahan dengan Darren.

__ADS_1


Setelah situasi sudah sedikit tenang salah satu petugas kepolisian mulai bersuara.


"Operasi pencarian korban sudah berlangsung selama dua minggu namun sayangnya kami belum menemukan tubuh korban. Berdasarkan pertimbangan teknis di lapangan dan hasil evaluasi tim SAR gabungan maka pencarian korban terpaksa dihentikan karena sudah dianggap tidak efektif," jeda salah satu polisi, memberi kesempatan bagi semua penghuni ruang tamu untuk mencerna penjelasannya.


"Biasanya jenazah akan mengambang ke permukaan air setelah 3 sampi 4 hari tenggelam. Namun selama operasi pencarian kami tidak menemukan jazad yang mengapung di perairan laut di sekitarnya. Dalam kasus ini ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama tubuh korban sudah rusak dan dimakan hewan laut dan kemungkinan ke dua tubuh korban terseret arus pada sebuah palung yang terletak di kawasan laut tempat kecelakaan terjadi yang dimana arus di dalam sana sangat kencang dan seandainya tubuh korban masuk ke palung akan sangat susah untuk keluar, dan apabila korban tidak bisa bertahan ataupun berenang sudah dipastikan korban akan tenggelam dan terseret arus yang membawanya lebih dalam," sambungnya lagi.


Penjelasan kemungkinan-kemungkinan besar yang telah disampaikan petugas kepolisian tersebut seketika membuat hati Jenny hancur luluh lantak hingga berkeping-keping dan berserakan. Bagaikan sebuah kapal layar yang diporak porandakan oleh hantaman ombak badai laut raksasa, hancur sudah. Wanita yang masih menaruh harapan tentang datangnya kabar baik dari suaminya tersebut seketika lemas lunglai bagaikan tak bertulang.


Dunianya seakan berhenti berputar, seakan tidak sanggup melanjutkan perjalanan hidup yang menuntutnya untuk terus maju menerima kenyataan pahit yang sedang menghadangnya.


"Itu tidak mungkin! Suamiku masih hidup, selama tubuhnya belum ditemukan itu berarti dia belum meninggal!" Jenny terus berusaha mengelak kenyataan. Sikapnya saat ini membuat suasana semakin memilukan.


Briana hanya bisa menangis sesenggukan, sedangkan Darwin berusaha mati-matian untuk tetap tegar dan mengontrol perasaannya meskipun jantungnya mulai terasa nyeri.


Sementara Darren, dia hanya tertunduk seolah tidak berani menunjukkan mukanya. Begitu banyak pikiran dan berbagai perasaan yang menggelayuti jiwanya.


"Sebaiknya Jenny pulang sekarang," ucap Jenny lirih kemudian beranjak dari duduknya meninggalkan semua orang dengan langkah gontainya.


°°°


Jenny menyusuri jalanan kota tanpa arah tujuan, ia hanya mengikuti kemana arah kakinya melangkah. Dia bahkan meninggalkan mobil yang ia bawa tadi di halaman istana keluarga Allison.


Apakah ia harus mengiklaskannya dengan tulus atau mengiklaskan karena tidak ada pilihan? Apakah ia sanggup menjalani hari-hari tanpa separuh jiwanya? Apakah ini akhir dari kisah rumah tangganya? Begitu banyak pertanyaan yang menyakitkan muncul bertubi-tubi di benak pikirannya.


"Ya Tuhan, apakah boleh aku mengharapkan keajaiban darimu," teriak Jenny di tengah guyuran air langit yang terasa dingin menusuk kalbu. ia kian menangis sejadi jadinya.


Butiran air langit yang menghantam bumi seolah merangkai sebuah melodi sendu mengiringi kesedihan Jenny.


Ia terus mengayunkan kaki tak beralasnya menembus terjangan hujan yang seolah ingin menutupi air mata dukanya. Tanpa ia sadari ia menyeberangi jalan raya tanpa memperhatikan kendaraan yang lalu lalang karena pikirannya yang sedang kacau.


Ckiiittt!


Pijakan rem mobil secara tiba-tiba menciptakan suara decitan keras yang berasal dari ban mobil yang bergesekan dengan aspal.


Alih-alih terkejut karena sebuah mobil hampir menabraknya, Jenny bahkan terlihat biasa tanpa ekspresi.


"Jenny?!" panggil si pemilik mobil yang tak lain dan tak bukan adalah Sean.


Tanpa menghiraukan derasnya guyuran hujan, Sean bergegas menuruni mobil dan menghampiri Jenny.


"Jen, apa kau baik-baik saja? Apa yang sedang kau lakukan di tengah hujan seperti ini?" tanya Sean sangat cemas melihat penampilan Jenny yang sangat berantakan.


Bukannya merespon kecemasan Sean, wanita itu justru semakin menangis histeris meluapkan segala kesedihannya.

__ADS_1


Sean mencoba memeluk tubuh kecil Jenny yang bergetar mencoba menyalurkan kekuatan. Sepertinya, Sean sudah tahu penyebab kekacauan hati Jenny saat ini. Maka dari itu, dia tidak ingin banyak bertanya. Sedangkan Jenny hanya bisa pasrah dengan perlakuan Sean. Otaknya sudah tidak dapat memikirkan hal lain selain Jeffrey.


Tap! Tap! Tap!


Suara langkah di tengah gemuruhnya hujan terdengar samar-samar mendekati Sean dan Jenny. Sean sempat terperangah ketika merasakan air hujan sudah tidak lagi membasahinya. Ia megedar pandangan ke arah seseroang yang berdiri di belakangnya tengah memayungi tubuhnya dan Jenny.


Dia adalah Alesya. Iya, gadis itu memang sedari dari berada di dalam mobil milik Sean dan menyaksikan semuanya di depan mata.


Alesya tersenyum simpul. "Sebaiknya kak Sean segera membawa dia masuk ke mobil, karena berlama-lama di bawah guyuran hujan juga tidak baik," saran Alesya yang padahal tubuhnya sendiri juga sudah basah karena air hujan.


Bagaimana tidak basah, ia hanya memiliki satu payung, dan payung yang ia bawa untuk memayungi pria pujaan hatinya yang sedang memeluk wanita lain di depannya.


Apa yang dirasakan Alesya saat ini memang begitu mencabik-cabik hatinya. Dia bisa melihat sorot mata ketulusan Sean yang tertuju untuk Jenny. Cemburu? Tentu saja ia cemburu meski cintanya selalu bertepuk sebelah tangan. Tapi gadis belia itu terus berusaha menahan segala egonya. Setidaknya, kali ini dia harus lebih memahami situasi.


"Ambilah payung ini dan bawa kakak cantik ini pulang, dia sudah terlihat menggigil," saran Alesya kembali seraya mengulas senyuman manisnya namun tiada yang tahu tentang kepiluan hatinya.


Sean mengangguk sebagai tanda jawabannya kemudian bergegas membawa Jenny ke dalam mobil dan mengantarnya pulang.


Setelah memastikan Jenny sampai di rumah dengan selamat dan baik-baik saja, pria itu langsung kembali ke mobilnya dan berniat untuk pulang ke rumah. Namun tiba-tiba ia tersadar bahwa keberadaan Alesya tidak ada di dalam mobil.


"Sepertinya setelah memberikan payung ia tidak ikut masuk kembali ke dalam mobil, padahal dia tadi memintaku mengantarnya ke Dokter karena demam, tapi aku malah membiarkannya hujan-hujanan," Sean merutuki sikap acuhnya kepada Alesya. Kekhawatiran yang begitu besar kepada Jenny tadi membuatnya lupa begitu saja akan keberadaan Alesya.


°°°


Hari sudah menjelang petang. Di dalam kamar, Jenny tampak duduk di bibir ranjang seraya menatap nanar sebuah kotak kecil memanjang bewarna merah dan sebuah map coklat yang sedang ia pegang.


Beberapa waktu yang lalu, Briana menemuinya dan menyerahkan benda-benda tersebut ke Jenny. Dia mengatakan bahwa itu adalah kado yang disiapkam Jeffrey sebelum ia menghilang karena kecelakaan.


Di dalam kotak kecil tersebut berisi sebuah kalung emas putih dengan liontin berbentuk huruf J. Pada punggung liontin nampak pahatan tulisan namun terputus. Sehingga Jenny tidak mengerti apa maksud dari tulisan itu.


Dan di dalam map coklat berisi sebuah sertifikat tanah dan bangunan. Ternyata Jeffrey sudah membangun sebuah yayasan panti asuhan di atas bidang tanah yang telah ia beli untuk mewujudkan cita-cita Jenny yang ingin menampung, mendidik, dan memelihara anak-anak yatim, yatim piatu, dan terlantar.


"Selamat ulang tahun kucing kecilku yang manis. Apa kau menyukai kado dariku?" Jenny mengangguk dengan seutas senyuman di bibir seraya menatap sendu ke arah Jeffrey yang tengah membelai lembut rambutnya. Namun senyuman itu seketika sirna ketika bayangan pria yang sangat ia rindukan itu lenyap dari pandangannya.


Dan akhirnya, sekali lagi malam yang panjang begitu terasa memilukan karena suara isakan tangis Jenny yang begitu menyayat hati.


Bersambung~~


Yuhuu.. pembacanya kian sepi ya, apalagi likenya, bikin ngenes🤣, tapi gpp deh yang penting cerita kentangku ini tetap tamat. Insya Allah, ini adalah konflik trakhir😌


...Untuk para Readers kesayangan:...


...Tolong biasakan tinggalkan like dan coment setelah membaca ya. Bila ada rejeki lebih Vote dan Gift juga boleh. Dukungan kalian sungguh membuat auhtor bahagia dan lebih semangat dalam mengetik. Terimakasih🥰...

__ADS_1


__ADS_2